Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Menjahit hati


__ADS_3

PH - Menjahit hati


“Baik, Ny. Amira.”kata Delina dengan hormat.


Ny.Amira menarik Agnes keluar dari kamar Delina


karena wanita cantik itu terus saja menatap Delina dengan intens. Delina


berdiri di depan meja besar tempat ia menggelar kertas koran berisi aneka model


kebaya. Ia mengambil satu yang sesuai dengan model kebaya yang dipesan


Ny.Amira.


Delina mengukur pola itu dan menambahkan sedikit


koran lagi untuk melengkapi, sesuai ukuran Ny. Amira. Ia tampak serius dengan


pekerjaannya dan sangat detail. Setelah menyelesaikan pola kebaya, Delina


menggelar bahan kebaya Ny. Amira diatas meja. Ia mengambil buku sketsanya dan


memastikan sekali lagi sebelum mulai memotong bahan itu sesuai pola.


Delina melepas kerudungnya, ia mengikat rambutnya


tinggi diatas karena tidak ingin rambut panjangnya mengganggu dirinya yang


perlu konsentrasi saat memotong bahan. Dirinya tidak menyadari seseorang sedang


menatapnya dari luar kamar.


Kevin menatap Delina yang sedang sibuk bekerja,


Keanu sedang bicara dengan ayahnya dan Kevin minta ijin ingin ke toilet karena


sakit perut. Dasar anak nakal, bukannya ke toilet, dia malah mengintip Delina.


Kevin menatap sosok Delina dengan rambut panjangnya


terikat jauh ke atas. Tengkuk itu, putih mulus dan sangat menggoda Kevin untuk


menciuminya. Delina selesai memotong bahan kebaya Ny.Amira. Ia merapikannya


dengan menggulung bahan kebaya bersama polanya.


Delina merenggangkan tubuhnya sambil berbalik, ia


ingin melihat apa Kevin membutuhkannya. Alangkah terkejutnya Delina saat


tubuhnya menabrak tubuh seseorang yang langsung merangkul pinggangnya.


“Tuan muda!”pekik Delina kaget.


Mata jernihnya melotot kaget menatap mata Kevin


yang sudah menatapnya dengan hasrat membara. Kevin menarik pinggang Delina


hingga tubuh mereka menempel dengan ketat.


“Tuan muda, lepaskan!”ronta Delina sambil


mendorong-dorong lengan Kevin.


Kevin belum mau melepaskan tangannya, ia kembali


mengangkat tubuh Delina, hingga Delina refleks merangkul leher Kevin. Posisi itu


membuat wajah mereka sangat dekat. Kevin mengagumi keindahan lekuk wajah Delina


yang melotot padanya.


”Melotot aja cantik gini. Aku benar-benar ingin


menciumnya.”batin Kevin tergoda.


“Tuan muda, turunin saya.”pinta Delina.


Delina terus meronta dan tidak sengaja memukul dagu

__ADS_1


Kevin. Kevin melepaskan pelukannya, membuat Delina hampir jatuh tersungkur. Delina


beranjak menjauh dari Kevin sambil mengibaskan tangannya yang sakit. Ia


mengambil kerudungnya dengan cepat memakainya menutupi kepalanya.


“Kau berani memukulku!”bentak Kevin sambil mengusap


dagunya.


”Sama sekali gak sakit, tapi aku mendramatisirnya


sedikit untuk mengancamnya.”batin Kevin.


“Tuan muda tidak sopan. Jangan melakukan hal


seperti itu lagi. Atau bagian lainnya yang akan saya pukul!”ancam Delina dengan


berani. Ia sudah mengambil penggaris panjang dari kayu dan menghunus pada


Kevin.


”Dia bisa segalak ini juga ya. Aku masih mau


memeluknya.”


“Tuan muda, silakan keluar dari sini.”usir Delina.


“Kau mengusirku? Ini rumahku, terserah aku mau kemana.”ujar


Kevin seenaknya, tapi ia tidak mendekat pada Delina lagi.


“Buatkan aku kopi lagi, bawa ke kamarku!”perintah


Kevin sambil berjalan keluar dari kamar Delina.


Senyuman mengembang di bibir Kevin, ia berjalan ke


lantai 2. Agnes melihat semua yang Kevin lakukan pada Delina, ia masih belum


mau melepaskan Delina sekarang. Delina hampir keluar dari kamarnya ketika Agnes


“Nona Agnes, ada yang bisa saya bantu?”


Agnes menatap Delina dengan intens. Ia mengulurkan


tangannya menarik kerudung Delina hingga terlepas dari kepalanya. Agnes kembali


menatap Delina, meneliti setiap detail wajah dan memegang rambutnya yang halus.


“Siapa namamu tadi?”tanya Agnes masih menatap


Delina.


“Saya Delina, nona.”jawab Delina sopan.


“Aku sudah lihat semuanya tadi. Apa kau suka sama


Kevin?”tanya Agnes lagi.


“Tidak, nona. Saya masih sadar siapa diri saya.”jawab


Delina tenang.


“Bagus. Ini peringatan untukmu, jangan mencoba


mendekati Kevin. Dia milikku.”ancam Agnes sambil menunjuk wajah Delina.


”Ambil saja, nona. Kalau bisa bawa pergi jauh-jauh


dariku.”batin Delina.


“Baik, nona.”kata Delina sopan.


Agnes berjalan keluar kamar Delina. Delina segera


ke dapur untuk membuat kopi lagi. Ia mengerjakan dengan cepat dan membawa


cangkir kopi ke lantai 2. Lagi-lagi Delina tidak mengetuk pintu kamar Kevin.

__ADS_1


Pria itu menoleh saat pintu kamarnya terbuka sedikit dan Delina masuk


membawakan kopinya.


“Silakan diminum, tuan muda.”kata Delina setelah


meletakkan cangkir kopi di depan Kevin.


Kevin menyesap kopi itu, ia mengeluh pegal di


lehernya dan minta Delina memijat pundaknya. Delina melakukan apa yang diminta


Kevin. Ia berdiri di dekat sofa dan mulai memijat pundak Kevin. Saat Delina


lengah, Kevin menarik tangannya dan Delina jatuh ke pangkuan pria itu.


Kening Delina mengkerut, ia menahan tubuh Kevin


agar tidak mendekat lagi. Saat ia berusaha turun dari tubuh Kevin, lagi-lagi


Kevin mengeluarkan gombalannya.


“Semakin dilihat kamu cantik juga ya. Sudah punya


pacar?”tanya Kevin sambil menahan tubuh Delina tetap di pangkuannya.


“Sudah. Tolong lepas, tuan muda.”jawab Delina asal.


“Putuskan dia. Apa kau sudah tidur dengannya?”tanya


Kevin di telinga Delina


Plak! Tamparan telak mendarat di pipi Kevin. Kevin


tidak merasa sakit sama sekali, Delina mengibaskan tangannya.


”Tubuhnya keras sekali, pipinya juga. Terbuat dari


apa dia? Batu? Tanganku sakit sekali.”


“Tuan muda jangan bicara sembarangan, lepaskan


saya. Tolong jangan kurang ajar.”kata Delina sambil bangun dari pangkuan Kevin.


Ia berjalan mendekati pintu kamar sambil merapikan


kerudungnya. Delina keluar dari kamar Kevin, ia hampir mencapai ujung tangga


ketika Kevin menarik tangannya lagi.


“Kau sudah membuka hatiku dan masuk ke dalamnya.


Sekarang tugasmu menjahit hatiku kembali. Dengan rapi dan tanpa bekas.”kata


Kevin sambil menarik pinggang Delina agar lebih dekat dengannya.


Kevin bisa merasakan tubuh Delina jauh lebih


ramping daripada pakaian yang dikenakannya. Delina refleks mendorong tubuh


Kevin, melepaskan pelukan pria itu dari pinggangnya. Mata Delina melihat


sekitar mereka yang masih saja sepi. Apa tidak ada orang di rumah ini? Kemana


semua pelayan yang biasanya berkeliaran membersihkan sesuatu?


“Kapan akan selesai?”kata Kevin lagi, kali ini


berjalan mendekati Delina lagi. Delina melangkah mundur, memberi jarak aman


baginya dari Kevin.


“Maksud tuan muda?”tanya Delina bingung.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2