
“Hentikan, Agnes. Kamu tidak boleh tertarik
padanya. Dia hanya pria keren, ganteng, tajir, dokter pula. Hiss, kenapa aku
jadi nyebutin kayak gitu sich? Agnes jangan gila. Mama akan membunuhmu kalau
berani menyebutkan nama pria selain Kevin.”
Keesokan harinya, Kevin membawa Delina ke sebuah
mall. Ia ingin membelikan beberapa pakaian lagi untuk Delina dan juga aksesoris
yang cocok. Delina sempat menolak ikuta awalnya, tapi Kevin mengancam akan
membeli semua isi mall kalau Delina tidak ikut bersamanya.
Mereka sampai di toko yang menjual pakaian yang
mirip dengan yang biasa dipakai Delina. Kevin serius ingin mengubah sedikit
penampilan Delina agar sesuai dengan kriteria menantu idaman keluarganya.
“Hubby, pakaian disini pasti makan sekali, kan? Gak
bisa kita pergi ke tempat yang murah?”bisik Delina saat melihat-lihat pakaian
yang dijual disana.
Seorang pelayan mendekati mereka dan membungkuk
hormat pada Kevin. “Selamat datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Pelayan
itu melirik Delina seperti meremehkannya.
“Ya. Carikan pakaian yang cocok untuk istriku.”
Duaarr!! Pelayan itu membelalakkan matanya menatap
Delina, menatap intens penampilannya yang sangat sederhana, meskipun memakai
pakaian yang dibelikan Ali, pelayan itu tidak menyangka kalau Delina istri pria
tampan dihadapannya itu.
Delina dibawa dan didudukkan di sofa yang besar dan
empuk. Ia melihat satu persatu pelayan datang membawa pakaian yang terlalu
mencolok matanya. “Bisa minta yang sederhana saja? Tidak terlalu banyak
aksesoris dan tidak ketat?”
Akhirnya Delina meminta lebih spesifik, Kevin
berkeliling toko itu juga. Ia melihat ada beberapa baju tidur panjang dijual
disana juga. Sekali meraba bahannya, Kevin tersenyum. Otak kotornya bermain di
dalam kepalanya. Kalau Delina memakai salah satu baju tidur itu dan tidur di
sampingnya malam ini, ia akan berpura-pura tidak sengaja memeluknya.
”Hehe, meskipun aku sudah berjanji tidak akan
menyentuhnya, tapi kalau dia memakai baju ini, aku bisa merasakan kulit
lembutnya.”
Seringai mesum muncul di wajah Kevin, untung saja
Delina tidak melihatnya. Delina sedang mencoba pakaian yang ia pilih dan
memperlihatkannya pada Kevin. Kevin ingin teriak, protes melihat pakaian yang
dipilih Delina tetap terlihat kampungan di matanya, tapi ia menahan dirinya.
Bisa bubar jalan kalau Kevin terus protes.
__ADS_1
Kevin hanya mengangguk-angguk seperti mainan boneka
kucing yang dijual abang-abang di lampu merah. Tapi saat Delina keluar dengan
dress panjang berwarna merah maroon, darah Kevin berdesir. Ditariknya kerudung
yang menutupi rambut Delina, “Hubby, kenapa? Jelek ya?”
“Aku mau lihat kalau gak pake kerudung. Rapikan
rambutmu.”
Delina melirik ke arah cermin besar dan merapikan
rambutnya yang sedikit berantakan. Gerakan Delina merapikan rambut panjangnya
yang hitam legam, membangkitkan hasrat Kevin. Tanpa sadar Kevin mendekat,
berdiri di belakang Delina yang masih asyik merapikan rambutnya.
Delina terdorong ke depan saat Kevin merangsek
padanya. “Hubby, kenapa? Lapar ya?”
“Kau sangat cantik, Delina.”
Delina tersenyum manis mendengar pujian Kevin. Ia
sudah mulai terbiasa mendengar kata-kata manis keluar dari mulut Kevin.
Meskipun rasa cinta ini mungkin sudah tumbuh di hatinya, tapi Delina tidak
ingin terlalu terhanyut. Ia akan membiarkan semuanya berjalan bagaimana
seharusnya.
“Kau perawatan rambut dimana? Rambutmu sangat
panjang dan wangi sekali.”Kevin menempelkan hidungnya di rambut Delina.
“Hanya rajin keramas, hubby. Sudah puas lihatnya?
“Jangan. Pakai baju yang ini ya. Aku mau ajak kamu
jalan-jalan.”
Kevin mencium sekilas rambut Delina dan memakaikan
kerudungnya lagi. Delina mengatur kerudung itu agar terlihat lebih rapi. Kevin
membayar semua yang dicoba Delina dengan black card-nya, meskipun Delina hanya
ingin baju merah yang dipakainya saja.
“Tuch, kan. Belanjanya jadi banyak. Mahal, hubby.”bisik
Delina melihat totalan di kasir.
“Kamu ini cerewet banget ya. Protes sekali lagi,
aku cium nich.”
Delina refleks menutup mulutnya dengan satu tangan
dan tangan lainnya memukul lengan Kevin. Kasir menyerahkan kembali kartu itu ke
tangan Kevin yang membawa tas belanjaan di tangannya. “Ayo, kita lihat tas.”ajak
Kevin menggandeng tangan Delina.
Keluar dari toko itu, Kevin hampir jatuh tersandung
pinggiran pintu yang tidak terlihat olehnya. Delina menarik lengan Kevin dengan
cepat memeluknya. Deg! Deg! Debaran jantung Delina tidak bisa dikondisikan.
Aroma parfum maskulin Kevin memenuhi rongga hidung Delina, membuat wanita itu
__ADS_1
sesaat terlena. “Kalau masih mau peluk, kita cari tempat di pojokan yuk.”bisik
Kevin.
Delina mendongak menatap mata Kevin, bibir mereka
nyaris bersentuhan kalau Delina tidak segera menarik kepalanya. “Ach, hampir
saja kudapatkan.”
“Yang benar saja, kita di tempat umum.”
“Kamu sendiri yang duluan memelukku. Delina, apa kau
tidak sadar kalau suamimu ini sangat senang menerima sentuhanmu.”
Delina cepat-cepat melepaskan pelukannya dari tubuh
Kevin, semburat merah muncul di kedua telinganya. “Apa kau sudah jatuh cinta
padaku?”tanya Kevin dengan serius.
“Ap.. apa? Aku...”
“Aku cuma bercanda, Delina. Kenapa wajahmu merah
begitu? Apa yang kukatakan benar?”
Delina buru-buru meninggalkan Kevin berjalan duluan
ke arah yang tadi di tunjuk Kevin.
”Oh, Tuhan. Kalau memang kami berjodoh, satukanlah
kami untuk selamanya sampai maut memisahkan. Tapi kalau tidak, biarlah apapun
yang kam alami bersama, akan menjadi kenangan terindah bagiku saat kami harus
berpisah nanti.”
Kevin mengejar Delina, mensejajari langkah kaki
istrinya itu. “Bisa-bisanya kau jalan duluan. Kamu gak takut aku di incar
perempuan lain?”
“Memang siapa...”
“Kevin sayang!”seorang wanita menghambur ke pelukan
Kevin tanpa sempat ia menghindar.
Delina melotot melihat wanita cantik di depannya
memakai pakaian kekurangan bahan, memeluk Kevin dengan erat. Dada wanita itu
menempel di lengan Kevin, membuat wajah Kevin memerah.
“Kevin, kemana aja sich kamu? Gak pernah bales
chat-ku. Aku kangen tau. Ayo, kita jalan lagi. Aku mau shopping baju, ntar kamu
bantu gantiin bajuku ya.”
Kevin memucat melihat wajah Delina yang menggelap
dengan tangan mengepal. Ia menarik Kevin dari pelukan wanita itu,
“Siapa kamu?! Ganggu aja!”
“Nona, apa nona tidak tau kenapa tuan muda Kevin
tidak pernah membalas chat anda?”
*****
"Kevin terlalu sibuk vote dan like novel ini."
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.