Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 92


__ADS_3

“Hubby!! Kevin!! Hiks... Hiks...”jerit Delina.


Kevin menghentikan hasrat yang hampir saja ingin ia


paksakan pada tubuh Delina. Akal sehatnya kembali lagi. Ia kembali menangis


sedih.


“Maafkan aku, sayang. Aku nggak... Maaf.”Kevin


memeluk Delina erat. “Tolong jangan tinggalkan aku. Aku mohon, Delina. Aku gak


bisa hidup tanpa kamu.”


Delina berusaha menenangkan dirinya yang shock


karena perbuatan Kevin. Ia juga memeluk tubuh Kevin dengan erat.


“Selesaikan dulu... masalah kalian. Kamu harus...


pikirkan nasib bayi itu. Dia tidak bersalah, hubby. Aku akan pergi... sampai


masalah kalian selesai.”putus Delina.


“Aku nggak mau kita bercerai, Delina. Kamu harus


jadi istriku selamanya. Aku nggak mau sama wanita lain selain kamu.”kata Kevin


menyusupkan wajahnya ke leher Delina.


“Aku tidak akan meminta perceraian, hubby. Aku


janji. Tapi ingat, kamu harus adil.”ujar Delina menahan air matanya agar tidak


jatuh lagi.


Kevin mengangguk, ia berjanji akan menyelesaikan


masalah itu agar Clara dan bayinya tidak menderita. Keduanya merapikan


penampilan mereka masing-masing sebelum keluar dari ruang kerja.


Alvin dan Amira sudah ada di ruang tamu, menunggu


mereka keluar dari ruang kerja. Kevin menghempaskan tubuhnya di sofa sementara


Delina tetap berdiri.


“Kalian sudah memutuskan?”tanya Alvin.


Pertanyaan Alvin membuat nyeri di hati Delina


kembali lagi. Ia tidak menyangka pertanyaan yang dilontarkan ayah mertuanya


beberapa hari yang lalu adalah untuk masalah kehamilan Clara. Itu artinya ayah


mertuanya sudah tahu kalau Clara sedang mengandung anak Kevin.


“Sudah, yah. Hubby akan selesaikan masalah ini dan


selama itu, aku akan pergi dari sini.”kata Delina tegar.


“Tapi, Delina. Kamu nggak bisa pergi dari


sini.”protes Amira.


Alvin mengangkat tangannya meminta semua orang diam


dulu. “Delina, malam ini kamu tetap disini dulu. Kamu bisa tetap di kamar


Kevin. Masalah ini, biar ayah yang selesaikan. Sebaiknya kamu istirahat dulu.”


Delina mengangguk menurut. Ia bisa mengemasi


barang-barangnya dari kamar Kevin sambil menunggu hari berganti. Semua orang


menatap Delina yang berjalan menaiki tangga menuju kamar Kevin.


Tinggallah mereka berlima di ruang tamu itu. Alvin memberi


tanda pada Keanu untuk mengeluarkan surat perjanjian yang tentu saja


menguntungkan bagi Kevin dan juga Clara. Keanu menyerahkan surat itu untuk


dibaca Clara dan Kevin.

__ADS_1


Di dalam perjanjian itu tertulis, kalau Kevin dan


Clara tidak bisa menikah. Bayi itu tetap akan diakui sebagai anak kandung Kevin


dan akan memperoleh nama belakang Raditya, tentu saja setelah melewati test DNA


yang ketat.


Clara sebagai ibu kandungnya berhak mengunjungi


bayi itu di rumah besar dan juga berhak menerima tunjangan hidup sebesar


sepuluh juta setiap bulan dari Kevin sampai bayi itu berumur dua puluh satu


tahun dan juga tempat tinggal yang layak.


Clara meremas ujung dress hamil-nya. Setelah


mengandung bayi Kevin, dirinya tetap tidak bisa menikah dengan pria itu. Clara


menimbang sesuatu dalam pikirannya, ia tidak bisa bekerja dengan keadaannya


yang sedang hamil seperti ini. Sejak kehamilannya, bos Julian yang menopang


hidupnya.


Ia banyak berhutang pada bosnya itu.


Kalau bayi ini sudah lahir, Clara merasa dirinya


akan mempermalukan anak itu kalau terus bekerja pada bos Julian. Menjadi wanita


pendamping di sebuah klub malam, apa yang akan dikatakan anaknya nanti kalau ia


sudah dewasa.


Akhirnya Clara terpaksa mencari keberadaan Kevin.


Ia mencuri lihat alamat Kevin pada berkas client bos Julian. Dirinya bertemu


dengan Alvin ketika sedang berdiri di depan rumah besar waktu itu. Clara


menceritakan semua yang terjadi malam itu pada Alvin. Ia memang mabuk tapi ia


masih ingat semuanya termasuk saat Kevin memanggil nama Delina sepanjang mereka


Pengakuan Clara menambah keyakinan Alvin kalau


Kevin benar-benar mencintai wanita itu begitu dalam. Sama seperti dirinya


mencintai Amira.


Clara meletakkan perjanjian yang sudah selesai di


bacanya. “Saya ingin mengajukan satu permintaan.”kata Clara berikutnya.


Sementara itu di dalam kamar Kevin, Delina


menurunkan semua pakaiannya yang tergantung di lemari Kevin. Ia melipatnya


dengan rapi lalu memasukkannya ke dalam koper besar milik Kevin. Setiap pakaian


yang dilipatnya terdapat jejak air matanya yang terus mengalir tidak mau


berhenti.


Delina mengeringkan hidungnya dengan tisu, ia


menarik nafas panjang mencoba menghentikan tangisannya.


“Sudahlah, Delina. Berhenti menangis. Cepat atau


lambat kamu harus berhenti. Semuanya sudah selesai.”kata Delina pada dirinya


sendiri. Ia ingin keluar dari walk in closet itu, tapi kepalanya tiba-tiba


pusing.


Delina memegangi perutnya yang terasa mual, ia


ingin muntah. Sambil berpegangan pada dinding dan hampir jatuh di depan walk in


closet, Delina merasakan tubuhnya ditahan seseorang. Delina mendongak menatap


Ali menopang tubuhnya.

__ADS_1


“Kakak ipar...”kata Ali dengan tatapan mata sedih.


Ia baru pulang dari rumah sakit dan mendapati Kevin dan Clara sedang berdebat


di bawah. Alvin mengusirnya ke lantai atas agar tidak mendengar pembicaraan


mereka.


“Kamar mandi. Aku mual. Hummpp...”


Ali membantu Delina masuk ke kamar mandi. Ia


memegangi kakak iparnya itu ketika Delina memuntahkan semua isi perutnya di


closet.


“Kak, apa kakak sudah makan?”tanya Ali memberikan


handuk pada Delina.


Delina menggeleng, ia belum sempat makan tapi


sepertinya bukan itu penyebab ia mual. Delina memegang perutnya, ia menatap


Ali, mencengkeram lengan pria itu.


“Ali, bisa aku minta tolong. Boleh aku tinggal


sementara di tempatmu. Hanya untuk beberapa hari.”kata Delina mencoba


meyakinkan Ali kalau ia tidak akan lama merepotkannya.


“Kak, kakak boleh tinggal selama yang kakak mau.


Tapi tempatku tidak semewah disini.”kata Ali membantu Delina berdiri.


Delina mengambil tas-nya, ia meminta Ali mengecek


ke bawah. Mereka tidak akan mungkin bisa pergi dari sana kalau semua orang


masih di ruang tamu. Ali keluar dari kamar Kevin yang pintunya tetap terbuka


sejak Delina masuk tadi. Ia kembali dengan cepat, “Tidak ada orang di bawah,


kak. Sepertinya mereka semua pergi.”


“Ayo kita pergi sekarang.”Delina mendorong koper


besarnya, Ali membantu membawakan koper itu menuruni tangga dengan cepat. Tidak


ada seorang pun yang melihat mereka pergi kecuali penjaga depan.


Ali mengendarai mobilnya menuju apartment


pribadinya, tidak ada satupun keluarga Alvin yang tahu letak apartment itu


karena biasanya Ali tidur di rumah besar atau di rumah sakit. Sesampainya


disana, Ali membukakan pintu untuk Delina.


“Kak, pintu ini pakai password. Nanti aku kasi


passwordnya ya. Silakan masuk.”kata Ali mendorong koper besar Delina ke dalam.


Delina melihat-lihat apartment Ali. Apartment itu tidak


terlalu besar, tapi fasilitasnya cukup lengkap. Ada tempat tidur, sofa, TV,


dapur, kamar mandi dengan bath up.


“Kak, aku akan keluar membeli makanan dulu. Kakak


ipar mau makan apa?”tanya Ali.


“Apa ada pizza dengan banyak keju dan daging? Atau


burger dengan daging ayam dan juga keju.”kata Delina mendeskripsikan makanan


yang ingin dimakannya dengan sangat detail sampai Ali juga ikut menelan


liurnya.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2