Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 99


__ADS_3

“Nggak juga sich. Sebenarnya Armando akan curiga


kalau pakaianmu gak ada di lemariku, hubby.”saut Delina polos.


Kevin serasa dilambungkan ke atas kantornya hampir


sampai di puncak, langsung di hempaskan ke lantai dasar lagi. Wajahnya cemberut


persis Armando kalau lagi ngambek. Delina membalik tubuhnya menahan tawa.


Delina berdiri di depan meja rias, ia melepas anting-antingnya,


cincin kawinnya dan juga kerudungnya. Kevin bergerak ke belakang Delina, “Hubby


mandi duluan sana.”


“Mandi sama-sama ya.”pinta Kevin.


Delina merasakan tubuhnya terangkat keatas. Kevin menggendongnya


ala bridal style masuk ke kamar mandi. Mereka menghabiskan waktu berendam di


bath up sambil mengobrol tentang banyak hal yang terjadi selama mereka


berpisah.


“Hubby, kenapa nggak pernah nelpon aku selama lima


tahun ini?”tanya Delina.


“Aku nelpon kamu terus sampai aku nyampe di


apartment Ali waktu itu. Aku dapet kabar kamu dibawa pergi sama ayah. HP-nya


langsung kubanting sampai pecah berantakan. Karena emosi, aku melampiaskan


semuanya di kantor ayah. Aku bekerja terus sampai pernah masuk rumah sakit


beberapa kali.”


Kevin tersenyum mengingat kebodohannya sendiri. Ia


tidak punya keberanian menghadapi Delina setelah mengetahui hasil test DNA


Emilia yang memang adalah putri kandungnya.


“Bagiku waktu itu kehadiran Emilia justru merampas


kebahagiaan kita. Aku memilih melarikan diri dari kalian semua. Aku malu dengan


dosa masa laluku, Delina.”


Kevin terlihat murung, ia melamun menatap kosong ke


depan.


“Kita masih bisa menebusnya. Lupakan lima tahun


yang sudah berlalu. Kini kita punya seumur hidup kita untuk menebus semuanya.


Kita punya Emilia dan Armando sekarang.”kata Delina menenangkan Kevin.


“Kamu mau jadi ibunya Emilia? Selama ini Clara


tidak pernah menunjukkan dirinya pada keluarga kita. Emilia tidak pernah tahu


siapa ibu kandungnya.”


Delina tersenyum, “Sejak dia belum dilahirkan, aku


sudah menerimanya. Apalagi sekarang setelah dia tumbuh menjadi gadis kecil yang


cantik.”


“Kamu sudah pernah ketemu dia? Aku bahkan tidak


tahu seperti apa wajahnya.”kata Kevin.


“Ya, dia sangat cantik. Mirip ibu.”saut Delina.


Kevin kembali menangis dengan sangat sedih. Ia


benar-benar bersyukur atas hidupnya. Setelah kenakalannya di masa lalu, ia


masih diberikan istri yang baik dan anak-anak yang lucu.


“Delina, aku sangat mencintaimu.”


“Aku juga, hubby.”


Acara mandi bersama akhirnya selesai dengan sedikit


pemanasan. Keduanya keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk. “Delina, aku


boleh tidur disini kan?”tanya Kevin ragu-ragu.


“Iya, hubby. Gimanapun minum obat terus-terusan


nggak bagus.”kata Delina.


Kevin menelan salivanya melihat Delina masuk ke


dalam selimut lalu melepaskan handuknya. Ia mengikuti Delina berbaring di

__ADS_1


sampingnya. Delina berbaring menyamping menatap Kevin.


“Tidur, hubby.”kata Delina menepuk-nepuk lengan


Kevin.


Kevin merengkuh Delina dalam pelukannya. Ia


menghirup aroma tubuh Delina lalu mulai memejamkan matanya. Delina tersenyum


mendengar dengkuran halus Kevin mulai terdengar.


“Selamat malam, hubby. I love you.”


*****


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kevin, Delina,


dan Armando sudah sampai di rumah besar Alvin. Armando yang masih mengantuk,


tertidur lagi dalam gendongan Kevin. Mereka disambut mbak Sri dengan senyum


mengembang.


“Mbak Sri. Apa kabar?”sapa Delina sambil beranjak


memeluk pelayan itu.


“Baik, Delina. Apa ini tuan muda kecil?”tanya Sri


terpesona melihat ketampanan Armando.


“Iya, mbak.”saut Delina.


Mereka masuk ke dalam rumah besar. Alvin dan Amira


bahkan belum keluar dari kamarnya. Delina meletakkan rantang berisi cemilan di


atas meja makan.


“Kita mau piknik dimana, hubby?”tanya Delina.


“Dihalaman samping aja deket kolam renang.


Anak-anak bisa renang disana.”jawab Kevin.


Sri bersama beberapa pelayan segera menyiapkan


perlengkapan piknik mulai dari tikar besar, payung pantai, kursi malas, sampai


sofa mini dan bantal. Kevin membaringkan Armando di sudut tikar dengan bantal


yang banyak. Putranya itu bergerak mencari posisi enak persis ketika Kevin


“Loh, kalian udah dateng toh.”kata Amira yang baru


keluar dari kamarnya.


Sri tampak mengatur meja kecil untuk tempat sarapan


mereka. Delina membuatkan kopi untuk Alvin dan Kevin. Alvin juga bergabung


dengan mereka, ia duduk di samping Armando.


“Sri, Emi belum bangun ya?”tanya Amira.


Sekarang sudah jam delapan pagi, seharusnya Emilia


sudah bangun dan sarapan bersama mereka.


“Sebentar saya lihat dulu, nyonya besar.”saut Sri.


Sri baru akan beranjak dari samping meja saat


langkah kecil Emilia terdengar dari dalam.


“Nenek! Dimana sarapanku?!”teriak Emilia lantang.


Delina menoleh melihat Emilia tertegun menatapnya. “Hai,


gadis cantik. Kita ketemu lagi.”sapa Delina ramah.


“Tante cantik!! Kok tante ada disini?”tanya Emilia


menghambur ke pelukan Delina.


Delina memeluk Emilia, mengusap kepala gadis kecil


itu dengan sayang. Pemandangan yang sangat mengharukan bagi Kevin, Alvin dan


Amira.


“Kalau tante tinggal disini sama Emilia, boleh


nggak?”tanya Delina.


Emilia mendorong Delina, “Beneran tante? Boleh


banget dong. Nanti tante tidur sama aku ya.”


“Ibu?”panggil Armando yang sudah bangun ketika mendengar


teriakan Emilia.

__ADS_1


Bocah kecil itu mengucek matanya sambil berjalan


mendekati Delina dan Emilia.


“Tante, siapa dia?!”tanya Emilia ketus.


“Emi, kenalkan ini Armando. Anak tante.”saut Delina


hati-hati. Ia belum mau menyebutkan siapa mereka yang sebenarnya pada Emilia.


Emilia dan Armandi saling bertatapan. Kedua bocah


kecil itu hanya diam beberapa saat sampai Armando menarik kuncir rambut Emilia


sampai terlepas.


“Huaaaa...!!!!”jerit tangis Emilia mulai terdengar


menggelegar di rumah besar itu.


Armando bengong menatap Emilia yang menangis


meraung-raung. “Waduh, Emi nggak suka kalau rambutnya ditarik.”kata Amira


langsung menggendong Emilia.


“Ibu, aku nakal?”tanya Armando dengan wajah imut


menggemaskan.


“Nakal sedikit.”saut Delina mengedipkan matanya. “Lain


kali nggak boleh begitu sama kakak Emilia ya.”


“Kakak? Aku punya kakak?”tanya Armando.


Delina mengangguk. Armando mendekati Amira, ia


menarik-narik dress yang dipakai Amira. Ia ingin Amira menurunkan Emilia yang


masih menangis. Amira menurunkan Emilia yang menatap sebal pada Armando.


“Hai, kakak Emi. Aku Armando Raditya. Maaf ya.”kata


Armando mengulurkan tangannya.


Emilia seketika diam mendengar Armando meminta maaf


padanya. Ia mengulurkan tangannya dan Armando langsung menarik tangan Emilia


lalu mengecup pipinya. Ia berbalik dengan cepat lalu berlari mendekati Kevin.


“Astaga! Nggak bapaknya, nggak anaknya, sama-sama


suka nyosor ya. Kecil-kecil udah keliatan playboy-nya.”saut Alvin.


Emilia tidak menangis lagi. Kali ini ia berpindah


ke gendongan Delina yang membawanya menikmati cemilan lezat yang sudah Delina


siapkan. Armando terus menatap Emilia yang terlihat senang bisa makan dengan


Delina.


Kevin yang menyadari arah pandangan Armando,


mengangkat putranya tinggi-tinggi. “Ar, ayo kita renang. Kamu bisa renang


nggak?”


Armando hanya mengangguk. Kevin tidak percaya


begitu saja. Mereka berganti pakaian dengan celana renang dan melakukan sedikit


pemanasan sebelum terjun ke air.


“Ar, kolamnya dalam. Sini papa gendong.”kata Kevin


yang sudah terjun lebih dulu.


Armando yang sudah siap dengan kacamata renangnya,


melompat ke dalam air. Byur! Air terciprat mengenai Emilia yang mulai tertarik


pada Kevin. Gadis kecil itu hanya melihat foto Kevin di ruang tamu dan Amira mengatakan


kalau Kevin adalah ayahnya.


“Armando!!”lengking Emilia kesal.


Armando yang tidak mendengar teriakan Emilia, fokus


berenang mendekati Kevin. Byur! Emilia ikutaan nyebur juga. Tapi ia belum bisa


berenang selincah Armando. Ketika Armando sudah sampai di ujung kolam, ia


berbalik dan melihat Emilia hampir tenggelam.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2