Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Pelayan kopi


__ADS_3

PH - Pelayan kopi


Delina kembali membuatkan kopi untuk Kevin. Ia


membawanya dengan hati-hati naik ke tangga, tapi baru sampai tangga ke 2,


seseorang menghentikannya lagi. Delina sudah pasrah kalau tuan muda di atas


sana akan marah-marah setelah ini.


“Delina, apa yang kau bawa itu?” tanya Ny.Amira


yang baru pulang.


“Ny. Amira. Ini kopi untuk tuan muda.”


“Baunya enak. Coba aku cicipi.”kata Ny.Amira sambil


berdiri di depan pintu kamarnya.


”Yang benar saja, berapa kali aku harus membuat


kopi kalau begini caranya?”jerit Delina pasrah.


Mau gak mau Delina beranjak mendekati Ny.Amira yang


mengambil cangkir itu dan menyeruput kopi di dalamnya.


“Uhh.. panas. Tapi kok enak ya. Sini cangkirnya,


kau buatkan yang baru untuk Kevin ya.”kata Ny.Amira.


Ceklek! Pintu kamar Ny.Amira terbuka. Delina dan


Ny.Amira menoleh saat Sri hendak keluar dari sana membawa pakaian kotor Alvin


dengan latar belakang Alvin yang bertelanjang dada. Delina langsung berbalik,


tidak berani melihat lagi.


“Ny. Besar. Air mandi sudah siap.”kata Sri sambil


menyingkir dari jalan Ny.Amira.


“Oh, kamu uda pulang. Sri, apa makan malam kita?”tanya


Ny.Amira biasa saja. Ia tidak marah ataupun terlihat kesal melihat pelayan


wanitanya berada di kamar yang sama dengan suaminya.


“Soto ayam, Ny.Besar.”


“Ach, tolong buatkan aku jus jeruk. Dingin ya.”


“Ny. baru saja minum kopi, sebaiknya tunggu satu


atau dua jam lagi. Nanti perut Ny. bisa bermasalah. Silakan mandi dulu untuk


mendinginkan badan.”jelas Sri dengan hormat.


“Kau benar. Aku sampai tidak sadar karena kopi ini


enak sekali.”kata Ny.Amira sambil menyeruput kopi di tangannya.


“Pelayan!! Hei, mana kopiku?!!!”teriakan Kevin


menggelegar sampai ke lantai bawah.


Delina, Sri, dan Ny.Amira yang terkejut menoleh ke


atas tangga. Kevin sudah berdiri disana, berkacak pinggang dengan tubuh hanya


dibalut handuk menutupi pinggang sampai atas lututnya. Delina langsung berbalik


membelakangi Kevin.


“Maaf, tuan muda. Akan segera saya buatkan.”kata


Delina sedikit keras.


“Hei, kau tidak sopan. Lihat aku kalau bicara


padaku!”handik Kevin lagi.


Ny. Amira yang melihat Delina tampak enggan untuk


melihat Kevin dalam keadaan seperti itu, membela Delina.


“Kevin, sayang. Kepala ibu pusing, jadi ibu ambil


kopimu. Ini masih ada sisanya kalau kau tidak sabaran.”kata Ny.Amira sambil


menyodorkan cangkir kopi di tangannya.

__ADS_1


“Aku tunggu saja, bu. Hei, cepat buatkan! Gak pake


lama!”ancam Kevin sangar.


“Namanya Delina, Kevin. Panggil Delina.”kata Ny.Amira.


“Aku malas mengingat namanya, bu. Dia juga gak


keberatan kupanggil hei. Cepat buatkan. Masih berdiri disana kamu!!”bentak


Kevin sambil berjalan kembali ke kamarnya.


“Ina, buatkan aku kopi juga!”teriak Alvin dari


dalam kamar.


Delina hanya membungkuk pada Ny.Amira dan beranjak


ke dapur tanpa bicara apa-apa lagi. Sri juga menunduk pada Ny.Amira dan


menyusul Delina ke dapur. Ny.Amira masuk ke dalam kamarnya.


“Sayang, apa kau barusan memanggil Delina, Ina? Kenapa


kau memintanya membuat kopi juga?”tanya Ny.Amira.


“Namanya terlalu panjang, aku malas mengingatnya.


Jadi kusingkat saja. Ina seperti Sri. Dimana kamu ketemu gadis itu?”tanya Alvin


sambil menarik tubuh Ny.Amira ke depannya dan mulai melucuti pakaian istrinya


itu.


“Dia penjahit jenius. Kau tahu, dia memperbaiki


kebayaku yang dirusak penjahit langgananku. Padahal kebaya itu untuk pesta


ultah perusahaanku.”jelas Ny.Amira sambil menghabiskan kopi di tangannya.


Ny.Amira meletakkan cangkir kopi kosong di atas


meja dan Alvin menggendongnya masuk ke kamar mandi. Alvin menurunkan Amira di


dalam bathup dan ikut masuk juga ke dalamnya.


“Oh, kebaya baru itu. Kau terlihat seksi


Mereka berdua saling memijat tubuh pasangannya


sambil tetap mengobrol. Meskipun sudah memiliki seorang anak yang bisa dibilang


hampir kepala tiga, kedua pasutri ini masih saja terlihat mesra. Mereka saling


menjaga keharmonisan keluarga mereka dengan cara melakukan kegiatan sederhana


bersama, seperti mandi dan mengobrol.


Keduanya sangat suka mengobrol tentang segala hal


termasuk apa yang sedang dilakukan Sri di dalam kamar mereka tadi. Karena itu


Ny.Amira selalu merasa tenang dimanapun dia berada. Ia mempercayai suaminya


selalu menjaga kesetiaannya dimanapun mereka berada, begitupun juga dengan


dirinya.


Delina yang sudah membuatkan dua cangkir kopi


tampak ragu-ragu mengetuk pintu kamar Ny.Amira. Padahal tadi Sri mengatakan


kalau Delina bisa langsung mengetuk pintunya saja. Akhirnya Delina berani


mengetuk pintu kamar itu, Alvin membuka pintunya. Ia baru keluar dari kamar


mandi cuma pakai handuk.


Delina menunduk sambil menyodorkan cangkir kopi


pada Alvin yang meminta Delina meletakkannya di atas meja. Delina meletakkan


cangkir itu dan keluar kamar dengan cepat sambil menutup pintu.


“Sayang, dia belum terbiasa melihat pria setengah


telanjang. Jangan memintanya masuk ke dalam kamar kalau kau belum berpakaian.”ujar


Amira yang melihat Delina pergi tanpa bicara dengan Alvin. Memang tidak sopan,


tapi Amira menyadari kalau Delina bukan Sri yang sudah terbiasa dengan Alvin.


“Ya, aku paham. Tapi dia terlalu pemalu. Memangnya

__ADS_1


apa yang akan kulakukan.”kata Alvin cuek.


“Kau memang tidak akan melakukan apa-apa. Tapi dia


tidak akan betah kerja disini kalau kau tidak dengarkan kata-kataku.”jelas


Amira sambil mengeringkan rambut Alvin.


“Baiklah, Ny.Alvin Raditya. Sekarang aku mau


melakukan sesuatu sama kamu.”


“Oh, my...”kata Amira sambil pura-pura terkejut.


Delina menaiki tangga perlahan-lahan. Ia masuk ke


kamar Kevin tanpa mengetuk pintu dan meletakkan cangkir kopi di atas meja. Saat


ia mendongakkan kepala sambil tersenyum, Delina spontan balik badan.


”Tuan, kenapa kau tidak pakai baju sich? Ngapain


aja dari tadi!!”jerit Delina kesal karena harus melihat tubuh setengah


telanjang Kevin meski hanya sekilas.


“Silakan minum kopinya, tuan muda. Saya keluar


dulu.”kata Delina sambil berjalan cepat menuju pintu.


“Tunggu! Ambilkan aku baju. Aku mau keluar. Kau


harus belajar pakaian yang mau kupakai.”


“Baju yang mana, tuan?”tanya Delina datar.


“Kau ini, lihat aku kalau bicara denganku!”bentak


Kevin.


“Tuan muda, saya tidak terbiasa melihat badan


laki-laki. Mohon tuan muda maklum dengan itu.”jelas Delina masih kekeh tidak


mau menatap Kevin.


Kevin mendengus sebal, ia berdiri, menarik belakang


pakaian Delina dan membawanya seperti membawa anak kucing ke dalam ruang ganti


bajunya. Mereka berdiri di depan lemari yang sekarang sudah dibuka Kevin. Kevin


berdiri di belakang Delina yang sibuk melihat isi di dalam lemari.


Sejenak perhatiannya teralihkan wangi kerudung


Delina.


“Ini bagian pakaian kerjaku. Aku kerja hari Senin


sampai Jumat dan harus sudah siap jam 7 pagi. Kau siapkan pakaianku waktu aku


mandi. Bagian ini kalau aku mau keluar di malam hari atau jalan-jalan. Lihat,


sudah diatur satu stel, kau tinggal mengambilnya satu. Untuk sekarang aku mau


pakai yang ini.”jelas Kevin sambil menarik satu stel pakaiannya dan  memberikannya pada Delina.


Delina terdorong saat Kevin mengambil baju itu,


entah dia sengaja atau tidak. Untuk sesaat tubuh mereka saling bersentuhan saat


itu. Kevin melanjutkan menunjukkan isi lemarinya sampai selesai.


“Silakan pakai baju, tuan muda.”kata Delina sambil


menyerahkan kembali pakaian yang dipegangnya tadi pada Kevin.


“Tunggu.!”


”Jangan bilang kau akan menyuruhku memakaikan


bajumu! Apa kau tidak punya tangan?!”jerit Delina.


“Ya, tuan muda?”tanya Delina tanpa berbalik


menghadap Kevin.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2