
“Oh, iya! Aku lupa semalem ngecek nona Agnes. Mana
dia, Ali?”tanya Delina.
“Tadi masih di kamar mandi.”jawab Ali mendahului
mereka menuruni tangga.
“Kamu gak macem-macem kan?”selidik Delina.
“Aku kan anak baik, kakak ipar. Aku cuma bantu dia
lepas bajunya.”
Kevin dan Delina mendelik menatap Ali, “Eits,
jangan salah paham. Semalem aku gedor-gedor pintu kamar kakak, bukannya
dibukain pintu malah aku dengar suara jeritan kakak. Kalian kemarin malam
ngapain? Hayo, jujur. Kalo boong, aku kutuk gak bisa main dua hari.”
”Jadi dia yang gedor pintu semalem, coba aku liat
nanti kutukanku manjur gak. Eh, malah ngutuk balik, anak setan.”
“Kami bercinta. Masalah buatmu? Kami kan sudah
suami istri, sah saja kan!”ketus Kevin kesal. Delina hanya bisa menunduk malu
mendengar kata-kata Kevin.
“Aku tau, kak. Tapi pelan sedikit, kakak gak kasian
liat kakak ipar jalannya sambil meringis gitu.”kata Ali melirik cara jalan
Delina. “Perlu aku kasi resep salep yang manjur, kak?”
Kevin langsung menggendong Delina menuruni tangga
sampai ke meja makan. “Hubby,turunin aku. Malu diliatin mbak Sri.”
“Gak ada yang liat. Masih sakit ya?”
Delina tidak menjawab, ia terlalu malu pada Sri dan
Ali yang sudah bergabung di meja makan. Sri menghidangkan sarapan untuk mereka
bertiga dengan senyum mengembang di bibirnya. Melihat sikap malu-malu Delina
dan wajah Kevin yang sumringah, sepertinya mereka sudah melalui malam pertama
mereka.
“Hoaaahheemm...”Ali menguap lebar, ia merenggangkan
tubuhnya yang terasa pegal. Delina sudah beranjak ke dapur untuk membuat
cemilan yang akan ia bawa ke kantor Alvin. Kevin tampak sedang bicara di telpon
dengan Keanu, mereka akan meeting jam 11, jadi Kevin bisa menunggu Delina dan
berangkat bersama nanti.
Sri baru kembali dari lantai 2, setelah mengantar
makanan untuk Agnes, “Mbak Sri, Agnes gimana?”tanya Ali.
“Gimana maksud tuan? Tadi baik-baik aja saya
liat.”kata Sri bingung.
“Apa dia nanyain saya?”
Sri menggeleng sambil senyum-senyum gaje. Jelas
sekali tadi Agnes langsung menanyakan keberadaan Ali saat Sri sedang meletakkan
makanan diatas meja kamarnya. Tapi Agnes mengancam Sri agar tidak memberitahu
Ali kalau ia menanyakan pria itu setelah Sri menjawab kalau Ali masih sarapan.
”Kedua tuan muda ini sedang jatuh cinta dan
sepertinya para wanitanya juga mulai jatuh cinta. Aku tidak sabar menunggu
kehadiran tuan muda kecil dan pernikahan lagi.”
__ADS_1
Sri berjalan kembali ke dapur sambil bersenandung
kecil. Delina tersenyum melihatnya, “Mbak Sri lagi seneng ya? Tumben
nyanyi-nyanyi gitu.”goda Delina.
“Iya, Delina. Mungkin sebentar lagi akan terdengar
tangisan bayi di rumah ini.”celetuk Sri terus terang.
Wajah Delina semburat memerah, ia jadi gugup
mendengar harapan Sri. Bagaimanapun semalam, dirinya dan Kevin sudah melalui
malam pertama pernikahan mereka. Siapa yang tahu Delina akan segera hamil atau
belum.
Ali ingin tidur setelah sarapan, tapi suara
ponselnya mengingatkannya kalau ia harus segera kembali ke RS. “Hais,
menyebalkan sekali. Aku mau tidur!”teriak Ali pada ponselnya yang tidak bersalah.
Senyum menyembang dibibir Kevin, kutukannya mulai
bekerja nich.
”Siapa suruh ganggu kamar pengantin baru
malam-malam. Rasakan.”
Ali beranjak dari duduknya, “Mau kemana kamu?”tanya
Kevin.
“Balik ke RS, kak. Aku harus visit pasien, padahal
ngantuk banget. Semalam aku gak bisa tidur, Agnes tuch tidurnya gak bisa diem.”
Ali terdiam, ia menatap Kevin, nyengir lebar, “Aku pergi dulu, kak. Bye.”
Kevin tersenyum geli melihat reaksi Ali yang
keceplosan sendiri. Ia tahu kalau Ali menyukai Agnes dan karakter Ali yang
terjadi apa-apa diantara mereka.
Delina sudah menyelesaikan cemilan untuk Alvin, ia
menghampiri Kevin yang masih menunggu di meja makan. “Sudah selesai?”tanya
Kevin.
“Iya, hubby. Dimana Ali?”
“Dia sudah berangkat ke RS. Kenapa kamu tanya-tanya
dia? Aku ada disini, tanya aku.”
Delina mengkerutkan keningnya, “Aku harus tanya
apa, hubby?”
“Tanyakan keadaanku?”
“Apa kau baik-baik saja?”tanya Delina bingung,
apalagi mau suaminya ini.
“Aku lapar, mau susu...”lirih Kevin tiba-tiba
memasang wajah sedih.
Delina hampir berbalik ke dapur, ia ingin mengambil
susu untuk Kevin, tapi Kevin menarik tangannya dengan cepat hingga Delina jatuh
di pangkuannya.
“Bukan susu yang itu, tapi yang ini.”tunjuk Kevin
dengan dagunya.
Delina refleks menutup dadanya, “Iih, hubby.
Lepasin, ntar diliat yang lain.”
__ADS_1
Kevin tidak peduli, padahal pelayan rumah saat itu
sedang bersiap membersihkan rumah. Mereka mengintip dari balik pintu dapur
sambil berbisik-bisik. Sri juga ikutan mengintip kedua pasangan pengantin baru
itu. Wajah mereka merona saat melihat Kevin mencium Delina tanpa peduli
sekitarnya.
“Hubby, nanti telat... ke kantor.”lirih Delina.
Kevin menghentikan ciumannya tapi menempelkan
hidungnya ke leher Delina. “Hubby...”panggil Delina lembut. “Ayo, berangkat.”
“Huh! Habis ini kita honeymoon ya.”ucap Kevin
sambil bangkit dari duduknya.
Ia mengambil rantang yang sudah disiapkan Delina,
menggenggam tangan Delina lembut sebelum berjalan keluar rumah. Sri menyusul
mereka dengan terburu-buru. Delina lupa membawa rantang berisi makan siang
untuknya dan Kevin.
“Kenapa rantangnya dua?”tanya Kevin ketika mereka
sudah duduk di dalam mobil. Delina merapikan kerudungnya, “Itu makan siang
kita, hubby. Siapa tau hubby lapar lagi?”
“Tadi kan aku sudah bilang aku mau yang lain.”bisik
Kevin di telinga Delina. Kevin memperhatikan telinga Delina yang hanya memakai
anting kecil. “Apa perhiasanmu cuma ini?”
Delina meraba telinganya, “Iya. Ini anting
pemberian almarhum ibu.”
Kevin memerintah sopir untuk mampir ke toko
perhiasan langganan Amira. Delina melihat keluar jendela saat mobil berhenti di
tempat yang dimaksud Kevin.
“Mau apa kesini, hubby?”
Kevin mengajak Delina turun dari mobil, ia
menggenggam tangan Delina masuk ke toko itu. Kevin langsung disambut ramah oleh
pelayan disana. Ia minta disiapkan satu set perhiasan emas model terbaru.
“Duduk sini, sayang.”ajak Kevin menarik Delina ke
sofa VIP. 5 kotak perhiasan berjejer rapi di depan mereka. “Pilih, yank. Mana
yang kamu suka?”
“Memangnya hubby mau beli buat siapa?”
Kevin mengambil salah satu set perhiasan di
depannya, ia mengambil cincin, menyematkannya di jemari Delina. “Untuk kamu,
sayang. Aku kan belum memberiku kado pernikahan.”
“Hubby, aku gak mau. Ayo kita pergi.”Delina
beranjak lebih dulu meninggalkan Kevin yang terlambat mengejarnya. Delina
kembali ke dalam mobil, ia melihat Kevin keluar membawa sebuah paper bag.
“Jalan, pak.”perintah Kevin ketika ia sudah duduk
lagi di samping Delina. “Sayang, pakai ini ya. Aku tahu kamu gak suka, tapi
pakai ini ke kantor ayah ya.” Delina mengangguk menurut.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.