
“Delina, buka pintunya! Aku bisa jelaskan.”
Pintu kamar Delina terbuka, “Tuan muda, ada yang
bisa saya bantu?” Kevin terpana melihat reaksi Delina yang biasa saja.
”Apa dia tidak cemburu melihatku tidur dengan
Agnes? Apa-apaan ini?! Tapi aku gak mungkin tidur dengan Agnes. Ada yang salah
disini.”
Delina tidak menatap mata Kevin, ia terus saja
menatap ke arah lain. Ia tidak mau Kevin melihatnya terluka setelah melihat
kejadian tadi. Kevin melihat Delina yang tidak seperti biasanya, “Delina, aku
gak tau apa yang terjadi. Aku bisa jelaskan, bisa kita bicara di kamarmu?”
“Saya sibuk sekali, tuan muda. Lain kali saja.”
Brak! Pintu kamar menutup dengan cepat dan dikunci
Delina. Delina merosot turun di depan pintu, ia menangis tanpa suara.
”Lihat dirimu yang menyedihkan, kau terbuai dalam
rayuan pria b******* itu sampai melupakan mungkin dia hanya mempermainkanmu.
Katanya dia mencintaiku, tapi melakukan itu dengan perempuan lain. Tak bisakah
dia menghormati pernikahan kami. Apa yang ada di pikirannya hanya berhubungan
intim?”
Delina melihat sekeliling kamar jahitnya, ia
bangkit berdiri, berjalan mendekati meja besar tempat buku sketsanya tergeletak
disana. Buku itu sudah hampir habis.
”Fokus, Delina. Kamu bertahan disini untuk
mewujudkan impianmu. Mengumpulkan uang untuk membuka sebuah toko kebaya.
Menjadikan Delina sebagai istri Kevin adalah keinginan Kevin. Orang tuanya
tidak pernah menganggapmu sebagai menantu, Delina. Kau harus sadar sekarang.”
Delina memeluk buku sketsa itu. Ia melihat keluar
jendela, dan mulai menggambar toko kebaya impiannya.
Sementara itu Kevin nelangsa di depan kamar Delina,
ia ingin menjelaskan kalau ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, tapi
Delina tidak memberinya kesempatan. “Aargghh!! Kenapa jadi gini sich?!”
Dengan geram, Kevin melangkah kembali ke lantai 2,
ia menggedor kamar Agnes dengan keras seolah akan memecahkan pintu kamar itu.
“Agnes! Keluar kamu!! Cepat keluar!”teriak Kevin
dengan marah.
Agnes mengurung diri di dalam kamarnya, ia
ketakutan mendengar teriakan Kevin dan satu-satunya orang yang bisa
menyelamatkannya adalah Delina. Agnes menelpon Delina,
“Delina, cepat kesini. Kevin akan
membunuhku!”teriak Agnes panik.
“...Baik, nona.”kata Delina sopan.
Delina keluar dari kamarnya, ia beranjak ke lantai
2 dan melihat Kevin hampir mendobrak kamar Agnes.
“Tuan muda.”panggil Delina di samping Kevin.
__ADS_1
“Delina.”
“Saya siap mendengarkan penjelasan tuan muda.”kata
Delina lagi.
Kevin menyambar lengan Delina, membawanya masuk ke kamar Kevin, tapi
ketika Kevin hampir menutup pintu, Ali ikutan masuk juga.
“Kamu kenapa ikut masuk?”
“Aku juga perlu penjelasan, kak. Kakak baru saja
tidur dengan wanita yang kucintai.”Ali langsung mendapat pandangan membunuh
dari kedua orang di depannya. “Aku akan diam, menyimak.”
”Serem banget mereka berdua, hidupku akan cepat
tamat kalau begini terus.”
“Delina, percaya padaku. Aku tidak tahu apa yang
sebenarnya terjadi. Tadi siang aku memang pulang cepat, sampai rumah, aku
langsung ke dapur untuk nyari kamu. Tapi aku malah ketemu Agnes. Dia tanya aku
mau kemana? Aku bilang mau nyari kamu sambil mau ambil air minum. Trus Agnes
ngasi gelas minuman yang dibawanya.”
“Bukannya di meja makan ada air minum?”tanya
Delina.
“Gak ada. Makanya aku cari ke dapur. Habis aku
minum, tiba-tiba aku ngantuk banget. Kayaknya Agnes yang bantu aku ke kamar. Habis
itu aku ketiduran, gak tau apa yang terjadi. Sungguh, Delina. Aku gak boong.”
Delina melihat mata Kevin berkaca-kaca, sepertinya
hal seperti itu? Batin Delina bergejolak diliputi rasa bimbang. Entah siapa
yang harus ia percaya, Kevin atau matanya. Tapi tadi Kevin terlihat memejamkan
mata.
“Biar aku yang bicara sama Agnes.”kata Ali tiba-tiba,
“Kalau memang seperti cerita kakak, kemungkinan ini hanya akal-akalan Agnes
saja.”
“Maksud kamu apa?”tanya Kevin penasaran.
“Ya, mungkin ia kebelet kawin?”
Jawaban Ali membuatnya sukses menderita kesakitan
di kepalanya yang dipukul Kevin.
“Kak! Aku sungguh-sungguh, apa aku salah ngomong?
Gini maksudku, aku akan coba membuatnya mengaku. Tapi kakak ipar harus bantu
aku.”
“Bantu apa?”tanya Delina sedikit takut melihat
seringai mesum Ali.
“Kau mau apa sama Delina?!”bentak Kevin galak. Ia
bersiap memukul Ali lagi.
“Sabar, kak. Kakak diem dulu di kamar ini ya. Kakak
ipar ikut aku.”ajak Ali.
Kevin terpaksa membiarkan Delina keluar kamar
bersama Ali. Ia ingin mengintip, tapi Ali keburu menutup pintu dengan keras.
__ADS_1
“Sialan tuch anak udah berani kurang ajar. Hampir patah
hidungku.”sungut Kevin.
Ali meminta Delina mengetuk pintu kamar Agnes
sampai Agnes mau membukakan pintu. Ia yang akan masuk dan memaksa Agnes
mengaku.
“Kakak jangan melarangku dulu sampai Agnes mau
ngaku ya. Kakak cukup berdiri diam di luar kamar, biarin aku bicara.”
Delina terpaksa mengetuk pintu kamar Agnes, “Siapa?”tanya
Agnes dari dalam kamarnya.
“Ini, saya non. Delina. Bisa buka pintu sebentar?”
Agnes langsung membuka pintu begitu mendengar suara
Delina. Ali dengan cepat menerobos masuk setelah pintu terbuka lebih lebar.
“Kau!! Keluar!!”jerit Agnes ketika melihat Ali di
depannya.
“Agnes sayang, aku perlu bicara denganmu secara
pribadi.”
“Jangan berani-berani mendekat! Kau b*******!”
“Kasar sekali. Aku ingin menawarkan diri kalau kau
sangat butuh belaian pria. Aku sanggup memberimu kepuasan, sayang.”kata Ali sambil
mendekati Agnes.
“Jangan mendekat! Tolong! Delina, tolong aku!”teriak
Agnes dengan mata berkaca-kaca.
Agnes melihat Delina hanya berdiri diam di depan
pintu kamarnya tanpa ekspresi sementara Ali semakin mendekati Agnes. Agnes
berlari menghindar, ke dekat tempat tidurnya. Ia melompat keatas tempat
tidurnya untuk menghindari Ali.
“Ayo, sayang. Aku bisa membuatmu lebih puas dari
apa yang diberikan kak Kevin. Sini, sayang.” Ali mengejar dengan lebih serius,
ia berhasil menangkap tangan Agnes dan memeluk pinggang gadis itu. Agnes
menegang saat tangan Ali merayap masuk ke dalam kaosnya. Tangan Ali bergerak
turun dari perutnya masuk ke dalam rok Agnes.
“Gak!! Jangan sentuh aku!! Aku masih perawan!!
Jangan... hiks... jangan...!”teriak Agnes membocorkan rahasianya sendiri. “Delina,
aku bohong. Kejadiannya gak seperti itu. Kevin gak salah. Tolong, Delina.
Jangan...”
Delina yang malu melihat apa yang dilakukan Ali,
menggelengkan kepalanya agar Ali tidak bertindak terlalu jauh. Sungguh Delina
ikutan panas dingin melihat Ali menyentuh Agnes seperti itu. Ali melepaskan pelukannya
dari Agnes, gadis itu segera menjauh darinya sambil menyilangkan tangannya di
depan dada.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1