
“Nggak juga sich. Sebenarnya Armando akan curiga
kalau pakaianmu gak ada di lemariku, hubby.”saut Delina polos.
Kevin serasa dilambungkan ke atas kantornya hampir
sampai di puncak, langsung di hempaskan ke lantai dasar lagi. Wajahnya cemberut
persis Armando kalau lagi ngambek. Delina membalik tubuhnya menahan tawa.
Delina berdiri di depan meja rias, ia melepas anting-antingnya,
cincin kawinnya dan juga kerudungnya. Kevin bergerak ke belakang Delina, “Hubby
mandi duluan sana.”
“Mandi sama-sama ya.”pinta Kevin.
Delina merasakan tubuhnya terangkat keatas. Kevin menggendongnya
ala bridal style masuk ke kamar mandi. Mereka menghabiskan waktu berendam di
bath up sambil mengobrol tentang banyak hal yang terjadi selama mereka
berpisah.
“Hubby, kenapa nggak pernah nelpon aku selama lima
tahun ini?”tanya Delina.
“Aku nelpon kamu terus sampai aku nyampe di
apartment Ali waktu itu. Aku dapet kabar kamu dibawa pergi sama ayah. HP-nya
langsung kubanting sampai pecah berantakan. Karena emosi, aku melampiaskan
semuanya di kantor ayah. Aku bekerja terus sampai pernah masuk rumah sakit
beberapa kali.”
Kevin tersenyum mengingat kebodohannya sendiri. Ia
tidak punya keberanian menghadapi Delina setelah mengetahui hasil test DNA
Emilia yang memang adalah putri kandungnya.
“Bagiku waktu itu kehadiran Emilia justru merampas
kebahagiaan kita. Aku memilih melarikan diri dari kalian semua. Aku malu dengan
dosa masa laluku, Delina.”
Kevin terlihat murung, ia melamun menatap kosong ke
depan.
“Kita masih bisa menebusnya. Lupakan lima tahun
yang sudah berlalu. Kini kita punya seumur hidup kita untuk menebus semuanya.
Kita punya Emilia dan Armando sekarang.”kata Delina menenangkan Kevin.
“Kamu mau jadi ibunya Emilia? Selama ini Clara
tidak pernah menunjukkan dirinya pada keluarga kita. Emilia tidak pernah tahu
siapa ibu kandungnya.”
Delina tersenyum, “Sejak dia belum dilahirkan, aku
sudah menerimanya. Apalagi sekarang setelah dia tumbuh menjadi gadis kecil yang
cantik.”
“Kamu sudah pernah ketemu dia? Aku bahkan tidak
tahu seperti apa wajahnya.”kata Kevin.
“Ya, dia sangat cantik. Mirip ibu.”saut Delina.
Kevin kembali menangis dengan sangat sedih. Ia
benar-benar bersyukur atas hidupnya. Setelah kenakalannya di masa lalu, ia
masih diberikan istri yang baik dan anak-anak yang lucu.
“Delina, aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga, hubby.”
Acara mandi bersama akhirnya selesai dengan sedikit
pemanasan. Keduanya keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. “Delina, aku
boleh tidur disini kan?”tanya Kevin ragu-ragu.
“Iya, hubby. Gimanapun minum obat terus-terusan
nggak bagus.”kata Delina.
Kevin menelan salivanya melihat Delina masuk ke
dalam selimut lalu melepaskan handuknya. Ia mengikuti Delina berbaring di
__ADS_1
sampingnya. Delina berbaring menyamping menatap Kevin.
“Tidur, hubby.”kata Delina menepuk-nepuk lengan
Kevin.
Kevin merengkuh Delina dalam pelukannya. Ia
menghirup aroma tubuh Delina lalu mulai memejamkan matanya. Delina tersenyum
mendengar dengkuran halus Kevin mulai terdengar.
“Selamat malam, hubby. I love you.”
*****
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kevin, Delina,
dan Armando sudah sampai di rumah besar Alvin. Armando yang masih mengantuk,
tertidur lagi dalam gendongan Kevin. Mereka disambut mbak Sri dengan senyum
mengembang.
“Mbak Sri. Apa kabar?”sapa Delina sambil beranjak
memeluk pelayan itu.
“Baik, Delina. Apa ini tuan muda kecil?”tanya Sri
terpesona melihat ketampanan Armando.
“Iya, mbak.”saut Delina.
Mereka masuk ke dalam rumah besar. Alvin dan Amira
bahkan belum keluar dari kamarnya. Delina meletakkan rantang berisi cemilan di
atas meja makan.
“Kita mau piknik dimana, hubby?”tanya Delina.
“Dihalaman samping aja deket kolam renang.
Anak-anak bisa renang disana.”jawab Kevin.
Sri bersama beberapa pelayan segera menyiapkan
perlengkapan piknik mulai dari tikar besar, payung pantai, kursi malas, sampai
sofa mini dan bantal. Kevin membaringkan Armando di sudut tikar dengan bantal
yang banyak. Putranya itu bergerak mencari posisi enak persis ketika Kevin
“Loh, kalian udah dateng toh.”kata Amira yang baru
keluar dari kamarnya.
Sri tampak mengatur meja kecil untuk tempat sarapan
mereka. Delina membuatkan kopi untuk Alvin dan Kevin. Alvin juga bergabung
dengan mereka, ia duduk di samping Armando.
“Sri, Emi belum bangun ya?”tanya Amira.
Sekarang sudah jam delapan pagi, seharusnya Emilia
sudah bangun dan sarapan bersama mereka.
“Sebentar saya lihat dulu, nyonya besar.”saut Sri.
Sri baru akan beranjak dari samping meja saat
langkah kecil Emilia terdengar dari dalam.
“Nenek! Dimana sarapanku?!”teriak Emilia lantang.
Delina menoleh melihat Emilia tertegun menatapnya. “Hai,
gadis cantik. Kita ketemu lagi.”sapa Delina ramah.
“Tante cantik!! Kok tante ada disini?”tanya Emilia
menghambur ke pelukan Delina.
Delina memeluk Emilia, mengusap kepala gadis kecil
itu dengan sayang. Pemandangan yang sangat mengharukan bagi Kevin, Alvin dan
Amira.
“Kalau tante tinggal disini sama Emilia, boleh
nggak?”tanya Delina.
Emilia mendorong Delina, “Beneran tante? Boleh
banget dong. Nanti tante tidur sama aku ya.”
“Ibu?”panggil Armando yang sudah bangun ketika mendengar
teriakan Emilia.
__ADS_1
Bocah kecil itu mengucek matanya sambil berjalan
mendekati Delina dan Emilia.
“Tante, siapa dia?!”tanya Emilia ketus.
“Emi, kenalkan ini Armando. Anak tante.”saut Delina
hati-hati. Ia belum mau menyebutkan siapa mereka yang sebenarnya pada Emilia.
Emilia dan Armandi saling bertatapan. Kedua bocah
kecil itu hanya diam beberapa saat sampai Armando menarik kuncir rambut Emilia
sampai terlepas.
“Huaaaa...!!!!”jerit tangis Emilia mulai terdengar
menggelegar di rumah besar itu.
Armando bengong menatap Emilia yang menangis
meraung-raung. “Waduh, Emi nggak suka kalau rambutnya ditarik.”kata Amira
langsung menggendong Emilia.
“Ibu, aku nakal?”tanya Armando dengan wajah imut
menggemaskan.
“Nakal sedikit.”saut Delina mengedipkan matanya. “Lain
kali nggak boleh begitu sama kakak Emilia ya.”
“Kakak? Aku punya kakak?”tanya Armando.
Delina mengangguk. Armando mendekati Amira, ia
menarik-narik dress yang dipakai Amira. Ia ingin Amira menurunkan Emilia yang
masih menangis. Amira menurunkan Emilia yang menatap sebal pada Armando.
“Hai, kakak Emi. Aku Armando Raditya. Maaf ya.”kata
Armando mengulurkan tangannya.
Emilia seketika diam mendengar Armando meminta maaf
padanya. Ia mengulurkan tangannya dan Armando langsung menarik tangan Emilia
lalu mengecup pipinya. Ia berbalik dengan cepat lalu berlari mendekati Kevin.
“Astaga! Nggak bapaknya, nggak anaknya, sama-sama
suka nyosor ya. Kecil-kecil udah keliatan playboy-nya.”saut Alvin.
Emilia tidak menangis lagi. Kali ini ia berpindah
ke gendongan Delina yang membawanya menikmati cemilan lezat yang sudah Delina
siapkan. Armando terus menatap Emilia yang terlihat senang bisa makan dengan
Delina.
Kevin yang menyadari arah pandangan Armando,
mengangkat putranya tinggi-tinggi. “Ar, ayo kita renang. Kamu bisa renang
nggak?”
Armando hanya mengangguk. Kevin tidak percaya
begitu saja. Mereka berganti pakaian dengan celana renang dan melakukan sedikit
pemanasan sebelum terjun ke air.
“Ar, kolamnya dalam. Sini papa gendong.”kata Kevin
yang sudah terjun lebih dulu.
Armando yang sudah siap dengan kacamata renangnya,
melompat ke dalam air. Byur! Air terciprat mengenai Emilia yang mulai tertarik
pada Kevin. Gadis kecil itu hanya melihat foto Kevin di ruang tamu dan Amira mengatakan
kalau Kevin adalah ayahnya.
“Armando!!”lengking Emilia kesal.
Armando yang tidak mendengar teriakan Emilia, fokus
berenang mendekati Kevin. Byur! Emilia ikutaan nyebur juga. Tapi ia belum bisa
berenang selincah Armando. Ketika Armando sudah sampai di ujung kolam, ia
berbalik dan melihat Emilia hampir tenggelam.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1