Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 89


__ADS_3

“Aku mau liat wajahmu yang cantik ini.”rayu Kevin.


“Hubby gombal dech.”kata Delina sambil menusuk


potongan lumpia. Ia hampir memasukkan potongan itu ke mulutnya tapi Kevin malah


membuka mulutnya. Delina menyuapi Kevin makan lumpia.


“Enakan buatanmu, ya.”kata Kevin.


“Ini juga enak, hubby.”saut Delina.


Tiba-tiba terdengar keributan dari arah kamar nenek


Indri. Amira berjalan cepat menghampiri Delina, “Delina, kamu bisa buat bubur


Manado?”


“Iya, bu. Memangnya kenapa?”tanya Delina bingung.


Dirinya memang pernah membuat bubur Manado ketika ada acara di rumah


tetangganya. Setidaknya ia tahu bagaimana rasanya dan bentuknya.


“Buatkan sekarang ya. Nenek Indri mau makan bubur


Manado, mana gak mau dibeliin harus dibuatin. Kamu buatin satu panci gitu ya.


Cepetan. Kevin, anterin Delina ke dapur.”pinta Amira berjalan kembali ke depan


kamar nenek Indri.


Giselle dan Agnes yang tidak sengaja mendengar


Delina bisa membuat bubur Manado menguntitnya ke dapur. Kevin meminta pelayan


menyiapkan apapun yang diminta Delina. Tak lama kemudian, harum bubur Manado


mulai memenuhi dapur. Delina memakai semua peralatan yang ada untuk mempercepat


pembuatan bubur itu.


Ketika Delina hampir selesai menghidangkan bubur


itu, telpon Kevin berdering. Ia harus mengangkat telpon dari client-nya itu.


Kevin meninggalkan Delina bersama pelayan di dapur. Giselle tiba-tiba datang


dan langsung merebut mangkuk bubur dari hadapan Delina.


“Agnes, bawa bubur ini ke kamar nenek, cepat! Kau


tetap disini!”tuding Giselle pada Delina.


“Ta... tapi...”Delina belum selesai bicara ketika


ia didorong dengan kasar oleh Giselle.


Delina terhuyung, hampir menabrak lemari kayu kalau


pelayan tidak menahan tubuhnya. Delina berterima kasih pada pelayan itu, ia


menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Giselle.


Di kamar nenek Indri,


“Masa gak ada yang bisa bikin bubur Manado


sich?”tanya nenek Indri pada para menantunya.


Bahkan Amira juga menggeleng. Tiba-tiba Giselle


masuk membawa semangkuk bubur yang aromanya membuat semua orang di kamar nenek


menoleh. Disampingnya Agnes berdiri dengan wajah masam.


“Bau apa ini?”tanya nenek Indri melihat mangkuk


yang dibawa Giselle.


“Ibu, Agnes khusus membuat bubur Manado untuk ibu. Coba


ibu cicipi, ini enak banget.”kata Giselle sibuk promosi.


Giselle memberikan nampan itu pada nenek Indri yang

__ADS_1


langsung mencicipi bubur yang terlihat lezat itu. Kening nenek Indri mengkerut,


“Kayak ada yang kurang ya.”


Wajah Giselle memucat sementara Agnes seperti tidak


peduli. Ia sangat kesal pada mamanya karena sebentar lagi dirinya pasti kena


masalah juga.


Beberapa saat kemudian, Kevin masuk ke kamar nenek


Indri, membawa bubur dan memakannya dengan nikmat. Nenek Indri menoleh mencium


bau yang ia inginkan dari mangkuk Kevin. “Kevin, coba lihat buburmu.”


Kevin menyerahkan mangkuknya dan nenek Indri


memakan satu suap penuh. “Ini yang nenek mau. Kevin dapat dimana?”


“Di panci yang dibuat Delina, nek.”saut Kevin.


Satu tembakan telak untuk Giselle dan Agnes, Kevin


meminta mangkuknya lagi dan nenek Indri antara mau atau tidak mau memberikannya.


“Ibu, kalau ibu mau, aku bisa ambilin lagi punya


Delina. Kasi mangkuknya ke Kevin, bu.”tawar Amira.


Nenek Indri terpaksa memberikan mangkuk itu pada


Kevin lagi dan Amira keluar dari kamar untuk mengambilkan bubur lagi untuk


nenek Indri. Delina yang sedang menunggu dengan cemas di dapur, tampak terkejut


melihat Amira datang dan meminta bubur yang dibuat Delina.


“Apa yang terjadi, bu?”tanya Delina penasaran.


“Delina, cepat sajikan satu mangkuk lagi seperti


yang dibawa Kevin. Nanti kita bicara lagi.”


Delina melakukan yang diminta Amira dan Amira


Tak berapa lama, semua orang yang tadi masuk ke


dalam kamar nenek Indri akhirnya keluar, kecuali Amira dan Kevin. Delina masih


menunggu di dapur sambil membuat cemilan untuk Alvin dan Kevin. Ia membuat


dimsum udang dan ayam lagi.


Wangi dimsum menguar menggelitik hidung Giselle dan


Agnes yang keluar kamar belakangan. Mereka langsung ngintip ke dapur dan


melihat Delina baru menurunkan dua baki berisi dimsum panas yang mengepulkan


asap putih.


“Ina, mana cemilanku!”kata Alvin yang baru datang


mengejutkan Giselle dan Agnes yang masih asyik mengintip Delina dari pinggir


dapur.


“Sebentar, ayah. Ini sudah matang dimsumnya.”saut


Delina sambil menyajikan dimsum di atas piring.


Delina menghidangkan dimsum dan air putih di depan


Alvin yang sudah duduk manis di meja makan.


“Mana kopiku, Ina?”


“Ayah kan masih panas dalam. Banyak minum air putih


dulu ya. Nanti kalau sudah sembuh, saya buatkan kopi lagi. Gusi ayah masih


sakit?”tanya Delina menatap wajah mertuanya.


Alvin mengangguk, “Iya, masih sakit.”

__ADS_1


Delina memotong dimsum lebih kecil agar Alvin bisa


makan dengan nyaman. “Silakan dimakan, ayah. Sebentar saya buatkan jus buah


naga ya.”


“Tapi aku mau kopi. Kepalaku sakit, Ina.”melas


Alvin.


“Kalau jus buah naganya habis ayah minum sekarang, nanti


malam saya buatkan kopi. Gimana, yah?”tawar Delina.


“Beneran ya. Buatkan roti bakar juga.”sambar Alvin.


“Iya, ayah.”saut Delina sambil tersenyum manis.


Interaksi antara Delina dan Alvin terlihat semuanya


oleh Amira, Kevin, nenek Indri, Giselle dan Agnes.


“Ibu lihat sendiri, bagaimana Delina bisa membujuk


mas Alvin. Amira aja belum tentu bisa kalo gak ke kamar dulu.”kata Amira.


“Tetap saja ibu belum setuju dia masuk ke keluarga


kita. Latar belakangnya itu loh. Apa kata orang kalau mereka tau dia cuma gadis


miskin yang bahkan bukan sarjana.”


“Bu, latar belakang pendidikan yang tinggi juga


belum tentu bisa memberikan ketulusan seperti yang Delina berikan, bu. Tolong


kasi dia kesempatan, bu. Kevin sangat mencintai wanita itu.”bujuk Amira.


Kevin sudah berjalan mendekati Delina, minta


cemilan juga kopi. Delina membuatkan kopi dengan cepat menghidangkannya di


depan Kevin. Alvin manyun mencium wangi kopi yang diminum Kevin. Ia mengambil


cangkir kopi Kevin saat Delina masuk ke dapur mengambil dimsum lagi.


“Delina, ayah bandel nich.”adu Kevin mengadukan


Alvin yang mencicipi sedikit kopi Kevin.


“Pelit banget sich.”gerutu Alvin yang cepat-cepat


menaruh cangkir kopi kembali ke depan Kevin.


Delina tersenyum mendengar Kevin mengadukan ayahnya.


Ia sudah melihat kelakuan Alvin tadi.


“Ayah kalo bandel, gak jadi dibuatin kopi ntar


malem loh.”kata Delina menahan tawanya.


“Iya, iya.”saut Alvin tambah manyun.


Kevin dan Delina kompak tertawa. Kebersamaan mereka


mengundang perhatian saudara sepupu Kevin yang lain. Mereka bergabung di meja


makan, merebut dimsum yang dihidangkan Delina untuk Kevin. Saudara sepupu Kevin


memuji masakan Delina dan menghabiskan dimsum yang ia buat.


Agnes dan Giselle cuma bisa menelan liurnya melihat


kukusan sudah kosong. Giselle pergi dengan kesal, ia masuk ke kamarnya. Delina


yang melihat Giselle sudah pergi, memberi tanda pada Agnes untuk mengikutinya


ke dapur. Delina sudah menyiapkan beberapa dimsum untuk Agnes karena ia tahu


kalau Agnes tidak bisa berkutik di depan mamanya.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2