
PH - Tidak tertarik
“Kenapa bisa sebanyak ini?”tanya Delina pada
dirinya sendiri.
Delina membuka sosial medianya, ia melihat banyak
yang berkomentar tentang sketsanya. Rata-rata mengatakan bagus tapi ada juga
yang hanya sekedar komentar menanyakan kabar Kevin. Delina tersenyum membaca
semua komentar itu. Ia tidak menyadari kalau Kevin sudah berdiri di depannya
hanya memakai handuk.
“Kau sedang apa?”tanya Kevin.
“Saya sedang membaca komentar, tuan muda. Eh, tuan
muda...”
Delina segera berbalik memeriksa suhu air di dalam
bathup dan mematikan kran air. Delina mempersilakan Kevin mandi, sementara ia
berjalan keluar dari kamar mandi.
“Delina! Jangan tutup pintunya. Katakan apa yang
ditulis di komentar itu.”perintah Kevin.
Delina berdiri membelakangi pintu kamar mandi yang
terbuka. Ia mengatakan beberapa komentar pujian tentang sketsa kebayanya yang
bagus. Dan ada juga yang menanyakan tentang Kevin. Delina bertanya kenapa bisa
mereka tahu tentang Kevin. Kevin mengatakan kalau ia membagikan postingan
Delina Kebaya lewat akun sosial medianya.
Kevin mengatakan followernya sangat banyak, dan
beberapa diantara mereka memang suka dengan kebaya. Jadi Kevin membuka jalan
pada Delina agar bisa mempromosikan keahliannya itu. Delina mengucapkan terima
kasih lagi pada Kevin.
Meskipun sangat galak, Kevin selalu menbantunya,
mengajari semua hal yang baru bagi Delina. Bahkan memberinya ponsel pintar.
Delina mendengar suara kucuran air dari shower. Ia bergerak ke samping pintu
kamar mandi agar tidak menghalangi Kevin keluar nanti.
Kevin keluar dari kamar mandi dengan tubuh dibalut
handuk, ia memberikan handuk kecil pada Delina untuk mengeringkan rambutnya
yang basah.
“Delina, habis makan malam, siapkan koperku ya. Aku
harus keluar kota untuk beberapa hari. Aku perlu baju ganti. 3 stel jas, 4 baju
jalan-jalan, 3 baju santai, 2 sepatu, jam tangan. Nanti aku yang pilih. Kau
siapkan koper yang agak besar dan hitung celana dalamku juga.”perintah Kevin.
“Baik, tuan muda.”kata Delina patuh sambil
menggosok rambut Kevin hingga tetesan airnya habis.
“Satu lagi, berikan satu kerudungmu.”
“Buat apa, tuan muda?”tanya Delina bingung.
“Aku memerlukannya. Jangan banyak nanya. Lakukan
saja!”bentak Kevin pura-pura marah.
“Baik, tuan muda.”
”Dasar tuan aneh. Sekarang minta kerudungku,
besok-besok apalagi yang kau minta, tuan?”
Kevin meminta Delina turun duluan, ia masih
berpakaian saat Agnes tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.
“Apa kau tidak bisa mengetuk dulu?!”tanya Kevin
kesal.
“Apa kau akan membukanya kalau aku mengetuk?”balas
__ADS_1
Agnes cuek.
Agnes duduk di tempat tidur Kevin, menatap Kevin
yang baru selesai menarik retsleting celananya saat Agnes masuk.
“Apa kau suka padanya?”tanya Agnes sambil menahan
tangan Kevin.
“Siapa?”tanya Kevin cuek.
“Pelayanmu. Kau suka dia? Apa seleramu sudah
berubah sekarang?”kejar Agnes sambil merangkul lengan Kevin.
“Apa urusanmu kalau aku suka dia?”tanya Kevin
sambil menatap Agnes.
“Kevin, apa kau tidak tertarik padaku?”tanya Agnes
sambil mendorong Kevin terduduk dipinggir tempat tidurnya.
Agnes naik ke pangkuan Kevin dan memegang
pundaknya.
“Kevin, lihat aku baik-baik. Apa aku cantik? Aku
seksi?”tanya Agnes dengan menggoda.
“Ya.”jawab Kevin singkat.
Agnes tersenyum girang mendengar Kevin mengiyakan pertanyaannya.
Ia menghirup aroma parfum Kevin, memeluk tubuh Kevin sangat erat. Dalam keadaan
normal sebelum bertemu Delina, Kevin akan langsung bergairah mendapat serangan
seperti itu dari wanita cantik manapun.
Dan dia akan menyuruh wanita itu bertanggung jawab
menuntaskan hasratnya. Tapi ia tidak bisa merasakan sensasi itu lagi dalam
keadaan sadar sepenuhnya setelah bertemu Delina. Seperti saat ini, Agnes meraba
area sensitifnya yang masih tertidur pulas.
Wajah Agnes memerah merasakan tonjolan lembek di
bawah sana. Ia merayu Kevin sedemikian rupa sampai keringat membasahi
Kevin. Pria itu menatapnya dingin.
“Kamu kenapa, Vin? Capek ya?”tanya Agnes yang mulai
capek.
“Apa menurutmu ‘dia’ tertarik padamu?”tanya Kevin
dingin.
Agnes mendorong tubuh Kevin dan bangkit dengan
cepat. Ia merapikan penampilannya dan mengusap keringat di keningnya. Bahkan
rayuan seperti itu tidak membuat Kevin bergairah padanya. Agnes sangat kesal
sampai membanting pintu kamar Kevin terbuka.
Kevin menggelengkan kepalanya melihat tingkah Agnes.
Saat ini hanya Delina yang bisa membangkitkan gairahnya. Bahkan hanya dengan
sentuhannya saja. Lagi Kevin membayangkan percintaan yang panas dengan Delina.
Bagaimana ia akan memberikan kenikmatan dunia pada wanita yang sudah jadi
istrinya itu.
Kevin merapikan dirinya dengan cepat atau ia akan
terlambat sampai di meja makan. Untung saja Alvin masih sibuk di kamar dengan
Amira ketika Kevin bergabung di meja makan. Giselle dan Agnes sudah ada disana
duluan.
“Agnes, sana duduk dekat Kevin.”perintah Giselle.
Agnes akhirnya pindah ke sebelah Kevin. Ia
tersenyum manis pada Kevin, seolah kejadian tadi tidak terjadi.
“Gak tau malu.”bisik Kevin sambil mengambil gelas
air minum.
__ADS_1
Giselle yang tidak mengetahui apa yang terjadi,
mengira kalau Kevin sedang mengatakan kata-kata manis pada Agnes sehingga Agnes
tersenyum bahagia seperti itu. Dirinya sangat senang melihat cara Kevin melirik
Agnes.
Tapi kebahagiaan Giselle lenyap saat Kevin menoleh pada
Delina yang lewat di dekatnya. Amira meminta Delina membawa semua kebaya yang
sudah diselesaikannya ke dalam kamarnya. Delina bolak-balik sampai 2 kali untuk
membawa kebaya-kebaya itu.
Cukup lama Delina di dalam sana, membuat Kevin
makan dengan tidak tenang. Sampai Agnes harus menyuapinya makan yang diterima
begitu saja oleh Kevin yang fokus menatap pintu kamar orang tuanya.
Giselle kegirangan lagi melihat anak dan
keponakannya jadi dekat seperti itu. Kalau saja Amira melihatnya, dirinya akan
langsung mengusulkan pernikahan Kevin dan Agnes. Tentu saja Giselle akan
kejang-kejang kalau melihat nama Kevin sudah terdaftar di KUA sebagai suami
Delina.
Kevin mengelap sudut bibirnya. Ia ingin ke kamar
orang tuanya dan memanggil Delina. Giselle yang melihat hal itu segera menyuruh
Agnes mengejar Kevin. Pintu kamar Amira terbuka dan Kevin langsung memanggil
Delina.
“Delina, cepat sini. Bantu aku.”perintah Kevin.
“Sebentar, tuan muda. Saya sedang membantu Ny.
memakai kebaya.”jawab Delina.
“Ach, ini bala bantuan datang. Agnes cepat bantu
sana. Delina, ikut aku! Sekarang!”perintah Kevin sambil mendorong Agnes masuk
ke kamar orang tuanya dan menunggu Delina keluar sebelum menutup pintu.
Mereka berdua naik ke lantai 2 dan masuk ke kamar
Kevin. Giselle yang tadi sempat menjawab telpon dari temannya, tidak melihat kejadian
itu dan mengira kalau Kevin dan Agnes berada di dalam kamar Amira.
Delina berusaha keras mengambil koper hitam diatas
lemari. Ia sudah naik ke atas kursi, tapi tangannya masih belum sampai. Ya
jelas saja, Sri yang menaruh koper diatas sana menggunakan tangga yang tersedia
di samping lemari. Delina tidak melihatnya, tangannya menggapai-gapai mencoba
mencapai ujung roda koper tapi tetap tidak sampai.
Tiba-tiba Delina kehilangan keseimbangannya. Ia
hampir jatuh membentur lemari ketika Kevin datang dan langsung menangkapnya. Bruk!
Keduanya terjatuh ke lantai yang dingin. Bukannya merasa sakit, tubuh Kevin
langsung merespon sentuhan Delina dengan cepat.
Kegagahannya terbangun dengan cepat memberinya rasa
ngilu yang menyenangkan. Delina menegakkan tubuhnya. Ia duduk diatas tubuh
Kevin, tepatnya diatas kegagahan Kevin.
“Maaf, tuan muda. Saya bangun sekarang.”kata Delina
mencoba bangkit tapi Kevin menahannya.
“Tetap disana sebentar. Pinggangku sakit. Jangan
bergerak dulu.”pinta Kevin.
Bukan pinggang yang sakit tapi kegagahannya sudah
hampir meledak karena ulah Delina tadi. Delina kembali duduk di tempat semula.
Ia tidak sadar kalau gesekan tubuhnya membuat Kevin hampir menuntaskan
hasratnya.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.