
Delina yang malu melihat apa yang dilakukan Ali,
menggelengkan kepalanya agar Ali tidak bertindak terlalu jauh. Sungguh Delina
ikutan panas dingin melihat Ali menyentuh Agnes seperti itu. Ali melepaskan pelukannya
dari Agnes, gadis itu segera menjauh darinya sambil menyilangkan tangannya di
depan dada.
Melihat wajah Agnes yang memerah dengan tatapan
mata galak, membuat Ali ingin menerjang Agnes lagi. Kalau saja Delina tidak ada
disana, sudah bisa dipastikan Agnes akan jatuh ke dalam pelukannya.
“Delina, tolong dong, jauhkan pria mesum ini
dariku. Aarrgg... pergi sana! Jangan mengejarku!” Agnes berteriak ketakutan saat
Ali mulai mengejarnya di dalam kamar itu lagi. “Delina, tolong. Aku sudah
katakan kalau aku bohong. Jujur, aku berbohong. Kevin tidak pernah meniduriku.
Aku mengarangnya.” Agnes hampir menangis saat Aliando hampir menangkapnya lagi.
“Dan tepatnya kenapa kau mengarangnya?” Delina
menahan senyumnya.
“Dia!!! Pria mesum gila yang selalu mengejarku. Aku
mengatakan kebohongan itu agar dia menjauh dariku. Jangan sentuh aku!!” teriak
Agnes galak. Aliando terkekeh saat tangan Agnes hampir diraihnya.
“Delina! Kumohon!” Agnes sudah terpojok di sudut
kamar itu.
“Baiklah. Sudah cukup, Ali.” Delina menekan
kata-katanya.
“Yah, tidak seru sekali. Aku hampir menangkapnya.
Tolong aku, tutup saja pintunya. Okey.” Aliando sudah tersenyum mesum menatap
Agnes.
“Tidak!!” Agnes berteriak pada Aliando.
“Ali! Hentikan sekarang atau kupanggil Kevin.”
ancam Delina.
“Ah, iya baiklah. Pergilah sayang, nanti malam kita
lanjutkan lagi.” Aliando menyeringai pada Agnes yang segera berlari ke pintu
keluar.
“Hmmmppp... Delina, ayo kita shopping.” Agnes
kembali menunjukkan kesongongannya setelah lepas dari Aliando. Ia menatap
Aliando dengan judes, membuat Aliando semakin jatuh cinta padanya.
“Ada apa ini?” Kevin yang mendengar teriakan Agnes
tadi, menghampiri kamar Agnes.
“Temanmu yang gila itu hampir memakanku dan
sekarang aku stress. Bagi kartu. Cepetan!”
Kevin mau tidak mau mengeluarkan kartu hitam dari
balik jasnya. Agnes menyambar kartu itu dan juga tangan Delina.
“Hei, jangan bawa Delina! Agnes!” teriak Kevin,
mengikuti kedua wanita itu.
“Diam disana! Urus temanmu itu. Aku mau shopping
sama Delina. Jangan ganggu!” ketus Agnes pada Kevin.
“Kenapa kau galak sekali?!” Kevin masih mengikuti
__ADS_1
mereka. Ia bingung dengan perubahan sikap Agnes padanya. Apa sepupunya itu
sudah gila.
“Biarin! Week!” Agnes memeletkan lidahnya pada
Kevin. Agnes merasa lega karena dirinya sudah tidak perlu berpura-pura manis
lagi di depan Kevin.
Agnes mendorong Delina masuk ke mobil Agnes,
seorang sopir dengan sigap masuk ke dalam mobil ketika Kevin memberi kode
padanya. Dilihatnya Delina menepuk-nepuk tangan Agnes yang masih cemberut.
“Hubby, aku pergi sebentar ya. Jangan lupa makan.
Dadah.”
Mau tak mau Kevin harus melepas Delina pergi
bersama Agnes. Ia menggaruk kepalanya, bingung sendiri. Tapi ia senang karena
Delina sudah mau memanggilnya hubby lagi. Tapi bagaimana bisa?
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Kevin kembali
lagi ke dalam rumah dan melihat Aliando berjalan mendekatinya sambil
bersenandung.
“Ali, apa yang terjadi?” Kevin menahan Aliando yang
sepertinya ingin keluar rumah juga.
“Apalagi, kak. Agnes sudah mengakui kalau dia
berbohong. Kalian tidak penah tidur bersama.”
“Tuch, kan. Aku sudah bilang pasti terjadi
kesalahan. Trus kenapa dia bohong? Mau menghancurkan hubunganku dengan Delina?”
Kevin mencengkeram kaos Aliando.
sana. Dia berbohong karena aku...”
“Apa?! Apa kau sudah tidak waras?” Kevin menjitak
kepala Aliando. Pletak!
“Aooww... Kak, kau kasar sekali pada adikmu ini.
Aku akan kembali ke LA kalau kau terus menyiksaku gini.”
“Sana pergi. Jauh-jauh dari Delinaku.”
“Aku cuma bercanda, kak. Jangan usir aku dong.
Masakan kakak ipar sangat enak. Masa kau tega ABS-ku lenyap begitu saja.” kata
Aliando sambil mengangkat kaosnya, menunjukkan otot perutnya yang sempurna.
“Apa kau gila?!”
“Ya, aku gila. Aku tergila-gila pada Agnes dan aku
akan menikahinya!”
Pletak! Lagi-lagi pukulan mendarat di kepala
Aliando. Ia meringkuk memegangi kepalanya yang sepertinya benjol.
“Kak, kau harus tanggung jawab kalau aku jadi
bodoh.”
“Kau memang sudah bodoh. Memangnya Agnes mau
menikah denganmu?”
“Aku belum tanya. Tapi dia tidak akan menolak pria
tampan, mapan, dan dokter sepertiku.” Aliando meninggikan hidungnya. Kevin
ingin sekali menendang bokong sahabat yang sudah dianggap sebagai adiknya itu.
“Jadi apa alasan Agnes berbohong seperti itu?”
__ADS_1
Kevin masih penasaran rupanya.
“Dia ingin aku berhenti mengejarnya.”
“Dan kenapa kau tidak berhenti mengejarnya?”
“Semua karena cinta... semua karena cinta...” dan
Aliando menjawabnya lewat lagu.
“Dia bahkan setahun lebih tua darimu.” Kata Kevin
sambil menjatuhkan tubuhnya diatas sofa.
“Aku tidak peduli.” Balas Aliando sambil
menjatuhkan tubuhnya di samping Kevin.
“Apa yang kau suka dari Agnes? Jangan bilang
tubuhnya. Dasar dokter mesum!” kata Kevin sambil mengacak rambut Aliando.
“Itu hanya salah satunya. Aku jatuh cinta setelah
mendengar cerita kakak ipar.”
“Delina cerita apa?”
“Kakak ipar sangat baik. Dia memasak untukku waktu
aku kelaparan. Dia juga menemaniku makan, dan saat itulah Agnes datang. Lewat
di samping kami, tersenyum sekilas pada kakak ipar. Aku langsung tanya itu
siapa.”
“Pelayan. Bawakan popcorn kemari.” Kata Kevin pada
pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Kenapa kau minta popcorn?” tanya Aliando ketika
pelayan benar-benar membawakan popcorn untuk Kevin.
“Ceritamu akan sangat lama dan membosankan. Aku
harus makan sesuatu atau aku akan tertidur di 5 menit pertama.” Kata Kevin
mengejek Aliando.
“Sialan. Untung saja kau kakakku, kalau tidak...”
“Apa yang mau kau katakan, katakan saja. Surat
pindah tugasmu ke Afrika akan dikirim besok.”
“Ach, sial.” Aliando memukul sofa dengan keras.
“Hei, aku masi mau mendenger ceritamu. Lanjutkan.”
“Aku udah gak mood cerita lagi. Kak, bantu aku, aku
mulai gila gara-gara Agnes nich. Apalagi kalo liat mukanya merah, sambil
melotot. Hot banget.”
Kevin membayangkan wajah Agnes yang merah dengan
mata melotot, jadi tampak seperti setan merah. “Sepertinya kau harus ke dokter
mata. Apa bagusnya wajah merah dengan mata melotot?!”hardik Kevin sambil
memasukkan segenggam penuh popcorn ke mulutnya.
“Ach, bayangkan saja kakak ipar yang berwajah merah
dan mata melotot.”Ali mulai stres bicara dengan Kevin.
Ketika Kevin benar-benar membayangkan wajah Delina,
seringai mesum justru muncul di wajahnya. Ali melempar popcorn ke wajah Kevin
yang terlihat menjijikkan.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1