
“Dia mabuk.”
“Hah?!”pekik Kevin dan Delina bersamaan. “Kok
bisa?”
“Aku bawa ke kamarnya dulu ya. Nanti kita bicara
lagi.”kata Ali.
Delina dan Kevin membiarkan Ali membopong Agnes ke
kamarnya. Mereka kembali asyik melanjutkan makan sambil mengobrol ringan.
Setelah Kevin menghabiskan sup di mangkuk, Delina membawa mangkuk kotor mereka
dan mencucinya.
Selesai mengeringkan tangannya, Delina menyadari
kehadiran Kevin di belakangnya. “Sayang, ayo kita ke kamar.”bisik Kevin mesra.
Delina belum sempat bicara apa-apa, tubuhnya terasa
melayang saat Kevin mengangkatnya. Tangan Delina refleks merangkul leher Kevin,
“Hubby...”
“Malam ini panggil namaku, sayang. Delina, aku
mencintaimu.”
“Kevin...”bisik Delina. Ia menyembunyikan wajahnya
di leher Kevin.
Kevin membawa Delina naik ke lantai 2, ia meminta
Delina membuka pintu kamar dan menutupnya lagi. Delina langsung mengunci kamar
mereka. Kevin membaringkan Delina diatas ranjang, ia lantas mencium bibir
Delina. Mengulum, menyesap bibir pink Delina yang masih sedikit jontor karena
ulahnya di hotel.
“Tu... tunggu, hubby.”kata Delina mendorong dada Kevin.
“Kayaknya ada yang kelupaan dech.”
Kevin tidak mau mendengar Delina, ia hanya fokus
membuat Delina melayang malam itu. Delina menjambak rambut Kevin, sentuhan
Kevin membuatnya gemetar merasakan nikmat. Kevin tersenyum manis, ia sudah siap
memulai keintiman mereka.
Kali ini tidak akan ada yang bisa mencegah mereka
untuk bersatu. Mau ada ketukan di pintu, suara telpon sekalipun Kevin akan
menulikan telinganya dan membuat Delina hanya fokus padanya. Tok, tok, tok.
Suara ketukan di pintu membuat Kevin kesal.
”Aaarggghhh!!!” Kevin berteriak mengagetkan Delina.
Sejurus kemudian, ia mencium Delina, mengalihkan perhatian Delina dari pintu
kamar yang kembali diketuk seseorang. Dalam hatinya, Kevin mengutuk orang yang
mengetuk pintu kamarnya disaat penting seperti ini agar tidak bisa tidur dua
hari dua malam.
“Aach...Sa...sakit, hiks...”rintih Delina.
“Tahan sebentar, sayang. Delina, aku
mencintaimu.”bisik Kevin.
Kevin mempercepat gerakannya setelah Delina tidak
merintih lagi. Keduanya tenggelam dalam kenikmatan hubungan suami istri untuk
pertama kalinya setelah berminggu-minggu lamanya kehidupan pernikahan mereka.
__ADS_1
Kevin menjatuhkan tubuhnya di samping Delina yang
mulai memejamkan mata. Ditariknya selimut menutupi tubuh mereka berdua. Kevin
masih mengatur nafasnya yang memburu, ia meringis ketika kegagahannya tergesek
selimut.
“Makasih, sayang. Aku merasa sangat terhormat
menjadi yang pertama untukmu. Semoga kamu segera hamil dan memberiku anak-anak
yang lucu.”bisik Kevin di telinga Delina yang sudah tertidur pulas.
Dikamar yang berbeda, Ali kembali masuk setelah
mencoba mengetuk pintu kamar Kevin. Ia ingin minta bantuan Delina untuk
mengganti pakaian Agnes yang kotor dan basah terkena muntahannya. Tapi yang ia
dengar malah suara-suara rintihan Delina dan jeritan Kevin.
Ali menatap Agnes yang sudah tidak sadar, terbaring
diatas ranjangnya. Ali bukannya tidak tergoda dengan tubuh Agnes, tapi ia tidak
pernah mengambil keuntungan dari wanita yang sedang tidak sadar seperti Agnes
saat ini.
“Maaf, Agnes. Aku nggak mau melakukan ini sendiri,
tapi aku harus melakukannya.”
Ali mulai membuka pakaian Agnes sampai tersisa
pakaian dalamnya saja. Ia menelan salivanya melihat tubuh putih mulus di
depannya. Ali memeras handuk kecil di dalam baskom yang sudah ia siapkan dengan
air hangat.
Agnes menggeliat saat tubuhnya dibersihkan Ali
dengan lembut. “Agnes? Kamu sudah bangun?”
tanda merah bekas ciuman di bawah telinga Agnes. “Hais, yang benar saja. Untung
aku ke club itu malam ini. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi sama kamu?”
Ali meletakkan kembali handuk di kursi, ia menyingkirkan
rambut Agnes yang menutupi wajahnya. Ali menatap tubuh Agnes yang terbaring
diatas ranjangnya, belum tertutup selimut.
“Agnes, aku sangat mencintaimu. Tolong lihat aku
sekali saja.”
Ali mendekati wajah Agnes mengecup kening wanita
itu. Ingatannya kembali saat dirinya pergi ke klub malam itu.
...Flash back...
Dentuman musik memekakkan telinga Ali. Ia melihat
ke bar, tempat temannya duduk menunggunya.
“Ali! Sini!” Ali mendekati John duduk di
sampingnya. “Tumben lo mau kesini? Gak tugas lo?”
“Tugaslah, bro. Tapi gue ijin malam ini. Mumpung RS
lagi sepi. Mana cewek lo?”
Ali menerima minuman yang kadar alkoholnya rendah
dari John. John tahu kalau Ali tidak boleh sampai mabuk karena tugasnya sebagai
dokter sangat penting.
“Nggak mungkin gue ajak cewek gue kesini, ntar
dimakan sama kakaknya. Cewek gue itu anak baik-baik. Hehe.”
__ADS_1
Ali menepuk pundak John. “Udah jadi pedofil lo?
Anak? Lo pacaran sama anak kecil?” tanya Ali sambil menegak minumannya.
Mata Ali terarah pada sosok seorang wanita yang
sedang duduk bersama seorang pria. Wanita itu Agnes. Ia tidak hanya bersama
satu pria tapi dua.”
“Heh! Lo gak dengerin gue, bro?”tanya John. “Gue
bilang gue bukan pedofil, ya emang sih cewek gue masih SMA.” John melihat arah
pandangan Ali. “Wih, gila seksi banget tuh cewek. Dapet aja tuh tuan muda,
cewek cantik.”
“Lo kenal kedua cowok itu?”
John mengatakan kalau kedua pria itu termasuk
playboy pemangsa wanita. Sudah banyak korban mereka. Ali menghentakkan gelasnya
diatas meja bar.
“Napa, lo?” Ali membisikkan sesuatu di telinga John.
“Lo yakin? Wah, parah nich. Tunggu gue tau harus gimana, tapi jangan sampe lo
keliatan bawa cewek itu pergi.”
John menghilang dari sisi Ali. Ali masih menatap
Agnes yang sedang dicekoki minuman keras oleh salah satu dari pria yang
bersamanya. John memberik tanda ketika segerombolan wanita cantik menghampiri
kedua tuan muda itu. Merek terlena dengan rayuan wanita penghibur sampai tidak
menyadari Agnes sudah dibawa pergi Ali.
Ali membopong Agnes masuk ke mobilnya. Ia melihat c******
di leher putih Agnes. Tangannya mengepal ingin masuk lagi ke dalam menghajar
dua pria kurang ajar itu, tapi Agnes tidak mau melepaskan jaketnya.
“Tolong aku.”rintih Agnes di telinga Ali.
Akal sehat Ali hampir hilang melihat Agnes yang
sangat menggodanya. Ia ingin membawa Agnes ke apartmentnya, tapi ia teringat
Delina.
“Ach, kakak ipar akan menggantungku kalau kulahap
kau sekarang, Agnes. Duduk diam disitu.”
Ali mengemudikan mobilnya kembali ke rumah Alvin.
....Flask back end...
Ali kembali duduk bersandar di kursi, ia tadi
sempat memanggil Delina untuk membantu Agnes mengganti bajunya, tapi malah
mendengar suara aneh.
“Hais, nasib jomblo sepertiku.”keluh Ali.
Dilihatnya Agnes menggeliat lagi. Selimutnya ia
tendang ke segala arah.
“Kamu nih tidurnya gak bisa diem ya.”
Ali menarik selimut menutupi tubuh Agnes yang cuma
pakai pakaian dalam. Agnes kembali menendang selimutnya.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1