Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 87


__ADS_3

Delina menyelesaikan cemilannya dengan cepat. Alvin


akan segera pulang bersama Amira juga. Benar saja ketika Delina baru menggoreng


tahu isinya, Alvin masuk ke dalam rumah. Ia menatap dingin pada Kevin, “Kevin,


ikut ayah.”


Delina kebingungan melihat Alvin sepertinya sedang


marah. Kevin dan Alvin masuk ke ruang kerja. Delina hanya bisa saling pandang


dengan Sri. Cukup lama Delina menunggu Alvin keluar dari sana. Ia segera


menghidangkan tahu isi ketika Alvin keluar dan langsung duduk di meja bar


sambil memegangi kepalanya.


Delina mencuri pandang melihat ke ruang kerja,


Kevin tidak kunjung keluar dari sana. Ia ingin bertanya pada Alvin tapi tidak


berani ketika melihat wajah murung Alvin. Usai menghabiskan cemilannya dan kopi,


Alvin beranjak ke kamarnya tanpa bicara apa-apa pada Delina.


“Ada apa ya, mbak Sri?”tanya Delina bingung.


“Mungkin ada masalah di kantor, Delina. Sudahlah


jangan dipikirkan.”


Delina memilih masuk ke kamar jahitnya. Ia masih


harus menyelesaikan pekerjaannya menjahit kebaya Amira yang semalam belum


selesai. Saat ia mengambil jarum, jarinya tidak sengaja tertusuk. Setitik darah


keluar dari ujung jari Delina yang tertusuk. Perasaannya tiba-tiba tidak


nyaman, ia keluar lagi mencari Kevin.


Tok, tok, tok. Delina membuka pintu ruang kerja


Alvin. Ruangan itu sepi tidak ada siapapun di dalam sana. Delina mencoba


mencari Kevin ke kamar, tapi tetap tidak ada.


“Kemana, hubby? Apa dia keluar?”Delina turun lagi


ke lantai bawah, ia mencoba melihat keluar, mobil Kevin sudah menghilang dari


tempat parkirnya.


Delina mengambil ponselnya, ia menelpon Kevin tapi


tidak diangkat. Ia mencoba sekali lagi, tapi tetap tidak diangkat. Delina


bersandar pada jendela besar menatap keluar rumah besar itu. Ada sesuatu yang


sedang terjadi dan sepertinya ada hubungannya dengan dirinya.


Delina masuk ke kamar jahitnya, ia membuka lemari


pakaian disana. Tas lamanya yang berisi pakaian lamanya dan buku tabungannya


ada disana. Semua barang-barang lamanya ada disana. Delina membawa tas itu


keluar, suasana rumah itu masih sepi. Ia berjalan keluar rumah besar dan


meminta penjaga membuka gerbang.


Sebelum masuk ke taxi online yang sudah dipesannya,


Delina berbalik menatap rumah besar itu. Penjaga ingin bertanya kemana Delina


akan pergi tapi Delina keburu masuk ke dalam mobil itu. Penjaga melihat arah


mobil itu membawa Delina sebelum menghilang di tikungan.


*****


Agnes baru pulang dari kampusnya, ia langsung duduk


di meja bar sambil celingukan mencari Delina. Biasanya Delina ada di dapur jam


segitu.


“Mbak Sri. Mbak.”panggil Agnes.

__ADS_1


“Ya, non.”saut Sri dari dekat lemari penyimpanan.


“Dimana Delina?”


“Tadi masuk ke kamar jahit, non. Nona mau cemilan?


Hari ini tahu isi.”tawar Sri.


Agnes mengangguk. Ia memakan tahu itu yang


dihidangkan Sri. Setelah habis, Agnes berjalan ke lantai atas sambil


bersenandung. Ia asyik chating dengan Ali yang sedang break habis melakukan


operasi.


Tak lama kemudian, Kevin pulang. Ia langsung


mencari Delina karena melihat missed call dari istrinya itu. Lagipula tadi ia


pergi keluar tanpa pamitan dengan Delina.


“Delina?”panggil Kevin ketika ia sampai di kamar


mereka.


Sepi sekali. Tidak ada tanda-tanda Delina di kamar


itu. Kevin turun ke lantai bawah, ia mencari ke kamar jahit. Tapi Delina tetap


tidak ada.


“Mbak Sri! Mbak!”panggil Kevin mulai cemas.


Sri yang sejak tadi sibuk di belakang,


menghampirinya dengan tergesa-gesa.


“Ya, tuan muda.”jawab Sri.


“Dimana Delina? Dia tidak ada di kamar. Apa dia


pergi?”tanya Kevin.


“Tadi di kamar jahit, tuan muda. Saya tidak lihat


lagi, tadi saya sibuk di belakang.”saut Sri.


Panik, Kevin terus menelpon Delina tanpa henti. Ia juga mengirimkan chat pada


istrinya itu, menanyakan keberadaannya.


Perasaan Kevin jadi tidak karuan karena Delina


menghilang dan tidak menjawab telponnya, ia mengacak rambutnya kesal. ”Kemana


kamu, sayang. Angkat telponnya. Apa terjadi sesuatu? Apa dia tau sesuatu?”


Kevin ketakutan memikirkan Delina sudah mengetahui apa yang terjadi dan memilih


pergi dari rumah.


Kevin berpikir dimana kira-kira Delina berada. ”Dia


tidak pernah keluar dari rumah kecuali ke mall atau supermarket. Kalau ke


kantor ayah, buat apa? Ini sudah jam pulang kantor. Ayah juga sudah pulang. Apa


dia keluar dengan ibu?”


Kevin menelpon Amira yang muncul di belakang Kevin.


“Halo, Vin. Kenapa nelpon?”


“Bu, Delina keluar sama ibu ya?”tanya Kevin yang


tidak sadar ibunya ada dibelakangnya.


“Nggak. Ibu baru pulang nich.”saut Amira.


Kevin balik badan dan menutup telponnya. “Delina


menghilang, bu. Dia gak jawab telponku. Ibu tau gak dia dimana?”


Amira mengkerutkan dahinya, “Apa kalian bertengkar?


Tumben Delina seperti ini.”


“Nggak, bu. Tapi mungkin dia sudah tahu...”

__ADS_1


“Tahu apa?”tanya Amira cepat. Ia belum mengetahui


masalah besar Kevin. Alvin belum memberitahunya karena mereka belum bertemu


hari ini.


“Kevin keluar dulu ya, bu.”saut Kevin cepat. Ia


tidak mau ibunya tahu darinya. Biar ayahnya saja yang memberitahu nanti, itupun


kalau ayahnya mau cerita.


Kevin mengambil kunci mobilnya, ia baru akan


menghidupkan mobilnya ketika Delina muncul dari balik gerbang yang dibuka


penjaga. Delina menyapa penjaga itu sebelum masuk ke dalam halaman. Kevin


keluar dengan cepat dari mobilnya. Ia menghampiri Delina dan langsung


menggendongnya.


“Aihh! Turunin!”pekik Delina kaget. Ia hampir


memukul kepala Kevin kalau tidak melihat siapa yang menggendongnya. “Hubby!!”


“Kamu kemana?!”tanya Kevin sedikit kasar.


Delina menatap Kevin dengan wajah memerah, ia


sangat malu diliatin sopir dan penjaga rumah Kevin main gendong-gendongan dengan


tuan muda itu. Kevin melotot melihat sekeliling, semua orang yang melihat


mereka langsung pura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Kevin membawa Delina masuk ke dalam rumah besar. Ia


tidak peduli dengan Sri dan pelayan yang bengong melihat mereka berdua. Kevin


membawa Delina masuk ke dalam kamar mereka dan mengunci pintunya.


Bruk! Delina terhempas diatas tempat tidur. Kevin


mengukung Delina dengan kedua tangan kekarnya. “Cepat bilang kamu darimana?


Kenapa telponku gak diangkat? Chatku juga gak kamu baca! Kasi jawaban yang


masuk akal atau aku hukum kamu.”


“Aku pulang ke rumahku, hubby. Maaf gak sempat


ngasi tau. Udah lama kan aku gak kesana. Rumahnya kotor penuh debu, jadi aku


bersih-bersih dulu sampai lupa waktu.”jelas Delina.


“Beneran?”tanya Kevin.


“Kalo gak percaya, telpon aja kak Meri. Tadi aku


papasan sama dia waktu balik pulang.”saut Delina.


Kevin mendekatkan wajahnya pada Delina. Ia mengendus


wajah Delina, turun ke bawah, semua bagian tubuh Delina tidak luput dari indra


penciuman Kevin. Kevin membalik tubuh Delina, menarik retsletingnya turun, ia


melepaskan dress panjang yang dikenakan Delina lalu mengulang lagi mengendus


tubuh Delina.


“Hubby ngapain sich? Geli banget!”gelak Delina


kegelian.


“Ngitung tanda cinta.”saut Kevin. “Mau aku tambahin


juga.”


Delina hanya bisa pasrah mengikuti hasrat suaminya.


Mereka bahkan tidak turun untuk makan malam. Amira mengira Delina masih keluar


rumah dan Kevin masih mencarinya.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2