
PH - Intimidasi Giselle
Delina mulai memijat kepala Kevin sampai wajah
Kevin memerah menahan sesuatu. Ia tiba-tiba bangkit, menatap Delina dan mulai
mendekatinya.
Delina berpaling, dengan cepat bangkit dari duduknya.
Ia merasakan Kevin berbeda dari biasanya, cara Kevin menatapnya sangat lembut
dan mendambakannya.
“Tuan muda, kita kembali saja ya. Saya akan buatkan
cemilan yang enak.”kata Delina sambil merapikan kerudungnya.
Kevin benar-benar ingin memeluk Delina sekarang dan
mengatakan ‘aku sangat mencintaimu, istriku.’ Tapi Kevin menahan dirinya, cepat
atau lambat ia akan memberitahu Delina tapi tidak sekarang.
“Sekali saja. Boleh aku memelukmu?”tanya Kevin
membuat Delina menoleh padanya.
“Tuan bicara apa? Sebaiknya kita pulang, tuan muda.
Tidak baik berdua seperti ini lama-lama.”
Delina berjalan keluar dari kamar, ia menunggu di
dekat pintu keluar. Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sangat frustasi
tidak bisa menyentuh Delina meskipun dirinya sudah berhak sekarang.
Kevin menyusul Delina keluar kamar, mereka berjalan
keluar dari apartment dan masuk ke mobil Kevin. Delina tercekat saat Kevin
tiba-tiba mendekatinya lagi. Ia menatap mata Kevin dengan mata bulatnya yang
jernih.
Keduanya saling menatap cukup lama, sampai Delina
bertanya pada Kevin apa yang akan dilakukannya mendekati Delina seperti itu.
Kevin menarik sabuk pengaman dan memasangnya melewati badan Delina.
“Kau harus ingat memasang sabuk pengaman kalau naik
mobil.”kata Kevin.
“Ach, iya. Saya lupa, tuan muda.”
Kevin mulai menjalankan mobilnya menuju ke
rumahnya. Saat mereka sampai, Giselle dan Agnes sudah menanti mereka. Giselle
bangun dari duduknya, menghambur ke hadapan Delina dan hampir menampar pipinya.
Kevin menahan tangan Giselle,
“Tante ngapain?!”ketus Kevin.
“Tante mau kasi pelajaran sama gadis ****** ini.
Ngapain dia keluar sama kamu?!”teriak Giselle.
Delina kebingungan apa kesalahannya hanya pergi ke
apartment atas perintah tuan mudanya. Kevin menyuruh Delina membuatkan kopi dan
cemilan untuknya. Delina membungkuk sebentar dan pergi ke dapur.
“Aku yang ngajak dia, kenapa tante sewot! Urusannya
apa?!!”bentak Kevin.
Ia gak habis pikir dengan jalan pikiran tantenya
ini. Setiap pelayan wanita yang dekat dengan Kevin pasti diperlakukan tidak
baik. Bahkan mbak Sri juga sering jadi bulan-bulanan Giselle dulu sebelum
akhirnya Alvin memberikan peringatan keras pada Giselle.
“Kevin sayang, dia itu gadis jelek miskin yang cuma
peduli sama hartamu saja. Jangan kasi kesempatan dia mendekatimu.”kata Giselle.
“Tante ini aneh, dia itu pelayan pribadiku. Sudah
tugas dia melayaniku!”kata Kevin tidak sabaran.
__ADS_1
“Dia mendekatimu dengan cara seperti itu, Kevin.
Mengambil kesempatan dan nantinya menjebakmu agar bisa menikahimu.”jelas
Giselle lagi.
“Kenapa tante sibuk sekali mengurusi pelayan
pribadiku? Jangan coba-coba mengganggu Delina atau kuadukan ke ayah! Aku gak
mau pelayanku pergi cuma gara-gara tante yang kekanakan!”peringat Kevin.
Ia hampir berjalan ke kamarnya tapi memilih
menunggu Delina selesai membuatkannya cemilan. Kevin duduk di meja bar dan
mengobrol dengan Sri. Pura-pura menanyakan jas barunya yang masih di laundry
Sri.
Giselle dan Agnes menoleh ketika mencium wangi kopi
dan cemilan yang dibuat Delina. Alvin yang kebetulan sudah pulang juga,
berbelok ke arah dapur dan ikut duduk di samping Kevin. Ia hanya menyapa
Giselle dan Agnes sekilas.
“Ina, kamu buat apa?”tanya Alvin menatap cemilan
buatan Delina.
“Tuan besar, saya membuat tahu isi. Tuan besar juga
mau?”
“Ya. Masih ada?”tanya Alvin sambil mencomot tahu
isi di piring Kevin.
“Ayah, ini cemilanku. Tunggu Delina masak lagi.”
Delina segera menghidangkan tahu isi berikutnya di
piring yang berbeda. Sri menghidangkannya pada Alvin.
“Kopinya mana? Ina, buatkan kopi.”pinta Alvin
sambil meniup-niup tahu isi yang baru di potongnya.
Kedua anak dan ayah itu asyik makan cemilan di meja
Delina dan segera menyelesaikan makan mereka.
“Wah, ini enak. Besok cemilan apa lagi yang akan
kau buat, Ina?”tanya Alvin.
“Mungkin siomay? Tapi agak lama membuatnya, tuan
besar.”kata Delina.
“Ach, siomay. Pakai kol dan tahu yang banyak.
Saosnya jangan lupa.”kata Alvin lagi.
“Ayah, kenapa ayah ikutan menyuruh Delina membuat
cemilan? Delina pelayanku. Suruh mbak Sri aja.”protes Kevin.
“Ayah cuma tanya. Ina pasti tidak keberatan
membuatkan lebih untuk ayah.”
“Baik, tuan besar.”
Alvin menepuk punggung Kevin dengan keras sebelum
pergi dari meja bar. Ia masuk ke kamarnya dengan cepat. Giselle menyikut Agnes
dan mengatakan kalau Agnes harus membuatkan Alvin dan Kevin siomay besok. Agnes
melotot kaget mendengar perintah Giselle.
Jangankan membuat siomay, masuk ke dapur saja Agnes
belum pernah. Tapi ia tidak berani membantah mamanya atau Giselle akan
mengomelinya sampai pagi. Agnes putar otak sedikit, ia berencana memesan siomay
dan berpura-pura seolah itu adalah buatannya sendiri.
*****
Sepanjang sisa hari itu, Delina menghabiskan
waktunya menyelesaikan pekerjaannya membuat kebaya untuk Ny.Amira. Ia membuat
__ADS_1
pola khusus untuk model kebaya terbarunya dan mulai memotong-motong bahan yang
diberikan Ny.Amira.
Beberapa hari Ny.Amira sibuk terus di kantornya
karena akan ada peluncuran produk baru. Beberapa kebaya yang sudah selesai
dikerjakan Delina tampak rapi berjajar di lemari yang masih kosong. Ny.Amira
belum sempat mencobanya.
Giselle tiba-tiba masuk ke kamar Delina, ia membuka
pintu dengan keras dan membuat Delina kaget.
“Ny. ada yang bisa saya bantu?”tanya Delina sambil
membungkuk.
“Jadi ini kerjaanmu dari Amira. Bukannya lebih
banyak kalau kau jual diri. Tapi siapa yang mau membelimu. Kampungan.”cerca
Giselle kasar.
Delina tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya ingin
menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat sebelum Kevin memanggilnya. Tapi
sepertinya Giselle belum mau pergi dari kamarnya. Giselle mendekat pada meja
besar di dekat Delina.
Ia menarik-narik pola yang sudah diselesaikan
Delina dan merobek-robeknya. Delina menahan dirinya untuk tidak mengatakan
apa-apa. Itu hanya sebuah pola, yang penting Giselle tidak mengganggu bahan
kebaya milik Ny.Amira.
Giselle sebenarnya ingin merobek-robek bahan kebaya
Amira juga. Tapi ia tahu kalau dirinya berani melakukan itu, Amira tidak akan
memaafkannya. Amira terlalu sayang pada kebayanya sampai ia akan membenci
siapapun yang merusaknya.
Setelah puas mengacak-acak areal tempat kerja
Delina, Giselle pergi begitu saja. Delina mengambil potongan pola yang
berserakan di lantai kamarnya. Ia memasukkannya ke tong sampah dan mengambil
pola baru. Dirinya sudah menyiapkan dua pola untuk kebaya Ny.Amira karena ia
akan membuat banyak kebaya untuk Ny.Amira.
Ketika waktu menunjukkan jam 6 sore, Delina sudah
menggantung satu kebaya lagi di dalam lemari.
“Delina! Dimana kamu?!”jerit Kevin.
“Iya, tuan muda.”jawab Delina sambil berjalan
keluar dari kamarnya.
“Kamu nich, gak liat HP-mu ya. Aku sudah mengirim
chat dari tadi. Kamu sibuk ngapain?”tanya Kevin kesal.
“Saya menyelesaikan kebaya Ny.Amira, tuan muda. Ada
yang bisa saya bantu, tuan muda?”
“Ini sudah jam berapa? Aku belum mandi. Cepat
siapkan.”perintah Kevin.
“Baik, tuan muda. Maafkan saya.”
Delina berjalan cepat menaiki tangga dan masuk ke
kamar Kevin. Ia menghidupkan kran air yang mulai memenuhi bathup. Sambil
menunggu, Delina membuka ponsel pintarnya. Ia melihat 30 chat dari Kevin dan
100 notif dari sosial medianya.
“Kenapa bisa sebanyak ini?”tanya Delina pada
dirinya sendiri.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.