
Pembicaraan tengah malam
“Delina, sekali lagi. Boleh aku menciummu sekali
saja.”pinta Kevin dengan suara serak.
Delina mundur sedikit, jelas ia terkejut mendengar
permintaan Kevin. Tapi sepertinya Kevin tidak berencana melepaskannya kalau
permintaannya tidak dipenuhi. Delina mengangguk perlahan. Biar bagaimanapun,
Kevin sudah jadi suaminya dan berhak atas dirinya.
Kevin kegirangan melihat Delina mengangguk. Ia
mematikan kran air, tangannya meraih dagu Delina dan mendekatkan bibirnya.
Kevin mengecup bibir Delina penuh kelembutan. Tubuh Delina menegang, ia meremas
lengannya sendiri.
“Delina, aku mencintaimu.”Kevin berbisik mesra, ia
kembali mencium Delina. Menikmati bibir manis istrinya itu dan merasa sangat
bangga bisa menjadi yang pertama.
“Hubby, sudah. Katanya cuma sekali. Aku sudah
kedinginan.”
“Ach, maaf. Habisnya bibirmu manis banget. Ganti
baju sana. Pake bajuku dilemari.”Kevin memberi jalan pada Delina. “Delina,
malam ini, tidur sini ya. Aku janji hanya tidur.”
Melihat Delina mengangguk, Kevin mengacungkan
tinjunya hingga sikunya membentur dinding shower. Kevin meringkuk menahan sakit
di lengannya yang kesemutan, tapi hatinya benar-benar senang saat ini.
Kevin tidak melihat Delina ketika ia keluar dari
kamar mandi. Ia segera memakai boxernya tanpa baju.”Delina?! Kamu dimana?”
Kevin terpana melihat Delina sedang berdiri sedikit
membungkuk di depan mesin cuci. Delina memakai kemeja Kevin yang terlihat
kebesaran di tubuhnya. Kevin bisa melihat tengkuk putih dan paha mulus Delina
yang tidak tertutup.
“Kamu lagi ngapain?”
“Hubby, gimana caranya ngeringin baju? Mbak Sri
pernah ngasi tahu tapi mesin cucinya beda.”
Kevin menekan beberapa tombol dan mesin itu mulai
menjalankan perintah. Delina bertanya apa akan lama, dan Kevin bilang mungkin.
Sambil menunggu, Delina duduk di sofa. Ia mengambil pizza lagi dan memakannya.
Delina menawari Kevin pizza, tapi ia tidak sanggup
makan lagi. Habis makan satu rantang mana bisa makan lagi. Kevin meminta Delina
meletakkan pizza yang belum habis itu di kulkas saja. Suara mesin cuci yang
mati, menarik perhatian Delina.
Kevin mengusap wajahnya kasar saat melihat Delina
sedikit membungkuk mengeluarkan pakaiannya dari dalam mesin cuci. Delina
menggantungnya di tempat jemuran yang cukup tinggi, hingga Kevin hampir bisa
melihat apa yang ada dibalik kemejanya.
“Delina, ayo tidur.”ajak Kevin
Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Kevin
menyingkap selimut dan menepuk tempat kosong di disebelahnya. “Delina, sini.”
Delina terlihat ragu, tapi ia menuruti Kevin masuk
ke selimut di samping Kevin. “Hubby... selamat malam.”
“Delina, boleh aku memelukmu?”
__ADS_1
Hening. Tidak ada jawaban dari Delina. Kevin
melihat ke sebelah, Delina sudah tidur dengan nyenyak.
“Dia sudah tidur. Sepertinya capek sekali. Sayang,
kapan kau akan mencintaiku. Aku sangat ingin memilikimu seutuhnya. Aku ingin
bebas memelukmu, menciummu tanpa ijin. Selamat malam, istriku.”
Kevin membalik tubuhnya menghadap kearah
berlawanan. Ia tidak tahu kalau Delina membuka matanya lagi setelah Kevin
tertidur.
”Hubby, aku ingin belajar mencintaimu tapi aku
perlu waktu. Bisakah kau bersabar? Kita baru saja saling mengenal. Aku tidak
pernah jatuh cinta pada siapapun sebelumnya. Aku tidak memahami bagaimana
rasanya mencintai seseorang.”
Delina membalik tubuhnya melihat punggung Kevin. Ia
menarik selimut menutupi tubuh Kevin. Tiba-tiba Kevin membalik tubuhnya. Mereka
bertatapan dalam keremangan kamar itu.
“Kau belum tidur, hubby.”
“Kau juga belum tidur, Delina.”
“Aku masih penasaran, hubby. Kenapa hubby
menikahiku dengan cara seperti itu?”
“Karena aku mencintaimu. Aku baru pertama kali
merasakan jatuh cinta sampai hampir gila seperti itu. Apa kau pernah jatuh
cinta, Delina? Rasa hangat dan bahagia saat melihat orang yang kita cintai tersenyum
senang dan berada bersama kita. Aku akui banyak perempuan yang aku kenal sebelum
aku mengenalmu. Tapi cuma kamu yang bisa membuatku nyaman dan bingung pada saat
yang bersamaan.”
Delina terhenyak saat Kevin memeluk pinggangnya. “Hubby,
“Aku tidak bisa jauh darimu, Delina. Semuanya pada
dirimu seperti magnet untukku. Tidak melihatmu sehari saja, membuatku hampir
mati kering. Tidak mencium wangi tubuhmu, membuatku tidak bisa bernafas. Tidak
menerima sentuhanmu, membuatku mati rasa.”
“Kata-katamu tidak masuk akal, hubby. Gombal.”
Kevin mendekatkan dirinya pada Delina, “Jatuh cinta
akan membuatmu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.”
Delina terus mendengarkan Kevin yang melontarkan
kata-kata manis seperti puisi pengantar tidur. Ia memejamkan matanya yang tidak
kuat menahan kantuk lagi. Dengkuran halus Delina membuat Kevin berhenti bicara.
Ia tersenyum melihat istrinya sudah tertidur pulas.
“Apa kata-kataku terdengar seperti lagu pengantar
tidur? Delina, kau memang selalu bisa menghancurkan saat romantis yang susah
payah kubuat. Tapi tidak apa-apa. Melihatmu tidur di pelukanku sudah cukup
membuatku senang. Jangan marah lagi ya, sayang.”
Sebuah kecupan mendarat ke kening Delina sebelum
Kevin mulai tertidur juga.
Ali mengendap-endap masuk ke apartment Kevin
setelah lewat semalama. Ia tidur di rumah Alvin kemarin karena tidak mau
mengganggu kedekatan suami istri itu.
“Kenapa sepi sekali? Apa mereka masih tidur?
Astaga, itu pakaian kakak ipar. Apa kakak ipar tidur telanjang?”pikiran mesum Ali
__ADS_1
beredar kemana-mana.
Pagi itu ia mengatakan pada Sri kalau ia akan ke
apartment Kevin untuk mengecek keadaan keduanya. Sri menitipkan pakaian ganti
untuk Delina karena Delina tidak pulang semalam. Ia juga membuatkan sarapan
untuk mereka bertiga.
Ali mendekati kamar Kevin, wajahnya merona ketika
mendengar suara desahan Kevin dari dalam sana. “Pantas saja belum bangun,
pagi-pagi sudah melakukan itu. Ach, dasar sial. Kenapa aku harus mendengarkan
suara seperti itu?”Ali mengasihani dirinya yang masih jomblo sejak kembali
kesini. Ia memilih membuat kopi untuk dirinya sendiri sambil menunggu keduanya
keluar dari kamar.
Sesungguhnya apa yang terjadi didalam tidaklah
seperti bayangan Ali. Delina sedang mengurut tangan Kevin yang kaku karena
sepanjang malam menopang kepala Delina. Kevin menahan ngilu dan gelinya
bersamaan hingga tanpa sadar mendesah dengan keras.
“Apa sudah mendingan, hubby?”
“Ya, makasih Delina. Kamu mandi sana duluan.”
“Aku mau ambil baju dulu di luar. Hubby mandi aja
duluan.”
“Masih ada waktu. Ayo, keluar. Buatkan aku kopi
dulu.”
Keduanya keluar dari kamar dengan Kevin berjalan
lebih dulu. Sampai di depan meja dapur, ia melihat Ali duduk disana, tersenyum
lebar sambil melambaikan tangannya. Kevin berhenti mendadak, Delina sampai
menubruk punggung Kevin.
“Hubby, kenapa berhenti?”
“Ada Ali, cepat masuk lagi.”
“Tapi kenapa?” Delina melihat pakaiannya tidak
lengkap, ia segera berbalik masuk ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.
“Pagi, kakak. Apa aku mengganggu kalian?”Ali
cengengesan dengan wajah merona. “Aku akan pergi dan kalian bisa lanjutkan.
Atau mau sarapan dulu?”
“Ngapain sich kamu kesini pagi-pagi? Ganggu aja.”
Ali menatap Kevin dengan lekat, Kevin terlihat
lebih bugar pagi itu. Sepertinya Delina sudah ‘mengurus’ Kevin dengan baik. Ali
meminta Kevin mendekat untuk memeriksa denyut jantungnya.
“Dasar dokter kurang kerjaan.”
“Hei, kak. Sudah tugasku menjaga pasienku. Apa
capekmu sudah pindah ke kakak ipar sekarang? Kakak terlihat lebih segar.”
“Lihatlah pikiranmu yang mesum itu. Apa yang
terjadi semalam itu urusan ranjangku. Ikut campur saja.”
Ali memonyongkan bibirnya pada Kevin kemudian
tersenyum manis. Kondisi Kevin sudah jauh lebih baik. Ali memberikan tas berisi
pakaian Delina pada Kevin yang langsung membawanya ke dalam kamar.
Tampak Delina duduk di atas ranjang dengan gelisah.
Rambutnya terlihat sedikit basah.
“Apa kau sudah mandi, Delina?
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.