Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 72


__ADS_3

“Oh, iya! Aku lupa semalem ngecek nona Agnes. Mana


dia, Ali?”tanya Delina.


“Tadi masih di kamar mandi.”jawab Ali mendahului


mereka menuruni tangga.


“Kamu gak macem-macem kan?”selidik Delina.


“Aku kan anak baik, kakak ipar. Aku cuma bantu dia


lepas bajunya.”


Kevin dan Delina mendelik menatap Ali, “Eits,


jangan salah paham. Semalem aku gedor-gedor pintu kamar kakak, bukannya


dibukain pintu malah aku dengar suara jeritan kakak. Kalian kemarin malam


ngapain? Hayo, jujur. Kalo boong, aku kutuk gak bisa main dua hari.”


”Jadi dia yang gedor pintu semalem, coba aku liat


nanti kutukanku manjur gak. Eh, malah ngutuk balik, anak setan.”


“Kami bercinta. Masalah buatmu? Kami kan sudah


suami istri, sah saja kan!”ketus Kevin kesal. Delina hanya bisa menunduk malu


mendengar kata-kata Kevin.


“Aku tau, kak. Tapi pelan sedikit, kakak gak kasian


liat kakak ipar jalannya sambil meringis gitu.”kata Ali melirik cara jalan


Delina. “Perlu aku kasi resep salep yang manjur, kak?”


Kevin langsung menggendong Delina menuruni tangga


sampai ke meja makan. “Hubby,turunin aku. Malu diliatin mbak Sri.”


“Gak ada yang liat. Masih sakit ya?”


Delina tidak menjawab, ia terlalu malu pada Sri dan


Ali yang sudah bergabung di meja makan. Sri menghidangkan sarapan untuk mereka


bertiga dengan senyum mengembang di bibirnya. Melihat sikap malu-malu Delina


dan wajah Kevin yang sumringah, sepertinya mereka sudah melalui malam pertama


mereka.


“Hoaaahheemm...”Ali menguap lebar, ia merenggangkan


tubuhnya yang terasa pegal. Delina sudah beranjak ke dapur untuk membuat


cemilan yang akan ia bawa ke kantor Alvin. Kevin tampak sedang bicara di telpon


dengan Keanu, mereka akan meeting jam 11, jadi Kevin bisa menunggu Delina dan


berangkat bersama nanti.


Sri baru kembali dari lantai 2, setelah mengantar


makanan untuk Agnes, “Mbak Sri, Agnes gimana?”tanya Ali.


“Gimana maksud tuan? Tadi baik-baik aja saya


liat.”kata Sri bingung.


“Apa dia nanyain saya?”


Sri menggeleng sambil senyum-senyum gaje. Jelas


sekali tadi Agnes langsung menanyakan keberadaan Ali saat Sri sedang meletakkan


makanan diatas meja kamarnya. Tapi Agnes mengancam Sri agar tidak memberitahu


Ali kalau ia menanyakan pria itu setelah Sri menjawab kalau Ali masih sarapan.


”Kedua tuan muda ini sedang jatuh cinta dan


sepertinya para wanitanya juga mulai jatuh cinta. Aku tidak sabar menunggu


kehadiran tuan muda kecil dan pernikahan lagi.”

__ADS_1


Sri berjalan kembali ke dapur sambil bersenandung


kecil. Delina tersenyum melihatnya, “Mbak Sri lagi seneng ya? Tumben


nyanyi-nyanyi gitu.”goda Delina.


“Iya, Delina. Mungkin sebentar lagi akan terdengar


tangisan bayi di rumah ini.”celetuk Sri terus terang.


Wajah Delina semburat memerah, ia jadi gugup


mendengar harapan Sri. Bagaimanapun semalam, dirinya dan Kevin sudah melalui


malam pertama pernikahan mereka. Siapa yang tahu Delina akan segera hamil atau


belum.


Ali ingin tidur setelah sarapan, tapi suara


ponselnya mengingatkannya kalau ia harus segera kembali ke RS. “Hais,


menyebalkan sekali. Aku mau tidur!”teriak Ali pada ponselnya yang tidak bersalah.


Senyum menyembang dibibir Kevin, kutukannya mulai


bekerja nich.


”Siapa suruh ganggu kamar pengantin baru


malam-malam. Rasakan.”


Ali beranjak dari duduknya, “Mau kemana kamu?”tanya


Kevin.


“Balik ke RS, kak. Aku harus visit pasien, padahal


ngantuk banget. Semalam aku gak bisa tidur, Agnes tuch tidurnya gak bisa diem.”


Ali terdiam, ia menatap Kevin, nyengir lebar, “Aku pergi dulu, kak. Bye.”


Kevin tersenyum geli melihat reaksi Ali yang


keceplosan sendiri. Ia tahu kalau Ali menyukai Agnes dan karakter Ali yang


terjadi apa-apa diantara mereka.


Delina sudah menyelesaikan cemilan untuk Alvin, ia


menghampiri Kevin yang masih menunggu di meja makan. “Sudah selesai?”tanya


Kevin.


“Iya, hubby. Dimana Ali?”


“Dia sudah berangkat ke RS. Kenapa kamu tanya-tanya


dia? Aku ada disini, tanya aku.”


Delina mengkerutkan keningnya, “Aku harus tanya


apa, hubby?”


“Tanyakan keadaanku?”


“Apa kau baik-baik saja?”tanya Delina bingung,


apalagi mau suaminya ini.


“Aku lapar, mau susu...”lirih Kevin tiba-tiba


memasang wajah sedih.


Delina hampir berbalik ke dapur, ia ingin mengambil


susu untuk Kevin, tapi Kevin menarik tangannya dengan cepat hingga Delina jatuh


di pangkuannya.


“Bukan susu yang itu, tapi yang ini.”tunjuk Kevin


dengan dagunya.


Delina refleks menutup dadanya, “Iih, hubby.


Lepasin, ntar diliat yang lain.”

__ADS_1


Kevin tidak peduli, padahal pelayan rumah saat itu


sedang bersiap membersihkan rumah. Mereka mengintip dari balik pintu dapur


sambil berbisik-bisik. Sri juga ikutan mengintip kedua pasangan pengantin baru


itu. Wajah mereka merona saat melihat Kevin mencium Delina tanpa peduli


sekitarnya.


“Hubby, nanti telat... ke kantor.”lirih Delina.


Kevin menghentikan ciumannya tapi menempelkan


hidungnya ke leher Delina. “Hubby...”panggil Delina lembut. “Ayo, berangkat.”


“Huh! Habis ini kita honeymoon ya.”ucap Kevin


sambil bangkit dari duduknya.


Ia mengambil rantang yang sudah disiapkan Delina,


menggenggam tangan Delina lembut sebelum berjalan keluar rumah. Sri menyusul


mereka dengan terburu-buru. Delina lupa membawa rantang berisi makan siang


untuknya dan Kevin.


“Kenapa rantangnya dua?”tanya Kevin ketika mereka


sudah duduk di dalam mobil. Delina merapikan kerudungnya, “Itu makan siang


kita, hubby. Siapa tau hubby lapar lagi?”


“Tadi kan aku sudah bilang aku mau yang lain.”bisik


Kevin di telinga Delina. Kevin memperhatikan telinga Delina yang hanya memakai


anting kecil. “Apa perhiasanmu cuma ini?”


Delina meraba telinganya, “Iya. Ini anting


pemberian almarhum ibu.”


Kevin memerintah sopir untuk mampir ke toko


perhiasan langganan Amira. Delina melihat keluar jendela saat mobil berhenti di


tempat yang dimaksud Kevin.


“Mau apa kesini, hubby?”


Kevin mengajak Delina turun dari mobil, ia


menggenggam tangan Delina masuk ke toko itu. Kevin langsung disambut ramah oleh


pelayan disana. Ia minta disiapkan satu set perhiasan emas model terbaru.


“Duduk sini, sayang.”ajak Kevin menarik Delina ke


sofa VIP. 5 kotak perhiasan berjejer rapi di depan mereka. “Pilih, yank. Mana


yang kamu suka?”


“Memangnya hubby mau beli buat siapa?”


Kevin mengambil salah satu set perhiasan di


depannya, ia mengambil cincin, menyematkannya di jemari Delina. “Untuk kamu,


sayang. Aku kan belum memberiku kado pernikahan.”


“Hubby, aku gak mau. Ayo kita pergi.”Delina


beranjak lebih dulu meninggalkan Kevin yang terlambat mengejarnya. Delina


kembali ke dalam mobil, ia melihat Kevin keluar membawa sebuah paper bag.


“Jalan, pak.”perintah Kevin ketika ia sudah duduk


lagi di samping Delina. “Sayang, pakai ini ya. Aku tahu kamu gak suka, tapi


pakai ini ke kantor ayah ya.” Delina mengangguk menurut.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2