Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 53


__ADS_3

Pembicaraan tengah malam


“Delina, sekali lagi. Boleh aku menciummu sekali


saja.”pinta Kevin dengan suara serak.


Delina mundur sedikit, jelas ia terkejut mendengar


permintaan Kevin. Tapi sepertinya Kevin tidak berencana melepaskannya kalau


permintaannya tidak dipenuhi. Delina mengangguk perlahan. Biar bagaimanapun,


Kevin sudah jadi suaminya dan berhak atas dirinya.


Kevin kegirangan melihat Delina mengangguk. Ia


mematikan kran air, tangannya meraih dagu Delina dan mendekatkan bibirnya.


Kevin mengecup bibir Delina penuh kelembutan. Tubuh Delina menegang, ia meremas


lengannya sendiri.


“Delina, aku mencintaimu.”Kevin berbisik mesra, ia


kembali mencium Delina. Menikmati bibir manis istrinya itu dan merasa sangat


bangga bisa menjadi yang pertama.


“Hubby, sudah. Katanya cuma sekali. Aku sudah


kedinginan.”


“Ach, maaf. Habisnya bibirmu manis banget. Ganti


baju sana. Pake bajuku dilemari.”Kevin memberi jalan pada Delina. “Delina,


malam ini, tidur sini ya. Aku janji hanya tidur.”


Melihat Delina mengangguk, Kevin mengacungkan


tinjunya hingga sikunya membentur dinding shower. Kevin meringkuk menahan sakit


di lengannya yang kesemutan, tapi hatinya benar-benar senang saat ini.


Kevin tidak melihat Delina ketika ia keluar dari


kamar mandi. Ia segera memakai boxernya tanpa baju.”Delina?! Kamu dimana?”


Kevin terpana melihat Delina sedang berdiri sedikit


membungkuk di depan mesin cuci. Delina memakai kemeja Kevin yang terlihat


kebesaran di tubuhnya. Kevin bisa melihat tengkuk putih dan paha mulus Delina


yang tidak tertutup.


“Kamu lagi ngapain?”


“Hubby, gimana caranya ngeringin baju? Mbak Sri


pernah ngasi tahu tapi mesin cucinya beda.”


Kevin menekan beberapa tombol dan mesin itu mulai


menjalankan perintah. Delina bertanya apa akan lama, dan Kevin bilang mungkin.


Sambil menunggu, Delina duduk di sofa. Ia mengambil pizza lagi dan memakannya.


Delina menawari Kevin pizza, tapi ia tidak sanggup


makan lagi. Habis makan satu rantang mana bisa makan lagi. Kevin meminta Delina


meletakkan pizza yang belum habis itu di kulkas saja. Suara mesin cuci yang


mati, menarik perhatian Delina.


Kevin mengusap wajahnya kasar saat melihat Delina


sedikit membungkuk mengeluarkan pakaiannya dari dalam mesin cuci. Delina


menggantungnya di tempat jemuran yang cukup tinggi, hingga Kevin hampir bisa


melihat apa yang ada dibalik kemejanya.


“Delina, ayo tidur.”ajak Kevin


Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Kevin


menyingkap selimut dan menepuk tempat kosong di disebelahnya. “Delina, sini.”


Delina terlihat ragu, tapi ia menuruti Kevin masuk


ke selimut di samping Kevin. “Hubby... selamat malam.”


“Delina, boleh aku memelukmu?”

__ADS_1


Hening. Tidak ada jawaban dari Delina. Kevin


melihat ke sebelah, Delina sudah tidur dengan nyenyak.


“Dia sudah tidur. Sepertinya capek sekali. Sayang,


kapan kau akan mencintaiku. Aku sangat ingin memilikimu seutuhnya. Aku ingin


bebas memelukmu, menciummu tanpa ijin. Selamat malam, istriku.”


Kevin membalik tubuhnya menghadap kearah


berlawanan. Ia tidak tahu kalau Delina membuka matanya lagi setelah Kevin


tertidur.


”Hubby, aku ingin belajar mencintaimu tapi aku


perlu waktu. Bisakah kau bersabar? Kita baru saja saling mengenal. Aku tidak


pernah jatuh cinta pada siapapun sebelumnya. Aku tidak memahami bagaimana


rasanya mencintai seseorang.”


Delina membalik tubuhnya melihat punggung Kevin. Ia


menarik selimut menutupi tubuh Kevin. Tiba-tiba Kevin membalik tubuhnya. Mereka


bertatapan dalam keremangan kamar itu.


“Kau belum tidur, hubby.”


“Kau juga belum tidur, Delina.”


“Aku masih penasaran, hubby. Kenapa hubby


menikahiku dengan cara seperti itu?”


“Karena aku mencintaimu. Aku baru pertama kali


merasakan jatuh cinta sampai hampir gila seperti itu. Apa kau pernah jatuh


cinta, Delina? Rasa hangat dan bahagia saat melihat orang yang kita cintai tersenyum


senang dan berada bersama kita. Aku akui banyak perempuan yang aku kenal sebelum


aku mengenalmu. Tapi cuma kamu yang bisa membuatku nyaman dan bingung pada saat


yang bersamaan.”


Delina terhenyak saat Kevin memeluk pinggangnya. “Hubby,


“Aku tidak bisa jauh darimu, Delina. Semuanya pada


dirimu seperti magnet untukku. Tidak melihatmu sehari saja, membuatku hampir


mati kering. Tidak mencium wangi tubuhmu, membuatku tidak bisa bernafas. Tidak


menerima sentuhanmu, membuatku mati rasa.”


“Kata-katamu tidak masuk akal, hubby. Gombal.”


Kevin mendekatkan dirinya pada Delina, “Jatuh cinta


akan membuatmu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.”


Delina terus mendengarkan Kevin yang melontarkan


kata-kata manis seperti puisi pengantar tidur. Ia memejamkan matanya yang tidak


kuat menahan kantuk lagi. Dengkuran halus Delina membuat Kevin berhenti bicara.


Ia tersenyum melihat istrinya sudah tertidur pulas.


“Apa kata-kataku terdengar seperti lagu pengantar


tidur? Delina, kau memang selalu bisa menghancurkan saat romantis yang susah


payah kubuat. Tapi tidak apa-apa. Melihatmu tidur di pelukanku sudah cukup


membuatku senang. Jangan marah lagi ya, sayang.”


Sebuah kecupan mendarat ke kening Delina sebelum


Kevin mulai tertidur juga.


Ali mengendap-endap masuk ke apartment Kevin


setelah lewat semalama. Ia tidur di rumah Alvin kemarin karena tidak mau


mengganggu kedekatan suami istri itu.


“Kenapa sepi sekali? Apa mereka masih tidur?


Astaga, itu pakaian kakak ipar. Apa kakak ipar tidur telanjang?”pikiran mesum Ali

__ADS_1


beredar kemana-mana.


Pagi itu ia mengatakan pada Sri kalau ia akan ke


apartment Kevin untuk mengecek keadaan keduanya. Sri menitipkan pakaian ganti


untuk Delina karena Delina tidak pulang semalam. Ia juga membuatkan sarapan


untuk mereka bertiga.


Ali mendekati kamar Kevin, wajahnya merona ketika


mendengar suara desahan Kevin dari dalam sana. “Pantas saja belum bangun,


pagi-pagi sudah melakukan itu. Ach, dasar sial. Kenapa aku harus mendengarkan


suara seperti itu?”Ali mengasihani dirinya yang masih jomblo sejak kembali


kesini. Ia memilih membuat kopi untuk dirinya sendiri sambil menunggu keduanya


keluar dari kamar.


Sesungguhnya apa yang terjadi didalam tidaklah


seperti bayangan Ali. Delina sedang mengurut tangan Kevin yang kaku karena


sepanjang malam menopang kepala Delina. Kevin menahan ngilu dan gelinya


bersamaan hingga tanpa sadar mendesah dengan keras.


“Apa sudah mendingan, hubby?”


“Ya, makasih Delina. Kamu mandi sana duluan.”


“Aku mau ambil baju dulu di luar. Hubby mandi aja


duluan.”


“Masih ada waktu. Ayo, keluar. Buatkan aku kopi


dulu.”


Keduanya keluar dari kamar dengan Kevin berjalan


lebih dulu. Sampai di depan meja dapur, ia melihat Ali duduk disana, tersenyum


lebar sambil melambaikan tangannya. Kevin berhenti mendadak, Delina sampai


menubruk punggung Kevin.


“Hubby, kenapa berhenti?”


“Ada Ali, cepat masuk lagi.”


“Tapi kenapa?” Delina melihat pakaiannya tidak


lengkap, ia segera berbalik masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.


“Pagi, kakak. Apa aku mengganggu kalian?”Ali


cengengesan dengan wajah merona. “Aku akan pergi dan kalian bisa lanjutkan.


Atau mau sarapan dulu?”


“Ngapain sich kamu kesini pagi-pagi? Ganggu aja.”


Ali menatap Kevin dengan lekat, Kevin terlihat


lebih bugar pagi itu. Sepertinya Delina sudah ‘mengurus’ Kevin dengan baik. Ali


meminta Kevin mendekat untuk memeriksa denyut jantungnya.


“Dasar dokter kurang kerjaan.”


“Hei, kak. Sudah tugasku menjaga pasienku. Apa


capekmu sudah pindah ke kakak ipar sekarang? Kakak terlihat lebih segar.”


“Lihatlah pikiranmu yang mesum itu. Apa yang


terjadi semalam itu urusan ranjangku. Ikut campur saja.”


Ali memonyongkan bibirnya pada Kevin kemudian


tersenyum manis. Kondisi Kevin sudah jauh lebih baik. Ali memberikan tas berisi


pakaian Delina pada Kevin yang langsung membawanya ke dalam kamar.


Tampak Delina duduk di atas ranjang dengan gelisah.


Rambutnya terlihat sedikit basah.


“Apa kau sudah mandi, Delina?


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2