Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 56


__ADS_3

“Hubby, apa kau sungguh-sungguh? Bukan omong


kosong, kan?”


“Aku bukan tipe pria yang suka gombal omongan


manis, Delina. Semua yang kukatakan tadi benar-benar dari lubuk hatiku. Apa


kamu gak bisa merasakan cintaku untukmu?”


“Iya, hubby. Tapi, maaf. Aku belum bisa membalas


cintamu.”


Kevin tersenyum, ia menarik tangan Delina hingga


mereka terbaring di dalam gazebo itu.


“Percayalah, Delina. Aku akan menjagamu dengan


nyawaku.”


Delina menutup mulut Kevin yang bicara tanpa


berpikir, “Jangan bilang gitu, hubby. Gak baik.”


Keduanya saling menatap sambil tersenyum, Kevin


tidak bisa menahan dirinya dan mencium Delina lagi dan lagi. Tangan Kevin


menggenggam tangan Delina dengan erat, jemari mereka saling bertautan.


“Hubby, ja...jangan.”Delina merasakan lehernya


basah kena liur Kevin, ia mencoba mendorong Kevin untuk menghentikannya.


“Maaf, sayang. Wangimu membuatku tidak bisa menahan


diriku. Kamu pake apa sih? Setiap kali baunya menempel dimana-mana.”


“Cuma lotion, hubby. Tapi wanginya memang tahan


lama.”


“Aku juga tahan lama, kok.”ucap Kevin mulai mesum.


“Maksud, hubby?”tanya Delina bingung.


“Aku cuma ngomong, gak ada maksud apa-apa.”


”Hampir saja kau menghancurkan suasana romantis


ini, Kevin. Bersabarlah, setelah kau dapatkan, Delina tidak akan bisa


kemana-mana lagi.”


“Ach, tehku dingin.”Delina mencoba mengalihkan


perhatian Kevin. Jantung mulai berdetak diatas normal karena perlakukan dan


kata-kata manis Kevin tadi. Delina duduk di pinggir gazebo, menyesap teh yang


memang mulai dingin itu.


Saat Delina hampir meletakkan mug diatas meja,


Kevin menyambar mug itu dan menghabiskan sisanya. “Hubby mau teh juga? Aku


buatkan dulu ya.”


“Nggak, sudah cukup. Delina, ayo kita ke kamar.


Sudah malam.”


“Aku tidur di kamarku saja ya, hubby.”


Delina takut Kevin akan melakukan hal yang tadi ia


lakukan, kalau sampai itu terjadi, Delina tidak akan bisa menguasai dirinya


lagi dan mungkin sesuatu yang intim akan terjadi pada mereka malam ini.


“Aku tidak akan menyentuhmu sekarang. Aku janji,


Delina. Ayo.”


”Tuan muda, kau selalu berjanji tapi

__ADS_1


ujung-ujungnya minta maaf dan bilang tidak sengaja menyentuhku. Dasar


pembohong.”


Delina akhirnya mengangguk dan mengikuti Kevin


masuk ke kamarnya. Saat pintu sudah tertutup, Kevin tiba-tiba berbalik dan


menyudutkan Delina ke pintu.


“Hu...hubby, mau apa?”Delina tergagap melihat Kevin


sangat dekat.


“Aku gak boleh peluk, kan? Sini kerudungmu.”


Kevin menarik kerudung Delina dan membawanya ke


atas tempat tidur. Ia berbaring duluan, membalut guling dengan kerudung dan


memeluknya dengan erat. Delina tersenyum melihat tingkah Kevin yang


menguwel-uwel guling itu sebelum memejamkan mata.


Delina berbaring di samping Kevin, menarik selimut


menutupi tubuhnya dengan rambut tergerai. Ia tidur membelakangi Kevin.


“Selamat malam, hubby.”


*”Malam, Delina. Andai bisa memelukmu langsung, aku


akan lebih bahagia lagi.”


Pintu terbuka tak jauh dari kamar Kevin. Agnes


mengendap-endap keluar dari kamarnya. Ia merasa sangat haus, tapi lupa


mengambil air minum. Melihat situasi yang sepi, Agnes segera berjalan turun ke


lantai bawah dan masuk ke dapur.


Ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih


sambil melihat sekeliling dengan waspada. Semenjak kedatangan Ali ke rumah itu,


ganteng dari sebelumnya, Agnes tetap tidak menyukai Ali.


Pria mesum itu selalu mencoba mengambil kesempatan


untuk menyentuhnya. Agnes hanya nyaman berada di dekat Kevin, ia bukan tipe wanita


yang bisa menempel dengan pria bahkan dengan teman prianya di kampus. Ia akan


menghindari skinship yang tidak perlu.


Agnes meletakkan gelas kembali ke rak setelah


mencuci dan mengeringkannya. Ia sudah cukup minum hingga rasanya perutnya penuh


dengan air. Agnes kembali menguap, ia melirik jam dinding ketika berjalan


kembali menuju kamarnya, sudah jam 1 dini hari.


Sampai di dekat kamarnya, Agnes berjalan


mengendap-endap lagi. Ia membuka pintu kamar perlahan dan masuk kesana. Agnes


hampir mengunci pintunya ketika mulutnya di bekap seseorang.


“Emmmm!!!”Agnes mulai meronta, tapi pelukan orang


itu sangat erat sampai ia merasa sesak.


“Tenang, Agnes. Ini aku, Ali. Aku akan lepaskan,


tapi jangan teriak. Serius.”


Agnes hanya bisa mengangguk. Baju tidurnya hampir


tersingkap ke atas karena ulah Ali. Ali melepaskan tangannya dari mulut Agnes


dan Agnes langsung menginjak kaki Ali.


“Adoow!”


“Rasakan. Berani sekali kamu masuk ke kamarku.

__ADS_1


Keluar sana.”


Ali menarik tangan Agnes dan memeluk wanita itu


lagi. “Aku cuma mau memelukmu. Sebentar saja.”


“Aku bukan wanita murahan, bisa dipeluk seenakmu.


Lepasin aku!”


“Jangan teriak atau aku akan melakukan hal yang


lebih dari ini.”


Tubuh Agnes mulai gemetar karena jelas ia kalah


tenaga dari Ali. Ia juga sangat kesal karena belum pernah diperlakukan seperti


itu oleh seorang pria manapun. “A...Ali, lepasin aku. Jangan cium disitu.”


Wajah Agnes terlihat sangat merah, sesekali ia


meronta ingin melepaskan diri dari Ali. “Ali, jangan... aku gak suka... hiks...


hiks...” Agnes mulai menangis.


Ali langsung melonggarkan pelukannya, padahal ia


masih ingin menciumi tengkuk Agnes.


“Agnes, jadi pacarku ya. Aku akan membuatmu jadi


wanita paling bahagia di dunia.”


“Nggak mau! Ali, lepasin aku. Kamu gak boleh masuk


sini.”


“Agnes, aku serius. Aku jatuh cinta sama kamu.”


Deg! Deg! Dada Agnes berdebar mendengar pernyataan


cinta Ali. Ia sudah sering mendengar pernyataan cinta dari pria tapi baru kali


ini membuat dadanya langsung bergemuruh. Kata-kata Ali terdengar tulus, tapi


kenapa kelakuannya mesum begini.


Agnes mengepalkan tangannya ketika merasakan tangan


Ali sudah tidak bisa dikondisikan meraba tubuhnya. Ia menginjak kaki Ali sekali


lagi dan menggigit tangan pria itu.


“Adooww! Aooww!”


Dengan cepat Agnes membuka pintu kamarnya dan


mendorong Ali keluar dari kamarnya. Brak! Klik! Pintu kamar Agnes tertutup dan


terkunci dengan cepat.


“Aku harus terus mengunci kamar ini atau dia akan


masuk lagi. Dasar pria mesum gila! Pegang-pegang sembarangan, pake cium-cium


lagi. Hii... geli!”Agnes ngdumel kesal pada Ali.


Ia masuk ke kamar mandi dan mencuci tengkuknya yang


basah. Agnes menatap wajahnya di cermin, wajahnya sangat merah melebihi


merahnya kelopak mawar yang menghiasi kamar mandinya.


“Hentikan, Agnes. Kamu tidak boleh tertarik


padanya. Dia hanya pria keren, ganteng, tajir, dokter pula. Hiss, kenapa aku


jadi nyebutin kayak gitu sich? Agnes jangan gila. Mama akan membunuhmu kalau


berani menyebutkan nama pria selain Kevin.”


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2