
Tengah malam, Delina terbangun. Ia merasa sangat
lapar. Dilihatnya Kevin masih ngorok dibawah selimutnya. Delina memakai
pakaiannya lagi, ia ingin membuat mie untuk mengganjal perutnya. Sampai di
lantai bawah, lampu sudah dimatikan semua. Cahaya dari luar membantu Delina
sampai di dapur.
Setelah menghidupkan lampu dapur, Delina mencari
mie rebus di lemari penyimpanan. Memang agak susah karena Kevin dan keluarganya
jarang makan mie instant. Tapi Delina selalu menitip membeli mie instant pada
penjaga di depan.
Delina menemukan satu mie goreng dan dua mie rebus
di lemari penyimpanan itu. Ia mengambil satu mie rebus, lalu mengambil panci
kecil. Setelah mengisinya dengan air, Delina menghidupkan kompor.
Tidak perlu waktu lama sampai air di panci mendidih.
Delina memasukkan mie ke dalamnya. Ia membuka kulkas mengambil sayur hijau dan
juga sedikit bakso. Setelah mie sedikit lunak, Delina memasukkan bakso dan
sayur hijau.
Setelah semuanya di dalam panci matang, Delina
menuangkannya di mangkok yang sudah ia siapkan. Wangi mie rasa soto memenuhi
dapur membuat perut Delina semakin lapar. Ia duduk di meja bar, hampir memakan
mie itu ketika seseorang memanggilnya.
“Ina. Kamu lagi ngapain?”tanya Alvin yang terbangun
di tengah malam juga.
“Ayah. Saya lapar. Ayah kenapa bangun?”
Alvin duduk di samping Delina, ia menatap mie di
dalam mangkok yang lengkap dengan bakso dan sayur hijau.
“Telurnya mana? Harusnya kamu masukkan telur juga
waktu ngrebus mienya.”kata Alvin.
“Rasa mienya jadi aneh, yah. Ayah mau makan mie
juga?”
Alvin manggut-manggut, Delina mengatakan akan
membuatkan Alvin mie dulu tapi Alvin meminta mie Delina. “Ayo, berbagi Ina.”
Delina mengambil mangkok lagi lalu membagi dua mie
itu. Mereka berdua menikmati makan mie rebus hangat di malam yang dingin itu.
“Ina, ayah mau tanya sesuatu, boleh?”tanya Alvin.
“Tanya apa, yah?”tanya Delina.
“Seandainya, ini seandainya ya suatu hari ada
seorang wanita datang ke rumah ini dan mengaku sedang hamil anak dari Kevin,
apa yang akan kau lakukan?”tanya Alvin.
Delina terdiam sejenak, “Aku akan minta pisah dari
hubby, yah.”
“Kenapa?”tanya Alvin.
__ADS_1
“Kalau sampai wanita itu hamil anak hubby, artinya
hubby mencintai dia dan mereka bisa bersama-sama mengurus anak itu.”saut Delina
sambil tersenyum.
“Tapi Kevin tidak mencintai wanita itu. Kejadiannya
hanya sebuah kecelakaan akibat pengaruh alkohol. Kau masi mau pergi?”
Deg! Deg! Dada Delina bergemuruh sesaat, apa ini
masalah yang sedang dihadapi Kevin. Apa mungkin wanita itu? Wanita yang membuat
keributan di rumah besar. Alvin berdehem untuk menyadarkan Delina yang melamun.
“Iya, ayah. Aku akan pergi dulu sementara sampai
masalah mereka selesai. Lagipula aku belum hamil, kan. Tidak adil rasanya kalau
anak itu harus menderita karena perbuatan orang tuanya.”
“Kalau kamu hamil?”tanya Alvin.
“Kan ada ayah dan ibu.”saut Delina santai.
Ia tidak mau menunjukkan rasa khawatirnya pada Alvin
yang sepertinya sudah cukup stress. Alvin mengelus kepala Delina, ia mengecup
kening menantunya itu.
“Berjanjilah untuk tidak menghilang dari ayah dan
ibu, Delina. Kami sudah jadi keluargamu sekarang. Apapun yang terjadi, sesakit
apa hatimu, jangan pernah sembunyi dari ayah dan ibu ya.”
“Aku janji, ayah.”saut Delina.
Alvin memeluk menantunya itu, dalam hatinya Alvin
berjanji akan tidak akan pernah membiarkan Delina hidup menderita. Ada atau
dan Amira sekarang.
Delina menahan air matanya agar tidak jatuh. Apapun
itu, masalah yang sedang mereka hadapi kali ini sepertinya sangat serius dan
Delina hanya bisa percaya pada Alvin dan Amira saja.
*****
Ulang tahun nenek Indri tinggal sehari lagi tapi
nenek Indri mengundang semua anak, menantu dan cucunya untuk datang ke rumahnya
dan menginap. Alvin tidak kaget saat melihat Giselle duduk di samping nenek
Indri. Mereka berbisik-bisik sejenak ketika Delina dan Kevin sudah masuk ke
dalam rumah nenek Indri.
“Ibu, selamat ulang tahun.”kata Alvin dan Amira
sambil memberikan dua buah kotak yang berbeda. Satunya hadiah dari Amira,
satunya dari Alvin.
“Anak baik. Makasih ya.”saut nenek Indri.
Giliran Kevin dan Delina maju, nenek Indri menerima
kado dari Kevin tapi tidak kado dari Delina yang ia biarkan terjatuh sampai
kotaknya terbuka penutupnya. Aroma wangi yang menenangkan keluar dari dalam
kotak itu. Nenek Indri melirik isi kotak itu. Delina berjongkok di depan nenek
Indri untuk mengambil kotak hadiahnya yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
Ia sengaja mengeluarkan isi hadiahnya dan memperlihatkannya
pada semua orang. Tangan nenek Indri bergerak mengambil syal paling atas. Nenek
Indri sangat menyukai syal, ia selalu memakainya untuk melengkapi
penampilannya. Di lemarinya ada tempat khusus hanya untuk menyimpan syal
beraneka merk.
Amira tersenyum tipis melihat reaksi nenek Indri
yang penasaran dengan syal buatan Delina. “Ach, ibu. Syalnya sudah jatuh.
Delina, ambil lagi syal itu sudah kotor. Nenek Indri tidak suka pakaiannya kotor.”kata
Amira.
“Tunggu, syal ini nggak kotor. Masukkan lagi ke
kotaknya.”pinta nenek Indri pada Amira.
Delina memberikan dua syal yang masih di pegangnya
dan kotak hadiahnya pada Amira. Ia melangkah mundur kembali ke samping Kevin.
Nenek Indri tidak mau melepaskan syal pertama yang sekarang ada di pangkuannya.
Delina melirik Amira dan Alvin yang mengangguk
padanya. Rencana mereka berhasil. Alvin sudah menebak akan seperti apa reaksi
ibunya saat bertemu dengan Delina. Mereka menyusun rencana kalau sampai nenek
Indri melempar hadiah pemberian Delina, ia harus bersikap seperti apa.
Giselle menatap sebal pada Delina dan Kevin. Ia
beranjak dari sisi nenek Indri, mendekati putrinya yang asyik chatting dengan
Ali. “Gimana sih kamu? Katanya bisa misahin mereka, malah tambah lengket gitu.”tanya
Giselle pada Agnes.
Agnes segera menyimpan ponselnya, “Aku udah buat
mereka bertengkar, mah. Tapi om Alvin selalu mendamaikan mereka lagi. Gitu
terus. Aku mesti gimana lagi, mah.”alasan Agnes dibuat-buat. Padahal ia asyik
pacaran dengan Ali.
“Kita harus susun strategi baru. Nenek Indri lagi
gak enak badan. Biasanya kalau gitu, pasti minta dimasakin sesuatu yang susah. Kamu
harus sudah siap pesan makanan.”bisik Giselle pada Agnes.
“Lagi, mah? Ntar kita kena masalah lagi kayak waktu
itu, gimana?”kata Agnes.
Giselle mencubit pinggang Agnes sampai putrinya itu
hampir menangis kesakitan. “Kamu jangan nglawan mama. Awas kamu kalo gak
ngikutin perintah mama.”ancam Giselle.
Agnes cuma bisa mengangguk pasrah. Ia tersenyum
masam selama sisa hari itu. Kevin dan Delina tampak duduk di pojokan sedang
menikmati kudapan yang dihidangkan untuk keluarga mereka. Sesekali Kevin
menyibak kain tipis yang dipakai Delina untuk melihat wajah cantik istrinya
itu.
“Hubby, ngapain sih?”tanya Delina risih.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.