
“Aku mau liat wajahmu yang cantik ini.”rayu Kevin.
“Hubby gombal dech.”kata Delina sambil menusuk
potongan lumpia. Ia hampir memasukkan potongan itu ke mulutnya tapi Kevin malah
membuka mulutnya. Delina menyuapi Kevin makan lumpia.
“Enakan buatanmu, ya.”kata Kevin.
“Ini juga enak, hubby.”saut Delina.
Tiba-tiba terdengar keributan dari arah kamar nenek
Indri. Amira berjalan cepat menghampiri Delina, “Delina, kamu bisa buat bubur
Manado?”
“Iya, bu. Memangnya kenapa?”tanya Delina bingung.
Dirinya memang pernah membuat bubur Manado ketika ada acara di rumah
tetangganya. Setidaknya ia tahu bagaimana rasanya dan bentuknya.
“Buatkan sekarang ya. Nenek Indri mau makan bubur
Manado, mana gak mau dibeliin harus dibuatin. Kamu buatin satu panci gitu ya.
Cepetan. Kevin, anterin Delina ke dapur.”pinta Amira berjalan kembali ke depan
kamar nenek Indri.
Giselle dan Agnes yang tidak sengaja mendengar
Delina bisa membuat bubur Manado menguntitnya ke dapur. Kevin meminta pelayan
menyiapkan apapun yang diminta Delina. Tak lama kemudian, harum bubur Manado
mulai memenuhi dapur. Delina memakai semua peralatan yang ada untuk mempercepat
pembuatan bubur itu.
Ketika Delina hampir selesai menghidangkan bubur
itu, telpon Kevin berdering. Ia harus mengangkat telpon dari client-nya itu.
Kevin meninggalkan Delina bersama pelayan di dapur. Giselle tiba-tiba datang
dan langsung merebut mangkuk bubur dari hadapan Delina.
“Agnes, bawa bubur ini ke kamar nenek, cepat! Kau
tetap disini!”tuding Giselle pada Delina.
“Ta... tapi...”Delina belum selesai bicara ketika
ia didorong dengan kasar oleh Giselle.
Delina terhuyung, hampir menabrak lemari kayu kalau
pelayan tidak menahan tubuhnya. Delina berterima kasih pada pelayan itu, ia
menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Giselle.
Di kamar nenek Indri,
“Masa gak ada yang bisa bikin bubur Manado
sich?”tanya nenek Indri pada para menantunya.
Bahkan Amira juga menggeleng. Tiba-tiba Giselle
masuk membawa semangkuk bubur yang aromanya membuat semua orang di kamar nenek
menoleh. Disampingnya Agnes berdiri dengan wajah masam.
“Bau apa ini?”tanya nenek Indri melihat mangkuk
yang dibawa Giselle.
“Ibu, Agnes khusus membuat bubur Manado untuk ibu. Coba
ibu cicipi, ini enak banget.”kata Giselle sibuk promosi.
Giselle memberikan nampan itu pada nenek Indri yang
__ADS_1
langsung mencicipi bubur yang terlihat lezat itu. Kening nenek Indri mengkerut,
“Kayak ada yang kurang ya.”
Wajah Giselle memucat sementara Agnes seperti tidak
peduli. Ia sangat kesal pada mamanya karena sebentar lagi dirinya pasti kena
masalah juga.
Beberapa saat kemudian, Kevin masuk ke kamar nenek
Indri, membawa bubur dan memakannya dengan nikmat. Nenek Indri menoleh mencium
bau yang ia inginkan dari mangkuk Kevin. “Kevin, coba lihat buburmu.”
Kevin menyerahkan mangkuknya dan nenek Indri
memakan satu suap penuh. “Ini yang nenek mau. Kevin dapat dimana?”
“Di panci yang dibuat Delina, nek.”saut Kevin.
Satu tembakan telak untuk Giselle dan Agnes, Kevin
meminta mangkuknya lagi dan nenek Indri antara mau atau tidak mau memberikannya.
“Ibu, kalau ibu mau, aku bisa ambilin lagi punya
Delina. Kasi mangkuknya ke Kevin, bu.”tawar Amira.
Nenek Indri terpaksa memberikan mangkuk itu pada
Kevin lagi dan Amira keluar dari kamar untuk mengambilkan bubur lagi untuk
nenek Indri. Delina yang sedang menunggu dengan cemas di dapur, tampak terkejut
melihat Amira datang dan meminta bubur yang dibuat Delina.
“Apa yang terjadi, bu?”tanya Delina penasaran.
“Delina, cepat sajikan satu mangkuk lagi seperti
yang dibawa Kevin. Nanti kita bicara lagi.”
Delina melakukan yang diminta Amira dan Amira
Tak berapa lama, semua orang yang tadi masuk ke
dalam kamar nenek Indri akhirnya keluar, kecuali Amira dan Kevin. Delina masih
menunggu di dapur sambil membuat cemilan untuk Alvin dan Kevin. Ia membuat
dimsum udang dan ayam lagi.
Wangi dimsum menguar menggelitik hidung Giselle dan
Agnes yang keluar kamar belakangan. Mereka langsung ngintip ke dapur dan
melihat Delina baru menurunkan dua baki berisi dimsum panas yang mengepulkan
asap putih.
“Ina, mana cemilanku!”kata Alvin yang baru datang
mengejutkan Giselle dan Agnes yang masih asyik mengintip Delina dari pinggir
dapur.
“Sebentar, ayah. Ini sudah matang dimsumnya.”saut
Delina sambil menyajikan dimsum di atas piring.
Delina menghidangkan dimsum dan air putih di depan
Alvin yang sudah duduk manis di meja makan.
“Mana kopiku, Ina?”
“Ayah kan masih panas dalam. Banyak minum air putih
dulu ya. Nanti kalau sudah sembuh, saya buatkan kopi lagi. Gusi ayah masih
sakit?”tanya Delina menatap wajah mertuanya.
Alvin mengangguk, “Iya, masih sakit.”
__ADS_1
Delina memotong dimsum lebih kecil agar Alvin bisa
makan dengan nyaman. “Silakan dimakan, ayah. Sebentar saya buatkan jus buah
naga ya.”
“Tapi aku mau kopi. Kepalaku sakit, Ina.”melas
Alvin.
“Kalau jus buah naganya habis ayah minum sekarang, nanti
malam saya buatkan kopi. Gimana, yah?”tawar Delina.
“Beneran ya. Buatkan roti bakar juga.”sambar Alvin.
“Iya, ayah.”saut Delina sambil tersenyum manis.
Interaksi antara Delina dan Alvin terlihat semuanya
oleh Amira, Kevin, nenek Indri, Giselle dan Agnes.
“Ibu lihat sendiri, bagaimana Delina bisa membujuk
mas Alvin. Amira aja belum tentu bisa kalo gak ke kamar dulu.”kata Amira.
“Tetap saja ibu belum setuju dia masuk ke keluarga
kita. Latar belakangnya itu loh. Apa kata orang kalau mereka tau dia cuma gadis
miskin yang bahkan bukan sarjana.”
“Bu, latar belakang pendidikan yang tinggi juga
belum tentu bisa memberikan ketulusan seperti yang Delina berikan, bu. Tolong
kasi dia kesempatan, bu. Kevin sangat mencintai wanita itu.”bujuk Amira.
Kevin sudah berjalan mendekati Delina, minta
cemilan juga kopi. Delina membuatkan kopi dengan cepat menghidangkannya di
depan Kevin. Alvin manyun mencium wangi kopi yang diminum Kevin. Ia mengambil
cangkir kopi Kevin saat Delina masuk ke dapur mengambil dimsum lagi.
“Delina, ayah bandel nich.”adu Kevin mengadukan
Alvin yang mencicipi sedikit kopi Kevin.
“Pelit banget sich.”gerutu Alvin yang cepat-cepat
menaruh cangkir kopi kembali ke depan Kevin.
Delina tersenyum mendengar Kevin mengadukan ayahnya.
Ia sudah melihat kelakuan Alvin tadi.
“Ayah kalo bandel, gak jadi dibuatin kopi ntar
malem loh.”kata Delina menahan tawanya.
“Iya, iya.”saut Alvin tambah manyun.
Kevin dan Delina kompak tertawa. Kebersamaan mereka
mengundang perhatian saudara sepupu Kevin yang lain. Mereka bergabung di meja
makan, merebut dimsum yang dihidangkan Delina untuk Kevin. Saudara sepupu Kevin
memuji masakan Delina dan menghabiskan dimsum yang ia buat.
Agnes dan Giselle cuma bisa menelan liurnya melihat
kukusan sudah kosong. Giselle pergi dengan kesal, ia masuk ke kamarnya. Delina
yang melihat Giselle sudah pergi, memberi tanda pada Agnes untuk mengikutinya
ke dapur. Delina sudah menyiapkan beberapa dimsum untuk Agnes karena ia tahu
kalau Agnes tidak bisa berkutik di depan mamanya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.