Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Intimidasi Giselle


__ADS_3

PH - Intimidasi Giselle


Delina mulai memijat kepala Kevin sampai wajah


Kevin memerah menahan sesuatu. Ia tiba-tiba bangkit, menatap Delina dan mulai


mendekatinya.


Delina berpaling, dengan cepat bangkit dari duduknya.


Ia merasakan Kevin berbeda dari biasanya, cara Kevin menatapnya sangat lembut


dan mendambakannya.


“Tuan muda, kita kembali saja ya. Saya akan buatkan


cemilan yang enak.”kata Delina sambil merapikan kerudungnya.


Kevin benar-benar ingin memeluk Delina sekarang dan


mengatakan ‘aku sangat mencintaimu, istriku.’ Tapi Kevin menahan dirinya, cepat


atau lambat ia akan memberitahu Delina tapi tidak sekarang.


“Sekali saja. Boleh aku memelukmu?”tanya Kevin


membuat Delina menoleh padanya.


“Tuan bicara apa? Sebaiknya kita pulang, tuan muda.


Tidak baik berdua seperti ini lama-lama.”


Delina berjalan keluar dari kamar, ia menunggu di


dekat pintu keluar. Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat frustasi


tidak bisa menyentuh Delina meskipun dirinya sudah berhak sekarang.


Kevin menyusul Delina keluar kamar, mereka berjalan


keluar dari apartment dan masuk ke mobil Kevin. Delina tercekat saat Kevin


tiba-tiba mendekatinya lagi. Ia menatap mata Kevin dengan mata bulatnya yang


jernih.


Keduanya saling menatap cukup lama, sampai Delina


bertanya pada Kevin apa yang akan dilakukannya mendekati Delina seperti itu.


Kevin menarik sabuk pengaman dan memasangnya melewati badan Delina.


“Kau harus ingat memasang sabuk pengaman kalau naik


mobil.”kata Kevin.


“Ach, iya. Saya lupa, tuan muda.”


Kevin mulai menjalankan mobilnya menuju ke


rumahnya. Saat mereka sampai, Giselle dan Agnes sudah menanti mereka. Giselle


bangun dari duduknya, menghambur ke hadapan Delina dan hampir menampar pipinya.


Kevin menahan tangan Giselle,


“Tante ngapain?!”ketus Kevin.


“Tante mau kasi pelajaran sama gadis ****** ini.


Ngapain dia keluar sama kamu?!”teriak Giselle.


Delina kebingungan apa kesalahannya hanya pergi ke


apartment atas perintah tuan mudanya. Kevin menyuruh Delina membuatkan kopi dan


cemilan untuknya. Delina membungkuk sebentar dan pergi ke dapur.


“Aku yang ngajak dia, kenapa tante sewot! Urusannya


apa?!!”bentak Kevin.


Ia gak habis pikir dengan jalan pikiran tantenya


ini. Setiap pelayan wanita yang dekat dengan Kevin pasti diperlakukan tidak


baik. Bahkan mbak Sri juga sering jadi bulan-bulanan Giselle dulu sebelum


akhirnya Alvin memberikan peringatan keras pada Giselle.


“Kevin sayang, dia itu gadis jelek miskin yang cuma


peduli sama hartamu saja. Jangan kasi kesempatan dia mendekatimu.”kata Giselle.


“Tante ini aneh, dia itu pelayan pribadiku. Sudah


tugas dia melayaniku!”kata Kevin tidak sabaran.

__ADS_1


“Dia mendekatimu dengan cara seperti itu, Kevin.


Mengambil kesempatan dan nantinya menjebakmu agar bisa menikahimu.”jelas


Giselle lagi.


“Kenapa tante sibuk sekali mengurusi pelayan


pribadiku? Jangan coba-coba mengganggu Delina atau kuadukan ke ayah! Aku gak


mau pelayanku pergi cuma gara-gara tante yang kekanakan!”peringat Kevin.


Ia hampir berjalan ke kamarnya tapi memilih


menunggu Delina selesai membuatkannya cemilan. Kevin duduk di meja bar dan


mengobrol dengan Sri. Pura-pura menanyakan jas barunya yang masih di laundry


Sri.


Giselle dan Agnes menoleh ketika mencium wangi kopi


dan cemilan yang dibuat Delina. Alvin yang kebetulan sudah pulang juga,


berbelok ke arah dapur dan ikut duduk di samping Kevin. Ia hanya menyapa


Giselle dan Agnes sekilas.


“Ina, kamu buat apa?”tanya Alvin menatap cemilan


buatan Delina.


“Tuan besar, saya membuat tahu isi. Tuan besar juga


mau?”


“Ya. Masih ada?”tanya Alvin sambil mencomot tahu


isi di piring Kevin.


“Ayah, ini cemilanku. Tunggu Delina masak lagi.”


Delina segera menghidangkan tahu isi berikutnya di


piring yang berbeda. Sri menghidangkannya pada Alvin.


“Kopinya mana? Ina, buatkan kopi.”pinta Alvin


sambil meniup-niup tahu isi yang baru di potongnya.


Kedua anak dan ayah itu asyik makan cemilan di meja


Delina dan segera menyelesaikan makan mereka.


“Wah, ini enak. Besok cemilan apa lagi yang akan


kau buat, Ina?”tanya Alvin.


“Mungkin siomay? Tapi agak lama membuatnya, tuan


besar.”kata Delina.


“Ach, siomay. Pakai kol dan tahu yang banyak.


Saosnya jangan lupa.”kata Alvin lagi.


“Ayah, kenapa ayah ikutan menyuruh Delina membuat


cemilan? Delina pelayanku. Suruh mbak Sri aja.”protes Kevin.


“Ayah cuma tanya. Ina pasti tidak keberatan


membuatkan lebih untuk ayah.”


“Baik, tuan besar.”


Alvin menepuk punggung Kevin dengan keras sebelum


pergi dari meja bar. Ia masuk ke kamarnya dengan cepat. Giselle menyikut Agnes


dan mengatakan kalau Agnes harus membuatkan Alvin dan Kevin siomay besok. Agnes


melotot kaget mendengar perintah Giselle.


Jangankan membuat siomay, masuk ke dapur saja Agnes


belum pernah. Tapi ia tidak berani membantah mamanya atau Giselle akan


mengomelinya sampai pagi. Agnes putar otak sedikit, ia berencana memesan siomay


dan berpura-pura seolah itu adalah buatannya sendiri.


*****


Sepanjang sisa hari itu, Delina menghabiskan


waktunya menyelesaikan pekerjaannya membuat kebaya untuk Ny.Amira. Ia membuat

__ADS_1


pola khusus untuk model kebaya terbarunya dan mulai memotong-motong bahan yang


diberikan Ny.Amira.


Beberapa hari Ny.Amira sibuk terus di kantornya


karena akan ada peluncuran produk baru. Beberapa kebaya yang sudah selesai


dikerjakan Delina tampak rapi berjajar di lemari yang masih kosong. Ny.Amira


belum sempat mencobanya.


Giselle tiba-tiba masuk ke kamar Delina, ia membuka


pintu dengan keras dan membuat Delina kaget.


“Ny. ada yang bisa saya bantu?”tanya Delina sambil


membungkuk.


“Jadi ini kerjaanmu dari Amira. Bukannya lebih


banyak kalau kau jual diri. Tapi siapa yang mau membelimu. Kampungan.”cerca


Giselle kasar.


Delina tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya ingin


menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sebelum Kevin memanggilnya. Tapi


sepertinya Giselle belum mau pergi dari kamarnya. Giselle mendekat pada meja


besar di dekat Delina.


Ia menarik-narik pola yang sudah diselesaikan


Delina dan merobek-robeknya. Delina menahan dirinya untuk tidak mengatakan


apa-apa. Itu hanya sebuah pola, yang penting Giselle tidak mengganggu bahan


kebaya milik Ny.Amira.


Giselle sebenarnya ingin merobek-robek bahan kebaya


Amira juga. Tapi ia tahu kalau dirinya berani melakukan itu, Amira tidak akan


memaafkannya. Amira terlalu sayang pada kebayanya sampai ia akan membenci


siapapun yang merusaknya.


Setelah puas mengacak-acak areal tempat kerja


Delina, Giselle pergi begitu saja. Delina mengambil potongan pola yang


berserakan di lantai kamarnya. Ia memasukkannya ke tong sampah dan mengambil


pola baru. Dirinya sudah menyiapkan dua pola untuk kebaya Ny.Amira karena ia


akan membuat banyak kebaya untuk Ny.Amira.


Ketika waktu menunjukkan jam 6 sore, Delina sudah


menggantung satu kebaya lagi di dalam lemari.


“Delina! Dimana kamu?!”jerit Kevin.


“Iya, tuan muda.”jawab Delina sambil berjalan


keluar dari kamarnya.


“Kamu nich, gak liat HP-mu ya. Aku sudah mengirim


chat dari tadi. Kamu sibuk ngapain?”tanya Kevin kesal.


“Saya menyelesaikan kebaya Ny.Amira, tuan muda. Ada


yang bisa saya bantu, tuan muda?”


“Ini sudah jam berapa? Aku belum mandi. Cepat


siapkan.”perintah Kevin.


“Baik, tuan muda. Maafkan saya.”


Delina berjalan cepat menaiki tangga dan masuk ke


kamar Kevin. Ia menghidupkan kran air yang mulai memenuhi bathup. Sambil


menunggu, Delina membuka ponsel pintarnya. Ia melihat 30 chat dari Kevin dan


100 notif dari sosial medianya.


“Kenapa bisa sebanyak ini?”tanya Delina pada


dirinya sendiri.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2