
“Hubby, apa kau sungguh-sungguh? Bukan omong
kosong, kan?”
“Aku bukan tipe pria yang suka gombal omongan
manis, Delina. Semua yang kukatakan tadi benar-benar dari lubuk hatiku. Apa
kamu gak bisa merasakan cintaku untukmu?”
“Iya, hubby. Tapi, maaf. Aku belum bisa membalas
cintamu.”
Kevin tersenyum, ia menarik tangan Delina hingga
mereka terbaring di dalam gazebo itu.
“Percayalah, Delina. Aku akan menjagamu dengan
nyawaku.”
Delina menutup mulut Kevin yang bicara tanpa
berpikir, “Jangan bilang gitu, hubby. Gak baik.”
Keduanya saling menatap sambil tersenyum, Kevin
tidak bisa menahan dirinya dan mencium Delina lagi dan lagi. Tangan Kevin
menggenggam tangan Delina dengan erat, jemari mereka saling bertautan.
“Hubby, ja...jangan.”Delina merasakan lehernya
basah kena liur Kevin, ia mencoba mendorong Kevin untuk menghentikannya.
“Maaf, sayang. Wangimu membuatku tidak bisa menahan
diriku. Kamu pake apa sih? Setiap kali baunya menempel dimana-mana.”
“Cuma lotion, hubby. Tapi wanginya memang tahan
lama.”
“Aku juga tahan lama, kok.”ucap Kevin mulai mesum.
“Maksud, hubby?”tanya Delina bingung.
“Aku cuma ngomong, gak ada maksud apa-apa.”
”Hampir saja kau menghancurkan suasana romantis
ini, Kevin. Bersabarlah, setelah kau dapatkan, Delina tidak akan bisa
kemana-mana lagi.”
“Ach, tehku dingin.”Delina mencoba mengalihkan
perhatian Kevin. Jantung mulai berdetak diatas normal karena perlakukan dan
kata-kata manis Kevin tadi. Delina duduk di pinggir gazebo, menyesap teh yang
memang mulai dingin itu.
Saat Delina hampir meletakkan mug diatas meja,
Kevin menyambar mug itu dan menghabiskan sisanya. “Hubby mau teh juga? Aku
buatkan dulu ya.”
“Nggak, sudah cukup. Delina, ayo kita ke kamar.
Sudah malam.”
“Aku tidur di kamarku saja ya, hubby.”
Delina takut Kevin akan melakukan hal yang tadi ia
lakukan, kalau sampai itu terjadi, Delina tidak akan bisa menguasai dirinya
lagi dan mungkin sesuatu yang intim akan terjadi pada mereka malam ini.
“Aku tidak akan menyentuhmu sekarang. Aku janji,
Delina. Ayo.”
”Tuan muda, kau selalu berjanji tapi
__ADS_1
ujung-ujungnya minta maaf dan bilang tidak sengaja menyentuhku. Dasar
pembohong.”
Delina akhirnya mengangguk dan mengikuti Kevin
masuk ke kamarnya. Saat pintu sudah tertutup, Kevin tiba-tiba berbalik dan
menyudutkan Delina ke pintu.
“Hu...hubby, mau apa?”Delina tergagap melihat Kevin
sangat dekat.
“Aku gak boleh peluk, kan? Sini kerudungmu.”
Kevin menarik kerudung Delina dan membawanya ke
atas tempat tidur. Ia berbaring duluan, membalut guling dengan kerudung dan
memeluknya dengan erat. Delina tersenyum melihat tingkah Kevin yang
menguwel-uwel guling itu sebelum memejamkan mata.
Delina berbaring di samping Kevin, menarik selimut
menutupi tubuhnya dengan rambut tergerai. Ia tidur membelakangi Kevin.
“Selamat malam, hubby.”
*”Malam, Delina. Andai bisa memelukmu langsung, aku
akan lebih bahagia lagi.”
Pintu terbuka tak jauh dari kamar Kevin. Agnes
mengendap-endap keluar dari kamarnya. Ia merasa sangat haus, tapi lupa
mengambil air minum. Melihat situasi yang sepi, Agnes segera berjalan turun ke
lantai bawah dan masuk ke dapur.
Ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih
sambil melihat sekeliling dengan waspada. Semenjak kedatangan Ali ke rumah itu,
ganteng dari sebelumnya, Agnes tetap tidak menyukai Ali.
Pria mesum itu selalu mencoba mengambil kesempatan
untuk menyentuhnya. Agnes hanya nyaman berada di dekat Kevin, ia bukan tipe wanita
yang bisa menempel dengan pria bahkan dengan teman prianya di kampus. Ia akan
menghindari skinship yang tidak perlu.
Agnes meletakkan gelas kembali ke rak setelah
mencuci dan mengeringkannya. Ia sudah cukup minum hingga rasanya perutnya penuh
dengan air. Agnes kembali menguap, ia melirik jam dinding ketika berjalan
kembali menuju kamarnya, sudah jam 1 dini hari.
Sampai di dekat kamarnya, Agnes berjalan
mengendap-endap lagi. Ia membuka pintu kamar perlahan dan masuk kesana. Agnes
hampir mengunci pintunya ketika mulutnya di bekap seseorang.
“Emmmm!!!”Agnes mulai meronta, tapi pelukan orang
itu sangat erat sampai ia merasa sesak.
“Tenang, Agnes. Ini aku, Ali. Aku akan lepaskan,
tapi jangan teriak. Serius.”
Agnes hanya bisa mengangguk. Baju tidurnya hampir
tersingkap ke atas karena ulah Ali. Ali melepaskan tangannya dari mulut Agnes
dan Agnes langsung menginjak kaki Ali.
“Adoow!”
“Rasakan. Berani sekali kamu masuk ke kamarku.
__ADS_1
Keluar sana.”
Ali menarik tangan Agnes dan memeluk wanita itu
lagi. “Aku cuma mau memelukmu. Sebentar saja.”
“Aku bukan wanita murahan, bisa dipeluk seenakmu.
Lepasin aku!”
“Jangan teriak atau aku akan melakukan hal yang
lebih dari ini.”
Tubuh Agnes mulai gemetar karena jelas ia kalah
tenaga dari Ali. Ia juga sangat kesal karena belum pernah diperlakukan seperti
itu oleh seorang pria manapun. “A...Ali, lepasin aku. Jangan cium disitu.”
Wajah Agnes terlihat sangat merah, sesekali ia
meronta ingin melepaskan diri dari Ali. “Ali, jangan... aku gak suka... hiks...
hiks...” Agnes mulai menangis.
Ali langsung melonggarkan pelukannya, padahal ia
masih ingin menciumi tengkuk Agnes.
“Agnes, jadi pacarku ya. Aku akan membuatmu jadi
wanita paling bahagia di dunia.”
“Nggak mau! Ali, lepasin aku. Kamu gak boleh masuk
sini.”
“Agnes, aku serius. Aku jatuh cinta sama kamu.”
Deg! Deg! Dada Agnes berdebar mendengar pernyataan
cinta Ali. Ia sudah sering mendengar pernyataan cinta dari pria tapi baru kali
ini membuat dadanya langsung bergemuruh. Kata-kata Ali terdengar tulus, tapi
kenapa kelakuannya mesum begini.
Agnes mengepalkan tangannya ketika merasakan tangan
Ali sudah tidak bisa dikondisikan meraba tubuhnya. Ia menginjak kaki Ali sekali
lagi dan menggigit tangan pria itu.
“Adooww! Aooww!”
Dengan cepat Agnes membuka pintu kamarnya dan
mendorong Ali keluar dari kamarnya. Brak! Klik! Pintu kamar Agnes tertutup dan
terkunci dengan cepat.
“Aku harus terus mengunci kamar ini atau dia akan
masuk lagi. Dasar pria mesum gila! Pegang-pegang sembarangan, pake cium-cium
lagi. Hii... geli!”Agnes ngdumel kesal pada Ali.
Ia masuk ke kamar mandi dan mencuci tengkuknya yang
basah. Agnes menatap wajahnya di cermin, wajahnya sangat merah melebihi
merahnya kelopak mawar yang menghiasi kamar mandinya.
“Hentikan, Agnes. Kamu tidak boleh tertarik
padanya. Dia hanya pria keren, ganteng, tajir, dokter pula. Hiss, kenapa aku
jadi nyebutin kayak gitu sich? Agnes jangan gila. Mama akan membunuhmu kalau
berani menyebutkan nama pria selain Kevin.”
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1