
Ketika Kevin benar-benar membayangkan wajah Delina,
seringai mesum justru muncul di wajahnya. Ali melempar popcorn ke wajah Kevin
yang terlihat menjijikkan.
*****
Agnes masih saja cemberut meskipun mereka sudah menghabiskan
waktu mengunjungi hampir separuh toko di mall itu. Delina tersenyum sekaligus
khawatir dengan nafsu belanja Agnes yang gila-gilaan. Mereka sedang duduk di
kedai es krim dan menunggu pesanan mereka datang.
Delina iseng menghitung lembaran kitir kartu debit
yang ia simpan tadi dan melotot melihat totalnya yang mencapai 8 digit angka.
Melihat reaksi kaget Delina pada totalan kitir itu, Agnes jadi kepo.
“Kenapa kau
kaget?” Agnes merebut kitir di tangan Delina.
“Apa nona
biasa belanja sebanyak ini?” kata Delina sambil menunjukkan hasil kalkulator di
ponselnya.
“Ya, apalagi
kalau Kevin meminjamkan kartunya. Hehe... Jangan panggil aku nona disini. Gak
enak didengar orang. Biasa aja.”
“Tapi ini
banyak sekali. Aku harus jual rumahku untuk mendapatkan uang sebanyak ini. Tapi
sepertinya gak sampai segini dech.” Ujar Delina sambil membayangkan kalau
rumahnya tidak semahal itu.
“Apa sebelumnya kau tidak pernah belanja memakai
black card Kevin?” Agnes sangat terkejut mendengar jawaban Delina. Delina
mengangguk, “Tapi tidak sebanyak kamu belanja. Setengahnya gak ada.”
“Apa kau gila!” bentak Agnes bertepatan dengan
pelayan yang membawakan pesanan es krim mereka. Pelayan itu cepat-cepat
menyajikan es krim di atas meja dan kabur dari sana.
“Aku tidak memerlukan apa-apa. Di rumah, sudah
tersedia semuanya. Jadi kenapa aku harus belanja dengan black card hubby?” kata
Delina polos.
Agnes menepuk keningnya dan mulai memakan es
krimnya sebelum mencair. Keduanya menikmati rasa manis dari es krim itu.
“Bukankah sebelumnya kau tidak suka es krim? Kenapa
sekarang jadi suka?” cecar Delina melihat Agnes hampir menghabiskan es krimnya.
“Aku suka sekali es krim, tapi kalau sampai mamaku
tahu aku memakan es krim, dia akan mengomeliku dari matahari terbit sampai
terbenam dan terbit lagi.”
“Kenapa begitu?” tanya Delina lagi. Ia masih
menggali bagaimana sebenarnya Agnes ini.
“Mamaku tidak mau aku gendut. Dia selalu bilang
kalau aku gendut, nanti Kevin tidak akan mau menikah denganku. What the hell!”
__ADS_1
gerutu Agnes dengan sadis memakan es krim terakhirnya.
“Apa kau mencintai Kevin?”
“Uhuk, uhuk, uhuk!!! Pertanyaan macam apa...
uhuk...!” Agnes tersedak, Delina cepat-cepat memberinya air putih yang selalu
ada di dalam tasnya.
“Tentu saja aku mencintainya...” lanjut Agnes
setelah batuknya reda. Delina berhenti tersenyum.
“Bagaimana kau tidak jatuh cinta pada Kevin?
Tampan, kaya raya, dan juga smart. Kevin itu calon suami idaman, tau.” Kata
Agnes memanas-manasi Delina.
Delina tidak menanggapi Agnes, ada rasa sedikit
tidak nyaman di hatinya mengetahui secara langsung perasaan Agnes pada Kevin.
“Apa kau cemburu? Marah?” tanya Agnes menatap lekat
wajah Delina.
“Kenapa juga aku harus marah? Aku kan sudah jadi
istri sah hubby.” Kata Delina dengan polos.
“Kau ini memang wanita yang aneh.” Kata Agnes
mengulurkan tangannya menarik kerudung yang dipakai Delina.
“Tapi aku maafkan karena kau sangat cantik.” Ujar
Agnes lagi sambil merapikan kerudung yang sempat jatuh dari kepala Delina.
Delina menyendok es krim ke mulutnya lagi. Ia
tersenyum manis pada Agnes yang memujinya barusan. Agnes menatap Delina lagi,
krimnya.
“Tanya apa?” tanya Delina menyendok es krimnya
lagi.
“Apa kau dan Kevin sudah melakukan malam pertama?”
“Uhuk, uhuk, uhuk!!!” giliran Delina yang
terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Agnes yang sangat to the point.
Agnes giliran menepuk punggung Delina sambil
memberikan air putih. Wajah Delina sampai memerah dibuatnya.
“Ach, aku tahu, pasti belum kan? Sudah berapa lama
kalian nikah?” tanya Agnes kepo.
“Sudah 2 bulan, eh 3 bulan ya. Lupa. Jangan
ngomongin itu dech.” Kata Delina setelah batuknya mereda.
Agnes tersenyum jahil, ia akan merencanakan sesuatu
untuk mereka nanti. Tunggu saja tanggal mainnya. Setelah es krim di hadapan
mereka hampir habis, Agnes mengajak Delina masuk ke toko lingeri dan pakaian
dalam.
“Mau apa kita kesini?” tanya Delina sedikit gugup.
Ia menelan salivanya melihat aneka model pakaian dalam dan lingerie yang sangat
seksi.
“Kamu kalau tidur pake pakaian gini juga?” tanya
Agnes sambil menggoyang-goyang kan dress panjang Delina.
__ADS_1
“Iya, aku sudah terbiasa. Memangnya kenapa?” tanya
Delina bingung.
“Harusnya kau pakai itu.” Kata Agnes sambil
menunjukkan lingeri berwarna merah yang terpasang di manequin.
“Aku gak mau. Itu sama saja gak pakai baju. Apa
kata hubby nanti?” kata Delina sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku jamin Kevin tidak akan mengatakan apa-apa. Dia
akan bersikap biasa saja.” bohong Agnes dengan wajah serius.
“Apa kau yakin?” tanya Delina ragu.
Ia menyentuh salah satu lingeri yang tergantung di
dekatnya dan mengangkatnya tinggi di depan tubuhnya. Agnes tidak kehilangan
kesempatan mengambil foto Delina dan mengirimkannya pada Kevin, tentu saja dengan
kata-kata memprovokasi ‘coba kau bayangkan kalau Delina memakai lingeri di
balik dress panjangnya’.
Agnes tersenyum lebar melihat chatnya sudah
terkirim ke Kevin. Ia bisa membayangkan reaksi Kevin nanti.
“Tentu saja. Kevin tidak akan bereaksi apa-apa. Aku
sangat kenal sifat Kevin.” bohong Agnes lagi.
”Coba saja kau pakai lingeri itu di depan Kevin.
Kau tidak akan bisa tidur sepanjang malam, bahkan sampai siang pun, Kevin tidak
akan melepaskanmu.” kata Agnes dalam hati sambil ketawa jahil.’
“Bahannya bagus sekali ya. Berapa harganya?” tanya
Delina sambil membolak-balik tag harga yang tergantung di lingeri itu.
“Kau suka? Beli saja. Ayo, kita lihat model yang
lain.” ajak Agnes dengan semangat.
Ia menyodorkan banyak model lingeri pada Delina
yang kebingungan dan akhirnya meminta Agnes memilih beberapa model saja. Agnes
juga menyarankan pada Delina untuk mengganti pakaian dalamnya dengan pakaian
dalam yang tergantung di toko itu.
“Apa tidak terlalu seksi?“tanya Delina sambil
membolak-balik set pakaian dalam di tangannya.
“Memangnya kau mau tunjukkan sama siapa? Kan cuma
kamu yang lihat.” bohong Agnes untuk ketiga kalinya.
“Benar juga ya. Bahannya bagus juga. Aku mau coba
satu dulu.” Kata Delina sambil memilih warna krem.
“Aduh, jangan warna krem. Warna itu tidak bagus.
Coba hitam. Ini yang merah juga bagus. Itu yang biru juga. Ambil semuanya.”
kata Agnes sambil menumpuk pakaian dalam yang sesuai dengan ukuran Delina di
tangan wanita itu.
“Tapi...” cegah Delina.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1