
“Apa ada pizza dengan banyak keju dan daging? Atau
burger dengan daging ayam dan juga keju.”kata Delina mendeskripsikan makanan
yang ingin dimakannya dengan sangat detail sampai Ali juga ikut menelan
liurnya.
“Ada, kak. Semuanya ada. Aku keluar sebentar ya.”kata
Ali.
Delina merasa mual lagi. Tapi ia tidak ingin
muntah. Dilihatnya tempat tidur Ali yang terlihat sangat nyaman. Ia berbaring
perlahan disana.
Ali membuka pintu apartmentnya, ditangannya ada
sekotak besar pizza dan juga kantung berisi burger, kentang goreng, dan float. Matanya
tertuju pada sosok Delina yang terbaring diatas tempat tidur.
“Kak, aku bawa makanannya.”panggil Ali sambil
meletakkan barang bawaannya diatas meja.
Ali mendekati Delina, ia melihat wajah Delina basah
oleh air matanya.
“Kakak ipar...”panggil Ali.
“Hmm... hubby.”
“Kak, ini aku Ali. Kita makan dulu ya.”
Delina membuka matanya, menatap sekeliling
apartment Ali. Ia memejamkan matanya lagi untuk menghilangkan pusing yang
dirasakannya. Tadi ia sempat berpikir kalau ia sedang bermimpi buruk. Kehamilan
Clara hanya sebuah mimpi yang mengerikan baginya.
“Ali, apa kamu punya obat sakit kepala?”tanya
Delina masih memejamkan matanya.
“Ada, kak. Tapi sebelum itu, bisa nggak kakak
bangun dulu. Tolong tampung air kencing kakak di wadah ini.”kata Ali memberikan
botol kecil pada Delina.
Ali membantu Delina berjalan ke kamar mandi.
“Ali, apa ini perlu? Buat apa?”tanya Delina.
“Aku harus melakukan test dulu sebelum memberi
kakak obat yang tepat. Pintunya jangan dikunci ya. Panggil aku kalau kakak
pusing lagi.”
Delina melakukan apa yang diminta Ali. Ia membuka
pintu kamar mandi setelah selesai. Ali membawa botol itu ke atas meja di
samping kamar mandi, ia mengeluarkan sesuatu dari salah satu kantong yang
dibawanya tadi.
“Kakak masih pusing? Makanannya di meja sofa. Bisa
jalan sendiri?”tanya Ali menoleh pada Delina.
Delina mengangguk, ia hanya ingin makan saja, lalu
lanjut tidur lagi. Saat Delina membuka kotak pizza, ia benar-benar tidak bisa
menahan dirinya lagi. Delina makan dengan sangat lahap sampai Ali harus
memberinya air putih karena tersedak.
Ali kembali mendekati meja tempat ia berdiri tadi,
wajahnya mengeras saat melihat hasil testpack yang menunjukkan dua garis merah
yang sangat jelas.
__ADS_1
“Kak, apa kepala kakak masih pusing?”tanya Ali sambil
duduk di depan Delina.
“Masih pusing sedikit. Kamu punya obat?”tanya
Delina.
“Sebaiknya kakak banyak minum air putih dan
istirahat dulu ya. Besok aku carikan obat. Malam ini, aku temenin kakak disini.
Aku tidur di sofa.”kata Ali sambil tersenyum lebar.
Delina hanya mengangguk, ia tidak bisa menolak Ali,
biar bagaimanapun dia hanya menumpang disini. Setelah selesai makan, Delina
membersihkan dirinya di kamar mandi. Ali mengambil foto testpack itu lalu
mengirimkannya pada Alvin.
“Ayah, kakak ipar sedang hamil. Dia sementara ini tinggal
bersamaku.”ketik Ali cepat.
Delina keluar dari kamar mandi ketika Alvin menelpon
Ali. Delina menatap Ali yang belum mengangkat telponnya.
“Siapa yang nelpon, Ali?”
“Ayah, kak.”
Delina berjalan melewati Ali, ia naik ke tempat
tidur, memeluk guling sebelum akhirnya berbaring membelakangi Ali. Ali
mengangkat telpon dari Alvin, ia sengaja berjalan ke balkon apartementnya agar
Delina tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.
“Apa kau yakin, Ali?”tanya Alvin.
“Ayah, tadi di rumah aku liat kakak ipar
muntah-muntah. Dia juga mengeluh pusing. Aku cuma iseng mengetesnya.”jelas Ali.
“Apa dia sudah tahu?”tanya Alvin.
Ali melirik Delina yang sudah tertidur pulas.
“Berikan alamatmu, besok ayah kesana sama ibu.”
Ali mengirimkan lokasinya kepada Alvin. Ia berpesan
agar Alvin berhati-hati, Ali takut Delina stress dan berakibat pada
kandungannya.
Keesokan harinya, Delina terbangun tanpa melihat
Ali di apartment itu. Ia ingin mandi, tapi pintu apartment diketuk seseorang.
Delina beranjak ke pintu depan, ia membukanya sedikit.
“Ya, siapa?”Mata Delina terbelalak melihat Alvin
dan Amira berdiri di depan pintu.
“Boleh kami masuk, Ina?”tanya Alvin.
Air mata Delina menetes melihat kedua mertuanya.
Alvin bergerak masuk, langsung memeluk Delina yang hampir jatuh terduduk.
“Maafkan ayah, Ina. Kamu harus menderita seperti
ini.”kata Alvin menenangkan Delina.
“Kamu udah sarapan, Delina? Ibu bawa makanan nich.
Kita sarapan sama-sama ya.”kata Amira.
Mereka duduk bersama di sofa, Delina kebingungan ketika
Alvin tidak membiarkannya mengambil piring dan sendok. Alvin yang melakukan
semuanya sendiri.
“Ayah, biar aku yang ambil piringnya.”kata Delina.
__ADS_1
“Kamu duduk aja, Delina.”kata Amira tersenyum
melihat suaminya sibuk sendiri. Terlihat jelas rona bahagia di wajah Alvin yang
mengetahui tentang kehamilan Delina.
Mereka sarapan bersama sambil mengobrol ringan.
Delina tidak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya bagaimana keputusan Kevin
akhirnya.
“Ayah, hubby... mereka kapan menikah?”tanya Delina.
Alvin meletakkan piring dan sendoknya di atas meja.
“Kemarin wanita itu melahirkan, Ina. Kami sedang menunggu hasil test DNA. Kalau
memang terbukti bayi itu adalah anak kandung Kevin, mereka...”
“Aku mengerti, ayah.”potong Delina cepat. Sungguh
ia tidak ingin mendengar Kevin akan menikahi wanita lain dari mulut ayah
mertuanya. Sudah cukup apa yang ia pikirkan saat ini.
“Delina, ikut ayah ya. Ayah punya mansion di dekat
kantor ibu. Kamu bisa tinggal disana. Kamu bisa menjahit, memasak, apapun bisa
kamu kerjakan disana. Konsep tokomu bagaimana? Ayah bisa panggilkan design
interior yang paling bagus. Kita buat toko kebaya yang kamu mau. Kita cari
asisten untukmu yang bisa nemenin kamu kemana-mana. Kita cari penjahit lain
yang berpengalaman.”
Delina tersenyum mendengar Alvin terus mengatakan
semua yang ada di pikirannya. Setidaknya ia akan sangat sibuk sampai tidak
punya waktu untuk memikirkan suaminya akan menikahi wanita lain.
Pagi itu juga, Alvin membawa Delina ke mansion yang
ia maksud. Mansion itu sangat mewah dengan fasilitas yang sangat lengkap
sampai-sampai Delina merasa tidak perlu kemana-mana. Entah kapan Amira
menyiapkan semua keperluan menjahitnya di salah satu kamar di samping kamarnya.
Bahkan deretan kebaya milik Amira ada disana juga. Alvin memanggil design
interior untuk merancang konsep toko kebaya yang rencananya akan di buat di
bagian depan lobby kantor Amira. Jarak antara mansion dengan kantor Amira
sangat dekat. Delina bisa berjalan kaki kesana tanpa kelelahan.
Sementara itu, Kevin baru sampai di apartment Ali.
Ia memaksa Ali mengantarnya untuk menemui Delina setelah mendengar dari penjaga
kalau Ali membawa Delina pergi kemarin. Ali membuka pintu apartmentnya dan
Kevin menerobos masuk.
“Delina!”panggil Kevin.
Hening.
Tidak ada siapapun disana. Ali mencari koper Delina
dan ia tidak menemukannya.
“Kak, sepertinya kakak ipar sudah pergi. Tadi aku
dipanggil ke rumah sakit pagi-pagi sekali.”kata Ali merinding melihat tatapan
tajam Kevin padanya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
Visual Delina
__ADS_1
Visual Kevin