Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Bukan Cinderela


__ADS_3

PH - Bukan Cinderela


“Maksud tuan muda?”tanya Delina bingung.


Ia tahu kalau Kevin akan marah. Kevin tidak suka jika pertanyaannya dijawab dengan pertanyaan juga. Tapi Delina benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Kevin.


“Hatiku kapan selesai dijahit.”goda Kevin sambil mendekat lagi.


*“Sakit jiwa! Apa yang dia pikirkan? Dan dia tidak marah padaku?”maki Delina dalam hati. Sungguh ia tidak ingin mengucapkan kata kasar tapi sikap pria ini padanya memang mulai kurang ajar.*


“Saya tidak bisa melakukan itu, tuan muda. Bagaimana bisa menjahit hati anda?”


“Aku beritahu kapan waktunya selesai,... seumur hidupmu.”bisik Kevin dengan mesra tapi masih bisa di dengar Delina.


Delina berpikir dia harus cepat pergi dari sini atau Kevin akan semakin mendekatinya. Delina melihat ke kanan dan ke kiri, ia mencari celah untuk melarikan diri yang sialnya sudah diperhitungkan Kevin dengan baik. Kevin sudah hafal gelagat Delina yang suka sekali menjauh darinya.


Satu-satunya jalan hanya ke lorong setelah kamar Kevin, Delina belum pernah ke arah sana karena ia hanya fokus ke kamar Kevin, dapur, dan kamarnya sendiri. Tidak, Delina tidak mau mengambil resiko terjebak


di tempat yang tidak ia ketahui.


“Tuan muda, apa tuan lapar? Saya buatkan makanan ya?”tanya Delina mencoba mengalihkan perhatian Kevin.


“Aku gak lapar. Kapan kau mulai?”


“Mulai apa, tuan?”tanya Delina lagi. Sungguh dia gak ngerti apa yang terjadi dengan tuan mudanya ini. Sikapnya mulai aneh dan lain dari biasanya.


Delina beringsut ke sisi kanan Kevin, merapatkan tubuhnya pada lemari yang ada di sudut ruangan sebelum tangga turun. Ia terus bergerak seperti kepiting, sampai Kevin menahannya dengan merentangkan


tangannya di dekat kepala Delina.


“Kamu mau kemana?! Aku belum selesai bicara.”


“Tuan kalau mau bicara bisa jauh sedikit.”kata Delina.


“Kalau aku menjauh, kau kan tidak bisa melihat


wajahku yang tampan.”


“Oh, Tuhan. Kenapa manusia ini sangat percaya


diri?” batin Delina sambil mencari celah melarikan diri.


“Ny. Amira! Selamat siang!” Delina melakukan


pengalihan perhatian, dan Kevin menoleh ke arah tangga.


Sret! Dengan cepat Delina berlari ke sisi kiri


Kevin dan berlari cepat menuju lorong setelah kamar Kevin. Kevin mengejar


Delina, sampai mereka tiba di ujung lorong yang terhubung dengan rumah kaca


milik Ny. Amira.


Delina masuk ke dalam rumah kaca itu, ia mencari


jalan keluar dari sana tapi pintu di sisi lain rumah kaca terkunci dengan baik.


“Delina, kau tidak bisa lari lagi. Cepat kesini


atau rasakan akibatnya nanti.”ancam Kevin lagi.


“Tuan kalau mau bicara, bicara saja. Saya


mendengarkan dari sini!”teriak Delina.


Delina membungkuk, diantara pot-pot bunga mawar


milik Ny. Amira. Ia bergerak sangat pelan sambil mencoba mengintip keberadaan


Kevin. Ketika ia sampai di pintu masuk, Delina tidak melihat Kevin dimanapun.


Menarik nafas lega, Delina berlari keluar dari rumah kaca itu. Sedikit lagi dia


akan sampai ke tangga.


Ceklek! Pintu kamar Kevin terbuka dan Kevin


menangkap Delina yang berlari ke arahnya. Gadis itu tidak sempat mengerem dan

__ADS_1


langsung jatuh ke pelukan Kevin. Kevin menarik Delina masuk ke dalam kamarnya,


sedikit mengangkat Delina yang ringan.


“Tuan muda! Turunkan saya!” teriakan Delina membuat


Kevin membekap mulut gadis itu.


“Bisa diem gak?! Diem atau aku cium.”ancam Kevin.


Delina langsung diam, Kevin memaksa Delina duduk di


sofa. Sementara ia duduk di pinggir tempat tidurnya. Delina merapatkan


kerudungnya yang sempat terlepas tadi, ia harus mendengarkan bosnya itu agar


bisa segera keluar dari sana.


“Tuan muda mau bicara apa lagi?”


“Delina, apa kau tidak bisa merasakannya?


Perasaanku padamu.”jelas Kevin pada Delina.


“Perasaan apa maksud, tuan muda?”tanya Delina,


meski ia bisa merasakannya.


Delina tidak pernah bermimpi disukai oleh orang


kaya dan berharap tidak akan disukai oleh orang kaya. Tidak.


“Delina, aku mencintaimu!”ungkap Kevin


sungguh-sungguh.


“Lalu?”tanya Delina dingin.


Hatinya tidak mengijinkan dirinya terharu dengan


pernyataan cinta Kevin. Orang kaya harus berjodoh dengan orang kaya. Kebanyakan


drama yang ia tonton bercerita tentang pria kaya, CEO tampan, menyukai gadis


1:2.000.000 orang yang hidup di bumi ini.


Dimana-mana, orang kaya akan menikah dengan orang


kaya juga. Pergaulan mereka yang mengharuskan seperti itu. Sedangkan Delina


kebetulan saja menyela diantara mereka hanya karena tuan muda Kevin tergila-gila


dengan kopi buatannya dan Ny. Amira menyukai hasil jahitannya.


“Kau harusnya menjawab pernyataan cintaku dan


bukannya balik bertanya!”ketus Kevin mulai emosi.


“Saya tidak mencintai tuan muda.”sahut Delina


dingin.


Kevin hampir bicara lagi saat Delina dengan berani


mengangkat tangannya untuk menghentikan Kevin.


“Tuan muda sebaiknya mencari pacar yang sama


derajatnya dengan tuan muda. Saya disini hanya bertugas sebagai pelayan tuan


muda sekaligus penjahit untuk Ny. Amira. Waktu pertama kali saya menginjakkan


kaki saya disini sebagai pelayan anda, Ny. Amira sudah mengatakan dengan jelas


mengenai apa yang boleh dan tidak boleh saya lakukan. Jadi saya harap tuan muda


bisa mengerti.”


“Omong kosong! Kau tidak boleh menolakku, Delina.

__ADS_1


Atau...”


“Ancaman anda tidak berguna, tuan muda. Saya


permisi, sebentar lagi Ny. Amira pulang dan saya harus menyerahkan hasil


jahitan saya.”pamit Delina sambil berdiri dan berjalan ke pintu keluar.


Belum sampai ke pintu kamar, Delina merasakan


tubuhnya dipeluk dari belakang. Kevin membenamkan wajahnya ke tengkuk Delina


yang tertutup kerudung. Delina bisa merasakan hembusan nafas Kevin menerpa


kerudungnya.


“Bisakan kau pikirkan lagi? Cintaku...”


“Tuan, saya mau hidup yang nyata. Kenyataannya saya


orang miskin yang mencoba bekerja pada keluarga anda untuk bisa mencukupi


kebutuhan saya setiap bulan. Kelakuan anda ini hanya akan membuat saya dihina


dan dituduh menggoda tuan muda.”cerca Delina.


Delina mencoba melepas pelukan Kevin dan Kevin melepaskan


pelukannya, Delina berjalan cepat keluar dari kamar Kevin dan menuruni tangga.


Ia tersenyum menyapa pelayan yang bertugas membersihkan rumah. Delina pergi ke


dapur untuk meminum air, ia sangat lelah setelah berlarian menghindari Kevin.


*****


Seharian itu, Kevin tidak lagi memanggil Delina. Delina


tetap sibuk menyelesaikan kebaya Ny. Amira. Ia menghabiskan waktunya seharian


di dalam kamar sampai kebaya terbaru Ny.Amira benar-benar selesai dengan


sempurna.


Delina duduk di kursinya, ia menggantung kebaya Ny.


Amira di pegangan lemari dan mengambil buku sketsanya. Delina memejamkan


matanya, sekilas ia melihat wajah Kevin lewat dalam bayangannya. Delina


meletakkan buku sketsanya, ia memasukkan kebaya Ny.Amira ke dalam lemari dan


keluar dari kamarnya.


Saat itu Delina baru sadar kalau itu sudah jam 8


malam. Keluarga Kevin sedang duduk di ruang makan untuk makan malam. Delina


melihat Sri berdiri di dekat meja makan, tersenyum padanya. Alvin menyeka


bibirnya, Sri langsung bergerak mendekati majikannya. Alvin menatap Delina yang


berdiri di dekat meja makan.


“Ina, tolong buatkan kopi ya.”pinta Alvin.


“Baik, tuan besar.”kata Delina.


Ia bahkan tidak menawari Kevin yang menghabiskan


air minumnya.


“Pah, Kevin mau keluar sebentar.”pamit Kevin pada


Alvin.


“Mau kemana kamu?!”tanya Alvin galak.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2