Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 93


__ADS_3

“Apa ada pizza dengan banyak keju dan daging? Atau


burger dengan daging ayam dan juga keju.”kata Delina mendeskripsikan makanan


yang ingin dimakannya dengan sangat detail sampai Ali juga ikut menelan


liurnya.


“Ada, kak. Semuanya ada. Aku keluar sebentar ya.”kata


Ali.


Delina merasa mual lagi. Tapi ia tidak ingin


muntah. Dilihatnya tempat tidur Ali yang terlihat sangat nyaman. Ia berbaring


perlahan disana.


Ali membuka pintu apartmentnya, ditangannya ada


sekotak besar pizza dan juga kantung berisi burger, kentang goreng, dan float. Matanya


tertuju pada sosok Delina yang terbaring diatas tempat tidur.


“Kak, aku bawa makanannya.”panggil Ali sambil


meletakkan barang bawaannya diatas meja.


Ali mendekati Delina, ia melihat wajah Delina basah


oleh air matanya.


“Kakak ipar...”panggil Ali.


“Hmm... hubby.”


“Kak, ini aku Ali. Kita makan dulu ya.”


Delina membuka matanya, menatap sekeliling


apartment Ali. Ia memejamkan matanya lagi untuk menghilangkan pusing yang


dirasakannya. Tadi ia sempat berpikir kalau ia sedang bermimpi buruk. Kehamilan


Clara hanya sebuah mimpi yang mengerikan baginya.


“Ali, apa kamu punya obat sakit kepala?”tanya


Delina masih memejamkan matanya.


“Ada, kak. Tapi sebelum itu, bisa nggak kakak


bangun dulu. Tolong tampung air kencing kakak di wadah ini.”kata Ali memberikan


botol kecil pada Delina.


Ali membantu Delina berjalan ke kamar mandi.


“Ali, apa ini perlu? Buat apa?”tanya Delina.


“Aku harus melakukan test dulu sebelum memberi


kakak obat yang tepat. Pintunya jangan dikunci ya. Panggil aku kalau kakak


pusing lagi.”


Delina melakukan apa yang diminta Ali. Ia membuka


pintu kamar mandi setelah selesai. Ali membawa botol itu ke atas meja di


samping kamar mandi, ia mengeluarkan sesuatu dari salah satu kantong yang


dibawanya tadi.


“Kakak masih pusing? Makanannya di meja sofa. Bisa


jalan sendiri?”tanya Ali menoleh pada Delina.


Delina mengangguk, ia hanya ingin makan saja, lalu


lanjut tidur lagi. Saat Delina membuka kotak pizza, ia benar-benar tidak bisa


menahan dirinya lagi. Delina makan dengan sangat lahap sampai Ali harus


memberinya air putih karena tersedak.


Ali kembali mendekati meja tempat ia berdiri tadi,


wajahnya mengeras saat melihat hasil testpack yang menunjukkan dua garis merah


yang sangat jelas.

__ADS_1


“Kak, apa kepala kakak masih pusing?”tanya Ali sambil


duduk di depan Delina.


“Masih pusing sedikit. Kamu punya obat?”tanya


Delina.


“Sebaiknya kakak banyak minum air putih dan


istirahat dulu ya. Besok aku carikan obat. Malam ini, aku temenin kakak disini.


Aku tidur di sofa.”kata Ali sambil tersenyum lebar.


Delina hanya mengangguk, ia tidak bisa menolak Ali,


biar bagaimanapun dia hanya menumpang disini. Setelah selesai makan, Delina


membersihkan dirinya di kamar mandi. Ali mengambil foto testpack itu lalu


mengirimkannya pada Alvin.


“Ayah, kakak ipar sedang hamil. Dia sementara ini tinggal


bersamaku.”ketik Ali cepat.


Delina keluar dari kamar mandi ketika Alvin menelpon


Ali. Delina menatap Ali yang belum mengangkat telponnya.


“Siapa yang nelpon, Ali?”


“Ayah, kak.”


Delina berjalan melewati Ali, ia naik ke tempat


tidur, memeluk guling sebelum akhirnya berbaring membelakangi Ali. Ali


mengangkat telpon dari Alvin, ia sengaja berjalan ke balkon apartementnya agar


Delina tidak bisa mendengar pembicaraan mereka.


“Apa kau yakin, Ali?”tanya Alvin.


“Ayah, tadi di rumah aku liat kakak ipar


muntah-muntah. Dia juga mengeluh pusing. Aku cuma iseng mengetesnya.”jelas Ali.


“Apa dia sudah tahu?”tanya Alvin.


Ali melirik Delina yang sudah tertidur pulas.


“Berikan alamatmu, besok ayah kesana sama ibu.”


Ali mengirimkan lokasinya kepada Alvin. Ia berpesan


agar Alvin berhati-hati, Ali takut Delina stress dan berakibat pada


kandungannya.


Keesokan harinya, Delina terbangun tanpa melihat


Ali di apartment itu. Ia ingin mandi, tapi pintu apartment diketuk seseorang.


Delina beranjak ke pintu depan, ia membukanya sedikit.


“Ya, siapa?”Mata Delina terbelalak melihat Alvin


dan Amira berdiri di depan pintu.


“Boleh kami masuk, Ina?”tanya Alvin.


Air mata Delina menetes melihat kedua mertuanya.


Alvin bergerak masuk, langsung memeluk Delina yang hampir jatuh terduduk.


“Maafkan ayah, Ina. Kamu harus menderita seperti


ini.”kata Alvin menenangkan Delina.


“Kamu udah sarapan, Delina? Ibu bawa makanan nich.


Kita sarapan sama-sama ya.”kata Amira.


Mereka duduk bersama di sofa, Delina kebingungan ketika


Alvin tidak membiarkannya mengambil piring dan sendok. Alvin yang melakukan


semuanya sendiri.


“Ayah, biar aku yang ambil piringnya.”kata Delina.

__ADS_1


“Kamu duduk aja, Delina.”kata Amira tersenyum


melihat suaminya sibuk sendiri. Terlihat jelas rona bahagia di wajah Alvin yang


mengetahui tentang kehamilan Delina.


Mereka sarapan bersama sambil mengobrol ringan.


Delina tidak bisa menghentikan dirinya untuk bertanya bagaimana keputusan Kevin


akhirnya.


“Ayah, hubby... mereka kapan menikah?”tanya Delina.


Alvin meletakkan piring dan sendoknya di atas meja.


“Kemarin wanita itu melahirkan, Ina. Kami sedang menunggu hasil test DNA. Kalau


memang terbukti bayi itu adalah anak kandung Kevin, mereka...”


“Aku mengerti, ayah.”potong Delina cepat. Sungguh


ia tidak ingin mendengar Kevin akan menikahi wanita lain dari mulut ayah


mertuanya. Sudah cukup apa yang ia pikirkan saat ini.


“Delina, ikut ayah ya. Ayah punya mansion di dekat


kantor ibu. Kamu bisa tinggal disana. Kamu bisa menjahit, memasak, apapun bisa


kamu kerjakan disana. Konsep tokomu bagaimana? Ayah bisa panggilkan design


interior yang paling bagus. Kita buat toko kebaya yang kamu mau. Kita cari


asisten untukmu yang bisa nemenin kamu kemana-mana. Kita cari penjahit lain


yang berpengalaman.”


Delina tersenyum mendengar Alvin terus mengatakan


semua yang ada di pikirannya. Setidaknya ia akan sangat sibuk sampai tidak


punya waktu untuk memikirkan suaminya akan menikahi wanita lain.


Pagi itu juga, Alvin membawa Delina ke mansion yang


ia maksud. Mansion itu sangat mewah dengan fasilitas yang sangat lengkap


sampai-sampai Delina merasa tidak perlu kemana-mana. Entah kapan Amira


menyiapkan semua keperluan menjahitnya di salah satu kamar di samping kamarnya.


Bahkan deretan kebaya milik Amira ada disana juga. Alvin memanggil design


interior untuk merancang konsep toko kebaya yang rencananya akan di buat di


bagian depan lobby kantor Amira. Jarak antara mansion dengan kantor Amira


sangat dekat. Delina bisa berjalan kaki kesana tanpa kelelahan.


Sementara itu, Kevin baru sampai di apartment Ali.


Ia memaksa Ali mengantarnya untuk menemui Delina setelah mendengar dari penjaga


kalau Ali membawa Delina pergi kemarin. Ali membuka pintu apartmentnya dan


Kevin menerobos masuk.


“Delina!”panggil Kevin.


Hening.


Tidak ada siapapun disana. Ali mencari koper Delina


dan ia tidak menemukannya.


“Kak, sepertinya kakak ipar sudah pergi. Tadi aku


dipanggil ke rumah sakit pagi-pagi sekali.”kata Ali merinding melihat tatapan


tajam Kevin padanya.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


Visual Delina


__ADS_1


Visual Kevin



__ADS_2