Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 74


__ADS_3

Tak lama, Alvin juga keluar dari ruangannya karena


ada meeting juga. Saat Delina sedang sendirian di ruang kerja Alvin, seseorang


masuk ke dalam sana. Ia terkejut melihat Delina ada disana.


“Siapa kamu? Kenapa bisa ada disini?”tanya wanita


cantik itu.


“Saya Delina. Saya sedang menunggu hubby.”


Kening wanita itu mengkerut, “Hubby? Maksudmu


siapa?”


“Oh, Kevin.”ucap Delina jujur.


“Kalau nunggu tuan muda, bukan disini tempatnya.


Silakan tunggu di luar. Bagaimana kamu bisa masuk kesini?”tanya wanita itu


lagi.


“Maaf, tapi Kevin meminta saya menunggu disini.


Kalau saya pergi, nanti Kevin marah.”kata Delina lagi.


“Eh, sok sekali kamu ya. Kamu tahu ini ruangan


presdir. Tidak ada sembarangan orang yang bisa masuk kesini.”


“Saya bukan sembarangan orang. Boleh saya tahu


siapa ibu ini?”tanya Delina dengan berani.


“Berani nanya-nanya. Baik, saya kepala sekretaris


disini, nama saya Tasya. Sekarang kamu tunggu diluar. Ada kursi di sana.”


“Saya sudah bilang saya tidak bisa pergi dari sini.


Silakan ibu Tasya tanyakan ke tuan besar dulu.”


Tasya terdiam, wanita ini berani sekali


menantangnya. Tapi ia tetap harus menjalankan peraturan. Kalau tidak ada


presdir di ruangannya, ruang kerjanya harus steril dari kehadiran siapapun.


Tasya menarik lengan Delina, memaksa wanita itu keluar dari ruang kerja Alvin.


Melihat Tasya bersikeras mengusirnya keluar dari


ruang kerja Alvin, Delina memilih bekerja sama. Ia duduk di kursi yang ditunjuk


Tasya, sementara Tasya kembali duduk di meja kerjanya. Delina tidak melihat


Nana yang tadi duduk di kursi tempat Tasya duduk sekarang.


”Pantas saja dirinya diminta keluar seperti ini.


Mendingan aku buat sketsa kebaya lagi.”


Delina mengeluarkan buku sketsa dan pensilnya, ia


mengingat warna di dalam ruang kerja Alvin yang dominan warna coklat kayu.


Khayalan Delina mengembara membayangkan sebuah kebaya berwarna coklat muda yang


sedang dikenakan Amira. Tangan Delina bergerak mengikuti bayangan di kepalanya.


Lima belas menit kemudian, sketsa kebaya terbarunya


sudah selesai digambar Delina. Ia mengamati setiap guratan pensilnya di buku


itu. Delina mengeluarkan ponselnya, ia mengambil foto sketsa kebaya itu dan


mengirimkannya pada Amira. Kevin sudah mengajari Delina bagaimana caranya


membalas chat, mengirimkan foto, dan segala sesuatu tentang ponsel itu.


Amira segera membalas chat dari Delina, ia


mengatakan kalau ada bahan kebaya yang bagus untuk model itu. Delina membalas

__ADS_1


menanyakan warna bahan kebaya itu dan Amira menjawabnya warna coklat. Delina


tidak sabar ingin menjahit kebaya terbarunya.


Saat Delina ingin memasukkan ponselnya ke dalam tas


lagi, ia melihat Kevin berjalan cepat menghampirinya. “Kamu ngapain disini?”tanya


Kevin tidak sabaran.


Tasya yang mendengar dan melihat Kevin, segera


mengadu mengatakan kalau Delina masuk ke ruang kerja Alvin tadi. Tasya harus


mengusirnya keluar seperti peraturan. Ia terlihat bangga sekali bisa


melakukannya, sampai tidak sadar kalau wajah Kevin sudah merah padam.


“Sekretaris Tasya!!!”lengking Kevin memekakkan


telinga. “Dengar ini baik-baik, jangan sampai aku ulangi lagi. Dia, Delina,


istriku. Dia berhak masuk ke ruangan presdir. Haknya untuk masuk kesana, sama


dengan hakku. Kau mengerti?!!”teriak Kevin lagi.


Delina memegang lengan Kevin, menenangkannya. Ia


sudah melihat wajah Tasya yang memucat dan tubuhnya gemetaran mendengar


kemarahan Kevin. “Hubby, ibu Tasya cuma menjalankan peraturan saja.”


“Tapi bukan berarti dia bisa mengusirmu keluar


ruangan ayah seperti ini. Seharusnya sudah jadi tugasnya mencari tahu dulu,


siapa yang dia usir.”tajam kata-kata Kevin melirik Tasya.


“Ma... Maafkan saya tuan muda. Maaf, nyonya


muda.”kata Tasya gugup.


“Hubby, jangan marah lagi ya.”bujuk Delina lembut.


“Awas kalau buat kesalahan lagi. Akan kuminta ayah


Sekretaris Tasya mengangguk lemah, dalam hatinya ia


sangat kesal dimarahi Kevin di depan Delina. ”Nyonya muda. Heh! Dia pikir dia


siapa, hanya simpanan tanpa status. Pernikahan mereka bahkan tidak dilakukan


secara besar-besaran. Kita lihat saja sampai dimana kau bisa bertahan.”


Kevin menarik tangan Delina untuk masuk ke


ruangannya di sebelah ruang kerja Alvin. Delina mengamati detail ruangan itu.


Ruangan Kevin terlihat lebih modern dengan warna dominan putih dan biru. Sangat


berbeda dengan ruangan Alvin.


“Sayang, kamu gak pa-pa?”tanya Kevin sambil


mendudukkan Delina di pangkuannya.


“Hubby, aku gak pa-pa. Tapi jangan gini dong. Nanti


ada yang liat.”


“Gak ada yang liat. Sayang, aku merindukanmu.”rayu


Kevin memonyongkan bibirnya pada Delina.


Kevin meraih tengkuk Delina, mencium bibir merah


istrinya dengan tangan lain mendarat di tempat favoritnya. Kedua penganti baru


itu, asyik bermesraan gak inget tempat.


Tiba-tiba Keanu menerobos masuk ke ruang kerja


Kevin, “Kevin, laporannya sudah di tanda tangani? Ups... Sory.”


Kevin menatap tajam ke arah Keanu. Delina segera

__ADS_1


bangkit dari pangkuan Kevin, ia duduk di sofa sambil memalingkan wajahnya yang


memerah. Kevin terpaksa menyelesaikan pekerjaannya dulu, ia menandatangani


laporan yang sudah disiapkan Keanu di meja kerjanya.


“Ok, thanks. Kalian gak mau makan siang dulu?”tanya


Keanu. “Habis itu lanjut dech. Aku gak ganggu.”ujar Keanu cengengesan.


“Oh ya, rantang makan siangnya masih di ruangan


tuan besar. Aku ambil dulu ya, hubby.”


Delina keluar dari ruang kerja Kevin, ia berjalan


ke ruang sebelah. Tasya masih ada disana, kali ini Nana sudah bergabung


dengannya.


“Permisi, boleh saya masuk kesana? Saya cuma mau


ambil rantang.”pinta Delina sopan.


“Silakan, nyonya muda.”saut Nana. Ia membukakan


pintu ruang kerja Alvin. Tasya melirik kesal pada Delina yang berjalan


melewatinya. Delina masuk kesana dan melihat Alvin sedang membuka rantang makan


siang milik Delina.


“Tuan besar...”panggil Delina.


“Ach, Ina. Masuk sini. Kita makan siang sama-sama.


Ini untuk ayah juga kan?”tanya Alvin pede.


Delina mengangguk, padahal ia membuat itu untuk


dirinya dan Kevin makan. Delina membantu Alvin menyajikan makan siang ke


piring. Kevin yang kelamaan menunggu Delina kembali, menyusulnya ke ruangan


Alvin.


“Delina... loh kok malah diem disini. Mana


makananku?”pinta Kevin.


“Sini makan sama tuan besar, hubby.”ajak Delina.


Kevin duduk disamping Alvin, Delina menyajikan makan


siang untuk suaminya itu. “Kamu gak makan?”tanya Kevin ketika melihat rantang


sudah kosong.


“Aku nanti saja, hubby.”ucap Delina tersenyum


manis.


“Pesankan dia kotak makan siang, Vin.”kata Alvin


menghabiskan makanan dipiringnya. “Ina, buatkan kopi lagi.”


Kevin menelpon ke kantin minta dikirimkan kotak


makan siang ke ruangan presdir. Delina membuatkan kopi lagi untuk Alvin. Ia


meletakkannya di depan Alvin, “Tuan besar, nanti sore tidak ada kopi lagi ya.


Besok baru boleh minum kopi.”ujar Delina.


Kevin melirik reaksi Alvin yang cemberut sambil manggut-manggut.


“Tapi besok bawakan makan siang lagi ya.”


“Ayah, Delina itu istriku. Harusnya dia bawakan


makan siang untukku.”protes Kevin.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2