
PH - Kedatangan sahabat
“Kenapa pake kotak makan? Biasanya juga pake
piring.”kata Kevin mulai curiga.
“Nona gak mau kamarnya bau makanan, tuan muda.”jawab
Delina asal.
Kevin menggigit satu dimsum udang yang masih panas
dan megap-megap sendiri kepanasan. Delina memberikan segelas air untuk Kevin.
“Pelan-pelan, tuan muda. Dimsumnya baru saja
matang.”kata Delina.
“Hua.. hah... hanhas ayah hlum hakan (pantas ayah
blum makan)..”ucap Kevin kepanasan.
Alvin menepuk pundak Kevin dengan keras.
Menertawakan putranya yang tidak sabaran. Kevin sampai terbatuk-batuk. Delina
meminta Kevin menjulurkan lidahnya dan mengoleskan madu dingin dengan cepat.
Alvin tersenyum tipis melihat perhatian Delina pada Kevin yang senyum-senyum
sendiri. Ayah dan anak itu menikmati makan cemilan dan kopi di sore hari
sebelum kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.
“Delina, jangan panggil aku tuan muda, dong.”pinta
Kevin ketika mereka sedang ada di kamar.
Kevin sedang berbaring tengkurap di atas
ranjangnya, cuma pake boxer. Ia mengeluh sakit pinggang dan minta Delina
mengurut pinggangnya dengan minyak.
“Gak mau, tuan muda.”kata Delina sambil menekan
pinggang Kevin lebih keras.
“Aduch! Ya disitu, aaooww! Aku udah jadi suamimu
masa dipanggil tuan muda sama istri sendiri.”
“Trus saya harus panggil apa?”tanya Delina
“Sayang?”ucap Kevin.
Delina menekan dengan keras tempat yang sakit sampai
Kevin menjerit kesakitan. Agnes yang baru keluar dari kamarnya, auto nempel ke
pintu kamar Kevin.
“Pelan-pelan, Delina. Aduch! Ya, gitu... lebih
enak. Kebawah lagi dikit. Iya, terus disitu.”
Wajah Agnes memerah mendengar suara Kevin yang
entah sedang melakukan apa di dalam sana. Ia segera kabur dari sana karena malu
sendiri.
“Panggil suamiku ya.”bujuk Kevin lagi.
“Gak ada panggilan yang lain. Mas gitu atau kakak?”usul
Delina yang membuat Kevin menolaknya.
“Mas,emangnya aku tukang bakso. Itu lagi kakak, aku
ini suamimu. Hubby, panggil hubby.”
“Hubby? Bahasa darimana lagi itu?”tanya Delina
menekan pinggang Kevin lagi.
Kali ini tidak ada reaksi yang berarti dari Kevin.
Merasa tugasnya sudah selesai, Delina menarik tangannya dan bangkit dari sisi
Kevin. Kevin menarik tangan Delina, ia ingin Delina memijat kepalanya sekarang.
“Panggil hubby, Delina. Pijat kepalaku.”
Delina duduk lagi, ia mulai memijat Kevin sampai
pria itu tertidur.
“Sudah tidur. Aku mandi dulu dech.”kata Delina.
Delina masuk ke kamar mandi Kevin, ia mandi dengan
__ADS_1
cepat dan kebingungan mencari handuk. Ia membuka lemari penyimpanan handuk,
tapi tidak menemukan satupun di dalam sana. Delina melirik tumpukan pakaiannya
yang sudah basah. Ia mandi sambil mencuci pakaiannya itu.
“Haduh, gimana nich? Kenapa handuknya gak ada?”ucap
Delina mulai panik.
Delina mengambil kerudungnya yang masih kering. Ia
melilitkan kerudung itu ke tubuhnya. Ia harus cepat masuk ke walk in closet
sebelum Kevin bangun. Delina membuka pintu kamar mandi dan langsung berjalan dengan
cepat masuk ke walk in closet.
Brak! Delina menutup pintu dengan cepat dan
menguncinya. Tapi saat Delina berbalik, ia melihat Kevin sedang berdiri di
depannya.
“Kyaa...!!”teriak Delina.
Delina berbalik dengan cepat, hampir membuka kunci
pintu itu saat Kevin mendekatinya dengan cepat. Kevin mengukung Delina dengan
kedua tangannya. Wanita itu sama sekali tidak berani bergerak. Ia memegang
menutup tubuhnya dengan sangat erat.
“Tuan muda, tolong keluar dulu. Saya mau pakai
baju.”pinta Delina.
“Apa kau sengaja keluar begini?”tanya Kevin di
dekat telinga Delina.
“Saya lupa membawa handuk, tuan muda. Tolong keluar
sebentar.”
Delina merasakan hembusan nafas Kevin yang mulai
tidak beraturan mengenai tengkuknya. Wanita itu berpikir cepat,
“Tuan muda harus cepat mandi, nanti kita terlambat
makan malam.”kata Delina.
Tubuhmu putih mulus ya.”
“Tuan muda tidak boleh menyentuh saya. Ingat
perjanjian kita. Kalau tuan muda macam-macam, saya telpon pengacara Juni
sekarang.”
“Dan bagaimana tepatnya kau akan menelpon? Mana
HP-mu?”tanya Kevin.
Kevin hanya ingin menggoda Delina saja. Ia masih
bisa menahan dirinya, untuk tidak menyerang Delina sekarang.
”Imut sekali sich, kamu. Aku harus sabar menunggu
kamu siap menerimaku. Sok galak, tapi digertak takut juga.”
“Tuan muda...”
“Cepat buka...”bisik Kevin di telinga Delina.
“Tuan muda, jangan.”mohon Delina dengan suara
bergetar.
“Buka pintunya, Delina. Aku mau mandi. Kamu mikir
apa?”kata Kevin sambil tersenyum.
Delina membuka pintu walk in closet dengan cepat
hingga tubuhnya terdorong ke belakang dan menubruk Kevin. Kevin mengambil
kesempatan itu untuk mengelus kedua lengan Delina.
“Hati-hati dong. Kamu gak mau jatuh kan?”tanya
Kevin sambil mencium sekilas rambut Delina sebelum melangkah keluar dari walk
in closet itu.
Brak! Pintu menutup kembali. Kevin tersenyum lebar
karena bisa menyentuh Delina dan membuat ulahnya itu seolah tidak disengaja.
__ADS_1
*****
Siang berikutnya, Delina masih berkutat dengan kebaya
Ny.Amira saat ia perutnya mengirimkan signal kelaparan. Delina merapikan peralatan
jahitnya dan keluar dari kamar. Saat itu ia melihat seorang pria sedang bicara
dengan mbak Sri.
“Mbak Sri, ada makanan gak? Aku lapar.”pinta pria
itu dengan wajah imut.
”Siapa dia? Ekspresinya lucu banget. Mirip anak
anjing kecebur got.”
“Maaf, tuan Ali. Saya belum masak, barusan beberes
kamar tuan Ali. Saya masak sebentar ya. Loh, Delina, kamu mau makan?”tanya Sri
tanpa embel-embel Ny. karena Delina mengancam akan mendiamkan Sri kalau berani
memanggilnya nyonya muda.
“Iya, mbak. Biar saya yang masak kalau mbak Sri
masih sibuk.”kata Delina sambil melirik Aliando.
“Mbak Sri, siapa nich? Kenalin dong.”pinta Aliando.
“Tuan Ali, ini Delina. Delina, ini tuan muda
Aliando.”
“Kamu pelayan baru atau tamu? Kenapa gak pake
seragam?”tanya Ali kepo.
“Tuan Ali, Delina ini istrinya tuan muda Kevin.”jelas
Sri.
Bruh. Aliando menyemburkan air putih yang baru
diminumnya.
“Apa??!! Kenapa aku gak dikasi tau? Mbak Sri gak
bercanda, kan? Tetep aja kenapa aku gak diundang??!!”teriak Ali heboh.
Aliando menatap intens pada Delina dari atas ke
bawah, bawah ke atas lagi. Delina lebih memilih mulai masak daripada meladeni
Ali. Sambil bersenandung, Delina mengupas bahan makanan dan menghidupkan
kompor. Ia hanya memasak tempe goreng, tumis kangkung dengan sedikit ayam, dan
sambal terasi.
Kruk! Perut Ali berbunyi setelah bau masakan Delina
merebak dari dapur ke sekitar rumah. Agnes yang baru pulang entah dari mana,
berbelok ke arah dapur. Ia melirik Ali sekilas sebelum mendekati Delina. Ali
yang bertemu lagi dengan Agnes setelah bertahun-tahun berlalu, terpana melihat
kecantikan Agnes.
“Dimana mamaku?”tanya Agnes sambil bisik-bisik
dengan Delina.
“Tadi keluar bawa koper besar, nona. Apa Ny.
Giselle pulang ke rumahnya?”tanya Delina.
“Baguslah. Kamu masak apa? Aku lapar. Mana nasinya?”tanya
Agnes.
“Hanya ini, nona. Nona duduk saja di meja makan.
Saya sajikan sekarang.”kata Delina.
“Gak usah. Kelamaan. Aku makan disini saja.”kata
Agnes sambil mencuci tangannya.
Delina mengambilkan nasi untuk Agnes dan juga lauk
yang ingin ia makan. Agnes duduk dengan cueknya di meja dapur dan mulai makan
disana. Ali yang sudah kelaparan juga melakukan hal yang sama.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.