
Ali tidak mengatakan apa-apa, ia hampir melucuti
pakaiannya juga. Agnes menghentikan perbuatan Ali, “Tu...tunggu dulu. Kamu mau
ngapain?!”panik Agnes menahan tangan Ali.
“Aku mau buat kamu hamil, biar kita bisa nikah
secepatnya.”kata Ali menatap tajam mata Agnes.
“Jangan! Ali! Serius nich, aku masih terikat
kontrak model. Kalo aku hamil, pinaltynya gede banget. Jangan ya. Aku mau kok
nikah sama kamu. Tapi habis kontrak ini.”bujuk Agnes sambil tersenyum imut.
Ali memicingkan matanya, “Dan kapan tepatnya
kontrak itu habis?”
Pucat wajah Agnes mengingat kalau kontrak modelnya
akan berakhir minggu depan. Ia berpikir cepat mau bohong atau jujur pada Ali. Pria
itu tidak akan melepaskan kalau ia menjawab jujur, tapi kalau bohong... Agnes
bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Ali.
“Mi... minggu depan.”jawab Agnes jujur. ”Tuch kan
langsung senyum mesum kayak gitu. Habislah sudah diriku hari ini.”
“Tapi, kamu harus ngomong dulu sama mama. Aku mau
dilamar baik-baik, bukan karena udah hamil duluan.”kata Agnes cepat.
Ali menegakkan tubuhnya, ia tersenyum penuh
kemenangan. Agnes segera merapikan pakaiannya lalu duduk manis di sofa besar.
Ali minta Agnes mengosongkan jadwalnya besok malam. Agnes menatap Ali, “Kamu
mau dateng sama siapa? Jangan sendirian dong.”
“Ya sama ayah sama ibu lah. Ya kali nglamar
sendirian.”kata Ali cepat-cepat merapikan pakaiannya lagi.
Agnes melirik tubuh kekar Ali, ia menarik lengan pria
itu lalu nemplok di dadanya. Tangan Agnes tidak bisa diam menyentuh otot perut
Ali. Menusuk, mencubit, meraba sampai Ali kegelian dengan kelakuan Agnes.
“Stop dong! Geli banget. Agnes, geli...”ucap Ali
mencoba menahan tangan Agnes.
Agnes berpindah duduk dipangkuan Ali lagi. Ia
tersenyum malu-malu sebelum mencium bibir seksi Ali. Pria itu sedikit terlena
menerima serangan Agnes yang tiba-tiba. Sangat jarang Agnes berinisiatif
seperti ini.
Teringat sesuatu, tiba-tiba Agnes menghentikan
ciumannya. Ia menatap Ali yang masih ingin berciuman dengan Agnes. “Tadi kamu
bilang ayah sama ibu? Emang om Alvin dan tante Amira udah balik?”tanya Agnes
menutup mulut Ali dengan tangannya. Ali hanya bisa mengangguk.
Agnes menggigit kukunya, salah satu kebiasaannya
kalau gugup. Entah apa mamanya akan terima lamaran Ali kalau ia datang bersama
Alvin dan Amira. Setahu Agnes, kedua om dan tantenya itu sudah bangkrut. Delina
yang selama ini membantu kehidupan mama dan papa Agnes lewat transferan uang
yang Delina kirimkan ke rekening Agnes.
“Kali ini aku beneran akan mati.”gumam Agnes
__ADS_1
ketakutan duluan.
Ali memeluk Agnes lagi, ia menenangkan gadis itu. “Aku
yakin, mamamu nggak akan bisa menolakku.”kata Ali yakin.
Agnes semakin tidak tenang. Demi Ali, ia sudah
banyak menolak perjodohan dengan anak orang kaya yang diatur mamanya. Agnes
selalu beralasan kalau ia masih terikat kontrak model, jadi belum boleh
menikah. Ali yang mengerti kekhawatiran Agnes, mengatakan kalau Agnes hanya
perlu percaya padanya.
*****
Delina terbangun ketika merasakan mobil tidak lagi
berjalan. Ia melihat ke samping, Alvin masih setia menemani Delina.
“Ina, kamu sudah bangun. Ayo turun.”ajak Alvin
membuka pintu untuk dirinya dan Delina.
Delina melihat sekeliling rumah besar dihadapannya.
Alvin menuntun Delina masuk ke dalam rumah itu.
“Ayah, ini rumah siapa?”tanya Delina bingung.
“Ini rumahnya Riana. Kamu ingat dia kan? Teman
kecilnya Kevin.”jelas Alvin.
Delina melihat seorang wanita mendekati mereka dan
meminta mereka mengikutinya. Mereka menaiki tangga menuju lantai dua dan
berhenti di depan sebuah pintu. Tok! Tok! Tok! Wanita tadi membuka pintu
setelah mengetuk pintu perlahan.
Riana dengan senyuman manisnya.
Delina tertegun melihat sosok suaminya berdiri di
dekat jendela besar. Kevin menoleh menatap Delina, senyum mengembang di
bibirnya.
“Sayang....”panggil Kevin mengulurkan tangannya.
Delina sangat ingin mendekati Kevin, tapi kakinya
terasa kebas. Alvin memegangi tubuh Delina yang hampir meluncur turun jatuh ke
lantai. Kevin berlari menjangkau tubuh istrinya itu lalu memeluknya. Tubuh Delina
terguncang hebat, ia menangis dalam pelukan Kevin.
Riana mengusap sudut matanya, Alvin memberi tanda
untuk meninggalkan mereka berdua di kamar itu. Kevin mengusap-usap punggung
Delina, ia juga menangis sedih dan gembira bisa bertemu Delina lagi. Perlahan
Kevin menggendong tubuh Delina dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Ketika Kevin ingin menarik selimut menutupi kaki
Delina, wanita itu menarik tangan Kevin agar tidak meninggalkannya lagi. Delina
memeluk Kevin sangat erat sampai ia merasa perutnya akan meledak.
Huft! Huft! Delina menarik nafas panjang, mengelus
perut besarnya.
“Hubby....”panggil Delina.
“Iya, sayang. Ini aku, Kevin. Delina, aku sangat
merindukanmu.”ucap Kevin menunduk hampir mencium Delina.
__ADS_1
“Tunggu, hubby kemana aja? Kenapa baru kembali
sekarang?”tanya Delina dengan kening mengkerut. Kevin terpaksa menceritakan apa
yang terjadi padanya setelah kecelakaan waktu itu.
...Flash back on...
Kevin menyilangkan kedua tangannya di depan
wajahnya saat mobilnya meluncur dari atas jembatan langsung terjun ke sungai. Air
bag di mobilnya cukup tebal, jadi meskipun mobilnya ringsek. Kevin tidak
terluka parah, ia berusaha keluar dari dalam mobil dan berenang ke pinggir
tanpa diketahui siapapun.
Sementara body guard Alvin dan dokter Riana sudah
menunggu di tempat yang tidak terlihat orang-orang. Riana memeriksa kondisi Kevin
yang saat itu mengalami patah tulang di salah satu jarinya. Selebihnya hanya
lebam terkena benturan.
Alvin merencanakan kecelakaan Kevin dan
menyembunyikan putranya itu dari seluruh dunia bersamaan dengan pengumuman
kebangkrutannya. Ia tampak senang sekali melakukannya karena itu artinya ia
bisa menikmati bulan madu lagi dengan Amira.
Delina yang tidak mengetahui rencana Alvin, sama
terkejutnya saat mendengar kecelakaan Kevin dan pengumuman saat perusahaan
Alvin telah dijual kepada ‘Miracle’. Alvin mengalihkan semua saham keluarganya
kepada ‘Miracle’ yang tidak lain adalah perusahaan milik Delina. Ia juga
mengalihkan semua property atas namanya menjadi atas nama Delina. Dalam
semalam, Delina sudah bertambah kaya sekitar 500M.
Ditengah kebingungannya, Delina hanya menerima
pesan dari Alvin agar Delina menjaga semua asetnya, kedua cucunya, dan juga
menjaga dirinya. Alvin dan Amira bahkan pergi tanpa berpamitan pada Delina.
Sementara Alvin dan Amira pergi keluar kota, Kevin
tinggal di rumah Riana. Rencana Alvin begitu matang dan tertutup sampai-sampai
Delina dan keluarga besar Alvin tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
...Flash back off...
Delina kembali menangis dalam pelukan Kevin, ia
sudah tidak setegar dulu lagi. Kali ini Delina ingin sedikit egois untuk
mempertahankan Kevin tetap disisinya. Delina sudah memastikan kalau Clara tidak
akan pernah mengganggu Emilia dan Kevin lagi.
Menghilangnya Kevin membuat Delina menyadari
dirinya harus melindungi keluarga Alvin apapun yang terjadi. Beruntung Keanu
tidak ikut menghilang dan tetap disisinya sampai saat ini. Delina yang buta
dengan pekerjaan Alvin perlahan mulai menunjukkan kalau dirinya mampu. Meskipun
tidak menghasilkan sesuatu yang baru, setidaknya Delina bisa menjaga perusahaan
Alvin selama ayah mertuanya itu pergi.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1