
“Nona, apa nona tidak tau kenapa tuan muda Kevin
tidak pernah membalas chat anda?”
Wanita cantik itu menggeleng, Kevin sudah berbunga
berharap Delina akan menjawab karena sekarang Delina sudah jadi istrinya, tapi
bayangan manis itu hancur seketika ketika Delina menjawab, “Karena tuan muda kena
penyakit kulit menular yang parah. Nona harus segera ke dokter sekarang. Atau
nona juga akan tertular.”
Entah karena wanita ini terlalu bodoh atau ucapan
Delina yang sangat meyakinkan, wanita itu segera pergi dari hadapan mereka
sambil bergidik ngeri melihat Kevin.
“Yank, kok kamu bilang gitu sich?”
“Kenapa? Gak terima? Sana kejar dia, mumpung belum
jauh.”
Delina melepaskan tangannya dari lengan Kevin dan
kembali berjalan ke arah yang ingin ia tuju. Matanya melihat-lihat apa yang
dijual di etalase toko, tidak peduli dengan Kevin. Pria itu mengejarnya lagi,
menggenggam tangannya.
“Yank, dia cuma masa laluku. Aku aja gak tau
namanya.”
Delina cuek, ia berhenti ketika melewati toko
kebaya yang sangat indah. Mata jernih Delina berbinar melihat toko impiannya
berdiri disana. Inilah yang ia inginkan, ia harapkan selama bertahun-tahun.
Impiannya yang akan segera jadi kenyataan setelah uang hasil kerja kerasnya
dengan Ny. Amira terkumpul.
“Sebentar lagi.”gumam Delina sambil menatap lekat
toko itu.
Kevin melihat Delina sangat menyukai toko kebaya
itu, “Apa kau ingin memiliki toko seperti ini?”
Delina mengangguk tanpa sadar, “Iya.” Ia terlalu
fokus memperhatikan detail toko itu yang terlihat dari luar.
“Apa kau sangat suka menjahit?”
“Iya.”
“Apa ini cita-citamu?”
“Iya.”
“Apa kau mau punya anak denganku?”
“Iya.”
Sedetik,
Dua detik,
Tiga detik,
Delina menoleh dengan cepat menatap wajah Kevin
yang sudah nyengir mesum, “Aku tidak sangka pikiranmu mesum juga ya.”
“Hubby!!” teriak Delina membuat semua orang di
sekitar mereka menoleh menatap mereka berdua.
Delina menghambur memukul lengan Kevin yang cuma
ketawa-ketiwi karena berhasil menjebak Delina. Kevin sangat menikmati waktunya
bersama Delina, berkeliling mall, tidak peduli kalau ada orang yang ia kenal
nanti menanyainya macam-macam.
Kevin bisa memeluk Delina tanpa takut wanita itu
akan meminta cerai padanya. Delina juga tersenyum bahagia menerima perlakuan
lembut Kevin padanya. Sesekali mereka berdebat karena Delina tidak mau di
belikan apa-apa lagi. Tapi ancaman Kevin selalu bisa membuat Delina harus memilih
__ADS_1
satu atau dua benda yang ditunjuk Kevin.
Saat mereka lewat di depan toko pakaian dalam,
Kevin berhenti berjalan. Ia melihat lingeri terpasang di patung di etalase
toko, “Delina, sini. Kamu gak mau pakai itu buat tidur?”
“Hii... itu baju apa korden, tipis banget. Bisa
masuk angin kalau tidur pake itu. Ayo, hubby.”
Delina menyeret Kevin jalan lagi, kali ini Kevin
ingin nonton film romantis yang banyak adegan ciumannya. Kening Delina
mengkerut membaca sinopsis film itu yang ditunjukkan Kevin lewat browsing.
Karena penasaran tidak pernah nonton film di
bioskop, Delina hanya mengikuti keinginan Kevin yang sudah mengantri untuk
membeli tiket. Seseorang datang menemui Kevin dan mengambil semua tas belanjaan
yang Kevin bawa tadi.
“Siapa dia, hubby?”
“Itu sopirnya ibu. Kamu gak tau?”
Delina menggeleng, interaksinya di rumah hanya
dengan mbak Sri saja. Ia memang pernah diantar pulang oleh Ny. Amira tapi ia
ingat bukan itu sopir yang mengantar mereka waktu itu.
“Mungkin itu Pak Kasim, sopir ini pengganti
sementara karena Pak Kasim pulang kampung.”jelas Kevin.
Mereka sudah mendapatkan tiket nontonnya, Kevin
mengajak Delina membeli popcorn dan minuman soda. Delina menatap takjub melihat
jagung mulai meletup di dalam boks pembuatan popcorn.
“Oh, gitu cara buatnya.”gumam Delina lagi.
Kevin menatap Delina yang sangat suka mengamati
sesuatu yang menurutnya menarik. Ia akan tampak sangat serius sejenak dan
”Apa tubuhku tidak menarik baginya? Padahal bagian
situ selalu membuat wanita tergila-gila. Aku ingin cepat-cepat membuatmu
merasakannya, Delina.”
Sambil menunggu pintu bioskop dibuka, Delina ingin
ke toilet dulu. Kevin tampak setia menunggunya di dekat toilet wanita. Beberapa
wanita cantik dan seksi yang kebetulan ada disana, mendorong salah satu
temannya untuk menabrak Kevin. Tutup minuman yang tidak sempurna, membuat
minuman itu tumpah mengenai baju Kevin.
“Aduch, maaf. Biar saya bersihkan.”ujar wanita yang
menabrak Kevin dengan genit.
Kevin melihat wanita itu hanya ingin menarik
perhatiannya saja. Delina yang baru keluar dari toilet melihat Kevin sedang diraba-raba
seorang wanita cantik.
“Yank, cepetan sini.”panggil Kevin yang melihat
Delina.
Delina berjalan mendekat dengan tenang, meskipun
ingin sekali menjambak rambut wanita yang sedang merabai tubuh Kevin.
“Kenapa, sayang?”tanya Delina sok mesra.
Wanita cantik yang merabai Kevin menghentikan
aksinya, keningnya mengkerut melihat penampilan Delina yang tertutup dari atas
sampai bawah sangat kontras dengan dirinya yang seksi.
“Yank, bajuku basah. Dingin.”rengek Kevin manja
pada Delina.
“Haduh, dingin ya sayang. Ganti baju yuk, baju itu
buang aja. Udah banyak kumannya.”
__ADS_1
Kata-kata Delina membuat panas telinga wanita
cantik di depan mereka.
“Siapa sich kamu! Ganggu aja.”hardik wanita itu
pada Delina.
“Aku...”
Byur! Kevin menuangkan sisa soda ke kepala wanita
itu. “Dia istriku. Kamu pengganggu disini.”kata Kevin dingin.
“Ayo, yank. Udah gak mood nonton, kita pulang aja.”ajak
Kevin sambil menggandeng tangan Delina.
Delina melirik wanita cantik tadi yang menggigil
dengan wajah merah.
Mereka sudah sampai di dalam mobil Kevin. “Hubby,
lain kali jangan kasar gitu sama perempuan ya. Kasian kan dia jadi malu basah
kuyup gitu.”
“Salah sendiri bentak-bentak kamu.”
Tiba-tiba Kevin mendekat, meraih tengkuk Delina dan
mencium bibir istrinya itu. Ciuman Kevin yang tiba-tiba membuat Delina panik,
takut ada orang yang memergoki mereka.
“Hub... hubby... tunggu...”
Kevin tidak peduli lagi, Ia hanya ingin mencium
Delina. Glegaarr!! Bunyi petir menyambar pertanda hujan deras akan turun. Hujan
turun membasahi mobil Kevin, menyamarkan apa yang sedang dilakukan pemilik
mobil itu di dalam sana.
Desahan nafas Delina terasa semakin berat saat
ciuman Kevin turun ke rahangnya, sampai di lehernya. Lenguhan Delina terdengar
seperti melodi musik yang indah di telinga Kevin. Kevin hampir menyentuh dada
istrinya itu, tapi Delina sudah menangkap tangannya.
Kevin membuka matanya, menatap dalam mata Delina
yang tidak tertutup meski ciuman mereka masih berlangsung. Ciuman mereka
terlepas sejenak, saat Kevin mendekat lagi, Delina sudah menutup mulutnya
dengan tangan.
“Hubby, bibirku bisa bengkak kalau terus dicium.”
“Aku sangat mencintaimu, Delina.”
Delina hanya menatap mata Kevin tanpa mengatakan
apa-apa. Kevin menjauh dari samping Delina, ia menghidupkan mobilnya dan hampir
menjalankannya sebelum menoleh pada Delina lagi.
“Terima kasih sudah jadi istriku, Delina. Jujur aku
tidak bisa menahan diriku setiap ada di dekatmu. Aku harap kamu mengerti apa
yang kurasakan, sayang.”
Delina hanya tersenyum, “Cepat jalan, hubby atau
kita akan terlambat pulang. Aku belum buat cemilan untuk tuan besar.”
“Harusnya kau buat cemilan untukku saja. Kamu kan
istriku.”
“Tapi tuan besar kan mertuaku. Lagian perjanjiannya
kan tertulis begitu.”
Kevin terdiam sepanjang perjalanan pulang. Hampir
saja ia melupakan perjanjian pra nikah mereka.
*”Perjanjian sialan!*”
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1