
Semua orang di meja makan menegang mendengar
kata-kata Delina, tidak ada yang berani memberi nasihat pada Alvin. Mereka
melirik menanti reaksi Alvin.
Kening Alvin mengkerut, “Ach, baiklah. Besok masakkan
daging lagi, Sri.”kata Alvin sambil menikmati sup iga di depannya.
“Baik, tuan besar.”saut Sri.
Prak! Kevin ternganga mendengar jawaban Alvin, ia
tidak sengaja menjatuhkan sendok yang masih dipegangnya. Alih-alih berteriak
pada Delina, Alvin justru menurut seperti anak kecil. Ali tersenyum melihatnya,
ia tidak perlu repot memeriksa kolesterol Alvin setelah makan malam ini.
Ali melirik Agnes yang duduk di sampingnya,
tepatnya Ali yang duduk di sampingnya. Wanita itu juga mendelik mendengar
jawaban Alvin, tapi ia cepat menguasai dirinya saat dirasakannya ada yang
menyusuri pahanya. Tangan Ali bergerak di bawah meja makan, meremas paha Agnes
sebentar.
Plak! Sebuah pukulan mendarat di tangan Ali yang
langsung menarik tangannya dari paha Agnes.
“Kenapa, Nes?”tanya Amira heran.
“Ada nyamuk, tante.”jawab Agnes sambil melirik Ali
judes.
Ali yang dilirik, malah terang-terangan menatap
Agnes. “Yang mana yang digigit?”tanya Ali sambil mengedipkan matanya pada Agnes.
Agnes mati kutu, tidak berani menjawab Ali. Ia
membuang muka, menyelesaikan makannya sendiri.
Delina kembali duduk di meja makan, ia sudah
menyelesaikan makannya yang hanya sedikit. Kevin ingin Delina makan lebih
banyak, tapi Delina mengatakan tidak sanggup makan lagi.
“Kamu terlalu ringan, Delina. Makan lebih banyak.”
“Iya, hubby. Tapi pelan-pelan ya. Aku sudah biasa
makan sedikit.”
Sri melihat interaksi semua anggota keluarga itu,
tidak ada yang saling teriak. Semuanya sangat hangat, mengobrol satu sama lain.
Usai makan malam, semua orang kembali ke kamar
termasuk Delina dan Kevin. Kevin mengganti bajunya dengan piyama tidur. Ia
hanya mengancing sembarangan piyama itu, sebelum keluar dari walk in closet.
Delina gantian masuk kesana, Kevin tidak terlalu memperhatikan, ia malah asyik
membaca e-mail yang dikirim asistennya.
“Hubby, besok jadi keluar kota?”tanya Delina. Ia
sudah mengganti bajunya dengan lingeri tanpa bermaksud menggoda Kevin. Sekarang
ia sedang menyiapkan pakaian untuk dibawa Kevin.
“Apa? Kamu bilang apa, Delina?”
Kevin beranjak dari duduknya, ia masuk ke walk in
closet dan terpana melihat penampilan Delina. Kevin menghembuskan nafasnya
perlahan, menetralkan jantungnya yang asyik berdisko. Kali ini ia tidak bisa
menahan hasratnya lagi. Tapi Kevin masih takut, Delina akan marah padanya.
“Besok jadi keluar kota?”
“Belum tau. Keanu belum bilang schedule-nya.”
“Schedule?”tanya Delina menatap Kevin gak ngerti.
“Jadwalku maksudnya. Delina...”panggil Kevin
__ADS_1
mendekat.
Delina merasakan rambutnya disentuh Kevin, Kevin
mencium rambut Delina, tangan satunya menyusuri kulit tubuh Delina yang lembut.
“Hu... hubby.”
“Hmm...”
“Hubby mau ngapain?”
“Delina, aku mencintaimu. Aku menginginkanmu.”
Deg! Bisikan lembut Kevin membuat tubuh Delina
menegang seketika.
”Apa maksud ucapannya? Aku kan tidak menarik,
tangannya mau kemana sih? Kenapa aku gak bisa menolaknya?”
“Ugh... Aah... Heem...”lenguhan Delina terdengar
merdu di telinga Kevin. Ia semakin bersemangat, menyusuri tengkuk Delina dengan
bibirnya.
Kevin mengangkat tubuh Delina yang refleks
mengalungkan tangannya ke leher Kevin saat merasakan tubuhnya melayang. “Hubby...
Mmmmppp...”
Ciuman hangat lembut dirasakan Delina saat Kevin
menciumnya sambil berjalan mendekati ranjang. Delina terhanyut dalam ciuman
itu, menikmati permainan lidah Kevin di mulutnya, tanpa sadar dirinya sudah
terbaring diatas ranjang Kevin.
Kevin melepas piyamanya, menyisakan boxernya saja.
Delina hampir bangkit dari ranjang Kevin, wajahnya merona merah melihat tubuh
Kevin dengan mata sayu berkabut gairah. Delina terlihat ragu ingin menyentuh
perut kotak-kotak Kevin.”
Delina akhirnya menyentuh perut Kevin, menyusuri
otot keras berlekuk yang sangat indah menurutnya. Kevin mengerang merasakan
sentuhan jemari lembut Delina, ia tidak tahan kalau perutnya dielus-elus
seperti itu.
“Sayang, boleh sekarang? Aku janji tidak akan
sakit.”rayu Kevin lembut.
Delina diam saja, tapi juga tidak menolak. Biar
bagaimanapun dia sungguh tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Kevin yang
melihat tidak ada penolakan, semakin berani menurunkan tali lingeri Delina. Ia
menelan salivanya melihat tubuh bagian atas Delina yang sudah polos.
Tangan Kevin hampir menyentuh bagian sensitif itu,
suara ponselnya dan ketukan di pintu kamarnya, membuat emosinya bangkit.
“Shit! Siapa sich ganggu malem gini?!”Kevin
mengambil ponselnya.
Delina menarik tali lingeri-nya lagi. Ia turun dari
atas ranjang, memakai jubah tidur sebelum membuka pintu kamar. Wajah Ny. Amira
muncul di depan pintu.
“Ada apa, Ny.?”
“Delina, untung kamu belum tidur. Tolong perbaiki
sedikit kebayanya. Besok mau kupakai.”
Delina hampir ikut keluar kamar, tapi ia melihat
pakaiannya tidak pantas, “Ny. tunggu sebentar, saya ganti baju dulu. Sebentar
saja.”
Sementara Kevin menjawab telpon dari Keanu, “Apa!!”
__ADS_1
“Woi, pelan dikit, aku belum budeg.”teriak Keanu
kaget.
“Cepetan bilang mau apa, sebelum kubuat budek
beneran!!”
Mendengar nada bicara Kevin yang horor, sepertinya
Keanu menelpon di saat yang tidak tepat. “Aku cuma mau ngabarin, besok jadi
kita berangkat. Jam 7 sudah harus jalan. Kita ada janji jam 10 di sana.”
“Gak bisa WA aja? Kamu ganggu tau.”
“Kamu mau wik, wik, wik, ya?”tebak Keanu jitu.
“Kepo sekali. Darimana kamu tau?”
“Bro, kita sudah kenal sejak lama. Yang bisa bikin
kamu marah sehoror ini kalau aku telpon cuma dua, satu, karena kamu habis
dimarahi pak Alvin, dua, karena kamu hampir begituan tapi bubar gara-gara
kutelpon. Hehehe... jadi uda berapa kali shot.”
“Belum shot udah diganggu. Bubar jalan. Delina?”
Kevin kebingungan mencari Delina tidak ada di kamarnya. “Aaarrggghh!!!
Gara-gara kamu, aku gak jadi... Setan emang!!”
“Gak jadi setan? Kamu mau jadi setan?”balas Keanu
menahan tawanya. Ia memang sedikit kesal pada Kevin yang selalu pamer kalo bisa
tidur dengan banyak wanita. Sementara dirinya masih dalam keadaan tersegel.
Jomblo ngenes.
“Kamu yang setan, setan!!! Cepetan tutup telponnya!”
“Lah, kamu kan bisa tutup sendiri. Kenapa sewot
sich? Lanjutin gih. Aku mau bobok dulu.”
Tut, tut, tut. Kevin tambah marah ketika Keanu
menutup telponnya duluan. Ia hampir membanting ponsel ditangannya tapi ingat
besok masih harus dipakai meeting.
“Delina?!”panggil Kevin lagi. Tapi tidak ada
sahutan, “Kemana dia? Haduh, kalo sampai marah, bisa berabe.”
Kevin memakai piyama-nya lagi. Ia menuruni tangga,
menuju kamar Delina yang lampunya menyala. Di dalam sana sudah ada ibunya dan
Delina yang sibuk menjahit ulang kebaya ditangannya.
“Kevin, kamu belum tidur?”tanya Amira ketika
melihat Kevin masuk.
“Belum, bu. Ibu ngapain sich?”
“Kebaya ibu robek dikit nich, tadi gak sengaja
nyangkut. Padahal besok mau dipakai.”
Kevin melihat Delina tekun menjahit dengan
tangannya, ia melirik tempat tidur Delina dan memutuskan berbaring disana. Tak
lupa Kevin mengatur alarm agar bisa bangun pagi besok.
“Delina, aku jadi keluar kota, tapi gak nginep.
Besok berangkat jam 7 pagi. Bangunin aku ya.”
“Iya, hubby.”saut Delina tanpa menoleh pada Kevin.
Sesekali Amira menunjuk tempat yang terlihat tidak
sempurna dimatanya, Delina menjahit dengan sabar sampai Kevin akhirnya
ketiduran di tempat tidur itu.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1