
Tak lama, Alvin juga keluar dari ruangannya karena
ada meeting juga. Saat Delina sedang sendirian di ruang kerja Alvin, seseorang
masuk ke dalam sana. Ia terkejut melihat Delina ada disana.
“Siapa kamu? Kenapa bisa ada disini?”tanya wanita
cantik itu.
“Saya Delina. Saya sedang menunggu hubby.”
Kening wanita itu mengkerut, “Hubby? Maksudmu
siapa?”
“Oh, Kevin.”ucap Delina jujur.
“Kalau nunggu tuan muda, bukan disini tempatnya.
Silakan tunggu di luar. Bagaimana kamu bisa masuk kesini?”tanya wanita itu
lagi.
“Maaf, tapi Kevin meminta saya menunggu disini.
Kalau saya pergi, nanti Kevin marah.”kata Delina lagi.
“Eh, sok sekali kamu ya. Kamu tahu ini ruangan
presdir. Tidak ada sembarangan orang yang bisa masuk kesini.”
“Saya bukan sembarangan orang. Boleh saya tahu
siapa ibu ini?”tanya Delina dengan berani.
“Berani nanya-nanya. Baik, saya kepala sekretaris
disini, nama saya Tasya. Sekarang kamu tunggu diluar. Ada kursi di sana.”
“Saya sudah bilang saya tidak bisa pergi dari sini.
Silakan ibu Tasya tanyakan ke tuan besar dulu.”
Tasya terdiam, wanita ini berani sekali
menantangnya. Tapi ia tetap harus menjalankan peraturan. Kalau tidak ada
presdir di ruangannya, ruang kerjanya harus steril dari kehadiran siapapun.
Tasya menarik lengan Delina, memaksa wanita itu keluar dari ruang kerja Alvin.
Melihat Tasya bersikeras mengusirnya keluar dari
ruang kerja Alvin, Delina memilih bekerja sama. Ia duduk di kursi yang ditunjuk
Tasya, sementara Tasya kembali duduk di meja kerjanya. Delina tidak melihat
Nana yang tadi duduk di kursi tempat Tasya duduk sekarang.
”Pantas saja dirinya diminta keluar seperti ini.
Mendingan aku buat sketsa kebaya lagi.”
Delina mengeluarkan buku sketsa dan pensilnya, ia
mengingat warna di dalam ruang kerja Alvin yang dominan warna coklat kayu.
Khayalan Delina mengembara membayangkan sebuah kebaya berwarna coklat muda yang
sedang dikenakan Amira. Tangan Delina bergerak mengikuti bayangan di kepalanya.
Lima belas menit kemudian, sketsa kebaya terbarunya
sudah selesai digambar Delina. Ia mengamati setiap guratan pensilnya di buku
itu. Delina mengeluarkan ponselnya, ia mengambil foto sketsa kebaya itu dan
mengirimkannya pada Amira. Kevin sudah mengajari Delina bagaimana caranya
membalas chat, mengirimkan foto, dan segala sesuatu tentang ponsel itu.
Amira segera membalas chat dari Delina, ia
mengatakan kalau ada bahan kebaya yang bagus untuk model itu. Delina membalas
__ADS_1
menanyakan warna bahan kebaya itu dan Amira menjawabnya warna coklat. Delina
tidak sabar ingin menjahit kebaya terbarunya.
Saat Delina ingin memasukkan ponselnya ke dalam tas
lagi, ia melihat Kevin berjalan cepat menghampirinya. “Kamu ngapain disini?”tanya
Kevin tidak sabaran.
Tasya yang mendengar dan melihat Kevin, segera
mengadu mengatakan kalau Delina masuk ke ruang kerja Alvin tadi. Tasya harus
mengusirnya keluar seperti peraturan. Ia terlihat bangga sekali bisa
melakukannya, sampai tidak sadar kalau wajah Kevin sudah merah padam.
“Sekretaris Tasya!!!”lengking Kevin memekakkan
telinga. “Dengar ini baik-baik, jangan sampai aku ulangi lagi. Dia, Delina,
istriku. Dia berhak masuk ke ruangan presdir. Haknya untuk masuk kesana, sama
dengan hakku. Kau mengerti?!!”teriak Kevin lagi.
Delina memegang lengan Kevin, menenangkannya. Ia
sudah melihat wajah Tasya yang memucat dan tubuhnya gemetaran mendengar
kemarahan Kevin. “Hubby, ibu Tasya cuma menjalankan peraturan saja.”
“Tapi bukan berarti dia bisa mengusirmu keluar
ruangan ayah seperti ini. Seharusnya sudah jadi tugasnya mencari tahu dulu,
siapa yang dia usir.”tajam kata-kata Kevin melirik Tasya.
“Ma... Maafkan saya tuan muda. Maaf, nyonya
muda.”kata Tasya gugup.
“Hubby, jangan marah lagi ya.”bujuk Delina lembut.
“Awas kalau buat kesalahan lagi. Akan kuminta ayah
Sekretaris Tasya mengangguk lemah, dalam hatinya ia
sangat kesal dimarahi Kevin di depan Delina. ”Nyonya muda. Heh! Dia pikir dia
siapa, hanya simpanan tanpa status. Pernikahan mereka bahkan tidak dilakukan
secara besar-besaran. Kita lihat saja sampai dimana kau bisa bertahan.”
Kevin menarik tangan Delina untuk masuk ke
ruangannya di sebelah ruang kerja Alvin. Delina mengamati detail ruangan itu.
Ruangan Kevin terlihat lebih modern dengan warna dominan putih dan biru. Sangat
berbeda dengan ruangan Alvin.
“Sayang, kamu gak pa-pa?”tanya Kevin sambil
mendudukkan Delina di pangkuannya.
“Hubby, aku gak pa-pa. Tapi jangan gini dong. Nanti
ada yang liat.”
“Gak ada yang liat. Sayang, aku merindukanmu.”rayu
Kevin memonyongkan bibirnya pada Delina.
Kevin meraih tengkuk Delina, mencium bibir merah
istrinya dengan tangan lain mendarat di tempat favoritnya. Kedua penganti baru
itu, asyik bermesraan gak inget tempat.
Tiba-tiba Keanu menerobos masuk ke ruang kerja
Kevin, “Kevin, laporannya sudah di tanda tangani? Ups... Sory.”
Kevin menatap tajam ke arah Keanu. Delina segera
__ADS_1
bangkit dari pangkuan Kevin, ia duduk di sofa sambil memalingkan wajahnya yang
memerah. Kevin terpaksa menyelesaikan pekerjaannya dulu, ia menandatangani
laporan yang sudah disiapkan Keanu di meja kerjanya.
“Ok, thanks. Kalian gak mau makan siang dulu?”tanya
Keanu. “Habis itu lanjut dech. Aku gak ganggu.”ujar Keanu cengengesan.
“Oh ya, rantang makan siangnya masih di ruangan
tuan besar. Aku ambil dulu ya, hubby.”
Delina keluar dari ruang kerja Kevin, ia berjalan
ke ruang sebelah. Tasya masih ada disana, kali ini Nana sudah bergabung
dengannya.
“Permisi, boleh saya masuk kesana? Saya cuma mau
ambil rantang.”pinta Delina sopan.
“Silakan, nyonya muda.”saut Nana. Ia membukakan
pintu ruang kerja Alvin. Tasya melirik kesal pada Delina yang berjalan
melewatinya. Delina masuk kesana dan melihat Alvin sedang membuka rantang makan
siang milik Delina.
“Tuan besar...”panggil Delina.
“Ach, Ina. Masuk sini. Kita makan siang sama-sama.
Ini untuk ayah juga kan?”tanya Alvin pede.
Delina mengangguk, padahal ia membuat itu untuk
dirinya dan Kevin makan. Delina membantu Alvin menyajikan makan siang ke
piring. Kevin yang kelamaan menunggu Delina kembali, menyusulnya ke ruangan
Alvin.
“Delina... loh kok malah diem disini. Mana
makananku?”pinta Kevin.
“Sini makan sama tuan besar, hubby.”ajak Delina.
Kevin duduk disamping Alvin, Delina menyajikan makan
siang untuk suaminya itu. “Kamu gak makan?”tanya Kevin ketika melihat rantang
sudah kosong.
“Aku nanti saja, hubby.”ucap Delina tersenyum
manis.
“Pesankan dia kotak makan siang, Vin.”kata Alvin
menghabiskan makanan dipiringnya. “Ina, buatkan kopi lagi.”
Kevin menelpon ke kantin minta dikirimkan kotak
makan siang ke ruangan presdir. Delina membuatkan kopi lagi untuk Alvin. Ia
meletakkannya di depan Alvin, “Tuan besar, nanti sore tidak ada kopi lagi ya.
Besok baru boleh minum kopi.”ujar Delina.
Kevin melirik reaksi Alvin yang cemberut sambil manggut-manggut.
“Tapi besok bawakan makan siang lagi ya.”
“Ayah, Delina itu istriku. Harusnya dia bawakan
makan siang untukku.”protes Kevin.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.