Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 88


__ADS_3

Tengah malam, Delina terbangun. Ia merasa sangat


lapar. Dilihatnya Kevin masih ngorok dibawah selimutnya. Delina memakai


pakaiannya lagi, ia ingin membuat mie untuk mengganjal perutnya. Sampai di


lantai bawah, lampu sudah dimatikan semua. Cahaya dari luar membantu Delina


sampai di dapur.


Setelah menghidupkan lampu dapur, Delina mencari


mie rebus di lemari penyimpanan. Memang agak susah karena Kevin dan keluarganya


jarang makan mie instant. Tapi Delina selalu menitip membeli mie instant pada


penjaga di depan.


Delina menemukan satu mie goreng dan dua mie rebus


di lemari penyimpanan itu. Ia mengambil satu mie rebus, lalu mengambil panci


kecil. Setelah mengisinya dengan air, Delina menghidupkan kompor.


Tidak perlu waktu lama sampai air di panci mendidih.


Delina memasukkan mie ke dalamnya. Ia membuka kulkas mengambil sayur hijau dan


juga sedikit bakso. Setelah mie sedikit lunak, Delina memasukkan bakso dan


sayur hijau.


Setelah semuanya di dalam panci matang, Delina


menuangkannya di mangkok yang sudah ia siapkan. Wangi mie rasa soto memenuhi


dapur membuat perut Delina semakin lapar. Ia duduk di meja bar, hampir memakan


mie itu ketika seseorang memanggilnya.


“Ina. Kamu lagi ngapain?”tanya Alvin yang terbangun


di tengah malam juga.


“Ayah. Saya lapar. Ayah kenapa bangun?”


Alvin duduk di samping Delina, ia menatap mie di


dalam mangkok yang lengkap dengan bakso dan sayur hijau.


“Telurnya mana? Harusnya kamu masukkan telur juga


waktu ngrebus mienya.”kata Alvin.


“Rasa mienya jadi aneh, yah. Ayah mau makan mie


juga?”


Alvin manggut-manggut, Delina mengatakan akan


membuatkan Alvin mie dulu tapi Alvin meminta mie Delina. “Ayo, berbagi Ina.”


Delina mengambil mangkok lagi lalu membagi dua mie


itu. Mereka berdua menikmati makan mie rebus hangat di malam yang dingin itu.


“Ina, ayah mau tanya sesuatu, boleh?”tanya Alvin.


“Tanya apa, yah?”tanya Delina.


“Seandainya, ini seandainya ya suatu hari ada


seorang wanita datang ke rumah ini dan mengaku sedang hamil anak dari Kevin,


apa yang akan kau lakukan?”tanya Alvin.


Delina terdiam sejenak, “Aku akan minta pisah dari


hubby, yah.”


“Kenapa?”tanya Alvin.

__ADS_1


“Kalau sampai wanita itu hamil anak hubby, artinya


hubby mencintai dia dan mereka bisa bersama-sama mengurus anak itu.”saut Delina


sambil tersenyum.


“Tapi Kevin tidak mencintai wanita itu. Kejadiannya


hanya sebuah kecelakaan akibat pengaruh alkohol. Kau masi mau pergi?”


Deg! Deg! Dada Delina bergemuruh sesaat, apa ini


masalah yang sedang dihadapi Kevin. Apa mungkin wanita itu? Wanita yang membuat


keributan di rumah besar. Alvin berdehem untuk menyadarkan Delina yang melamun.


“Iya, ayah. Aku akan pergi dulu sementara sampai


masalah mereka selesai. Lagipula aku belum hamil, kan. Tidak adil rasanya kalau


anak itu harus menderita karena perbuatan orang tuanya.”


“Kalau kamu hamil?”tanya Alvin.


“Kan ada ayah dan ibu.”saut Delina santai.


Ia tidak mau menunjukkan rasa khawatirnya pada Alvin


yang sepertinya sudah cukup stress. Alvin mengelus kepala Delina, ia mengecup


kening menantunya itu.


“Berjanjilah untuk tidak menghilang dari ayah dan


ibu, Delina. Kami sudah jadi keluargamu sekarang. Apapun yang terjadi, sesakit


apa hatimu, jangan pernah sembunyi dari ayah dan ibu ya.”


“Aku janji, ayah.”saut Delina.


Alvin memeluk menantunya itu, dalam hatinya Alvin


berjanji akan tidak akan pernah membiarkan Delina hidup menderita. Ada atau


dan Amira sekarang.


Delina menahan air matanya agar tidak jatuh. Apapun


itu, masalah yang sedang mereka hadapi kali ini sepertinya sangat serius dan


Delina hanya bisa percaya pada Alvin dan Amira saja.


*****


Ulang tahun nenek Indri tinggal sehari lagi tapi


nenek Indri mengundang semua anak, menantu dan cucunya untuk datang ke rumahnya


dan menginap. Alvin tidak kaget saat melihat Giselle duduk di samping nenek


Indri. Mereka berbisik-bisik sejenak ketika Delina dan Kevin sudah masuk ke


dalam rumah nenek Indri.


“Ibu, selamat ulang tahun.”kata Alvin dan Amira


sambil memberikan dua buah kotak yang berbeda. Satunya hadiah dari Amira,


satunya dari Alvin.


“Anak baik. Makasih ya.”saut nenek Indri.


Giliran Kevin dan Delina maju, nenek Indri menerima


kado dari Kevin tapi tidak kado dari Delina yang ia biarkan terjatuh sampai


kotaknya terbuka penutupnya. Aroma wangi yang menenangkan keluar dari dalam


kotak itu. Nenek Indri melirik isi kotak itu. Delina berjongkok di depan nenek


Indri untuk mengambil kotak hadiahnya yang tergeletak di lantai.

__ADS_1


Ia sengaja mengeluarkan isi hadiahnya dan memperlihatkannya


pada semua orang. Tangan nenek Indri bergerak mengambil syal paling atas. Nenek


Indri sangat menyukai syal, ia selalu memakainya untuk melengkapi


penampilannya. Di lemarinya ada tempat khusus hanya untuk menyimpan syal


beraneka merk.


Amira tersenyum tipis melihat reaksi nenek Indri


yang penasaran dengan syal buatan Delina. “Ach, ibu. Syalnya sudah jatuh.


Delina, ambil lagi syal itu sudah kotor. Nenek Indri tidak suka pakaiannya kotor.”kata


Amira.


“Tunggu, syal ini nggak kotor. Masukkan lagi ke


kotaknya.”pinta nenek Indri pada Amira.


Delina memberikan dua syal yang masih di pegangnya


dan kotak hadiahnya pada Amira. Ia melangkah mundur kembali ke samping Kevin.


Nenek Indri tidak mau melepaskan syal pertama yang sekarang ada di pangkuannya.


Delina melirik Amira dan Alvin yang mengangguk


padanya. Rencana mereka berhasil. Alvin sudah menebak akan seperti apa reaksi


ibunya saat bertemu dengan Delina. Mereka menyusun rencana kalau sampai nenek


Indri melempar hadiah pemberian Delina, ia harus bersikap seperti apa.


Giselle menatap sebal pada Delina dan Kevin. Ia


beranjak dari sisi nenek Indri, mendekati putrinya yang asyik chatting dengan


Ali. “Gimana sih kamu? Katanya bisa misahin mereka, malah tambah lengket gitu.”tanya


Giselle pada Agnes.


Agnes segera menyimpan ponselnya, “Aku udah buat


mereka bertengkar, mah. Tapi om Alvin selalu mendamaikan mereka lagi. Gitu


terus. Aku mesti gimana lagi, mah.”alasan Agnes dibuat-buat. Padahal ia asyik


pacaran dengan Ali.


“Kita harus susun strategi baru. Nenek Indri lagi


gak enak badan. Biasanya kalau gitu, pasti minta dimasakin sesuatu yang susah. Kamu


harus sudah siap pesan makanan.”bisik Giselle pada Agnes.


“Lagi, mah? Ntar kita kena masalah lagi kayak waktu


itu, gimana?”kata Agnes.


Giselle mencubit pinggang Agnes sampai putrinya itu


hampir menangis kesakitan. “Kamu jangan nglawan mama. Awas kamu kalo gak


ngikutin perintah mama.”ancam Giselle.


Agnes cuma bisa mengangguk pasrah. Ia tersenyum


masam selama sisa hari itu. Kevin dan Delina tampak duduk di pojokan sedang


menikmati kudapan yang dihidangkan untuk keluarga mereka. Sesekali Kevin


menyibak kain tipis yang dipakai Delina untuk melihat wajah cantik istrinya


itu.


“Hubby, ngapain sih?”tanya Delina risih.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2