Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 57


__ADS_3

“Hentikan, Agnes. Kamu tidak boleh tertarik


padanya. Dia hanya pria keren, ganteng, tajir, dokter pula. Hiss, kenapa aku


jadi nyebutin kayak gitu sich? Agnes jangan gila. Mama akan membunuhmu kalau


berani menyebutkan nama pria selain Kevin.”


Keesokan harinya, Kevin membawa Delina ke sebuah


mall. Ia ingin membelikan beberapa pakaian lagi untuk Delina dan juga aksesoris


yang cocok. Delina sempat menolak ikuta awalnya, tapi Kevin mengancam akan


membeli semua isi mall kalau Delina tidak ikut bersamanya.


Mereka sampai di toko yang menjual pakaian yang


mirip dengan yang biasa dipakai Delina. Kevin serius ingin mengubah sedikit


penampilan Delina agar sesuai dengan kriteria menantu idaman keluarganya.


“Hubby, pakaian disini pasti makan sekali, kan? Gak


bisa kita pergi ke tempat yang murah?”bisik Delina saat melihat-lihat pakaian


yang dijual disana.


Seorang pelayan mendekati mereka dan membungkuk


hormat pada Kevin. “Selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Pelayan


itu melirik Delina seperti meremehkannya.


“Ya. Carikan pakaian yang cocok untuk istriku.”


Duaarr!! Pelayan itu membelalakkan matanya menatap


Delina, menatap intens penampilannya yang sangat sederhana, meskipun memakai


pakaian yang dibelikan Ali, pelayan itu tidak menyangka kalau Delina istri pria


tampan dihadapannya itu.


Delina dibawa dan didudukkan di sofa yang besar dan


empuk. Ia melihat satu persatu pelayan datang membawa pakaian yang terlalu


mencolok matanya. “Bisa minta yang sederhana saja? Tidak terlalu banyak


aksesoris dan tidak ketat?”


Akhirnya Delina meminta lebih spesifik, Kevin


berkeliling toko itu juga. Ia melihat ada beberapa baju tidur panjang dijual


disana juga. Sekali meraba bahannya, Kevin tersenyum. Otak kotornya bermain di


dalam kepalanya. Kalau Delina memakai salah satu baju tidur itu dan tidur di


sampingnya malam ini, ia akan berpura-pura tidak sengaja memeluknya.


”Hehe, meskipun aku sudah berjanji tidak akan


menyentuhnya, tapi kalau dia memakai baju ini, aku bisa merasakan kulit


lembutnya.”


Seringai mesum muncul di wajah Kevin, untung saja


Delina tidak melihatnya. Delina sedang mencoba pakaian yang ia pilih dan


memperlihatkannya pada Kevin. Kevin ingin teriak, protes melihat pakaian yang


dipilih Delina tetap terlihat kampungan di matanya, tapi ia menahan dirinya.


Bisa bubar jalan kalau Kevin terus protes.

__ADS_1


Kevin hanya mengangguk-angguk seperti mainan boneka


kucing yang dijual abang-abang di lampu merah. Tapi saat Delina keluar dengan


dress panjang berwarna merah maroon, darah Kevin berdesir. Ditariknya kerudung


yang menutupi rambut Delina, “Hubby, kenapa? Jelek ya?”


“Aku mau lihat kalau gak pake kerudung. Rapikan


rambutmu.”


Delina melirik ke arah cermin besar dan merapikan


rambutnya yang sedikit berantakan. Gerakan Delina merapikan rambut panjangnya


yang hitam legam, membangkitkan hasrat Kevin. Tanpa sadar Kevin mendekat,


berdiri di belakang Delina yang masih asyik merapikan rambutnya.


Delina terdorong ke depan saat Kevin merangsek


padanya. “Hubby, kenapa? Lapar ya?”


“Kau sangat cantik, Delina.”


Delina tersenyum manis mendengar pujian Kevin. Ia


sudah mulai terbiasa mendengar kata-kata manis keluar dari mulut Kevin.


Meskipun rasa cinta ini mungkin sudah tumbuh di hatinya, tapi Delina tidak


ingin terlalu terhanyut. Ia akan membiarkan semuanya berjalan bagaimana


seharusnya.


“Kau perawatan rambut dimana? Rambutmu sangat


panjang dan wangi sekali.”Kevin menempelkan hidungnya di rambut Delina.


“Hanya rajin keramas, hubby. Sudah puas lihatnya?


“Jangan. Pakai baju yang ini ya. Aku mau ajak kamu


jalan-jalan.”


Kevin mencium sekilas rambut Delina dan memakaikan


kerudungnya lagi. Delina mengatur kerudung itu agar terlihat lebih rapi. Kevin


membayar semua yang dicoba Delina dengan black card-nya, meskipun Delina hanya


ingin baju merah yang dipakainya saja.


“Tuch, kan. Belanjanya jadi banyak. Mahal, hubby.”bisik


Delina melihat totalan di kasir.


“Kamu ini cerewet banget ya. Protes sekali lagi,


aku cium nich.”


Delina refleks menutup mulutnya dengan satu tangan


dan tangan lainnya memukul lengan Kevin. Kasir menyerahkan kembali kartu itu ke


tangan Kevin yang membawa tas belanjaan di tangannya. “Ayo, kita lihat tas.”ajak


Kevin menggandeng tangan Delina.


Keluar dari toko itu, Kevin hampir jatuh tersandung


pinggiran pintu yang tidak terlihat olehnya. Delina menarik lengan Kevin dengan


cepat memeluknya. Deg! Deg! Debaran jantung Delina tidak bisa dikondisikan.


Aroma parfum maskulin Kevin memenuhi rongga hidung Delina, membuat wanita itu

__ADS_1


sesaat terlena. “Kalau masih mau peluk, kita cari tempat di pojokan yuk.”bisik


Kevin.


Delina mendongak menatap mata Kevin, bibir mereka


nyaris bersentuhan kalau Delina tidak segera menarik kepalanya. “Ach, hampir


saja kudapatkan.”


“Yang benar saja, kita di tempat umum.”


“Kamu sendiri yang duluan memelukku. Delina, apa kau


tidak sadar kalau suamimu ini sangat senang menerima sentuhanmu.”


Delina cepat-cepat melepaskan pelukannya dari tubuh


Kevin, semburat merah muncul di kedua telinganya. “Apa kau sudah jatuh cinta


padaku?”tanya Kevin dengan serius.


“Ap.. apa? Aku...”


“Aku cuma bercanda, Delina. Kenapa wajahmu merah


begitu? Apa yang kukatakan benar?”


Delina buru-buru meninggalkan Kevin berjalan duluan


ke arah yang tadi di tunjuk Kevin.


”Oh, Tuhan. Kalau memang kami berjodoh, satukanlah


kami untuk selamanya sampai maut memisahkan. Tapi kalau tidak, biarlah apapun


yang kam alami bersama, akan menjadi kenangan terindah bagiku saat kami harus


berpisah nanti.”


Kevin mengejar Delina, mensejajari langkah kaki


istrinya itu. “Bisa-bisanya kau jalan duluan. Kamu gak takut aku di incar


perempuan lain?”


“Memang siapa...”


“Kevin sayang!”seorang wanita menghambur ke pelukan


Kevin tanpa sempat ia menghindar.


Delina melotot melihat wanita cantik di depannya


memakai pakaian kekurangan bahan, memeluk Kevin dengan erat. Dada wanita itu


menempel di lengan Kevin, membuat wajah Kevin memerah.


“Kevin, kemana aja sich kamu? Gak pernah bales


chat-ku. Aku kangen tau. Ayo, kita jalan lagi. Aku mau shopping baju, ntar kamu


bantu gantiin bajuku ya.”


Kevin memucat melihat wajah Delina yang menggelap


dengan tangan mengepal. Ia menarik Kevin dari pelukan wanita itu,


“Siapa kamu?! Ganggu aja!”


“Nona, apa nona tidak tau kenapa tuan muda Kevin


tidak pernah membalas chat anda?”


*****


"Kevin terlalu sibuk vote dan like novel ini."

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2