
“Agnes!”panggil Ali berusaha mengejar Agnes.
Tapi Agnes tetap saja berlari ke atas. Ali masih
mengejarnya sampai mereka menghilang di balik tangga.
“Bantu jelasin sana.”kata Kevin mendorong-dorong
Riana agar mengikuti Ali.
“Iya, iya. Sabar napa. Om Al, punya temen duda gak?
Tapi yang kaya gitu.”kata Riana sibuk meloby Alvin.
“Ada, tapi umurnya udah diatas enampuluh tahun. Mau?”tanya
Alvin menyesap kopi buatan Delina.
“Ganteng gak, om?”tanya Riana semangat.
“Lumayanlah.”saut Alvin.
“Woi! Bantuin dulu Ali tuch. Malah ngrayu ayahku.
Pergi sana!”ketus Kevin gak sabaran.
Riana mencibirkan bibirnya ke arah Kevin sebelum
menyusul Ali ke lantai atas. Delina masih sibuk melayani Alvin makan dimsum
lagi. Ia mengangkat dimsum gelombang kedua yang sudah matang dari dalam
kukusan. Dipisahkannya beberapa potong dimsum untuk Agnes nanti.
“Yank, aku mau dong dimsum-nya lagi. Laper nich.”pinta
Kevin.
“Hubby bukannya udah makan tadi?”tanya Delina.
“Gimana bisa makan liat kamu tiba-tiba dateng trus
tiba-tiba pergi gitu aja. Gak mau denger penjelasanku dulu.”kata Kevin.
“Siapa suruh bukannya makan masakan istri, malah
suap-suapan sama wanita lain.”balas Delina.
Alvin cuma nengok kanan kiri ngliatin Delina dan
Kevin sibuk debat.
“Dia temen, bukan wanita lain. Itu beda.”saut
Kevin.
“Ya, beda. Tapi tetep aja wanita lain selain istri.”
“Kamu cemburu ya?”tanya Kevin girang.
Alvin melempar napkin kena kepala Kevin, “Istrimu
cemburu malah girang. Udah gila ya. Tidur di luar baru kapok. Jangan debat
lagi, kamu gak akan menang lawan wanita.”
Kevin langsung mendekati Delina, sibuk merayu
istrinya itu seperti anak anjing yang terus mengggonggong.
Sementara itu di lantai atas, di depan kamar Agnes.
Agnes sedang mendorong pintu kamarnya agar menutup sementara Ali masih menahannya.
“Agnes, aku mau bicara sebentar. Kamu harus dengerin penjelasanku dulu.”
“Gak perlu. Aku capek. Pergi sana!”bentak Agnes.
Ali mendorong pintu lebih keras, Agnes sampai
terdorong hampir jatuh. Dengan wajah cemberut Agnes berdiri di hadapan Ali
sambil berkacak pinggang. “Cepetan
ngomong. Aku sibuk.”
“Wanita yang kamu liat tadi itu Riana. Masih inget
gak?”
“Nggak. Jangan banyak boong dech. Kalau kamu dah
bosen sama aku, ngomong. Aku bukan perempuan murahan. Habis kamu pegang-pegang
trus bisa dibuang gitu aja.”kata Agnes judes.
“Apa maksudmu?”tanya Ali.
Agnes menarik nafasnya, “Denger, Ali. Kalau kamu
__ADS_1
gak serius sama aku, mending kamu berhenti ngejar aku. Cari wanita lain yang
bisa kamu mainin sesuka kamu.”
“Maksudmu aku gak serius sama kamu?!”lengking Ali.
Agnes menelan salivanya mendengar teriakan Ali. Ia
beringsut mundur, menjaga jarak dari Ali. Riana yang baru sampai di depan kamar
Agnes, mencoba untuk masuk tapi Ali menutup pintunya perlahan sambil menatapnya
dengan ekspresi wajah yang mengerikan.
“Ali, aku gak jadi jelasin nich?”tanya Riana tapi
Ali tidak menggubrisnya. “Jangan kasar-kasar ya.”kata Riana sambil mengangkat
pundaknya. Ia berjalan kembali ke lantai bawah. Riana ingin merayu Alvin untuk
mendapatkan no telpon duda mapan yang kaya dan ganteng.
Didalam kamar Agnes, wanita itu mulai berjalan
mundur ketika melihat Ali mendekatinya.
“Ali, jangan mendekat. Ali, aku serius! Berhenti
disana! Kenapa kamu buka bajumu?!”pekik Agnes panik. Ia tidak melihat karpet
dibawahnya, Agnes jatuh tersandung diatas karpet tebal di samping ranjangnya. Bruk!
Agnes memegangi pinggangnya yang sakit, ia menatap ngeri pada Ali yang sudah
membuka pakaiannya.
“Aduch!”pekik Agnes kesakitan. Ali merangsek ke
atas tubuh Agnes. “Ali, jangan. Kamu mau apa? Aku gak kuat kalo kamu maksa. Aku
gak mau, Ali.”melas Agnes. Agnes memalingkan wajahnya saat Ali merobek pakaiannya
hingga terbuka. Bret! Bret!
“Apa kamu mau aku nunjukin seberapa seriusnya aku
sama kamu?”tanya Ali di telinga Agnes. Agnes menggeleng, ia mulai terisak saat
dirasakannya wajah Ali semakin mendekat padanya.
“Jangan...”lirih Agnes dengan suara tercekat.
“Aku mencintaimu, Agnes. Lihat aku. Hei, lihat aku.
Perlahan Agnes menolehkan kepalanya menatap Ali
dengan wajah merah merona. Tangannya berusaha menutupi dadanya.
“Aku mencintaimu, Agnes.”ucap Ali sungguh-sungguh. “Aku
akan berjuang meminta restu dari mamamu.”
“Kamu... gak bohong?”ucap Agnes gugup.
“Kamu gak bisa merasakannya? Jantungku berdetak
sangat kencang sekarang.” Ali menarik Agnes agar mereka duduk berhadapan. “Agnes,
jadi pacarku ya?”
“Aku gak mau.”saut Agnes cepat. Wanita itu mengusap
air matanya lalu beranjak mendekati lemarinya. Ia membuang pakaiannya yang
robek ke lantai dan menggantinya dengan kaos yang nyaman. “Kamu ngapain sich
pake ngrobek bajuku? Ganti gak?”kata Agnes kembali galak.
Ali menarik tangan Agnes lagi, menjatuhkan wanita
itu ke dalam pelukannya. “Kamu galak banget sich. Aku kan jadi pengen...”
“Apa?! Pengen apa?”tanya Agnes sambil mencubiti
lengan Ali sampe merah-merah.
“Addoowww!! Sakit, Nes. Ampun. Jangan cubit lagi.
Serius, sakit nich.”rintih Ali.
Mereka berpelukan hingga Agnes bisa mendengar detak
jantung Ali yang berdebar kencang. Agnes tersenyum malu, ia membenamkan
wajahnya yang merona ke dada Ali.
“Kamu malu ya.”ucap Ali.
“Ali, jangan mainin aku ya. Aku gak mau sakit hati.”kata
__ADS_1
Agnes.
“Iya, sayang. Kita pacaran sekarang?”tanya Ali
lagi. Agnes akhirnya mengangguk, Ali menjerit kegirangan. Ia kembali memeluk
Agnes sampai wanita itu hampir kehabisan nafas.
“Ali , lepasin. Keluar sana. Aku mau mandi.”usir
Agnes.
“Mandi aja. Anggap aku gak ada disini.”saut Ali.
Agnes yang mulai kesal lagi, bangkit berdiri
menarik Ali yang kembali memakai pakaiannya. Saat Agnes membuka pintu kamarnya,
Delina sudah berdiri di depan sana membawa kotak makanan. Agnes menunduk tidak berani
menatap Delina. Ali berdiri di samping Agnes, ia berjalan keluar kamar Agnes
lalu masuk ke kamarnya sendiri.
Agnes membuka pintu lebih lebar untuk Delina yang
langsung masuk ke kamarnya. “Ini dimsummu. Makanlah. Aku keluar dulu.”
“Delina, tunggu. Yang tadi cuma salah paham. Wanita
itu Riana, teman kecil Ali dan Kevin.”
“Aku tahu. Istirahatlah.”saut Delina. “Apa kalian
sudah pacaran?”tanya Delina menghentikan langkahnya.
“Iya. Tolong jangan kasi tahu Kevin.”pinta Agnes.
“Kenapa? Bukannya itu berita bagus.”
“Aku gak mau hubungan kami diketahui banyak orang
dulu. Nanti mamaku bisa ngamuk kalau sampai tau.”jelas Agnes.
Delina mengangguk dan berkata tidak akan
mengatakannya pada siapapun. Ia keluar dari kamar Agnes lalu masuk ke kamarnya
dan Kevin.
*****
Saat makan malam, Agnes tidak melihat Ali. Tapi ia
tidak bingung mencarinya karena Ali sudah mengiriminya chat kalau rumah sakit
menelpon karena ada operasi darurat. Agnes bisa menikmati makan malam dengan
tenang.
Amira mengatakan pada Delina untuk menyelesaikan
syal hadiah nenek. Mereka harus membungkusnya dengan rapi hingga terlihat
cantik saat memberikannya pada nenek Indri nanti. Delina beranjak ke kamar
jahit untuk mengambil syal yang sudah diselesaikannya.
Delina memberikan tiga syal dengan warna soft yang
dihiasi bordiran bunga yang cantik. Sekilas mirip dengan kain tipis yang selalu
tersampir di kepala Delina.
“Wah, jadinya bagus sekali ya. Baru jadi 3 ya.
Sepertinya ini cukup. Ibu akan taruh didalam kotak yang cantik. Waktu nenek
Indri melihat hadiah darimu ini, nenek pasti akan sangat senang.”puji Amira.
“Apa kita perlu menyiapkan hadiah yang lain, bu?”tanya
Delina.
“Tidak, tidak. Tahun ini hadiahnya harus lebih
tulus. Kalau mau beli hadiah yang mahal, kita bisa beli di mall. Tapi kalau
bikin sendiri, pasti tidak ada yang bisa. Hadiahmu ini akan jadi yang paling
disukai nenek. Ibu yakin itu.”kata Amira.
Kevin menatap Delina yang tersenyum senang. Ia
berharap hadiah yang dibuat Delina akan benar-benar membuat Delina diterima
sebagai menantu di rumah ini.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.