
“Tapi...” cegah Delina.
Agnes tidak mau dengar. Ia baru saja mengirimkan
foto kedua pada Kevin saat Delina memasang bra seksi di dadanya untuk mengecek
ukurannya. Kevin bahkan belum melihat chatnya yang pertama. Agnes membayar
belanjaan Delina dengan kartu Kevin dan Delina melotot melihat struknya.
Agnes meminta Delina diam, dan mengajak Delina
keluar dari toko itu. Mereka harus pulang sebelum makan malam, atau Alvin akan
marah besar.
Sampai di mobil Agnes, mereka celingukan mencari
sopir yang ternyata duduk di bangku tunggu. Sopir itu berlari sambil
terbungkuk-bungkuk melihat majikannya berdiri sambil membawa banyak tas
belanjaan.
Sopir itu dengan sigap mengambil tas belanjaan di
tangan Delina dan Agnes dan membukakan pintu untuk Delina. Agnes sudah lebih
dulu berputar ke pintu sebelah untuk masuk ke dalam mobil. Mereka segera keluar
dari parkir mall dan sopir melajukan mobil menuju rumah.
Agnes melihat ponselnya ketika mendengar notif chat
yang terus berbunyi. Ia menahan tawanya melihat balasan chat dari Kevin.
“Serius? Dia mau pakai itu?”
“Agnes! Kamu jangan bilang yang aneh2.”
“Delina akan membunuhku!”
“Agnes! Sialan! Dia serius mau pakai lingeri?”
“Hei! Jawab chatku.”
“Pakaian dalam juga?! Itu seksi sekali.”
“Agnes! Woi!!”
Agnes meletakkan ponselnya kembali ke dalam tas,
membaca chat itu tanpa membalasnya dan mengabaikan chat berikutnya. Ia
tersenyum puas bisa membalas Delina yang sempat mengerjainya tadi bersama
Aliando.
*****
Kevin seperti orang kesurupan saat melihat chat
dari Agnes. Aliando yang masih belum beranjak dari sisinya, sampai kebingungan
melihat Kevin kegirangan sambil melihat ponselnya.
“Apa kakak mulai gila? Karena aku harus buat temu
janji dengan dokter jiwa dulu.” Kata Aliando sambil pindah duduk jauh dari
Kevin.
“Kenapa dia tidak balas chatku? Aaarrgghh...!!”
teriak Kevin frustasi.
“Oke, aku akan buat temu janji besok, kak.” kata
Aliando yakin.
__ADS_1
“Kau kira aku gila?!” hardik Kevin sambil duduk
kembali ke sofa.
“Kakak tiba-tiba berteriak kegirangan dan langsung
marah-marah gak jelas. Serius, aku bisa rekomendasikan dokter jiwa yang bagus.”
kata Aliando dengan wajah serius.
Pletak! Sebuah pukulan kembali mendarat di kepala
Aliando. Ia sampai merunduk memegangi kepalanya yang beneran sakit kali ini.
Kevin kembali melihat foto Delina, ia membayangkan
istrinya itu memakai lingeri di balik dress panjangnya dan meminta Kevin
membuka dress-nya. Hanya membayangkannya saja membuat Kevin panas dingin.
Nafasnya mulai ngos-ngosan dengan segala pikiran kotornya pada Delina.
Tapi kemudian ia tenang kembali, Delina tidak akan
melakukan hal seperti itu. Istrinya itu sangat polos, sampai-sampai untuk
mencium Delina saja, Kevin harus berpikir dua kali. Mana mungkin Delina akan
mau memakai pakaian yang minim bahan seperti itu. Tapi bagaimana kalau Agnes
sudah mengatakan sesuatu yang membuat Delina berubah pikiran?
Sedang asyik melamun, Kevin tidak menyadari kalau
Delina dan Agnes sudah sampai di rumah kembali. Mereka berdua masuk sambil
membawa tas belanjaan, setelah Delina meminta sopir untuk beristirahat saja.
Mereka berdua masuk dengan tawa bahagia, yang langsung menghilang dari wajah
cantik Agnes saat melihat Aliando.
Delina.
Delina melihat Aliando sudah tersenyum menatap
Agnes. Ia menepuk tangan Agnes dan mengajaknya mendekati Kevin.
“Hubby, aku sudah pulang. Kau sudah makan?”tanya Delina
pada Kevin.
Kevin gelagapan melihat Delina sudah berdiri di
depannya, ia melihat Agnes tersenyum jahil di belakang Delina.
“Aku... iya, maksudku aku belum makan.”kata Kevin
dengan wajah merah.
“Kenapa? Apa kau sakit, hubby? Mukamu kenapa
merah?”tanya Delina sambil menyentuh kening Kevin.
Bukannya merasa lebih baik, wajah Kevin semakin
memerah. Ia memegang tangan Delina yang menyentuh keningnya dan mengajak Delina
untuk istirahat di kamar mereka. Agnes mengekor mereka dengan cepat,
meninggalkan Aliando yang masih menatapnya. Aliando tertawa lepas melihat
reaksi Agnes yang ketakutan.
Mereka bertiga naik ke lantai 2, sampai di depan
kamar Kevin, Agnes menyerahkan tas belanjaan yang berisi pakaian dalam dan
lingeri milik Delina dan juga black card milik Kevin. Agnes minta Delina
__ADS_1
menunggu di depan pintu sampai ia masuk ke kamarnya sendiri. Setelah celingukan
seperti maling, Agnes buru-buru masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu
dengan cepat.
Delina yang kebingungan melihat Agnes, masuk ke dalam
kamar dan menutup pintunya. Kevin langsung duduk di samping tempat tidur, ia
mengambil gelas dan menghabiskan air di dalam gelas itu dalam sekali teguk.
“Apa yang kau beli?” tanya Kevin mencoba
menetralkan suaranya yang mulai serak.
“Ini lingeri dan pakaian dalam. Aku mandi dulu
ya.”kata Delina biasa saja seolah jawabannya barusan hanya obrolan ringan
dengan Kevin.
“Coba pakai. Aku mau lihat.”kata Kevin melempar
umpan.
Delina menatap Kevin, ia ingat kata-kata Agnes tadi
yang mengatakan kalau Kevin tidak akan bereaksi apa-apa saat melihatnya memakai
lingeri. Dan Delina mempercayai kata-kata Agnes itu.
“Okey, tapi aku mandi dulu ya. Kamu mau lihat yang
mana, hubby?” tanya Delina sambil membuka tas belanjaan itu dan mengeluarkan
isinya.
Kevin menelan salivanya dengan susah payah, ia
menunjuk lingeri berwarna merah dan Delina membawanya masuk ke dalam kamar
mandi. Kevin mencelos diatas tempat tidur setelah pintu kamar mandi tertutup
dengan baik.
Tangannya gemetar mengambil ponselnya dan mengetik
chat untuk Agnes.
“Apa yang kau katakan pada Delina?” ketik Kevin.
“Jangan bereaksi apa-apa saat kau melihatnya
memakai lingeri.” balas Agnes.
“Apa maksudmu? Serius, dia akan memakainya?” ketik
Kevin lagi.
“Ya. Mungkin. Pokoknya jangan bereaksi apa-apa
sampai dia memakai semuanya dan menunjukkannya padamu.” balas Agnes lagi.
“Apa kau gila! Bagaimana aku harus diam? Dia mau
pakai LINGERI!” tulis Kevin lagi hampir gila.
“Kau bisa menyerangnya habis itu. Coba lakukan itu,
siapa tau dia sudah mau tidur denganmu. Itupun kalo kau berani.” balas Agnes
sambil tertawa puas di dalam kamarnya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1