Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Kedatangan sahabat


__ADS_3

PH - Kedatangan sahabat


 “Kenapa pake kotak makan? Biasanya juga pake


piring.”kata Kevin mulai curiga.


“Nona gak mau kamarnya bau makanan, tuan muda.”jawab


Delina asal.


Kevin menggigit satu dimsum udang yang masih panas


dan megap-megap sendiri kepanasan. Delina memberikan segelas air untuk Kevin.


“Pelan-pelan, tuan muda. Dimsumnya baru saja


matang.”kata Delina.


“Hua.. hah... hanhas ayah hlum hakan (pantas ayah


blum makan)..”ucap Kevin kepanasan.


Alvin menepuk pundak Kevin dengan keras.


Menertawakan putranya yang tidak sabaran. Kevin sampai terbatuk-batuk. Delina


meminta Kevin menjulurkan lidahnya dan mengoleskan madu dingin dengan cepat.


Alvin tersenyum tipis melihat perhatian Delina pada Kevin yang senyum-senyum


sendiri. Ayah dan anak itu menikmati makan cemilan dan kopi di sore hari


sebelum kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.


“Delina, jangan panggil aku tuan muda, dong.”pinta


Kevin ketika mereka sedang ada di kamar.


Kevin sedang berbaring tengkurap di atas


ranjangnya, cuma pake boxer. Ia mengeluh sakit pinggang dan minta Delina


mengurut pinggangnya dengan minyak.


“Gak mau, tuan muda.”kata Delina sambil menekan


pinggang Kevin lebih keras.


“Aduch! Ya disitu, aaooww! Aku udah jadi suamimu


masa dipanggil tuan muda sama istri sendiri.”


“Trus saya harus panggil apa?”tanya Delina


“Sayang?”ucap Kevin.


Delina menekan dengan keras tempat yang sakit sampai


Kevin menjerit kesakitan. Agnes yang baru keluar dari kamarnya, auto nempel ke


pintu kamar Kevin.


“Pelan-pelan, Delina. Aduch! Ya, gitu... lebih


enak. Kebawah lagi dikit. Iya, terus disitu.”


Wajah Agnes memerah mendengar suara Kevin yang


entah sedang melakukan apa di dalam sana. Ia segera kabur dari sana karena malu


sendiri.


“Panggil suamiku ya.”bujuk Kevin lagi.


“Gak ada panggilan yang lain. Mas gitu atau kakak?”usul


Delina yang membuat Kevin menolaknya.


“Mas,emangnya aku tukang bakso. Itu lagi kakak, aku


ini suamimu. Hubby, panggil hubby.”


“Hubby? Bahasa darimana lagi itu?”tanya Delina


menekan pinggang Kevin lagi.


Kali ini tidak ada reaksi yang berarti dari Kevin.


Merasa tugasnya sudah selesai, Delina menarik tangannya dan bangkit dari sisi


Kevin. Kevin menarik tangan Delina, ia ingin Delina memijat kepalanya sekarang.


“Panggil hubby, Delina. Pijat kepalaku.”


Delina duduk lagi, ia mulai memijat Kevin sampai


pria itu tertidur.


“Sudah tidur. Aku mandi dulu dech.”kata Delina.


Delina masuk ke kamar mandi Kevin, ia mandi dengan

__ADS_1


cepat dan kebingungan mencari handuk. Ia membuka lemari penyimpanan handuk,


tapi tidak menemukan satupun di dalam sana. Delina melirik tumpukan pakaiannya


yang sudah basah. Ia mandi sambil mencuci pakaiannya itu.


“Haduh, gimana nich? Kenapa handuknya gak ada?”ucap


Delina mulai panik.


Delina mengambil kerudungnya yang masih kering. Ia


melilitkan kerudung itu ke tubuhnya. Ia harus cepat masuk ke walk in closet


sebelum Kevin bangun. Delina membuka pintu kamar mandi dan langsung berjalan dengan


cepat masuk ke walk in closet.


Brak! Delina menutup pintu dengan cepat dan


menguncinya. Tapi saat Delina berbalik, ia melihat Kevin sedang berdiri di


depannya.


“Kyaa...!!”teriak Delina.


Delina berbalik dengan cepat, hampir membuka kunci


pintu itu saat Kevin mendekatinya dengan cepat. Kevin mengukung Delina dengan


kedua tangannya. Wanita itu sama sekali tidak berani bergerak. Ia memegang


menutup tubuhnya dengan sangat erat.


“Tuan muda, tolong keluar dulu. Saya mau pakai


baju.”pinta Delina.


“Apa kau sengaja keluar begini?”tanya Kevin di


dekat telinga Delina.


“Saya lupa membawa handuk, tuan muda. Tolong keluar


sebentar.”


Delina merasakan hembusan nafas Kevin yang mulai


tidak beraturan mengenai tengkuknya. Wanita itu berpikir cepat,


“Tuan muda harus cepat mandi, nanti kita terlambat


makan malam.”kata Delina.


Tubuhmu putih mulus ya.”


“Tuan muda tidak boleh menyentuh saya. Ingat


perjanjian kita. Kalau tuan muda macam-macam, saya telpon pengacara Juni


sekarang.”


“Dan bagaimana tepatnya kau akan menelpon? Mana


HP-mu?”tanya Kevin.


Kevin hanya ingin menggoda Delina saja. Ia masih


bisa menahan dirinya, untuk tidak menyerang Delina sekarang.


”Imut sekali sich, kamu. Aku harus sabar menunggu


kamu siap menerimaku. Sok galak, tapi digertak takut juga.”


“Tuan muda...”


“Cepat buka...”bisik Kevin di telinga Delina.


“Tuan muda, jangan.”mohon Delina dengan suara


bergetar.


“Buka pintunya, Delina. Aku mau mandi. Kamu mikir


apa?”kata Kevin sambil tersenyum.


Delina membuka pintu walk in closet dengan cepat


hingga tubuhnya terdorong ke belakang dan menubruk Kevin. Kevin mengambil


kesempatan itu untuk mengelus kedua lengan Delina.


“Hati-hati dong. Kamu gak mau jatuh kan?”tanya


Kevin sambil mencium sekilas rambut Delina sebelum melangkah keluar dari walk


in closet itu.


Brak! Pintu menutup kembali. Kevin tersenyum lebar


karena bisa menyentuh Delina dan membuat ulahnya itu seolah tidak disengaja.

__ADS_1


*****


Siang berikutnya, Delina masih berkutat dengan kebaya


Ny.Amira saat ia perutnya mengirimkan signal kelaparan. Delina merapikan peralatan


jahitnya dan keluar dari kamar. Saat itu ia melihat seorang pria sedang bicara


dengan mbak Sri.


“Mbak Sri, ada makanan gak? Aku lapar.”pinta pria


itu dengan wajah imut.


”Siapa dia? Ekspresinya lucu banget. Mirip anak


anjing kecebur got.”


“Maaf, tuan Ali. Saya belum masak, barusan beberes


kamar tuan Ali. Saya masak sebentar ya. Loh, Delina, kamu mau makan?”tanya Sri


tanpa embel-embel Ny. karena Delina mengancam akan mendiamkan Sri kalau berani


memanggilnya nyonya muda.


“Iya, mbak. Biar saya yang masak kalau mbak Sri


masih sibuk.”kata Delina sambil melirik Aliando.


“Mbak Sri, siapa nich? Kenalin dong.”pinta Aliando.


“Tuan Ali, ini Delina. Delina, ini tuan muda


Aliando.”


“Kamu pelayan baru atau tamu? Kenapa gak pake


seragam?”tanya Ali kepo.


“Tuan Ali, Delina ini istrinya tuan muda Kevin.”jelas


Sri.


Bruh. Aliando menyemburkan air putih yang baru


diminumnya.


“Apa??!! Kenapa aku gak dikasi tau? Mbak Sri gak


bercanda, kan? Tetep aja kenapa aku gak diundang??!!”teriak Ali heboh.


Aliando menatap intens pada Delina dari atas ke


bawah, bawah ke atas lagi. Delina lebih memilih mulai masak daripada meladeni


Ali. Sambil bersenandung, Delina mengupas bahan makanan dan menghidupkan


kompor. Ia hanya memasak tempe goreng, tumis kangkung dengan sedikit ayam, dan


sambal terasi.


Kruk! Perut Ali berbunyi setelah bau masakan Delina


merebak dari dapur ke sekitar rumah. Agnes yang baru pulang entah dari mana,


berbelok ke arah dapur. Ia melirik Ali sekilas sebelum mendekati Delina. Ali


yang bertemu lagi dengan Agnes setelah bertahun-tahun berlalu, terpana melihat


kecantikan Agnes.


“Dimana mamaku?”tanya Agnes sambil bisik-bisik


dengan Delina.


“Tadi keluar bawa koper besar, nona. Apa Ny.


Giselle pulang ke rumahnya?”tanya Delina.


“Baguslah. Kamu masak apa? Aku lapar. Mana nasinya?”tanya


Agnes.


“Hanya ini, nona. Nona duduk saja di meja makan.


Saya sajikan sekarang.”kata Delina.


“Gak usah. Kelamaan. Aku makan disini saja.”kata


Agnes sambil mencuci tangannya.


Delina mengambilkan nasi untuk Agnes dan juga lauk


yang ingin ia makan. Agnes duduk dengan cueknya di meja dapur dan mulai makan


disana. Ali yang sudah kelaparan juga melakukan hal yang sama.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2