Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 78


__ADS_3

Agnes membuka


pintu kamarnya, ia mendengar suara Ali dan ingin sekali bertemu pria itu. Sejak


tadi pagi ia mencari pria itu tapi harus kecewa karena Ali sudah berangkat ke


rumah sakit. Ia menunggu sampai malam baru bisa mendengar suara Ali lagi.


Ragu-ragu Agnes


berjalan mendekati pintu kamar Ali. Ia cuma ingin bilang terima kasih karena


pertolongan Ali, lalu kembali ke kamarnya. Tok, tok, tok. Agnes mengetuk pintu


kamar Ali. Ia menahan tangannya saat pintu kamar Ali sedikit terbuka.


Agnes mencoba


mengintip ke dalam, ia melihat tangan Ali menggantung di pinggir ranjang. Ia


mendorong pintu terbuka, celingukan sebentar sebelum masuk ke kamar itu.


“Ali?”panggil Agnes di depan pintu.


Ali tidak


menjawab panggilannya, “Apa dia tidur? Kenapa gak pake selimut sich?”tanya


Agnes sendiri. Ia menutup pintu kamar Ali perlahan agar tidak ada yang


memergokinya masuk ke kamar pria itu.


Agnes mendekati


ranjang Ali, ia melihat bahkan Ali belum melepas sepatunya. Agnes menarik lepas


sepatu Ali lalu menaruhnya di dekat kaki ranjang. Ia menarik selimut di kaki


Ali sampai menutupi punggung pria itu. “Ali, makasih ya sudah nolong aku.”bisik


Agnes di dekat telinga Ali.


“Huaaa...!!”Agnes


menjerit saat tubuhnya tiba-tiba terjatuh diatas tubuh Ali. Pria itu menarik


tangan Agnes yang lengah. Wajah Agnes memucat saat Ali mengukungnya dengan


kedua lengan kekarnya. Agnes menelan salivanya melihat tubuh berotot Ali.


“Ali,


lepasin.”pinta Agnes malu.


“Kamu ngapain


masuk kesini? Belum cukup pelajaran yang kuberikan kemarin? Hem?”tanya Ali


dengan wajah semakin mendekati Agnes. “Kau harus tahu, sangat berbahaya kalau


kau masuk ke kamar pria yang mencintaimu, sayang.”


“Ali, aku cuma


mau bilang makasi, kamu udah nolong aku.”ucap Agnes. “Boleh aku pergi?”tanya


Agnes imut.


“Kamu gak boleh


pergi, temenin aku tidur.”


Agnes


menggeleng, ia mencoba mendorong Ali yang bahkan tidak beranjak. “Ali, minggir


dong.”pinta Agnes.


“Tumben gak


teriak-teriak.”kata Ali.


“Nanti ada yang


denger aku disini. Ali, lepasin aku.”


“Cium aku


dulu.”


Agnes menutup


wajahnya dengan kedua tangannya, ia merenggangkan tangannya melihat Ali semakin


mendekat. Ali malah mencium tangan Agnes, menggelitiki pinggang wanita itu.


Agnes menggeliat menahan geli, ia menahan tangan Ali dan cup. Sebuah kecupan


mendarat di pipi Agnes.


Agnes memegang


pipinya, wajahnya merona merah yang bisa dilihat Ali dengan jelas.


"Boleh gak

__ADS_1


aku nyium kamu?"tanya Aliando pada Agnes sambil menatap matanya.


"Apaan


sich kamu."kata Agnes sambil malu-malu.


"Jadi gak


boleh nich?"


Aliando


memberanikan dirinya mendekat pada Agnes, ia meraih dagu Agnes dan mencium


wanita manis itu. Agnes tidak merespon ciuman Aliando, matanya juga tidak


tertutup. Ali menjauhkan dirinya,


"Kamu gak


pernah ciuman ya?"tanya Aliando.


"Pernahlah.


Tapi gak pro kayak kamu."jawab Agnes sambil memalingkan wajahnya.


Aliando menarik


dagu Agnes lagi mendekat, kali ini memintanya mengikuti setiap langkah yang


dilakukan Aliando. Agnes mulai terbawa suasana. Ia merangkul leher Ali saat


pria itu membaringkannya diatas tempat tidur.


"Ach, kamu


mau ngapain?"tanya Agnes saat menyadari posisinya.


"Aku akan


pelan-pelan. Aku janji."bujuk Ali.


"Ali...


Ach."Agnes hampir lupa diri merasakan sentuhan Ali. “Ali, jangan...”cegah


Agnes saat Ali hampir membuka pakaiannya.


“Kamu gak


mau?”tanya Ali.


“Aku gak mau


melakukan itu sebelum menikah.”


perawan?”tanya Ali lagi.


“Kamu gak sopan nanya gitu. Bukannya kamu udah tau.”


“Jawab aja, susah banget sich.” Agnes mengangguk


malu. “Boleh aku cek?”


“Kamu mesum.”kata Agnes sambil menyilangkan


tangannya di depan dada.


“Aku ini dokter, aku tau gimana caranya ngecek biar


aman. Boleh?”


Agnes tetap


menggeleng, ia tiba-tiba jadi gugup dan mulai mendorong-dorong tubuh Ali dari


atasnya. Ali memberi Agnes ruang untuk bangun. “Aku mau balik ke kamar dulu.


Sekali lagi makasih, Ali.”


Ali tidak


membiarkan Agnes bangkit dari ranjangnya, ia memeluk pinggang Agnes. “Jangan


pergi, temenin aku tidur disini.”


Agnes


menggeleng, “Aku gak bisa, Ali. Kalau mamaku sampai tau, aku bisa kena hukuman.


Lepasin.”


“Tante Giselle


gak ada disini. Gak akan ada yang tahu, aku cuma mau memelukmu. Aku ngantuk sekali,


Agnes.”bujuk Ali.


Agnes menimbang


sesuatu, ia melihat Ali sudah merentangkan tangannya siap memeluk Agnes. Agnes


melirik ABS Ali yang tampak kokoh. Ia mulai menggigit kukunya karena takut tapi


penasaran juga. Akhirnya Agnes bangkit dari ranjang Ali, berjalan ke pintu

__ADS_1


keluar.


Ali sudah


kecewa karena berpikir Agnes akan keluar dari kamarnya, tapi Ali salah. Agnes


mengunci pintu kamar Ali dengan cepat lalu balik ke atas ranjang pria itu lagi.


“Janji ya, jangan macam-macam.”


“Iya, janji.


Kapan saja kau mau, baru kita lakukan. Apa kau mau jadi pacarku?”


Agnes memukul


dada Ali, “Jangan minta lebih. Mama bisa membunuhku kalau tahu aku pacaran


denganmu.”


Ali menarik


Agnes dalam pelukannya, “Memangnya kenapa? Aku kurang apa? Tampan, seksi, dan


dokter juga. Ayo bilang aku kurang apa?”


Agnes tertawa


mendengar kata-kata Ali. “Mama maunya aku nikah sama Kevin. Jadi nyonya di


rumah ini. Pewaris tunggal om Alvin.”


“Apa kau lupa


aku juga putra di rumah ini? Aku putra kedua ayah Alvin.”kata Ali. “Aku juga


masuk daftar pewarisnya. Apa tante Giselle gak tau itu?”


“Coba saja kau


bilang sama mamaku. Berani gak?”tantang Agnes.


Ali menyusupkan


wajahnya ke leher Agnes, “Ali, geli. Jangan disitu... Ali...”


“Agnes, kamu


cantik sekali. Kulitmu juga lembut. Harum...”rayu Ali.


“Dasar kamu ya,


gombal aja bisanya. Kusuruh ngomong sama mamaku, gak berani.”kata Agnes


mendorong kepala Ali.


Pria itu bahkan


sudah terlelap, Agnes mengusap-usap kepala Ali. Ia tersenyum, “Kalau kamu


serius, ngomong sama orang tuaku. Aku juga akan bilang perasaanku sama kamu,


Ali. Selamat tidur.”


Agnes mencium


kening Ali, ia memejamkan matanya perlahan tertidur juga.


Di kamar Kevin,


Kevin masih


berkutat dengan Delina yang tidak mau melepaskannya. Kevin sampai melepas


kemejanya agar Delina bisa memeluk tubuhnya yang dingin.


“Hadeh, sayang.


Kalau kamu gak halangan, akan kubuat kamu gak bisa tidur semalaman. I love you,


Delina.”kata Kevin mengecup kening Delina.


Delina


berbalik, membelakangi Kevin. Ia bergumam seperti laki-laki buaya. Kevin jahat.


Selebihnya Kevin tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena Delina bergumam


dalam hatinya. Kevin tersenyum


lagi, ia gantian memeluk Delina dari belakang sekarang.


Ia masih belum


bisa tidur, pikirannya sibuk melayang apalagi yang harus ia katakan pada Delina


tentang neneknya. Delina harus bersiap dengan segala kemungkinannya di rumah


nenek nantinya.


 


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2