Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Wangi menggoda


__ADS_3

PH - Wangi menggoda


Delina memakai kembali kerudungnya, ia bahkan tidak


mengatakan apa-apa lagi. Delina berjalan ke lantai 2 kembali dan masuk ke kamar


yang tadi dikatakan Kevin. Delina menatap dua pintu yang ada di dalam kamar


itu.


Ia bingung harus menebak yang mana pintu kamar


mandi. Akhirnya Delina mendekati salah satu pintu dan membukanya. Ada banyak


pakaian tergantung di dalam sana, Delina menutup pintu lagi dan kali ini


berjalan ke pintu sebelah kiri.


Delina melihat kamar mandi dengan fasilitas


lengkap. Kamar mandi yang ukurannya lebih besar dari kamarnya sendiri. Bahkan


mungkin rumah mungilnya akan muat masuk ke dalam kamar tidur itu. Delina


mendekati bathup, ia melihat ada satu kran dengan warna biru dan warna merah di


sebelah kanan dan kirinya.


Delina mencoba menekan kran itu, tidak ada air yang


keluar. Ia mendorong kran ke kanan dan ke kiri, tidak ada air yang keluar.


Delina berpikir apa mungkin Ny. Amira belum membayar tagihan air di


rumahnya.  Tanpa sengaja, Delina menarik


kran ke atas dan air yang sangat panas langsung mengalir dari dalam kran itu.


“Aooww...!” pekik Delina sambil mengibaskan


tangannya yang terkena air panas. Kulit tangannya yang putih bersih langsung


kemerahan.



Delina kembali berkutat dengan kran di depannya.


Kali ini ia memutar kran kembali ke tengah dan air hangat mulai mengalir


memenuhi bathup. Sambil menunggu bathup penuh, Delina berjalan mendekati


wastafel dan membuka kran air dingin.


Tangan Delina terasa dingin ketika air mengalir


dari kran di wastafel. Setelah merasa cukup, Delina mematikan kran air di


wastafel. Ia mendekati bathup yang hampir penuh, ketika Delina sedang mematikan


kran air di bathup, seseorang masuk ke kamar mandi.


“Keluar!” bentak Kevin di belakang Delina.


Deg! Delina berbalik sambil menundukkan kepalanya,


dari sudut matanya ia melihat kaki telanjang Kevin berdiri di depannya. Bahkan


kuku kakinya sangat bersih dan mengkilap. Kevin berdiri di depan Delina yang


masih menunduk.


Delina mencari celah untuk keluar dari situasi yang


mengejutkannya ini. Kevin bahkan tidak menunggu Delina keluar dulu dari kamarnya


sebelum membuka pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Tidak ingin sesuatu


terjadi yang lebih gila lagi, Delina berjalan dengan cepat melewati Kevin.


“Tunggu! Buatkan aku kopi. Bawa kesini,” cetus


Kevin sambil melempar handuk yang tadi membalut tubuh bagian bawahnya ke dekat


kaki Delina.

__ADS_1


“Baik, tuan muda,” balas Delina lembut sambil


menutup pintu kamar mandi.


Kevin mendudukkan dirinya di dalam bathup, rasa


lelahnya sudah berkurang ketika mencium wangi kerudung Delina tadi. Dan


sekarang wangi itu bahkan memenuhi kamar mandinya.


“Kenapa bisa pas gini? Apa dia menaruh aromatherapi


disini?” Kevin bicara sendiri sambil celingukan mencari botol aromatherapi di


kamar mandi itu.



“Ach, bodoh. Aku melarang semua orang membawa


aromatherapi ke kamarku. Tapi kenapa bisa seharum ini.” Kevin bersandar dengan


nyaman di dalam bathup, untuk sesaat ia seperti tertidur.


Delina melihat pakaian yang tadi dipakai Kevin


berserakan di lantai. Ia merunduk mengambil kemeja Kevin dan menggunakan


kakinya untuk menendang-nendang celana panjang dan celana dalam Kevin ke dekat


keranjang di sudut lemari. Setidaknya pakaian kotor Kevin sudah menumpuk di


satu tempat dan tidak berserakan seperti itu.


*****


Delina yang turun ke lantai bawah, kebingungan


mencari letak dapurnya. Sebelum ia berjalan keluar untuk memanggil penjaga,


seorang berpakaian pelayan lewat di dekatnya.


“Maaf, permisi. Boleh saya bertanya?” tanya Delina


dengan sopan.


Keduanya saling pandang dan tersenyum satu sama


lain sebelum melanjutkan pembicaraan kembali.


“Saya Delina, tuan muda Kevin minta saya membuatkan


kopi. Bisa saya tahu dimana dapurnya?” tanya Delina lagi.


“Mari saya antar.” Ajak pelayan itu.


“Terima kasih.” Ucap Delina sambil mengikuti


pelayan itu.


Delina diantar ke dapur, pelayan itu menunjukkan


tempat kopi dan gula dan mengambilkan cangkir kopi khusus untuk Kevin. Pelayan


itu juga mengeluarkan teko dari dalam lemari dan mengisinya dengan air. Delina


meletakkan teko air itu diatas kompor untuk memanaskan air.


“Tuan muda selalu memakai cangkir seperti ini. Tuan


muda akan marah kalau cangkirnya berbeda.” Jelas pelayan itu.


“Terima kasih atas bantuannya. Boleh saya tahu nama


kakak?” tanya Delina sambil meracik kopi dan gula ke dalam cangkir Kevin.


“Saya Sri.” Jawab pelayan itu dengan ramah.


Air mulai mendidih dengan cepat. Delina menuangkan


air panas ke dalam cangkir kopi. Aroma kopi merebak memenuhi dapur.


“Mbak Sri, sebaiknya saya cepat mengantarkan kopi


ini sebelum dingin. Sekali lagi terima kasih sudah membantu saya.” Ucap Delina

__ADS_1


dengan sopan.


Delina membawa kopi itu ke lantai dua. Ia tidak


mengetuk pintu saat masuk ke dalam kamar Kevin. Fokusnya hanya pada cangkir


kopi agar tidak jatuh. Harum kopi merebak di dalam kamar Kevin saat Delina


meletakkan cangkir kopi itu diatas meja sofa.


Saat Delina berbalik menghadap ke pintu kamar


mandi, ia melihat Kevin berdiri di belakangnya dengan tubuh hanya berbalut


handuk menutupi bawah pinggangnya. Delina langsung menghindar sampai ke pintu


kamar Kevin sambil mengalihkan pandangannya dari tubuh Kevin.


“Ambilkan bajuku.” perintah Kevin dingin. Matanya


fokus pada cangkir kopi di depannya.


“Maaf, tuan muda. Saya tidak tahu selera anda, apa


tidak sebaiknya tuan muda sendiri yang mengambil baju sekalian berpakaian?”


kata Delina sambil berbalik.


“Kau berani membantah lagi!” teriak Kevin, kali ini


Kevin berjalan mendekati Delina yang hampir membuka pintu kamarnya.


Brak! Pintu kamar menutup lagi dengan cepat, hampir


menjepit jemari Delina. Tubuh Delina terkunci di depan pintu, bayangan tubuh


Kevin menutupi seluruh tubuh Delina dari kepala sampai kaki. Lagi, aroma wangi


menggoda indra penciuman Kevin.


Delina melihat bayangan Kevin yang tinggi tegap


tadi mulai merendah, pertanda pemilik bayangan itu mulai menunduk. Tubuh Delina


menegang, bukankah tidak pantas kalau mereka sedekat ini? Berpikir cepat,


Delina mengaduh,


“Aduh...!” pekik Delina sambil memegangi perutnya.


“Kamu kenapa?” tanya Kevin sambil mundur selangkah.


“Saya sakit perut, tuan muda. Permisi.” Kata Delina


sambil membuka pintu kamar dengan cepat dan setengah berlari menuruni tangga


kembali ke ruang tamu. Delina hampir menabrak Ny. Amyra yang baru saja pulang.


“Delina? Kenapa kau terburu-buru?” tegur Ny. Amira


sambil memegang lengan Delina.


“Ny. Amira. Saya dari toilet dan melihat Ny.


datang, jadi saya buru-buru.” Jelas Delina cepat.


“Duduklah dulu. Mana kebayaku?” tanya Ny. Amira.


Delina mengambil paper bag yang masih ada di tempat


ia meninggalkannya tadi. Ny. Amira memperhatikan hasil jahitan Delina,


“Seperti biasanya, hasil jahitanmu selalu halus dan


sempurna.” Puji Ny. Amira.


“Terima kasih, Ny. Amira. Apa Ny. mau mencobanya


dulu? Saya bisa menunggu.” Tawar Delina.


“Oh, baiklah. Ikut aku.” Ajak Ny. Amira.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2