Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 108


__ADS_3

“Beneran, yah? Kapan, yah? Aku sudah lama sekali


tidak masak cemilan untuk ayah, buat kopi. Ayah ingat dimsum udang? Armando


selalu minta dibuatkan itu setiap akhir pekan.”cerocos Delina membuat Alvin


tersenyum geli.


“Kamu lagi hamil jadi berisik ya.”ujar Alvin


membuat Delina menutup mulutnya. “Tapi ayah senang kamu bersemangat seperti


ini. Jangan sedih lagi ya. Ayah yakin Kevin pasti segera pulang.”


Delina kembali sedih mengingat suaminya yang entah


dimana sekarang. Mereka menoleh bersamaan saat pintu ruang kerja terbuka


tiba-tiba, “Ibu!! Dodo nakal!!”lengking Emilia berlari masuk mendekati Delina.


“Kakak yang nakal duluan!”balas Armando memeletkan


lidahnya pada Emilia.


Delina mendudukkan keduanya di samping kiri dan


kanan Delina. “Ayo suit. Yang menang cerita duluan.”


Amira dan Wina masuk juga ke ruangan kerja itu.


Mereka tersenyum melihat kedua bocah itu malah main suit sampai Emilia menang.


Ia menceritakan dengan heboh kalau tadi Armando dikasi coklat oleh gadis kecil


teman sekelasnya. Emilia mengadu kalau Armando mencium pipi gadis kecil itu


sambil bilang makasih.


Saat Emilia ingin melihat coklat itu, Armando tidak


mau memberikannya. Emilia merebut paksa coklat di tangan Armando dan berakhir


Armando mencium pipi Emilia juga untuk mengambil balik coklat miliknya.


Alvin ketawa ngakak melihat cucunya bercerita dengan


wajah cemberut menahan kesal. Wajah Armando merona saat Emilia mengatakan kalau


ia sudah mencium teman sekelasnya dan juga Emilia.


“Astaga, dia persis seperti Kevin. Nyosor aja.”saut


Alvin.


“Armando nggak mau berbagi coklatnya, bu.”adu


Emilia lagi.


“Aku mau bagi nich. Tapi kakak nggak bisa sabar!”saut


Armando menyentakkan kaki kecilnya.


Delina memisahkan keduanya yang hampir bertengkar


lagi. Ia sudah terbiasa dengan Emilia yang suka mengadu dan Armando yang nggak


mau kalah dengan kakaknya. Delina mengambil coklat yang dimaksud Emilia lalu


membagi dua secara adil coklat itu. Keduanya tersenyum senang lalu menyuapi


Delina makan coklat juga.


Alvin dan Amira saling pandang dan mengangguk. Amira


mendekati Delina, memeluk menantunya itu dan mengelus perutnya.


“Sayang, ibu kangen banget.”ucap Amira.


“Aku juga, bu. Ibu sehat kan?”ucap Delina menahan


haru bertemu lagi dengan mertuanya setelah berbulan-bulan berpisah.


“Sudah, kangen-kangenannya dilanjutkan lagi nanti


ya. Sekarang Ina ikut ayah dulu.”kata Alvin.


Amira mengajak Emilia dan Armando pergi dengan Wina


kembali ke mansion, sementara Alvin kembali menatap Delina yang bertanya-tanya

__ADS_1


kemana dirinya akan dibawa oleh ayah mertuanya itu.


Keanu sudah menyiapkan mobil Delina, mereka berdua


segera turun ke lobby kantor lalu masuk ke mobil itu. Karyawan yang sempat


melihat Alvin menuntun Delina, menyapa mantan tuan besar itu. Enam bulan yang


lalu, mereka hanya diberitahu kalau Delina yang akan menggantikan Alvin menjadi


Nyonya Besar di perusahaan itu. Tasya yang masih kesal pada Delina, sampai


hampir mengundurkan diri karena shock melihat Delina diperkenalkan sebagai bos


barunya.


Tapi Delina mengatakan kalau Tasya memang mencintai


pekerjaannya, seharusnya ia tidak masalah siapapun bos-nya. Lagipula Delina


sama sekali tidak berniat menyulitkan Tasya. Ia memperlakukan Tasya sama


baiknya dengan ia memperlakukan Nana dan karyawan lainnya.


“Ayah, kita mau pergi kemana?”tanya Delina setelah


mobil mulai berjalan.


“Kau akan tahu sebentar lagi. Ada seseorang yang


mau bertemu denganmu.”kata Alvin.


Tring! Tring! Ponsel Delina berdering, Delina


mengangkatnya dan lawan bicaranya mengatakan kalau Clara sudah menikah dengan


Julian.


“Apa kau yakin? Mereka beneran menikah kan?”tanya


Delina memastikan sekali lagi kalau pendengarannya tidak salah.


“Iya, Nyonya muda. Saya melihat sendiri buku nikah


dan pernikahan mereka tercatat di KUA.”


“Bagus sekali. Apa ada perkembangan dengan


“Saya melihat pria mirip tuan muda di pernikahan


Clara, Nyonya muda.”saut informan itu.


“Apa??!! Aduch!!”pekik Delina mengaduh memegang


perutnya. Alvin dengan sigap menahan ponsel yang hampir jatuh.


“Ada apa, Ina? Hei, cepat kita ke rumah sakit!”perintah


Alvin menyuruh sopir ke rumah sakit terdekat.


“Tunggu, yah. Aku nggak apa-apa. Sudah mendingan.”kata


Delina masih ingin bicara dengan informannya. “Cepat selidiki kalau benar itu


tuan muda, ikuti dia.”perintah Delina menahan sakit di perutnya.


Delina meletakkan ponselnya ke dalam tas, ia


menarik nafas panjang sebelum tersenyum lagi pada Alvin. “Yah, kata informanku,


hubby terlihat di pernikahannya Clara. Semoga itu benar hubby, yah.”


Alvin hanya menatap Delina tanpa bicara apa-apa.


Delina menutup matanya, tertidur dalam sekejap.


“Apa Nyonya muda selalu tertidur seperti ini?”tanya


Alvin pada sopir Delina.


“Iya, tuan besar. Sejak beberapa bulan ini, Nyonya


muda akan langsung tidur setelah masuk ke dalam mobil. Terkadang sulit


dibangunkan meskipun sudah sampai di mansion. Kalau sudah seperti itu, saya


hanya bisa menunggu sampai Nyonya muda bangun, tuan besar.”


Alvin kembali menatap Delina, ia mengatur kepala

__ADS_1


Delina agar bersandar dengan nyaman di bahu Alvin. Mobil tetap melaju menuju


tempat yang ditunjukkan Alvin.


*****


Ali melirik Agnes yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.


Pria itu juga sibuk sebenarnya dengan laporan pasiennya. Mereka sedang duduk di


ruang kerja Ali di lantai paling atas gedung rumah sakit milik keluarga Alvin.


Sejak mereka mulai dekat dan Agnes mulai jatuh


cinta pada Ali, keduanya selalu berusaha untuk bersama di tengah kesibukan


masing-masing. Status mereka tentu saja masih berpacaran diam-diam alias


backstreet. Giselle bisa ngamuk kalau sampai tahu putrinya berpacaran dengan


Ali.


Dan sekarang setelah Ali merasa cukup mapan untuk bisa


melamar Agnes, wanita itu malah belum mau menikah karena karirnya sebagai model


sedang berada di puncak karirnya. Ali menghela nafas meletakkan penanya diatas


meja. Ia beranjak mendekati Agnes, duduk di sampingnya.


“Sayang, lihat sini dong.”pinta Ali.


Agnes menggeser duduknya ke pangkuan pria itu tapi


matanya tetap fokus ke layar ponsel. Ali melirik apa yang sedang dibaca Agnes, wanita


cantik itu sedang membaca ratusan komen yang memenuhi sosial medianya.


“Tuch, kan aku gendutan di foto ini.”protes Agnes


memegang perutnya yang rata dan kencang.


Ali tidak menanggapi omelan Agnes mengomentari


komentar netijen. Ia lebih tertarik melihat apa yang ada dibalik dress yang


dipakai wanita itu.


“Yang, kita nikah yuk.”bisik Ali mengendus wangi


leher Agnes.


“Ntar dulu. Aku masih sibuk.”saut Agnes tanpa


menoleh.


Ali menatap kesal pada ponsel Agnes, ia diam-diam


menurunkan retsleting dress Agnes sampai punggung mulus wanita itu terlihat


jelas. Agnes masih belum sadar kalau dirinya sedang dilucuti Ali. Pria itu


bergeser sebentar lalu beranjak dari duduknya untuk mengunci pintu ruang


kerjanya. Sambil berjalan mendekati Agnes, Ali membuka jas dokternya dan juga


kacamata yag sejak tadi bertengger di hidungnya.


Ali kembali duduk di samping Agnes, memangku wanita


itu. Kali ini mereka berhadapan, Agnes masih saja memegang ponselnya. Bruk!


Agnes terbaring diatas sofa besar ruang kerja Ali. Ia hampir melempar ponselnya


karena kaget dengan perbuatan Ali.


“Ali! Kamu mau ngapain?!”tanya Agnes panik melihat


dressnya sudah terbuka.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


Visual Ali


__ADS_1


Visual Agnes



__ADS_2