
“Ya sudah kalau gak mau cerita. Kita belanja aja
ya. Habis itu kita beli es krim.”kata Delina ramah.
“Es krim? Mau banget.”kata Agnes girang.
Mereka berdua segera sampai di supermarket yang
dituju Delina. Sopir ikut masuk bersama mereka untuk membantu mendorong troli
belanjaan. Delina memulainya dengan bagian sabun dan perlengkapan kebersihan
rumah, sementara Agnes terus melamun sepanjang kesibukan Delina memilih
belanjaan di rak pajangan.
Selesai memenuhi troli belanjaan, Delina mengajak
Agnes mengantri di kasir. Ia masih belum berani memakai kartunya sendirian.
“Agnes, apa benar ini bisa dipakai bayar?”bisik Delina mengeluarkan black
card-nya.
“Iya, bisa. Inget passwordnya kan?”tanya Agnes.
Delina mengangguk. Kasir sudah selesai menghitung
belanjaan mereka, Delina deg-degan melihat nominal yang disebutkan kasir. Ia
menyerahkan kartunya pada kasir itu dan kasir menyodorkan mesin EDC padanya.
Delina menekan password yang disebutkan Alvin saat memberikan kartu itu
padanya. Beberapa lembar kertas keluar dari mesin itu. Kasir mengembalikan
kartu dan selembar kertas struk pada Delina.
Agnes meminta sopir membawa belanjaan mereka ke
mobil. Ia ingin makan es krim super dulu sebelum pulang.
“Delina, ayo cepat. Aku mau makan es krim.”ajak
Agnes menarik tangan Delina.
Mereka sampai di kedai es krim di mall itu. Agnes
memesan yang paling besar, ia berpaling pada Delina menanyakan pesanannya dan
Delina mengatakan agar mereka sharing saja dulu. Ketika pesanan mereka datang,
Delina bertanya dengan hati-hati pada Agnes.
“Agnes, kamu lagi ada masalah ya?”tanya Delina.
Hening. Agnes tampak enggan menjawab pertanyaan
yang dilontarkan padanya. Delina tersenyum, Agnes menyendok penuh es krim ke
mulutnya. Delina mencicipi sedikit demi sedikit es krim aneka rasa di depannya.
Ia tidak memaksa Agnes bercerita walau sebenarnya Delina kepo juga.
“Apa ada hubungannya dengan Ali?”tanya Delina.
“Nggak!”saut Agnes cepat.
“Masa sih? Tadi pagi aku liat loh, kamu keluar dari
kamar Ali. Kalian ngapain semalam?”tanya Delina lebih berani memojokkan Agnes.
Wajah Agnes memerah, ia sangat malu ketahuan Delina
keluar dari kamar Ali. “Gak terjadi apa-apa, kok.” Mata Agnes berkaca-kaca
lagi. Ia memakan dua sendok penuh es krim sekaligus. “Hiks...hiks... Ali jahat.”
Agnes sudah menangis di depan Delina.
“Kok jahat? Memang kamu diapain? Kalian sudah
itu?”tanya Delina lagi.
“Berani dia, akan kutendang burungnya.”kata Agnes
sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
Agnes menceritakan apa yang terjadi semalam saat ia
masuk ke kamar Ali. Ia hanya mengucapkan terima kasih dan ternyata Ali masih
belum tidur. Akhirnya Ali berhasil membujuknya menghabiskan malam dengan tidur
berpelukan.
“Delina, aku merasa seperti habis manis sepah
dibuang. Dia gak ngomong apa-apa lagi, bahkan terang-terangan ngusir aku dari
kamarnya dengan alasan sarapan. Apa aku terlihat murahan?”tanya Agnes frustasi.
“Mungkin Ali sibuk. Kamu tahu kan dia itu dokter.
Kenapa kita tidak ke rumah sakitnya saja?”tanya Delina.
“Memangnya boleh?”tanya Agnes balik.
Delina dan Agnes menoleh pada sopir yang sudah
kembali ke dekat mereka. Keduanya kompak bertanya apa sopir itu tahu rumah
sakit tempat Ali bekerja. Sopir itu jelas tahu, mereka yang bertugas jadi sopir
harus tahu dimana tempat kerja dan tempat kuliah semua penghuni rumah besar
Alvin. Mereka minta diantarkan ke rumah sakit tempat Ali bertugas.
Agnes terlihat bersemangat, ia sudah bersiap-siap
memoles wajahnya dengan bedak lagi dan juga lipstik. Delina tersenyum melihat
semangat Agnes. Mereka sampai di rumah sakit dengan cepat. Sopir memberi tahu
kalau Ali bertugas di lantai 4. Mereka bisa naik lift ke lantai 4 terus belok
kanan. Ruangannya ada di pintu ketiga dari lift.
Agnes menarik tangan Delina masuk ke rumah sakit
itu. Ia sudah tidak sabaran ingin bertemu Ali. Mereka celingukan sebentar di
lobby rumah sakit mencari lift yang ternyata ada di sebelah kiri lobby. Setelah
“Apa penampilanku sudah rapi?”tanya Agnes.
“Kau selalu tampak luar biasa, Agnes.”saut Delina
tulus.
Pintu lift terbuka di lantai 4. Mereka berjalan ke
arah kanan lift menghitung pintu dan berhenti di depan pintu nomor 3. Pintu
ruangan itu sedikit terbuka. Agnes dan Delina sama-sama terkejut melihat apa
yang sedang terjadi di dalam ruang kerja Ali itu. Tampak Ali sedang duduk di
sofa dengan seorang wanita duduk di pangkuannya.
Tangan Agnes mengepal menahan amarahnya yang hampir
meledak.
“Ali sayang. Ayo dong. Cepat...”kata wanita genit
itu terdengar sampai ke telinga Agnes.
“Sabar dong. Tunggu bentar lagi.”balas Ali gak
kalah genitnya.
Brak! Pintu ruangan tempat Ali berada terbuka
lebar. Keduanya menoleh terkejut kearah pintu.
“Agnes!!!”seru Ali kaget. “Ngapain kamu disini?
Kakak ipar?”
“Kalau kamu sudah punya pacar, jangan bicara omong
kosong cinta sama aku! Aku benci kamu, pria ********!!”teriak Agnes
menggelegar.
__ADS_1
Agnes berbalik sambil menarik tangan Delina kembali
ke dalam lift yang masih terbuka. Ali terlambat mengejar mereka. Di dalam lift,
Agnes menendang-nendang dinding lift dengan keras. Ia menahan tangisannya
sambil menunduk. Delina yang prihatin melihat Agnes, hanya bisa mengusap-usap
pundak wanita cantik itu.
Sampai di lobby kembali, Agnes menarik tangan
Delina lagi, mereka berjalan cepat ke parkiran mobil dan masuk ke mobil yang masih
stand by disana.
“Jalan, pak. Kita pulang.”kata Agnes tercekat.
Terlihat sekali wajah kecewa Agnes terpancar dari
wajah cantiknya. Delina melihat ponselnya, Ali menelponnya.
“Halo.”jawab Delina.
“Kakak ipar, yang tadi itu gak seperti yang kakak
liat. Aku bisa jelasin, kak.”
“Ali, nanti saja di rumah ya. Kamu kan masih kerja
juga.”saut Delina sabar.
“Tapi, kak. Aku harus jelaskan sekarang. Tolong
kasi telponnya ke Agnes.”pinta Ali.
Delina menatap Agnes yang sudah menggeleng dengan
sangat sedih. “Ali, baiknya kalian bicara nanti ya. Kalau sudah tenang. Aku
tutup dulu telponnya.”ujar Delina.
Ali menatap ponselnya yang sudah terputus
sambungannya dengan Delina dengan horor. Ia menjambak rambutnya sendiri, ketika
ia hampir keluar dari ruang kerjanya untuk menyusul Agnes, suster memanggilnya
untuk jadwal operasi.
“Haduh, kenapa jadi gini sich?!”teriak Ali membuat
suster kaget.
Riana memberi tanda pada suster untuk keluar dari
ruang kerja Ali. “Habis operasi aja ngomong sama dia. Apa perlu aku juga
datang?”tanya Riana sambil memberikan jas dokter pada Ali.
“Dia akan semakin marah. Atau mungkin juga tidak.
Agnes bilang cinta sama aku setelah susah payah aku mengejarnya. Sekarang dia
melihat kita... aaarrggghhh!!!”teriak Ali kesal.
“Makanya cepat selesaikan tugasmu. Jelaskan sama
dia secepatnya.”usir Riana.
Ali cepat-cepat ke ruang operasi untuk mengerjakan
tugasnya. Riana keluar dari ruang kerja Ali dan berjalan ke pos jaganya.
Sementara itu di rumah Alvin, Agnes duduk di meja
bar. Ia terlihat sedih sekali sambil melamun memikirkan sesuatu. Delina dan Sri
yang sedang membongkar belanjaan, hanya bisa menatapnya saja.
“Ada apa, Delina? Nona Agnes kenapa?”tanya Sri
sambil bisik-bisik.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.