
“Hubby!! Kevin!! Hiks... Hiks...”jerit Delina.
Kevin menghentikan hasrat yang hampir saja ingin ia
paksakan pada tubuh Delina. Akal sehatnya kembali lagi. Ia kembali menangis
sedih.
“Maafkan aku, sayang. Aku nggak... Maaf.”Kevin
memeluk Delina erat. “Tolong jangan tinggalkan aku. Aku mohon, Delina. Aku gak
bisa hidup tanpa kamu.”
Delina berusaha menenangkan dirinya yang shock
karena perbuatan Kevin. Ia juga memeluk tubuh Kevin dengan erat.
“Selesaikan dulu... masalah kalian. Kamu harus...
pikirkan nasib bayi itu. Dia tidak bersalah, hubby. Aku akan pergi... sampai
masalah kalian selesai.”putus Delina.
“Aku nggak mau kita bercerai, Delina. Kamu harus
jadi istriku selamanya. Aku nggak mau sama wanita lain selain kamu.”kata Kevin
menyusupkan wajahnya ke leher Delina.
“Aku tidak akan meminta perceraian, hubby. Aku
janji. Tapi ingat, kamu harus adil.”ujar Delina menahan air matanya agar tidak
jatuh lagi.
Kevin mengangguk, ia berjanji akan menyelesaikan
masalah itu agar Clara dan bayinya tidak menderita. Keduanya merapikan
penampilan mereka masing-masing sebelum keluar dari ruang kerja.
Alvin dan Amira sudah ada di ruang tamu, menunggu
mereka keluar dari ruang kerja. Kevin menghempaskan tubuhnya di sofa sementara
Delina tetap berdiri.
“Kalian sudah memutuskan?”tanya Alvin.
Pertanyaan Alvin membuat nyeri di hati Delina
kembali lagi. Ia tidak menyangka pertanyaan yang dilontarkan ayah mertuanya
beberapa hari yang lalu adalah untuk masalah kehamilan Clara. Itu artinya ayah
mertuanya sudah tahu kalau Clara sedang mengandung anak Kevin.
“Sudah, yah. Hubby akan selesaikan masalah ini dan
selama itu, aku akan pergi dari sini.”kata Delina tegar.
“Tapi, Delina. Kamu nggak bisa pergi dari
sini.”protes Amira.
Alvin mengangkat tangannya meminta semua orang diam
dulu. “Delina, malam ini kamu tetap disini dulu. Kamu bisa tetap di kamar
Kevin. Masalah ini, biar ayah yang selesaikan. Sebaiknya kamu istirahat dulu.”
Delina mengangguk menurut. Ia bisa mengemasi
barang-barangnya dari kamar Kevin sambil menunggu hari berganti. Semua orang
menatap Delina yang berjalan menaiki tangga menuju kamar Kevin.
Tinggallah mereka berlima di ruang tamu itu. Alvin memberi
tanda pada Keanu untuk mengeluarkan surat perjanjian yang tentu saja
menguntungkan bagi Kevin dan juga Clara. Keanu menyerahkan surat itu untuk
dibaca Clara dan Kevin.
__ADS_1
Di dalam perjanjian itu tertulis, kalau Kevin dan
Clara tidak bisa menikah. Bayi itu tetap akan diakui sebagai anak kandung Kevin
dan akan memperoleh nama belakang Raditya, tentu saja setelah melewati test DNA
yang ketat.
Clara sebagai ibu kandungnya berhak mengunjungi
bayi itu di rumah besar dan juga berhak menerima tunjangan hidup sebesar
sepuluh juta setiap bulan dari Kevin sampai bayi itu berumur dua puluh satu
tahun dan juga tempat tinggal yang layak.
Clara meremas ujung dress hamil-nya. Setelah
mengandung bayi Kevin, dirinya tetap tidak bisa menikah dengan pria itu. Clara
menimbang sesuatu dalam pikirannya, ia tidak bisa bekerja dengan keadaannya
yang sedang hamil seperti ini. Sejak kehamilannya, bos Julian yang menopang
hidupnya.
Ia banyak berhutang pada bosnya itu.
Kalau bayi ini sudah lahir, Clara merasa dirinya
akan mempermalukan anak itu kalau terus bekerja pada bos Julian. Menjadi wanita
pendamping di sebuah klub malam, apa yang akan dikatakan anaknya nanti kalau ia
sudah dewasa.
Akhirnya Clara terpaksa mencari keberadaan Kevin.
Ia mencuri lihat alamat Kevin pada berkas client bos Julian. Dirinya bertemu
dengan Alvin ketika sedang berdiri di depan rumah besar waktu itu. Clara
menceritakan semua yang terjadi malam itu pada Alvin. Ia memang mabuk tapi ia
masih ingat semuanya termasuk saat Kevin memanggil nama Delina sepanjang mereka
Pengakuan Clara menambah keyakinan Alvin kalau
Kevin benar-benar mencintai wanita itu begitu dalam. Sama seperti dirinya
mencintai Amira.
Clara meletakkan perjanjian yang sudah selesai di
bacanya. “Saya ingin mengajukan satu permintaan.”kata Clara berikutnya.
Sementara itu di dalam kamar Kevin, Delina
menurunkan semua pakaiannya yang tergantung di lemari Kevin. Ia melipatnya
dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam koper besar milik Kevin. Setiap pakaian
yang dilipatnya terdapat jejak air matanya yang terus mengalir tidak mau
berhenti.
Delina mengeringkan hidungnya dengan tisu, ia
menarik nafas panjang mencoba menghentikan tangisannya.
“Sudahlah, Delina. Berhenti menangis. Cepat atau
lambat kamu harus berhenti. Semuanya sudah selesai.”kata Delina pada dirinya
sendiri. Ia ingin keluar dari walk in closet itu, tapi kepalanya tiba-tiba
pusing.
Delina memegangi perutnya yang terasa mual, ia
ingin muntah. Sambil berpegangan pada dinding dan hampir jatuh di depan walk in
closet, Delina merasakan tubuhnya ditahan seseorang. Delina mendongak menatap
Ali menopang tubuhnya.
__ADS_1
“Kakak ipar...”kata Ali dengan tatapan mata sedih.
Ia baru pulang dari rumah sakit dan mendapati Kevin dan Clara sedang berdebat
di bawah. Alvin mengusirnya ke lantai atas agar tidak mendengar pembicaraan
mereka.
“Kamar mandi. Aku mual. Hummpp...”
Ali membantu Delina masuk ke kamar mandi. Ia
memegangi kakak iparnya itu ketika Delina memuntahkan semua isi perutnya di
closet.
“Kak, apa kakak sudah makan?”tanya Ali memberikan
handuk pada Delina.
Delina menggeleng, ia belum sempat makan tapi
sepertinya bukan itu penyebab ia mual. Delina memegang perutnya, ia menatap
Ali, mencengkeram lengan pria itu.
“Ali, bisa aku minta tolong. Boleh aku tinggal
sementara di tempatmu. Hanya untuk beberapa hari.”kata Delina mencoba
meyakinkan Ali kalau ia tidak akan lama merepotkannya.
“Kak, kakak boleh tinggal selama yang kakak mau.
Tapi tempatku tidak semewah disini.”kata Ali membantu Delina berdiri.
Delina mengambil tas-nya, ia meminta Ali mengecek
ke bawah. Mereka tidak akan mungkin bisa pergi dari sana kalau semua orang
masih di ruang tamu. Ali keluar dari kamar Kevin yang pintunya tetap terbuka
sejak Delina masuk tadi. Ia kembali dengan cepat, “Tidak ada orang di bawah,
kak. Sepertinya mereka semua pergi.”
“Ayo kita pergi sekarang.”Delina mendorong koper
besarnya, Ali membantu membawakan koper itu menuruni tangga dengan cepat. Tidak
ada seorang pun yang melihat mereka pergi kecuali penjaga depan.
Ali mengendarai mobilnya menuju apartment
pribadinya, tidak ada satupun keluarga Alvin yang tahu letak apartment itu
karena biasanya Ali tidur di rumah besar atau di rumah sakit. Sesampainya
disana, Ali membukakan pintu untuk Delina.
“Kak, pintu ini pakai password. Nanti aku kasi
passwordnya ya. Silakan masuk.”kata Ali mendorong koper besar Delina ke dalam.
Delina melihat-lihat apartment Ali. Apartment itu tidak
terlalu besar, tapi fasilitasnya cukup lengkap. Ada tempat tidur, sofa, TV,
dapur, kamar mandi dengan bath up.
“Kak, aku akan keluar membeli makanan dulu. Kakak
ipar mau makan apa?”tanya Ali.
“Apa ada pizza dengan banyak keju dan daging? Atau
burger dengan daging ayam dan juga keju.”kata Delina mendeskripsikan makanan
yang ingin dimakannya dengan sangat detail sampai Ali juga ikut menelan
liurnya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.