Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 81


__ADS_3

“Ya sudah kalau gak mau cerita. Kita belanja aja


ya. Habis itu kita beli es krim.”kata Delina ramah.


“Es krim? Mau banget.”kata Agnes girang.


Mereka berdua segera sampai di supermarket yang


dituju Delina. Sopir ikut masuk bersama mereka untuk membantu mendorong troli


belanjaan. Delina memulainya dengan bagian sabun dan perlengkapan kebersihan


rumah, sementara Agnes terus melamun sepanjang kesibukan Delina memilih


belanjaan di rak pajangan.


Selesai memenuhi troli belanjaan, Delina mengajak


Agnes mengantri di kasir. Ia masih belum berani memakai kartunya sendirian.


“Agnes, apa benar ini bisa dipakai bayar?”bisik Delina mengeluarkan black


card-nya.


“Iya, bisa. Inget passwordnya kan?”tanya Agnes.


Delina mengangguk. Kasir sudah selesai menghitung


belanjaan mereka, Delina deg-degan melihat nominal yang disebutkan kasir. Ia


menyerahkan kartunya pada kasir itu dan kasir menyodorkan mesin EDC padanya.


Delina menekan password yang disebutkan Alvin saat memberikan kartu itu


padanya. Beberapa lembar kertas keluar dari mesin itu. Kasir mengembalikan


kartu dan selembar kertas struk pada Delina.


Agnes meminta sopir membawa belanjaan mereka ke


mobil. Ia ingin makan es krim super dulu sebelum pulang.


“Delina, ayo cepat. Aku mau makan es krim.”ajak


Agnes menarik tangan Delina.


Mereka sampai di kedai es krim di mall itu. Agnes


memesan yang paling besar, ia berpaling pada Delina menanyakan pesanannya dan


Delina mengatakan agar mereka sharing saja dulu. Ketika pesanan mereka datang,


Delina bertanya dengan hati-hati pada Agnes.


“Agnes, kamu lagi ada masalah ya?”tanya Delina.


Hening. Agnes tampak enggan menjawab pertanyaan


yang dilontarkan padanya. Delina tersenyum, Agnes menyendok penuh es krim ke


mulutnya. Delina mencicipi sedikit demi sedikit es krim aneka rasa di depannya.


Ia tidak memaksa Agnes bercerita walau sebenarnya Delina kepo juga.


“Apa ada hubungannya dengan Ali?”tanya Delina.


“Nggak!”saut Agnes cepat.


“Masa sih? Tadi pagi aku liat loh, kamu keluar dari


kamar Ali. Kalian ngapain semalam?”tanya Delina lebih berani memojokkan Agnes.


Wajah Agnes memerah, ia sangat malu ketahuan Delina


keluar dari kamar Ali. “Gak terjadi apa-apa, kok.” Mata Agnes berkaca-kaca


lagi. Ia memakan dua sendok penuh es krim sekaligus. “Hiks...hiks... Ali jahat.”


Agnes sudah menangis di depan Delina.


“Kok jahat? Memang kamu diapain? Kalian sudah


itu?”tanya Delina lagi.


“Berani dia, akan kutendang burungnya.”kata Agnes


sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Agnes menceritakan apa yang terjadi semalam saat ia


masuk ke kamar Ali. Ia hanya mengucapkan terima kasih dan ternyata Ali masih


belum tidur. Akhirnya Ali berhasil membujuknya menghabiskan malam dengan tidur


berpelukan.


“Delina, aku merasa seperti habis manis sepah


dibuang. Dia gak ngomong apa-apa lagi, bahkan terang-terangan ngusir aku dari


kamarnya dengan alasan sarapan. Apa aku terlihat murahan?”tanya Agnes frustasi.


“Mungkin Ali sibuk. Kamu tahu kan dia itu dokter.


Kenapa kita tidak ke rumah sakitnya saja?”tanya Delina.


“Memangnya boleh?”tanya Agnes balik.


Delina dan Agnes menoleh pada sopir yang sudah


kembali ke dekat mereka. Keduanya kompak bertanya apa sopir itu tahu rumah


sakit tempat Ali bekerja. Sopir itu jelas tahu, mereka yang bertugas jadi sopir


harus tahu dimana tempat kerja dan tempat kuliah semua penghuni rumah besar


Alvin. Mereka minta diantarkan ke rumah sakit tempat Ali bertugas.


Agnes terlihat bersemangat, ia sudah bersiap-siap


memoles wajahnya dengan bedak lagi dan juga lipstik. Delina tersenyum melihat


semangat Agnes. Mereka sampai di rumah sakit dengan cepat. Sopir memberi tahu


kalau Ali bertugas di lantai 4. Mereka bisa naik lift ke lantai 4 terus belok


kanan. Ruangannya ada di pintu ketiga dari lift.


Agnes menarik tangan Delina masuk ke rumah sakit


itu. Ia sudah tidak sabaran ingin bertemu Ali. Mereka celingukan sebentar di


lobby rumah sakit mencari lift yang ternyata ada di sebelah kiri lobby. Setelah


“Apa penampilanku sudah rapi?”tanya Agnes.


“Kau selalu tampak luar biasa, Agnes.”saut Delina


tulus.


Pintu lift terbuka di lantai 4. Mereka berjalan ke


arah kanan lift menghitung pintu dan berhenti di depan pintu nomor 3. Pintu


ruangan itu sedikit terbuka. Agnes dan Delina sama-sama terkejut melihat apa


yang sedang terjadi di dalam ruang kerja Ali itu. Tampak Ali sedang duduk di


sofa dengan seorang wanita duduk di pangkuannya.


Tangan Agnes mengepal menahan amarahnya yang hampir


meledak.


“Ali sayang. Ayo dong. Cepat...”kata wanita genit


itu terdengar sampai ke telinga Agnes.


“Sabar dong. Tunggu bentar lagi.”balas Ali gak


kalah genitnya.


Brak! Pintu ruangan tempat Ali berada terbuka


lebar. Keduanya menoleh terkejut kearah pintu.


“Agnes!!!”seru Ali kaget. “Ngapain kamu disini?


Kakak ipar?”


“Kalau kamu sudah punya pacar, jangan bicara omong


kosong cinta sama aku! Aku benci kamu, pria ********!!”teriak Agnes


menggelegar.

__ADS_1


Agnes berbalik sambil menarik tangan Delina kembali


ke dalam lift yang masih terbuka. Ali terlambat mengejar mereka. Di dalam lift,


Agnes menendang-nendang dinding lift dengan keras. Ia menahan tangisannya


sambil menunduk. Delina yang prihatin melihat Agnes, hanya bisa mengusap-usap


pundak wanita cantik itu.


Sampai di lobby kembali, Agnes menarik tangan


Delina lagi, mereka berjalan cepat ke parkiran mobil dan masuk ke mobil yang masih


stand by disana.


“Jalan, pak. Kita pulang.”kata Agnes tercekat.


Terlihat sekali wajah kecewa Agnes terpancar dari


wajah cantiknya. Delina melihat ponselnya, Ali menelponnya.


“Halo.”jawab Delina.


“Kakak ipar, yang tadi itu gak seperti yang kakak


liat. Aku bisa jelasin, kak.”


“Ali, nanti saja di rumah ya. Kamu kan masih kerja


juga.”saut Delina sabar.


“Tapi, kak. Aku harus jelaskan sekarang. Tolong


kasi telponnya ke Agnes.”pinta Ali.


Delina menatap Agnes yang sudah menggeleng dengan


sangat sedih. “Ali, baiknya kalian bicara nanti ya. Kalau sudah tenang. Aku


tutup dulu telponnya.”ujar Delina.


Ali menatap ponselnya yang sudah terputus


sambungannya dengan Delina dengan horor. Ia menjambak rambutnya sendiri, ketika


ia hampir keluar dari ruang kerjanya untuk menyusul Agnes, suster memanggilnya


untuk jadwal operasi.


“Haduh, kenapa jadi gini sich?!”teriak Ali membuat


suster kaget.


Riana memberi tanda pada suster untuk keluar dari


ruang kerja Ali. “Habis operasi aja ngomong sama dia. Apa perlu aku juga


datang?”tanya Riana sambil memberikan jas dokter pada Ali.


“Dia akan semakin marah. Atau mungkin juga tidak.


Agnes bilang cinta sama aku setelah susah payah aku mengejarnya. Sekarang dia


melihat kita... aaarrggghhh!!!”teriak Ali kesal.


“Makanya cepat selesaikan tugasmu. Jelaskan sama


dia secepatnya.”usir Riana.


Ali cepat-cepat ke ruang operasi untuk mengerjakan


tugasnya. Riana keluar dari ruang kerja Ali dan berjalan ke pos jaganya.


Sementara itu di rumah Alvin, Agnes duduk di meja


bar. Ia terlihat sedih sekali sambil melamun memikirkan sesuatu. Delina dan Sri


yang sedang membongkar belanjaan, hanya bisa menatapnya saja.


“Ada apa, Delina? Nona Agnes kenapa?”tanya Sri


sambil bisik-bisik.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2