Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 61


__ADS_3

Delina yang malu melihat apa yang dilakukan Ali,


menggelengkan kepalanya agar Ali tidak bertindak terlalu jauh. Sungguh Delina


ikutan panas dingin melihat Ali menyentuh Agnes seperti itu. Ali melepaskan pelukannya


dari Agnes, gadis itu segera menjauh darinya sambil menyilangkan tangannya di


depan dada.


Melihat wajah Agnes yang memerah dengan tatapan


mata galak, membuat Ali ingin menerjang Agnes lagi. Kalau saja Delina tidak ada


disana, sudah bisa dipastikan Agnes akan jatuh ke dalam pelukannya.


“Delina, tolong dong, jauhkan pria mesum ini


dariku. Aarrgg... pergi sana! Jangan mengejarku!” Agnes berteriak ketakutan saat


Ali mulai mengejarnya di dalam kamar itu lagi. “Delina, tolong. Aku sudah


katakan kalau aku bohong. Jujur, aku berbohong. Kevin tidak pernah meniduriku.


Aku mengarangnya.” Agnes hampir menangis saat Aliando hampir menangkapnya lagi.


“Dan tepatnya kenapa kau mengarangnya?” Delina


menahan senyumnya.


“Dia!!! Pria mesum gila yang selalu mengejarku. Aku


mengatakan kebohongan itu agar dia menjauh dariku. Jangan sentuh aku!!” teriak


Agnes galak. Aliando terkekeh saat tangan Agnes hampir diraihnya.


“Delina! Kumohon!” Agnes sudah terpojok di sudut


kamar itu.


“Baiklah. Sudah cukup, Ali.” Delina menekan


kata-katanya.


“Yah, tidak seru sekali. Aku hampir menangkapnya.


Tolong aku, tutup saja pintunya. Okey.” Aliando sudah tersenyum mesum menatap


Agnes.


“Tidak!!” Agnes berteriak pada Aliando.


“Ali! Hentikan sekarang atau kupanggil Kevin.”


ancam Delina.


“Ah, iya baiklah. Pergilah sayang, nanti malam kita


lanjutkan lagi.” Aliando menyeringai pada Agnes yang segera berlari ke pintu


keluar.


“Hmmmppp... Delina, ayo kita shopping.” Agnes


kembali menunjukkan kesongongannya setelah lepas dari Aliando. Ia menatap


Aliando dengan judes, membuat Aliando semakin jatuh cinta padanya.


“Ada apa ini?” Kevin yang mendengar teriakan Agnes


tadi, menghampiri kamar Agnes.


“Temanmu yang gila itu hampir memakanku dan


sekarang aku stress. Bagi kartu. Cepetan!”


Kevin mau tidak mau mengeluarkan kartu hitam dari


balik jasnya. Agnes menyambar kartu itu dan juga tangan Delina.


“Hei, jangan bawa Delina! Agnes!” teriak Kevin,


mengikuti kedua wanita itu.


“Diam disana! Urus temanmu itu. Aku mau shopping


sama Delina. Jangan ganggu!” ketus Agnes pada Kevin.


“Kenapa kau galak sekali?!” Kevin masih mengikuti

__ADS_1


mereka. Ia bingung dengan perubahan sikap Agnes padanya. Apa sepupunya itu


sudah gila.


“Biarin! Week!” Agnes memeletkan lidahnya pada


Kevin. Agnes merasa lega karena dirinya sudah tidak perlu berpura-pura manis


lagi di depan Kevin.


Agnes mendorong Delina masuk ke mobil Agnes,


seorang sopir dengan sigap masuk ke dalam mobil ketika Kevin memberi kode


padanya. Dilihatnya Delina menepuk-nepuk tangan Agnes yang masih cemberut.


“Hubby, aku pergi sebentar ya. Jangan lupa makan.


Dadah.”


Mau tak mau Kevin harus melepas Delina pergi


bersama Agnes. Ia menggaruk kepalanya, bingung sendiri. Tapi ia senang karena


Delina sudah mau memanggilnya hubby lagi. Tapi bagaimana bisa?


Dengan rasa penasaran yang tinggi, Kevin kembali


lagi ke dalam rumah dan melihat Aliando berjalan mendekatinya sambil


bersenandung.


“Ali, apa yang terjadi?” Kevin menahan Aliando yang


sepertinya ingin keluar rumah juga.


“Apalagi, kak. Agnes sudah mengakui kalau dia


berbohong. Kalian tidak penah tidur bersama.”


“Tuch, kan. Aku sudah bilang pasti terjadi


kesalahan. Trus kenapa dia bohong? Mau menghancurkan hubunganku dengan Delina?”


Kevin mencengkeram kaos Aliando.


sana. Dia berbohong karena aku...”


“Apa?! Apa kau sudah tidak waras?” Kevin menjitak


kepala Aliando. Pletak!


“Aooww... Kak, kau kasar sekali pada adikmu ini.


Aku akan kembali ke LA kalau kau terus menyiksaku gini.”


“Sana pergi. Jauh-jauh dari Delinaku.”


“Aku cuma bercanda, kak. Jangan usir aku dong.


Masakan kakak ipar sangat enak. Masa kau tega ABS-ku lenyap begitu saja.” kata


Aliando sambil mengangkat kaosnya, menunjukkan otot perutnya yang sempurna.


“Apa kau gila?!”


“Ya, aku gila. Aku tergila-gila pada Agnes dan aku


akan menikahinya!”


Pletak! Lagi-lagi pukulan mendarat di kepala


Aliando. Ia meringkuk memegangi kepalanya yang sepertinya benjol.


“Kak, kau harus tanggung jawab kalau aku jadi


bodoh.”


“Kau memang sudah bodoh. Memangnya Agnes mau


menikah denganmu?”


“Aku belum tanya. Tapi dia tidak akan menolak pria


tampan, mapan, dan dokter sepertiku.” Aliando meninggikan hidungnya. Kevin


ingin sekali menendang bokong sahabat yang sudah dianggap sebagai adiknya itu.


“Jadi apa alasan Agnes berbohong seperti itu?”

__ADS_1


Kevin masih penasaran rupanya.


“Dia ingin aku berhenti mengejarnya.”


“Dan kenapa kau tidak berhenti mengejarnya?”


“Semua karena cinta... semua karena cinta...” dan


Aliando menjawabnya lewat lagu.


“Dia bahkan setahun lebih tua darimu.” Kata Kevin


sambil menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.


“Aku tidak peduli.” Balas Aliando sambil


menjatuhkan tubuhnya di samping Kevin.


“Apa yang kau suka dari Agnes? Jangan bilang


tubuhnya. Dasar dokter mesum!” kata Kevin sambil mengacak rambut Aliando.


“Itu hanya salah satunya. Aku jatuh cinta setelah


mendengar cerita kakak ipar.”


“Delina cerita apa?”


“Kakak ipar sangat baik. Dia memasak untukku waktu


aku kelaparan. Dia juga menemaniku makan, dan saat itulah Agnes datang. Lewat


di samping kami, tersenyum sekilas pada kakak ipar. Aku langsung tanya itu


siapa.”


“Pelayan. Bawakan popcorn kemari.” Kata Kevin pada


pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka.


“Kenapa kau minta popcorn?” tanya Aliando ketika


pelayan benar-benar membawakan popcorn untuk Kevin.


“Ceritamu akan sangat lama dan membosankan. Aku


harus makan sesuatu atau aku akan tertidur di 5 menit pertama.” Kata Kevin


mengejek Aliando.


“Sialan. Untung saja kau kakakku, kalau tidak...”


“Apa yang mau kau katakan, katakan saja. Surat


pindah tugasmu ke Afrika akan dikirim besok.”


“Ach, sial.” Aliando memukul sofa dengan keras.


“Hei, aku masi mau mendenger ceritamu. Lanjutkan.”


“Aku udah gak mood cerita lagi. Kak, bantu aku, aku


mulai gila gara-gara Agnes nich. Apalagi kalo liat mukanya merah, sambil


melotot. Hot banget.”


Kevin membayangkan wajah Agnes yang merah dengan


mata melotot, jadi tampak seperti setan merah. “Sepertinya kau harus ke dokter


mata. Apa bagusnya wajah merah dengan mata melotot?!”hardik Kevin sambil


memasukkan segenggam penuh popcorn ke mulutnya.


“Ach, bayangkan saja kakak ipar yang berwajah merah


dan mata melotot.”Ali mulai stres bicara dengan Kevin.


Ketika Kevin benar-benar membayangkan wajah Delina,


seringai mesum justru muncul di wajahnya. Ali melempar popcorn ke wajah Kevin


yang terlihat menjijikkan.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2