
PH - Kelakuan Agnes
“Apa kau sudah gila!!”teriak Kevin lagi.
Keduanya menoleh pada Delina yang berdiri diam di
tempat sambil membawa nampan berisi kopi dan cemilan Kevin.
“Delina, masuk! Cepat masuk!”perintah Kevin galak.
“Ba... baik, tuan muda.”kata Delina patuh.
Agnes hanya diam saat melihat Delina masuk ke kamar
Kevin. Ia menatap Kevin lagi dengan mata cantiknya yang berbinar indah. Kevin
mengabaikan Agnes dengan masuk ke kamarnya, tapi ia tidak bisa menutup pintu
karena Agnes ingin masuk ke kamarnya lagi.
Delina melihat bagaimana Agnes bersikeras masuk ke
kamar Kevin. Hal yang cukup aneh bagi Delina, Agnes tidak pernah bersikap
seperti ini sebelumnya. Ia tetap berdiri di dekat meja, memperhatikan apa yang
Agnes lakukan berikutnya. Agnes dengan sangat agresif merangkul leher Kevin.
Delina menunduk tidak mau melihat hal intim yang
terjadi di depannya. Ia beranjak ke walk in closet Kevin untuk menyiapkan
pakaian gantinya. Kevin yang melihat Delina malah pergi menghindar, jadi
semakin marah pada Agnes.
“Keluar kamu!!”bentak Kevin di wajah Agnes.
Agnes ciut mendengar teriakan Kevin, apalagi Kevin
menariknya dengan kasar keluar dari kamarnya. Brak! Pintu kamar Kevin tertutup
dan terkunci.
“Kau nggak boleh keluar!”bentak Kevin lagi pada
Delina.
“Baik, tuan muda.”kata Delina.
Kevin hampir masuk ke kamar mandi, setelah melepas
sisa pakaian yang masih ia kenakan. Kevin kembali lagi ke walk in closet dan
menarik tangan Delina masuk ke kamar mandi.
“Tuan muda...”panggil Delina.
Ia sangat terkejut melihat Kevin melepas handuk
yang melingkar di pinggangnya dan masuk ke bathup. Delina memejamkan matanya
tepat waktu dan berbalik.
“Delina, pijat kepalaku! Bantu aku keramas,
cepat!”perintah Kevin.
Delina melihat Kevin sangat marah, ia berusaha
bergerak lebih cepat mengambil handuk dan sampo. Delina duduk di belakang
Kevin, membasahi rambut Kevin pelan-pelan dan mulai menuangkan sampo ke
tangannya.
Kevin memejamkan matanya merasakan pijatan tangan
lembut Delina. Delina melakukan pijatan pada kepala Kevin merata ke seluruh
bagian kepalanya. Telinga Kevin juga tidak luput dari usapan tangan Delina.
Saat telinganya di sentuh, Kevin merasakan
hasratnya mulai naik, ia sangat suka telinganya di sentuh apalagi di gigit.
Sesuatu dibawah perut Kevin mulai bergejolak. Delina yang fokus membersihkan
rambut Kevin, tidak menyadari hasrat pria itu yang semakin membara.
“Tuan muda, mau dibilas sendiri? Nanti lantainya
basah kalau saya bilas disini.”kata Delina.
__ADS_1
“Sudah selesai? Pijat lagi, sini pundakku.”perintah
Kevin.
Ia belum selesai menikmati sentuhan tangan Delina
yang berhasil membuat pikirannya rileks lagi. Kevin sudah lelah bekerja
seharian, sampai rumah dirinya sudah berharap akan disambut senyum manis Delina
di dalam kamarnya. Tapi malah melihat Agnes memakai baju seksi, sedang
tengkurap diatas ranjangnya.
Kevin langsung mengusir Agnes keluar dari kamarnya,
tapi sepupunya itu tidak mau pergi. Agnes dengan agresif melepas jas, dasi, dan
kemeja Kevin. Bahkan melepas gesper sabuk dan hampir menarik celana Kevin.
Ketika hasratnya semakin memuncak dan hampir
terlampiaskan, Kevin menarik tangan Delina agar menyentuh pipinya. Delina mencoba
menarik tangannya tapi Kevin menggenggamnya terlalu erat. Kevin mengerang tanpa
sadar, Delina merasakan pegangan Kevin mengendur. Ia segera bangkit dan keluar
dari kamar mandi.
Kevin memejamkan matanya merasakan kenikmatan
menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia melirik ke belakang, Delina sudah tidak ada di
belakangnya,
”Sinting! Hanya dengan sentuhan tangannya, aku
bisa... Oh, rasanya enak sekali.”desah Kevin lagi.
Delina mengambil pakaian Kevin yang berserakan di
lantai dan memasukkannya ke keranjang pakaian kotor. Ia mengambil pakaian ganti
untuk Kevin, meletakkan pakaian itu diatas ranjang Kevin.
Delina melihat pemandangan dari jendela kamar Kevin
yang mengarah ke utara. Ia bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dari
hingga membuatnya ingin menggambar sebuah sketsa kebaya.
Delina mengambil kertas dan pulpen yang selalu
tersedia di atas nakas tempat tidur Kevin. Ia duduk di kursi dan mulai
memejamkan matanya, satu persatu goresan pulpen mulai menyatu membentuk model
kebaya baru. Delina membuka laci nakas, ada spidol warna-warni disana. Ia
sempat melihatnya ketika pertama kali membersihkan kamar itu.
Delina mewarnai sketsa kebayanya dengan campuran
warna coklat, oranye, dan kuning. Terlalu asyik menggambar, Delina tidak
menyadari kalau Kevin sudah keluar dari kamar mandi dan sedang memakai
pakaiannya di samping tempat tidur.
“Kau sedang apa?”tanya Kevin.
Ia mengeringkan rambutnya dan duduk di samping
tempat tidur.
“Saya sedang membuat sketsa kebaya, tuan muda. Tuan
muda sudah selesai berpakaian?”tanya Delina belum berani menoleh.
“Lihat aku. Sini, aku mau lihat gambarmu.”pinta
Kevin.
Delina melirik sebentar dan bangkit mendekati
Kevin. Kevin melihat sketsa kebaya yang dibuat Delina sangat bagus.
“Kau pintar gambar rupanya. Apa kau bisa menggambar
wajahku?”tanya Kevin.
“Saya hanya bisa membuat sketsa baju, tuan muda.”
__ADS_1
“Sini, aku ajari cara mengambil foto yang
bagus.”ajak Kevin.
“Benarkah? Tuan muda bisa?”
Kevin tersenyum, ia mengambil ponselnya dan
mengambil foto sketsa itu dari bermacam arah. Ia memberitahu Delina, untuk
memilih salah satu foto yang paling bagus. Ketika Delina memilih salah satu,
Kevin menjelaskan bagaimana cara mengambil foto itu dan apa yang perlu
diperhatikan.
Satu sketsa telah diposting untuk pertama kalinya
pada sosial media Delina Kebaya. Tanpa diketahui Delina, Kevin menautkan
postingan itu pada akun sosial media pribadinya. Dalam sekejap, banyak like
yang Delina dapatkan pada postingannya itu.
Tok, tok, tok...
Keduanya menoleh menatap ke arah pintu kamar.
Delina beranjak membuka pintu kamar Kevin. Plak! Sebuah tamparan langsung
mendarat di pipi Delina. Ia terhuyung ke belakang sambil memegangi pipinya.
Kevin berdiri dari duduknya, melihat Delina ditampar Agnes.
“Agnes! Berani...”bentak Kevin terpotong.
“Kevin sayang. Seharusnya kau tidak boleh bersama
gadis gak jelas ini lama-lama.”kata Giselle sambil berjalan memasuki kamar Kevin
setelah Agnes menampar Delina.
“Pergi kau!”bentak Agnes pada Delina.
Delina berjalan cepat keluar dari kamar Kevin. Ia
lebih baik menghindar dari Giselle atau dirinya akan terkena masalah. Kevin
yang tidak ingin berlama-lama dengan Giselle dan Agnes di kamarnya, segera
keluar kamar membawa sketsa dan ponsel Delina.
Kevin langsung menuju kamar Delina, ia melihat
Delina berdiri didepan cermin sambil memperhatikan pipinya yang bengkak akibat
tamparan Agnes.
“Apa terasa sakit?”tanya Kevin di belakang Delina.
“Tidak, tuan muda. Tidak terlalu sakit. Kenapa tuan
muda kesini?”tanya Delina sopan.
“Kau meninggalkan gambar dan ponselmu di kamarku. Mana
gambarmu yang lain? Kita bisa posting lagi.”kata Kevin.
“Mm... tuan muda sebaiknya kembali ke kamar saja.
Saya ingin sendiri.”
Kevin mengepalkan tangannya melihat keacuhan
Delina. Ia merasa sejak kedatangan Giselle ke rumah itu lagi, Delina lebih
banyak menahan dirinya. Alih-alih mematuhinya saja, Delina dengan mudah
terintimidasi oleh Giselle.
“Delina, apa kamu marah?”tanya Kevin.
“Apa hak saya untuk marah, tuan muda. Saya hanya
pelayan disini.”kata Delina pasrah.
Kevin mengepalkan tangannya lagi. Ia ingin
melakukan sesuatu yang bisa membuat Delina memiliki hak untuk bisa membela
dirinya.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.