Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Kelakuan Agnes


__ADS_3

PH - Kelakuan Agnes


“Apa kau sudah gila!!”teriak Kevin lagi.


Keduanya menoleh pada Delina yang berdiri diam di


tempat sambil membawa nampan berisi kopi dan cemilan Kevin.


“Delina, masuk! Cepat masuk!”perintah Kevin galak.


“Ba... baik, tuan muda.”kata Delina patuh.


Agnes hanya diam saat melihat Delina masuk ke kamar


Kevin. Ia menatap Kevin lagi dengan mata cantiknya yang berbinar indah. Kevin


mengabaikan Agnes dengan masuk ke kamarnya, tapi ia tidak bisa menutup pintu


karena Agnes ingin masuk ke kamarnya lagi.


Delina melihat bagaimana Agnes bersikeras masuk ke


kamar Kevin. Hal yang cukup aneh bagi Delina, Agnes tidak pernah bersikap


seperti ini sebelumnya. Ia tetap berdiri di dekat meja, memperhatikan apa yang


Agnes lakukan berikutnya. Agnes dengan sangat agresif merangkul leher Kevin.


Delina menunduk tidak mau melihat hal intim yang


terjadi di depannya. Ia beranjak ke walk in closet Kevin untuk menyiapkan


pakaian gantinya. Kevin yang melihat Delina malah pergi menghindar, jadi


semakin marah pada Agnes.


“Keluar kamu!!”bentak Kevin di wajah Agnes.


Agnes ciut mendengar teriakan Kevin, apalagi Kevin


menariknya dengan kasar keluar dari kamarnya. Brak! Pintu kamar Kevin tertutup


dan terkunci.


“Kau nggak boleh keluar!”bentak Kevin lagi pada


Delina.


“Baik, tuan muda.”kata Delina.


Kevin hampir masuk ke kamar mandi, setelah melepas


sisa pakaian yang masih ia kenakan. Kevin kembali lagi ke walk in closet dan


menarik tangan Delina masuk ke kamar mandi.


“Tuan muda...”panggil Delina.


Ia sangat terkejut melihat Kevin melepas handuk


yang melingkar di pinggangnya dan masuk ke bathup. Delina memejamkan matanya


tepat waktu dan berbalik.


“Delina, pijat kepalaku! Bantu aku keramas,


cepat!”perintah Kevin.


Delina melihat Kevin sangat marah, ia berusaha


bergerak lebih cepat mengambil handuk dan sampo. Delina duduk di belakang


Kevin, membasahi rambut Kevin pelan-pelan dan mulai menuangkan sampo ke


tangannya.


Kevin memejamkan matanya merasakan pijatan tangan


lembut Delina. Delina melakukan pijatan pada kepala Kevin merata ke seluruh


bagian kepalanya. Telinga Kevin juga tidak luput dari usapan tangan Delina.


Saat telinganya di sentuh, Kevin merasakan


hasratnya mulai naik, ia sangat suka telinganya di sentuh apalagi di gigit.


Sesuatu dibawah perut Kevin mulai bergejolak. Delina yang fokus membersihkan


rambut Kevin, tidak menyadari hasrat pria itu yang semakin membara.


“Tuan muda, mau dibilas sendiri? Nanti lantainya


basah kalau saya bilas disini.”kata Delina.

__ADS_1


“Sudah selesai? Pijat lagi, sini pundakku.”perintah


Kevin.


Ia belum selesai menikmati sentuhan tangan Delina


yang berhasil membuat pikirannya rileks lagi. Kevin sudah lelah bekerja


seharian, sampai rumah dirinya sudah berharap akan disambut senyum manis Delina


di dalam kamarnya. Tapi malah melihat Agnes memakai baju seksi, sedang


tengkurap diatas ranjangnya.


Kevin langsung mengusir Agnes keluar dari kamarnya,


tapi sepupunya itu tidak mau pergi. Agnes dengan agresif melepas jas, dasi, dan


kemeja Kevin. Bahkan melepas gesper sabuk dan hampir menarik celana Kevin.


Ketika hasratnya semakin memuncak dan hampir


terlampiaskan, Kevin menarik tangan Delina agar menyentuh pipinya. Delina mencoba


menarik tangannya tapi Kevin menggenggamnya terlalu erat. Kevin mengerang tanpa


sadar, Delina merasakan pegangan Kevin mengendur. Ia segera bangkit dan keluar


dari kamar mandi.


Kevin memejamkan matanya merasakan kenikmatan


menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia melirik ke belakang, Delina sudah tidak ada di


belakangnya,


”Sinting! Hanya dengan sentuhan tangannya, aku


bisa... Oh, rasanya enak sekali.”desah Kevin lagi.


Delina mengambil pakaian Kevin yang berserakan di


lantai dan memasukkannya ke keranjang pakaian kotor. Ia mengambil pakaian ganti


untuk Kevin, meletakkan pakaian itu diatas ranjang Kevin.


Delina melihat pemandangan dari jendela kamar Kevin


yang mengarah ke utara. Ia bisa melihat matahari terbit dan tenggelam dari


hingga membuatnya ingin menggambar sebuah sketsa kebaya.


Delina mengambil kertas dan pulpen yang selalu


tersedia di atas nakas tempat tidur Kevin. Ia duduk di kursi dan mulai


memejamkan matanya, satu persatu goresan pulpen mulai menyatu membentuk model


kebaya baru. Delina membuka laci nakas, ada spidol warna-warni disana. Ia


sempat melihatnya ketika pertama kali membersihkan kamar itu.


Delina mewarnai sketsa kebayanya dengan campuran


warna coklat, oranye, dan kuning. Terlalu asyik menggambar, Delina tidak


menyadari kalau Kevin sudah keluar dari kamar mandi dan sedang memakai


pakaiannya di samping tempat tidur.


“Kau sedang apa?”tanya Kevin.


Ia mengeringkan rambutnya dan duduk di samping


tempat tidur.


“Saya sedang membuat sketsa kebaya, tuan muda. Tuan


muda sudah selesai berpakaian?”tanya Delina belum berani menoleh.


“Lihat aku. Sini, aku mau lihat gambarmu.”pinta


Kevin.


Delina melirik sebentar dan bangkit mendekati


Kevin. Kevin melihat sketsa kebaya yang dibuat Delina sangat bagus.


“Kau pintar gambar rupanya. Apa kau bisa menggambar


wajahku?”tanya Kevin.


“Saya hanya bisa membuat sketsa baju, tuan muda.”

__ADS_1


“Sini, aku ajari cara mengambil foto yang


bagus.”ajak Kevin.


“Benarkah? Tuan muda bisa?”


Kevin tersenyum, ia mengambil ponselnya dan


mengambil foto sketsa itu dari bermacam arah. Ia memberitahu Delina, untuk


memilih salah satu foto yang paling bagus. Ketika Delina memilih salah satu,


Kevin menjelaskan bagaimana cara mengambil foto itu dan apa yang perlu


diperhatikan.


Satu sketsa telah diposting untuk pertama kalinya


pada sosial media Delina Kebaya. Tanpa diketahui Delina, Kevin menautkan


postingan itu pada akun sosial media pribadinya. Dalam sekejap, banyak like


yang Delina dapatkan pada postingannya itu.


Tok, tok, tok...


Keduanya menoleh menatap ke arah pintu kamar.


Delina beranjak membuka pintu kamar Kevin. Plak! Sebuah tamparan langsung


mendarat di pipi Delina. Ia terhuyung ke belakang sambil memegangi pipinya.


Kevin berdiri dari duduknya, melihat Delina ditampar Agnes.


“Agnes! Berani...”bentak Kevin terpotong.


“Kevin sayang. Seharusnya kau tidak boleh bersama


gadis gak jelas ini lama-lama.”kata Giselle sambil berjalan memasuki kamar Kevin


setelah Agnes menampar Delina.


“Pergi kau!”bentak Agnes pada Delina.


Delina berjalan cepat keluar dari kamar Kevin. Ia


lebih baik menghindar dari Giselle atau dirinya akan terkena masalah. Kevin


yang tidak ingin berlama-lama dengan Giselle dan Agnes di kamarnya, segera


keluar kamar membawa sketsa dan ponsel Delina.


Kevin langsung menuju kamar Delina, ia melihat


Delina berdiri didepan cermin sambil memperhatikan pipinya yang bengkak akibat


tamparan Agnes.


“Apa terasa sakit?”tanya Kevin di belakang Delina.


“Tidak, tuan muda. Tidak terlalu sakit. Kenapa tuan


muda kesini?”tanya Delina sopan.


“Kau meninggalkan gambar dan ponselmu di kamarku. Mana


gambarmu yang lain? Kita bisa posting lagi.”kata Kevin.


“Mm... tuan muda sebaiknya kembali ke kamar saja.


Saya ingin sendiri.”


Kevin mengepalkan tangannya melihat keacuhan


Delina. Ia merasa sejak kedatangan Giselle ke rumah itu lagi, Delina lebih


banyak menahan dirinya. Alih-alih mematuhinya saja, Delina dengan mudah


terintimidasi oleh Giselle.


“Delina, apa kamu marah?”tanya Kevin.


“Apa hak saya untuk marah, tuan muda. Saya hanya


pelayan disini.”kata Delina pasrah.


Kevin mengepalkan tangannya lagi. Ia ingin


melakukan sesuatu yang bisa membuat Delina memiliki hak untuk bisa membela


dirinya.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2