
“Beneran, yah? Kapan, yah? Aku sudah lama sekali
tidak masak cemilan untuk ayah, buat kopi. Ayah ingat dimsum udang? Armando
selalu minta dibuatkan itu setiap akhir pekan.”cerocos Delina membuat Alvin
tersenyum geli.
“Kamu lagi hamil jadi berisik ya.”ujar Alvin
membuat Delina menutup mulutnya. “Tapi ayah senang kamu bersemangat seperti
ini. Jangan sedih lagi ya. Ayah yakin Kevin pasti segera pulang.”
Delina kembali sedih mengingat suaminya yang entah
dimana sekarang. Mereka menoleh bersamaan saat pintu ruang kerja terbuka
tiba-tiba, “Ibu!! Dodo nakal!!”lengking Emilia berlari masuk mendekati Delina.
“Kakak yang nakal duluan!”balas Armando memeletkan
lidahnya pada Emilia.
Delina mendudukkan keduanya di samping kiri dan
kanan Delina. “Ayo suit. Yang menang cerita duluan.”
Amira dan Wina masuk juga ke ruangan kerja itu.
Mereka tersenyum melihat kedua bocah itu malah main suit sampai Emilia menang.
Ia menceritakan dengan heboh kalau tadi Armando dikasi coklat oleh gadis kecil
teman sekelasnya. Emilia mengadu kalau Armando mencium pipi gadis kecil itu
sambil bilang makasih.
Saat Emilia ingin melihat coklat itu, Armando tidak
mau memberikannya. Emilia merebut paksa coklat di tangan Armando dan berakhir
Armando mencium pipi Emilia juga untuk mengambil balik coklat miliknya.
Alvin ketawa ngakak melihat cucunya bercerita dengan
wajah cemberut menahan kesal. Wajah Armando merona saat Emilia mengatakan kalau
ia sudah mencium teman sekelasnya dan juga Emilia.
“Astaga, dia persis seperti Kevin. Nyosor aja.”saut
Alvin.
“Armando nggak mau berbagi coklatnya, bu.”adu
Emilia lagi.
“Aku mau bagi nich. Tapi kakak nggak bisa sabar!”saut
Armando menyentakkan kaki kecilnya.
Delina memisahkan keduanya yang hampir bertengkar
lagi. Ia sudah terbiasa dengan Emilia yang suka mengadu dan Armando yang nggak
mau kalah dengan kakaknya. Delina mengambil coklat yang dimaksud Emilia lalu
membagi dua secara adil coklat itu. Keduanya tersenyum senang lalu menyuapi
Delina makan coklat juga.
Alvin dan Amira saling pandang dan mengangguk. Amira
mendekati Delina, memeluk menantunya itu dan mengelus perutnya.
“Sayang, ibu kangen banget.”ucap Amira.
“Aku juga, bu. Ibu sehat kan?”ucap Delina menahan
haru bertemu lagi dengan mertuanya setelah berbulan-bulan berpisah.
“Sudah, kangen-kangenannya dilanjutkan lagi nanti
ya. Sekarang Ina ikut ayah dulu.”kata Alvin.
Amira mengajak Emilia dan Armando pergi dengan Wina
kembali ke mansion, sementara Alvin kembali menatap Delina yang bertanya-tanya
__ADS_1
kemana dirinya akan dibawa oleh ayah mertuanya itu.
Keanu sudah menyiapkan mobil Delina, mereka berdua
segera turun ke lobby kantor lalu masuk ke mobil itu. Karyawan yang sempat
melihat Alvin menuntun Delina, menyapa mantan tuan besar itu. Enam bulan yang
lalu, mereka hanya diberitahu kalau Delina yang akan menggantikan Alvin menjadi
Nyonya Besar di perusahaan itu. Tasya yang masih kesal pada Delina, sampai
hampir mengundurkan diri karena shock melihat Delina diperkenalkan sebagai bos
barunya.
Tapi Delina mengatakan kalau Tasya memang mencintai
pekerjaannya, seharusnya ia tidak masalah siapapun bos-nya. Lagipula Delina
sama sekali tidak berniat menyulitkan Tasya. Ia memperlakukan Tasya sama
baiknya dengan ia memperlakukan Nana dan karyawan lainnya.
“Ayah, kita mau pergi kemana?”tanya Delina setelah
mobil mulai berjalan.
“Kau akan tahu sebentar lagi. Ada seseorang yang
mau bertemu denganmu.”kata Alvin.
Tring! Tring! Ponsel Delina berdering, Delina
mengangkatnya dan lawan bicaranya mengatakan kalau Clara sudah menikah dengan
Julian.
“Apa kau yakin? Mereka beneran menikah kan?”tanya
Delina memastikan sekali lagi kalau pendengarannya tidak salah.
“Iya, Nyonya muda. Saya melihat sendiri buku nikah
dan pernikahan mereka tercatat di KUA.”
“Bagus sekali. Apa ada perkembangan dengan
“Saya melihat pria mirip tuan muda di pernikahan
Clara, Nyonya muda.”saut informan itu.
“Apa??!! Aduch!!”pekik Delina mengaduh memegang
perutnya. Alvin dengan sigap menahan ponsel yang hampir jatuh.
“Ada apa, Ina? Hei, cepat kita ke rumah sakit!”perintah
Alvin menyuruh sopir ke rumah sakit terdekat.
“Tunggu, yah. Aku nggak apa-apa. Sudah mendingan.”kata
Delina masih ingin bicara dengan informannya. “Cepat selidiki kalau benar itu
tuan muda, ikuti dia.”perintah Delina menahan sakit di perutnya.
Delina meletakkan ponselnya ke dalam tas, ia
menarik nafas panjang sebelum tersenyum lagi pada Alvin. “Yah, kata informanku,
hubby terlihat di pernikahannya Clara. Semoga itu benar hubby, yah.”
Alvin hanya menatap Delina tanpa bicara apa-apa.
Delina menutup matanya, tertidur dalam sekejap.
“Apa Nyonya muda selalu tertidur seperti ini?”tanya
Alvin pada sopir Delina.
“Iya, tuan besar. Sejak beberapa bulan ini, Nyonya
muda akan langsung tidur setelah masuk ke dalam mobil. Terkadang sulit
dibangunkan meskipun sudah sampai di mansion. Kalau sudah seperti itu, saya
hanya bisa menunggu sampai Nyonya muda bangun, tuan besar.”
Alvin kembali menatap Delina, ia mengatur kepala
__ADS_1
Delina agar bersandar dengan nyaman di bahu Alvin. Mobil tetap melaju menuju
tempat yang ditunjukkan Alvin.
*****
Ali melirik Agnes yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
Pria itu juga sibuk sebenarnya dengan laporan pasiennya. Mereka sedang duduk di
ruang kerja Ali di lantai paling atas gedung rumah sakit milik keluarga Alvin.
Sejak mereka mulai dekat dan Agnes mulai jatuh
cinta pada Ali, keduanya selalu berusaha untuk bersama di tengah kesibukan
masing-masing. Status mereka tentu saja masih berpacaran diam-diam alias
backstreet. Giselle bisa ngamuk kalau sampai tahu putrinya berpacaran dengan
Ali.
Dan sekarang setelah Ali merasa cukup mapan untuk bisa
melamar Agnes, wanita itu malah belum mau menikah karena karirnya sebagai model
sedang berada di puncak karirnya. Ali menghela nafas meletakkan penanya diatas
meja. Ia beranjak mendekati Agnes, duduk di sampingnya.
“Sayang, lihat sini dong.”pinta Ali.
Agnes menggeser duduknya ke pangkuan pria itu tapi
matanya tetap fokus ke layar ponsel. Ali melirik apa yang sedang dibaca Agnes, wanita
cantik itu sedang membaca ratusan komen yang memenuhi sosial medianya.
“Tuch, kan aku gendutan di foto ini.”protes Agnes
memegang perutnya yang rata dan kencang.
Ali tidak menanggapi omelan Agnes mengomentari
komentar netijen. Ia lebih tertarik melihat apa yang ada dibalik dress yang
dipakai wanita itu.
“Yang, kita nikah yuk.”bisik Ali mengendus wangi
leher Agnes.
“Ntar dulu. Aku masih sibuk.”saut Agnes tanpa
menoleh.
Ali menatap kesal pada ponsel Agnes, ia diam-diam
menurunkan retsleting dress Agnes sampai punggung mulus wanita itu terlihat
jelas. Agnes masih belum sadar kalau dirinya sedang dilucuti Ali. Pria itu
bergeser sebentar lalu beranjak dari duduknya untuk mengunci pintu ruang
kerjanya. Sambil berjalan mendekati Agnes, Ali membuka jas dokternya dan juga
kacamata yag sejak tadi bertengger di hidungnya.
Ali kembali duduk di samping Agnes, memangku wanita
itu. Kali ini mereka berhadapan, Agnes masih saja memegang ponselnya. Bruk!
Agnes terbaring diatas sofa besar ruang kerja Ali. Ia hampir melempar ponselnya
karena kaget dengan perbuatan Ali.
“Ali! Kamu mau ngapain?!”tanya Agnes panik melihat
dressnya sudah terbuka.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
Visual Ali
__ADS_1
Visual Agnes