
PH - Bukan pelayan
“Aduuch...” rintih Delina yang menabrak bagian dada
Kevin yang keras, lebih keras dari batu.
Delina mencoba bangkit dari atas tubuh Kevin tapi
kerudungnya tertahan kepala Kevin. Hampir saja bibir Delina mengenai pipi Kevin
kalau ia tidak cepat menahan tubuhnya. Ny. Amira hanya bengong melihat Delina
dan Kevin saling melepaskan diri tanpa berniat membantu mereka.
Delina melepas kerudungnya dan berdiri dengan
cepat. Ia mengusap pundaknya yang terbentur dada Kevin. Kevin juga bangkit
berdiri, ia menggenggam kerudung Delina di tangannya. Ny. Amira melihat dengan
jelas bagaimana Kevin mencium kerudung itu meskipun sekilas saat Delina sedang
merenggangkan pundaknya yang sakit.
“Nih. Cepat buatkan roti lagi!” perintah Kevin
sambil melemparkan kerudung Delina yang ditangkap Delina dengan baik.
“Kevin...!” teriak Ny. Amira.
“Ny. Amira, tidak apa-apa. Saya ke dapur dulu.
Hanya sebentar. Apa Ny. juga mau kopi?” tawar Delina sambil tersenyum manis.
“Tapi, Delina...” Ny. Amira terpana melihat
senyuman sabar Delina.
Delina berjalan kembali ke dapur dan mendapati Sri
baru selesai memanggang roti lagi. Ia sudah cukup mendengar keributan di meja
makan tadi.
“Ini, sudah kusiapkan.” Kata Sri sambil menyerahkan
roti bakar pada Delina
“Terima kasih, mbak Sri.” Balas Delina sambil
tersenyum.
Delina mengoleskan selai coklat lagi ke permukaan
roti dan meletakkannya diatas piring. Kevin sudah kembali duduk di meja makan,
meminum kopinya yang hampir dingin. Matanya terpejam merasakan aroma kopi
membangkitkan semangatnya.
Kevin berpikir saat tadi ia meminum kopi yang
diantar Delina ke kamarnya, kalau kopi seenak itu hanya kebetulan saja dibuat
oleh Delina. Tapi saat ia meminum untuk kedua kalinya, rasanya sama enaknya.
Enak sekali sampai ia ingin terus meminum kopi buatan Delina.
Delina meletakkan piring berisi roti bakar di depan
Kevin. Ia tidak menunggu atau mempersilakan Kevin dan memilih berjalan
mendekati Ny. Amira.
“Ny. Amira, apa kainnya sudah ada?” tanya Delina
menyadarkan Ny. Amira yang masih bengong melihat putranya.
“Ya. Di ruang tamu. Ayo.” Ajak Ny. Amira yang sejak
tadi hanya diam menyaksikan Kevin minum kopi dan makan roti bakar dengan lahap.
Ny. Amira dan Delina sudah duduk di ruang tamu.
Delina membuka bungkusan kain yang harus ia jahit dan mengukurnya dengan
meteran.
“Ini cukup untuk membuat 2 kebaya dengan ukuran
tubuh Ny.” jelas Delina.
“Modelnya seperti apa?” tanya Ny. Amira sambil
menatap Delina.
__ADS_1
Delina mengeluarkan buku sketsanya. Ada beberapa
model kebaya yang ia gambar lagi disana, untuk memudahkan pelanggannya memilih
model yang mereka inginkan. Ny. Amira membuka sampai halaman kosong, tapi tidak
menemukan apa yang dia inginkan.
“Ada model lain gak? Ingat kan? Simple, modis, tapi
elegan.” Jelas Ny. Amira tentang kebaya yang diinginkannya.
Delina mengeluarkan pensilnya dari dalam tas. Ia
mulai menggambar sebuah kebaya model baru sesuai dengan apa yang diinginkan Ny.
Amira. Sesekali ia menatap wajah Ny. Amira sambil terus menggambar.
Kevin mendatangi Delina lagi ketika Delina
menyerahkan gambarnya pada Ny. Amira.
“Hei, bersihkan kamarku. Aku mau tidur. Cepat.”
Ketus Kevin.
“Kevin! Delina bukan pelayan! Dia penjahit ibu!”
teriak Ny. Amira pada putra sulungnya itu.
Delina hanya manggut-manggut sambil tersenyum sopan
pada Kevin.
“Apa?! Jadi?! Kenapa ibu gak bilang...” kata Kevin
menatap ibunya kesal.
“Apa kamu mau dengar kata-kata ibu tadi? Pergi
sana!” usir Ny. Amira sambil melotot pada Kevin.
Kevin berbalik, berjalan cepat naik ke lantai 2. Ia
bahkan tidak minta maaf karena sudah salah paham pada Delina.
“Maafkan dia, ya Delina. Anak itu terkadang jadi
“Tidak apa-apa, Ny. Amira. Bagaimana dengan sketsa
saya?” tanya Delina.
“Sepertinya akan luar biasa. Berapa lama jadinya?”
tanya Ny. Amira sambil mengamati sketsa itu dengan detail.
“Saya perlu waktu 10 hari, Ny. Apa waktunya cukup?”
tanya Delina lagi.
“Ya, cukup. Okey, aku tunggu hasilnya. Kalau ada
sisa kainnya, buatkan kerudung seperti punyamu itu.” Tunjuk Ny. Amira.
“Kerudung seperti ini, Ny.? Ny. yakin?” tanya
Delina lagi.
“Ya, ada kalanya aku perlu memakainya dan
kerudungmu bagus sekali.” Puji Ny. Amira.
“Baik, Ny. Amira. Kalau gitu saya permisi dulu.”
Delina bangkit dari duduknya dan membawa tas dan juga paper bag berisi kain
itu.
Ny. Amira tidak mengantar Delina keluar dari
rumahnya. Saat Delina sampai di pintu masuk, seorang wanita cantik berpakaian
seksi, baru turun dari sebuah mobil mewah. Delina tidak memperhatikan wanita
itu, ia fokus berjalan ke pintu gerbang dan segera keluar lewat sana setelah
menyapa penjaga.
Agnes, sepupu Kevin, itu menaikkan alisnya saat
melihat penampilan kampungan Delina. Wanita itu sangat cantik dengan rambut
panjang dicat kecoklatan tren warna terbaru, kulitnya yang putih, dengan tubuh
tinggi semampai yang langsing, bisa membuat pria manapun bertekuk lutut pada
__ADS_1
pesona seorang Agnes.
“Kampungan sekali bajunya.” Sindir Agnes sambil
berjalan masuk ke dalam rumah besar itu.
Ia berjalan cepat naik ke lantai 2 dan berhenti di
depan kamar Kevin.
*****
Kevin galau di dalam kamarnya yang besar. Ia kesal
karena salah mengenali penjahit ibunya sebagai pelayan pribadi. Tapi itu salah
Delina, kenapa dia tidak menjelaskannya sejak awal. Sikap tidak tegas Delina
membuat Kevin malu dan itu membuatnya kesal. Kevin paling tidak suka
dipermalukan, ia harus membalas perbuatan Delina padanya.
Tapi Kevin mau tak mau mengakui kalau kopi dan
cemilan buatan Delina sangat enak. Aroma tubuhnya juga sangat wangi. Kevin
masuk ke kamar mandinya, setelah ia selesai mandi tadi, wangi tubuh Delina
belum juga hilang. Ia mencari-cari di sekitar wastafel dan menemukan handuk
yang tergantung di samping wastafel mengeluarkan wangi seperti Delina.
“Wangi sekali. Apa dia memegang handuk ini tadi?”
tanya Kevin pada dirinya sendiri.
Kevin mencium handuk itu, ia melingkarkan handuk
itu ke lehernya dan keluar dari kamar mandi. Saat itu pintu kamarnya diketuk
seseorang,
“Kevin! Boleh aku masuk?” tanya Agnes sambil
menempelkan telinganya di pintu kamar Kevin.
“Jangan masuk! Aku telanjang. Kamu mau apa?!”
teriak Kevin sambil menghirup dalam-dalam handuk yang nangkring di lehernya.
“Pakai baju dulu. Aku harus mengatakan sesuatu yang
penting.” kejar Agnes tidak sabaran.
“Nanti aja! Aku sibuk!” kata Kevin lagi dengan
malas.
“Kevin! Buka pintunya atau aku masuk sekarang!”
teriak Agnes.
“Kau berani masuk, lihat saja nanti!!” balas Kevin.
Agnes menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia
melangkah menjauh dari kamar Kevin dan masuk ke kamarnya sendiri. Padahal Agnes
ingin mengatakan pada Kevin kalau ia lolos audisi untuk iklan produk kecantikan.
Kevin kembali mencium handuk di lehernya setelah
suara Agnes tidak lagi terdengar. Ia tak habis pikir kenapa wangi Delina
membuat tubuhnya merasa rileks. Pikirannya jadi lebih jernih dan juga otot
bawahnya bekerja dengan baik.
“Aku pasti sudah gila. Gimana bisa gadis kampungan
itu bisa melakukan semua ini? Huh!” sengit Kevin sambil melempar handuk itu ke
keranjang cucian.
Kevin mengambil ponselnya, ia menelpon Keanu.
Asistennya itu baru selesai mandi saat mendengar ponselnya berdering,
“Ya, Vin. Kenapa?” tanya Keanu sambil mengeringkan rambutnya.
“Kamu dimana? Bisa ke klub malam ini?” tanya Kevin.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1