Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Playboy kaya


__ADS_3

PH - Playboy kaya


Meri manggut-manggut.


*****


Kevin memang sedang jalan-jalan di mal, ia


menyerahkan tugas membeli HP baru pada asistennya, Keanu. Kevin melambaikan


tangan pada sosok wanita cantik dan seksi yang melambaikan tangan padanya,


“Kevin!” seru wanita itu.


“Hai, babe.” Sapa Kevin. Ia bahkan lupa dengan nama


wanita di depannya itu. Keduanya cipika-cipiki sebelum saling memeluk.


Kevin selalu memanggil wanita yang ia ajak


berkencan dengan panggilan sayang atau babe. Dan herannya para wanita teman


kencannya tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka lebih tertarik dengan black


card yang dimiliki Kevin.


“Kevin, hari ini temani aku belanja gaun baru.


Temanku mengadakan pesta besok. Kau kan sudah janji.” Manja wanita itu pada


Kevin sambil menempelkan dadanya yang over size ke lengan Kevin.


“Aku gak bisa datang. Biasa, aku sibuk.”


“Gak pa-pa, yang penting temenin aku belanja ya.


Sekalian bantuin aku nyoba gaunnya.” Tawar wanita itu yang tentu saja tidak


akan ditolak Kevin.


Mereka masuk ke salah satu toko pakaian dengan merk


terkenal di dunia. Kevin langsung duduk di sofa yang tersedia disana, sementara


wanita itu berkeliling toko dan menunjuk beberapa gaun yang cocok dengan


dirinya. Dan menyuruh pelayan toko membawa semua gaun itu ke kamar ganti.


Kevin yang sedang men-scroll sosial medianya,


tiba-tiba di tarik wanita itu ke dalam kamar ganti. Dengan genitnya wanita itu


melepas dress yang dipakainya tanpa malu-malu. Ia membiarkan Kevin menatap


tubuhnya yang hanya berbalut bikini yang sangat mini. Ia mengambil gaun yang


tergantung di kamar ganti, dan langsung memakainya. Kevin hanya menatap tubuh


wanita itu tanpa melakukan apa-apa.


“Bantuin dong, Vin. Jangan diliatin aja.” Pinta


wanita itu sambil menunjuk retsleting di belakang gaunnya. Kevin menarik


retsleting itu menutup. Wanita seksi itu berbalik, membusungkan dadanya ke arah


Kevin.


“Gimana?” tanya wanita itu sambil berpose seksi


dihadapan Kevin.


“Bagus. Coba yang lain.” Jawab Kevin sambil


membalik tubuh wanita itu dan menurunkan retsletingnya.


“Kau sangat nakal.” Goda wanita itu sambil melepas


gaun dan menggantinya dengan gaun kedua.


Gaun kedua yang dipilihnya benar-benar kekurangan


bahan. Belahan dada, sebagian pinggang, dan belahan paha yang tinggi. Kevin


melihat tali bikini di pinggang wanita itu dan mengkerutkan keningnya.

__ADS_1


“Sayang, kalau aku pakai gaun ini, tentu saja ini


akan kulepas.” Bisik wanita itu sambil melepas sebelah tali bikininya.


Seperti mengerti apa yang Kevin pikirkan. Kevin


menatap penuh minat pada apa yang ada dibalik gaun kekurangan bahan itu. Ia


menatap tubuh wanita di depannya dari atas sampai bawah.



“Kenapa, Vin? Gak bagus ya?”


“Kayak ada yang kurang, apa gitu.” Kata Kevin masih


menatap gaun itu.


“Coba aku lepas bikininya dulu.”


Kevin senyum-senyum melihat wanita itu melepas


bikininya tapi masih memakai gaun itu. Kevin meminta wanita itu berputar, dan


mengamati lagi. Kemudian Kevin menggeleng,


“Gak bagus. Ganti lagi.” Pinta Kevin dengan nada


serius.


“Kalo gitu merem dong. Aku mau pakai bikiniku


lagi.”


“Ya, cepetan ganti.”


Kevin memejamkan matanya, tapi ia tetap bisa


melihat tubuh polos wanita itu dari sudut matanya. Dasar Kevin sudah playboy,


cabul pula. Tapi melihat wanita di depannya bugil tanpa rasa malu, membuat


Kevin ilfeel. Ia sudah terbiasa menemani wanita-wanita yang ia kencani membeli


baju dan selalu begini akhirnya.


Kevin. Dia mulai bosan dengan rutinitas ini. Wanita-wanita yang mengejarnya


rata-rata tidak punya rasa malu. Kalaupun ada yang sok jual mahal,


ujung-ujungnya tunduk juga setelah Kevin mengeluarkan black card-nya.


“Kevin. Kamu nglamun ya. Kenapa sih?” tanya wanita


itu sambil merangkul Kevin. Kevin hanya diam menatap wanita itu.


“Apa kamu mau ini?” tanya wanita itu sambil


mengarahkan tangannya ke bawah perut Kevin.


Kevin menaikkan alisnya, ia tersenyum smirk, membiarkan


wanita itu melakukan apa yang ia mau sampai Kevin benar-benar puas.


“Kau memang pintar, babe.” Kata Kevin sambil


mengelus kepala wanita itu.


Wanita itu mengusap bibirnya yang basah dan


merangkul Kevin lagi. Menempelkan dadanya ke dada Kevin.


“Jangan nglamun lagi dong. Bantu aku pilih


gaunnya.”


“Ambil semua yang kau suka. Waktuku tak banyak.”


“Aoww... Makasih, Kevin. Mau lagi?”


Kevin mengangguk dan wanita itu beraksi sekali


lagi. Keduanya keluar dari kamar ganti setelah permainan mereka selasai. Kevin


membayar belanjaan wanita itu dan mereka berpisah di tempat parkir.

__ADS_1


*****


Delina sampai di rumahnya kembali, ia segera mandi


dan mengganti pakaiannya yang kotor karena terciprat lumpur tadi. Sebuah mobil


mewah lewat di sebelahnya saat ia baru saja keluar dari kantor Ny. Amira. Mobil


itu tidak melihat genangan air di depannya dan langsung tancap gas menyipratkan


lumpur ke pakaian Delina.


Untung saja ada bapak ojek yang kebetulan lewat,


menawari Delina menumpang motornya untuk pulang ke rumah. Delina bahkan tidak


memaki atau berteriak pada pengendara mobil itu. Ia hanya geleng-geleng kepala


sambil melihat pakaiannya yang kotor.


Setelah selesai mandi, Delina mengeluarkan kebaya


Ny. Amira dengan hati-hati dan menggelarnya di atas meja besar yang biasa ia


gunakan untuk membuat pola kebaya. Delina mengeluarkan kotak berisi banyak


benang aneka warna. Ia memilih yang paling sesuai dengan warna kebaya itu dan


memasangnya ke mesin jahit kesayangannya.


Delina mulai menjahit badan kebaya sampai selesai


dan rapi. Ia ingin melanjutkan pekerjaannya pada bagian depan kebaya itu, tapi


perutnya mulai berbunyi minta diisi. Delina melirik jam di dinding, sudah jam 8


malam. Pantas saja perutnya lapar.


Delina meletakkan kembali kebaya itu di atas meja,


ia merenggangkan tubuhnya dan melangkah ke dapur. Delina mengambil sedikit nasi


yang tersisa dan juga lauk tadi siang. Ia hanya memasak sedikit karena tinggal


sendirian. Sambil makan ia memikirkan kata-kata Ny. Amira tentang kebaya yang


diinginkannya.



Elegan dan simple. Delina mengingat semua model


kebaya yang terdapat di foto di ruang kerja Ny. Amira. Semuanya kebaya yang


simple dan yang membuatnya terlihat elegan adalah sosok Ny. Amira. Delina


mengambil buku sketsanya. Ia mulai menggambar dua sketsa mentah kebaya yang


menurutnya simple dan elegan.


Sambil tetap makan, Delina menyelesaikan gambarnya


dan tersenyum melihat hasilnya. Mungkin Ny. Amira akan menyukai desainnya yang


ini dan memintanya menjahit kebaya lagi. Sungguh, Delina sangat suka menjahit


kebaya dengan model yang lain dari pada biasanya. Ia kebanyakan mendapat


pesanan kebaya dengan model standar dan merasa kalau terus seperti ini, Delina


tidak bisa mengembangkan bakatnya dalam desain kebaya.


Delina berharap pertemuannya dengan Ny. Amira akan


bisa merubah sedikit saja kehidupannya. Selain mendapatkan penghasilan yang


lebih besar, ia bisa melihat sketsanya benar-benar menjadi nyata. Delina


tersenyum tanpa tahu harapannya itu mungkin bisa menjadi kepedihannya di masa


yang akan datang.


*****


Habis baca jangan lupa like, vote, kalo gak komen juga

__ADS_1


gak papa. Just say lanjut thor... hihi... Cek juga profil author ya. Ada yang


up jg di novel sebelah. Dan jangan lupa tinggalkan jejakmu.


__ADS_2