
Agnes membuka
pintu kamarnya, ia mendengar suara Ali dan ingin sekali bertemu pria itu. Sejak
tadi pagi ia mencari pria itu tapi harus kecewa karena Ali sudah berangkat ke
rumah sakit. Ia menunggu sampai malam baru bisa mendengar suara Ali lagi.
Ragu-ragu Agnes
berjalan mendekati pintu kamar Ali. Ia cuma ingin bilang terima kasih karena
pertolongan Ali, lalu kembali ke kamarnya. Tok, tok, tok. Agnes mengetuk pintu
kamar Ali. Ia menahan tangannya saat pintu kamar Ali sedikit terbuka.
Agnes mencoba
mengintip ke dalam, ia melihat tangan Ali menggantung di pinggir ranjang. Ia
mendorong pintu terbuka, celingukan sebentar sebelum masuk ke kamar itu.
“Ali?”panggil Agnes di depan pintu.
Ali tidak
menjawab panggilannya, “Apa dia tidur? Kenapa gak pake selimut sich?”tanya
Agnes sendiri. Ia menutup pintu kamar Ali perlahan agar tidak ada yang
memergokinya masuk ke kamar pria itu.
Agnes mendekati
ranjang Ali, ia melihat bahkan Ali belum melepas sepatunya. Agnes menarik lepas
sepatu Ali lalu menaruhnya di dekat kaki ranjang. Ia menarik selimut di kaki
Ali sampai menutupi punggung pria itu. “Ali, makasih ya sudah nolong aku.”bisik
Agnes di dekat telinga Ali.
“Huaaa...!!”Agnes
menjerit saat tubuhnya tiba-tiba terjatuh diatas tubuh Ali. Pria itu menarik
tangan Agnes yang lengah. Wajah Agnes memucat saat Ali mengukungnya dengan
kedua lengan kekarnya. Agnes menelan salivanya melihat tubuh berotot Ali.
“Ali,
lepasin.”pinta Agnes malu.
“Kamu ngapain
masuk kesini? Belum cukup pelajaran yang kuberikan kemarin? Hem?”tanya Ali
dengan wajah semakin mendekati Agnes. “Kau harus tahu, sangat berbahaya kalau
kau masuk ke kamar pria yang mencintaimu, sayang.”
“Ali, aku cuma
mau bilang makasi, kamu udah nolong aku.”ucap Agnes. “Boleh aku pergi?”tanya
Agnes imut.
“Kamu gak boleh
pergi, temenin aku tidur.”
Agnes
menggeleng, ia mencoba mendorong Ali yang bahkan tidak beranjak. “Ali, minggir
dong.”pinta Agnes.
“Tumben gak
teriak-teriak.”kata Ali.
“Nanti ada yang
denger aku disini. Ali, lepasin aku.”
“Cium aku
dulu.”
Agnes menutup
wajahnya dengan kedua tangannya, ia merenggangkan tangannya melihat Ali semakin
mendekat. Ali malah mencium tangan Agnes, menggelitiki pinggang wanita itu.
Agnes menggeliat menahan geli, ia menahan tangan Ali dan cup. Sebuah kecupan
mendarat di pipi Agnes.
Agnes memegang
pipinya, wajahnya merona merah yang bisa dilihat Ali dengan jelas.
"Boleh gak
__ADS_1
aku nyium kamu?"tanya Aliando pada Agnes sambil menatap matanya.
"Apaan
sich kamu."kata Agnes sambil malu-malu.
"Jadi gak
boleh nich?"
Aliando
memberanikan dirinya mendekat pada Agnes, ia meraih dagu Agnes dan mencium
wanita manis itu. Agnes tidak merespon ciuman Aliando, matanya juga tidak
tertutup. Ali menjauhkan dirinya,
"Kamu gak
pernah ciuman ya?"tanya Aliando.
"Pernahlah.
Tapi gak pro kayak kamu."jawab Agnes sambil memalingkan wajahnya.
Aliando menarik
dagu Agnes lagi mendekat, kali ini memintanya mengikuti setiap langkah yang
dilakukan Aliando. Agnes mulai terbawa suasana. Ia merangkul leher Ali saat
pria itu membaringkannya diatas tempat tidur.
"Ach, kamu
mau ngapain?"tanya Agnes saat menyadari posisinya.
"Aku akan
pelan-pelan. Aku janji."bujuk Ali.
"Ali...
Ach."Agnes hampir lupa diri merasakan sentuhan Ali. “Ali, jangan...”cegah
Agnes saat Ali hampir membuka pakaiannya.
“Kamu gak
mau?”tanya Ali.
“Aku gak mau
melakukan itu sebelum menikah.”
perawan?”tanya Ali lagi.
“Kamu gak sopan nanya gitu. Bukannya kamu udah tau.”
“Jawab aja, susah banget sich.” Agnes mengangguk
malu. “Boleh aku cek?”
“Kamu mesum.”kata Agnes sambil menyilangkan
tangannya di depan dada.
“Aku ini dokter, aku tau gimana caranya ngecek biar
aman. Boleh?”
Agnes tetap
menggeleng, ia tiba-tiba jadi gugup dan mulai mendorong-dorong tubuh Ali dari
atasnya. Ali memberi Agnes ruang untuk bangun. “Aku mau balik ke kamar dulu.
Sekali lagi makasih, Ali.”
Ali tidak
membiarkan Agnes bangkit dari ranjangnya, ia memeluk pinggang Agnes. “Jangan
pergi, temenin aku tidur disini.”
Agnes
menggeleng, “Aku gak bisa, Ali. Kalau mamaku sampai tau, aku bisa kena hukuman.
Lepasin.”
“Tante Giselle
gak ada disini. Gak akan ada yang tahu, aku cuma mau memelukmu. Aku ngantuk sekali,
Agnes.”bujuk Ali.
Agnes menimbang
sesuatu, ia melihat Ali sudah merentangkan tangannya siap memeluk Agnes. Agnes
melirik ABS Ali yang tampak kokoh. Ia mulai menggigit kukunya karena takut tapi
penasaran juga. Akhirnya Agnes bangkit dari ranjang Ali, berjalan ke pintu
__ADS_1
keluar.
Ali sudah
kecewa karena berpikir Agnes akan keluar dari kamarnya, tapi Ali salah. Agnes
mengunci pintu kamar Ali dengan cepat lalu balik ke atas ranjang pria itu lagi.
“Janji ya, jangan macam-macam.”
“Iya, janji.
Kapan saja kau mau, baru kita lakukan. Apa kau mau jadi pacarku?”
Agnes memukul
dada Ali, “Jangan minta lebih. Mama bisa membunuhku kalau tahu aku pacaran
denganmu.”
Ali menarik
Agnes dalam pelukannya, “Memangnya kenapa? Aku kurang apa? Tampan, seksi, dan
dokter juga. Ayo bilang aku kurang apa?”
Agnes tertawa
mendengar kata-kata Ali. “Mama maunya aku nikah sama Kevin. Jadi nyonya di
rumah ini. Pewaris tunggal om Alvin.”
“Apa kau lupa
aku juga putra di rumah ini? Aku putra kedua ayah Alvin.”kata Ali. “Aku juga
masuk daftar pewarisnya. Apa tante Giselle gak tau itu?”
“Coba saja kau
bilang sama mamaku. Berani gak?”tantang Agnes.
Ali menyusupkan
wajahnya ke leher Agnes, “Ali, geli. Jangan disitu... Ali...”
“Agnes, kamu
cantik sekali. Kulitmu juga lembut. Harum...”rayu Ali.
“Dasar kamu ya,
gombal aja bisanya. Kusuruh ngomong sama mamaku, gak berani.”kata Agnes
mendorong kepala Ali.
Pria itu bahkan
sudah terlelap, Agnes mengusap-usap kepala Ali. Ia tersenyum, “Kalau kamu
serius, ngomong sama orang tuaku. Aku juga akan bilang perasaanku sama kamu,
Ali. Selamat tidur.”
Agnes mencium
kening Ali, ia memejamkan matanya perlahan tertidur juga.
Di kamar Kevin,
Kevin masih
berkutat dengan Delina yang tidak mau melepaskannya. Kevin sampai melepas
kemejanya agar Delina bisa memeluk tubuhnya yang dingin.
“Hadeh, sayang.
Kalau kamu gak halangan, akan kubuat kamu gak bisa tidur semalaman. I love you,
Delina.”kata Kevin mengecup kening Delina.
Delina
berbalik, membelakangi Kevin. Ia bergumam seperti laki-laki buaya. Kevin jahat.
Selebihnya Kevin tidak bisa mendengarnya dengan jelas karena Delina bergumam
dalam hatinya. Kevin tersenyum
lagi, ia gantian memeluk Delina dari belakang sekarang.
Ia masih belum
bisa tidur, pikirannya sibuk melayang apalagi yang harus ia katakan pada Delina
tentang neneknya. Delina harus bersiap dengan segala kemungkinannya di rumah
nenek nantinya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.