Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 62


__ADS_3

Ketika Kevin benar-benar membayangkan wajah Delina,


seringai mesum justru muncul di wajahnya. Ali melempar popcorn ke wajah Kevin


yang terlihat menjijikkan.


*****


Agnes masih saja cemberut meskipun mereka sudah menghabiskan


waktu mengunjungi hampir separuh toko di mall itu. Delina tersenyum sekaligus


khawatir dengan nafsu belanja Agnes yang gila-gilaan. Mereka sedang duduk di


kedai es krim dan menunggu pesanan mereka datang.


Delina iseng menghitung lembaran kitir kartu debit


yang ia simpan tadi dan melotot melihat totalnya yang mencapai 8 digit angka.


Melihat reaksi kaget Delina pada totalan kitir itu, Agnes jadi kepo.


 “Kenapa kau


kaget?” Agnes merebut kitir di tangan Delina.


 “Apa nona


biasa belanja sebanyak ini?” kata Delina sambil menunjukkan hasil kalkulator di


ponselnya.


 “Ya, apalagi


kalau Kevin meminjamkan kartunya. Hehe... Jangan panggil aku nona disini. Gak


enak didengar orang. Biasa aja.”


 “Tapi ini


banyak sekali. Aku harus jual rumahku untuk mendapatkan uang sebanyak ini. Tapi


sepertinya gak sampai segini dech.” Ujar Delina sambil membayangkan kalau


rumahnya tidak semahal itu.


“Apa sebelumnya kau tidak pernah belanja memakai


black card Kevin?” Agnes sangat terkejut mendengar jawaban Delina. Delina


mengangguk, “Tapi tidak sebanyak kamu belanja. Setengahnya gak ada.”


“Apa kau gila!” bentak Agnes bertepatan dengan


pelayan yang membawakan pesanan es krim mereka. Pelayan itu cepat-cepat


menyajikan es krim di atas meja dan kabur dari sana.


“Aku tidak memerlukan apa-apa. Di rumah, sudah


tersedia semuanya. Jadi kenapa aku harus belanja dengan black card hubby?” kata


Delina polos.


Agnes menepuk keningnya dan mulai memakan es


krimnya sebelum mencair. Keduanya menikmati rasa manis dari es krim itu.


“Bukankah sebelumnya kau tidak suka es krim? Kenapa


sekarang jadi suka?” cecar Delina melihat Agnes hampir menghabiskan es krimnya.


“Aku suka sekali es krim, tapi kalau sampai mamaku


tahu aku memakan es krim, dia akan mengomeliku dari matahari terbit sampai


terbenam dan terbit lagi.”


“Kenapa begitu?” tanya Delina lagi. Ia masih


menggali bagaimana sebenarnya Agnes ini.


“Mamaku tidak mau aku gendut. Dia selalu bilang


kalau aku gendut, nanti Kevin tidak akan mau menikah denganku. What the hell!”

__ADS_1


gerutu Agnes dengan sadis memakan es krim terakhirnya.


“Apa kau mencintai Kevin?”


“Uhuk, uhuk, uhuk!!! Pertanyaan macam apa...


uhuk...!” Agnes tersedak, Delina cepat-cepat memberinya air putih yang selalu


ada di dalam tasnya.


“Tentu saja aku mencintainya...” lanjut Agnes


setelah batuknya reda. Delina berhenti tersenyum.


“Bagaimana kau tidak jatuh cinta pada Kevin?


Tampan, kaya raya, dan juga smart. Kevin itu calon suami idaman, tau.” Kata


Agnes memanas-manasi Delina.


Delina tidak menanggapi Agnes, ada rasa sedikit


tidak nyaman di hatinya mengetahui secara langsung perasaan Agnes pada Kevin.


“Apa kau cemburu? Marah?” tanya Agnes menatap lekat


wajah Delina.


“Kenapa juga aku harus marah? Aku kan sudah jadi


istri sah hubby.” Kata Delina dengan polos.


“Kau ini memang wanita yang aneh.” Kata Agnes


mengulurkan tangannya menarik kerudung yang dipakai Delina.


“Tapi aku maafkan karena kau sangat cantik.” Ujar


Agnes lagi sambil merapikan kerudung yang sempat jatuh dari kepala Delina.


Delina menyendok es krim ke mulutnya lagi. Ia


tersenyum manis pada Agnes yang memujinya barusan. Agnes menatap Delina lagi,


krimnya.


“Tanya apa?” tanya Delina menyendok es krimnya


lagi.


“Apa kau dan Kevin sudah melakukan malam pertama?”


“Uhuk, uhuk, uhuk!!!” giliran Delina yang


terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Agnes yang sangat to the point.


Agnes giliran menepuk punggung Delina sambil


memberikan air putih. Wajah Delina sampai memerah dibuatnya.


“Ach, aku tahu, pasti belum kan? Sudah berapa lama


kalian nikah?” tanya Agnes kepo.


“Sudah 2 bulan, eh 3 bulan ya. Lupa. Jangan


ngomongin itu dech.” Kata Delina setelah batuknya mereda.


Agnes tersenyum jahil, ia akan merencanakan sesuatu


untuk mereka nanti. Tunggu saja tanggal mainnya. Setelah es krim di hadapan


mereka hampir habis, Agnes mengajak Delina masuk ke toko lingeri dan pakaian


dalam.


“Mau apa kita kesini?” tanya Delina sedikit gugup.


Ia menelan salivanya melihat aneka model pakaian dalam dan lingerie yang sangat


seksi.


“Kamu kalau tidur pake pakaian gini juga?” tanya


Agnes sambil menggoyang-goyang kan dress panjang Delina.

__ADS_1


“Iya, aku sudah terbiasa. Memangnya kenapa?” tanya


Delina bingung.


“Harusnya kau pakai itu.” Kata Agnes sambil


menunjukkan lingeri berwarna merah yang terpasang di manequin.


“Aku gak mau. Itu sama saja gak pakai baju. Apa


kata hubby nanti?” kata Delina sambil menggelengkan kepalanya.


“Aku jamin Kevin tidak akan mengatakan apa-apa. Dia


akan bersikap biasa saja.” bohong Agnes dengan wajah serius.


“Apa kau yakin?” tanya Delina ragu.


Ia menyentuh salah satu lingeri yang tergantung di


dekatnya dan mengangkatnya tinggi di depan tubuhnya. Agnes tidak kehilangan


kesempatan mengambil foto Delina dan mengirimkannya pada Kevin, tentu saja dengan


kata-kata memprovokasi ‘coba kau bayangkan kalau Delina memakai lingeri di


balik dress panjangnya’.


Agnes tersenyum lebar melihat chatnya sudah


terkirim ke Kevin. Ia bisa membayangkan reaksi Kevin nanti.


“Tentu saja. Kevin tidak akan bereaksi apa-apa. Aku


sangat kenal sifat Kevin.” bohong Agnes lagi.


”Coba saja kau pakai lingeri itu di depan Kevin.


Kau tidak akan bisa tidur sepanjang malam, bahkan sampai siang pun, Kevin tidak


akan melepaskanmu.” kata Agnes dalam hati sambil ketawa jahil.’


“Bahannya bagus sekali ya. Berapa harganya?” tanya


Delina sambil membolak-balik tag harga yang tergantung di lingeri itu.


“Kau suka? Beli saja. Ayo, kita lihat model yang


lain.” ajak Agnes dengan semangat.


Ia menyodorkan banyak model lingeri pada Delina


yang kebingungan dan akhirnya meminta Agnes memilih beberapa model saja. Agnes


juga menyarankan pada Delina untuk mengganti pakaian dalamnya dengan pakaian


dalam yang tergantung di toko itu.


“Apa tidak terlalu seksi?“tanya Delina sambil


membolak-balik set pakaian dalam di tangannya.


“Memangnya kau mau tunjukkan sama siapa? Kan cuma


kamu yang lihat.” bohong Agnes untuk ketiga kalinya.


“Benar juga ya. Bahannya bagus juga. Aku mau coba


satu dulu.” Kata Delina sambil memilih warna krem.


“Aduh, jangan warna krem. Warna itu tidak bagus.


Coba hitam. Ini yang merah juga bagus. Itu yang biru juga. Ambil semuanya.”


kata Agnes sambil menumpuk pakaian dalam yang sesuai dengan ukuran Delina di


tangan wanita itu.


“Tapi...” cegah Delina.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2