Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Desain baru


__ADS_3

PH - Desain baru


Delina berharap pertemuannya dengan Ny. Amira akan


bisa merubah sedikit saja kehidupannya. Selain mendapatkan penghasilan yang


lebih besar, ia bisa melihat sketsanya benar-benar menjadi nyata. Delina


tersenyum tanpa tahu harapannya itu mungkin bisa menjadi kepedihannya di masa


yang akan datang.


Selesai makan malam, Delina melanjutkan


pekerjaannya sampai tengah malam. Ia tersenyum melihat hasilnya sudah sesuai


dengan sketsa di bukunya. Kebaya itu tampak bersinar di  bawah cahaya lampu ruang menjahit Delina.


Delina meletakkan kebaya itu kembali ke paper bag


dan menyimpannya di dalam lemari yang terkunci dengan baik. Ia beranjak tidur


karena malam sudah semakin larut. Besok ia akan menghubungi Meri agar bisa


bertemu lagi dengan Ny. Amira.


*****


Sementara itu di suatu tempat di klub malam yang


cukup terkenal di kota itu. Kevin sedang menikmati dentuman musik bersama


Keanu, asisten Kevin. Mereka biasa pergi kesana untuk melepas penat setelah


lelah bekerja seharian.


Seorang wanita seksi menemani Kevin, sesekali


wanita itu memeluk Kevin sambil membisikkan kata-kata mesra padanya. Tangan


wanita itu bahkan sudah gerayangan ke tubuh Kevin tanpa Keanu geleng-geleng


kepala melihat kelakuan Kevin.


“Kenapa,


bro? Masih heran lo ama kelakuan gue?” tanya Kevin sambil meminum minuman di


gelasnya.


“Gak. Cuma


takjub, tiap malam beda-beda terus. Gak bosen lo?” ejek Keanu.


“Mereka yang


nempel ini. Ya kan sayang. Do it, baby.” Kata Kevin pada wanita seksi di


sampingnya.


Wanita itu bergerak ke bawah meja dan melakukan apa


yang dimaksud Kevin. Keanu melempar remasan tisu diatas meja pada Kevin saat


Kevin mengeluarkan lidahnya mengejek Keanu. Keanu sudah tidak mau melihat wajah


Kevin yang keenakan, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru klub itu.



Keanu sama sekali tidak tertarik dengan satu pun


wanita di dalam klub malam itu. Ia ingin mencari sosok wanita yang lebih alim.


Cantik, tapi tidak murahan. Dan tentu saja sangat sulit mencari wanita seperti


itu di kota sebesar ini.


Dentuman musik semakin heboh mengiringi gerakan


pengunjung klub itu. Keanu menoleh saat wanita yang tadi melayani Kevin pergi


dari meja mereka. Kevin tersenyum puas dan meneguk minumannya lagi.


“Kena penyakit, kapok lo.” Ujar Keanu.


“Mereka bersih. Kalau gak, mana bisa jatuh ke pelukanku.


Itu tugasmu menyeleksi mereka.”


“Hhmm... Ya, ya, ya... Ayo, pulang. Besok pagi kita


ada meeting pagi-pagi. Gak dateng awas lo, gue aduin ke papa lo.” Ancam Keanu.

__ADS_1


“Iya, berisik banget sich lo. Lo bangunin gue


besok.”


“Yes, babe.” Kata Keanu menggoda Kevin.


“Gue masih normal, sialan lo!”


Keanu ketawa ngakak melihat reaksi Kevin yang


bergidik geli. Mereka melambaikan tangan pada pelayan yang segera datang dan


menerima pembayaran. Keduanya berjalan keluar dari klub malam itu dan kembali


pulang ke rumah dengan mobil masing-masing.


*****


Keesokan harinya, Delina sudah mengirimkan pesan


singkat pada Meri. Ia mengatakan kalau kebaya Ny. Amira sudah selesai ia jahit


dan kapan Delina bisa bertemu dengan Ny. Amira lagi. Delina menunggu jawaban


Meri sambil melakukan kegiatannya sehari-hari.


Ia akan bangun pagi-pagi untuk berolahraga ringan,


sebelum mulai berbelanja dan memasak makanan untuk dirinya. Kemudian


membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Setelah semua pekerjaan rumah tangga


selesai ia kerjakan, Delina akan mulai duduk di belakang mesin jahitnya dan


mulai menjahit kebaya pesanan orang.


Sesekali Delina pergi untuk membeli benang atau


keperluan untuk menjahit lainnya. Atau duduk di depan TV dan menggambar sketsa


sambil menonton acara gosip atau acara fashion show. Ia akan memperhatikan


detail pakaian yang dikenakan setiap orang yang ia tonton dan juga


warna-warnanya.


Delina selalu mengikuti perkembangan jaman terutama


apa yang sedang trend saat ini. Dengan begitu, semua pelanggannya akan sangat


puas dengan desain dan  hasil jahitannya.


Ia juga tidak segan mengusulkan model kebaya kepada


pelanggannya yang kebingungan dengan model kebaya yang cocok untuk mereka.


Pelayanan seperti itu yang membuat Delina memiliki cukup banyak pelanggan tetap


yang setia menjahitkan kebaya padanya.


Ketika Delina sedang bekerja untuk menyelesaikan


salah satu pesanan kebaya, pesan singkat masuk ke ponsel jadul Delina. Meri


mengatakan kalau Delina bisa ke kantor sekitar jam 4 sore untuk menemui Ny.


Amira. Delina membalas dengan ucapan terima kasih dan ia akan datang, pada


Meri.


*****


Jam 3.30 sore, Delina keluar dari rumahnya dan


mengunci pintu. Ia berjalan mendekati pangkalan ojek dan meminta diantarkan ke


perusahaan Meri. Tidak perlu waktu lama, Delina tiba di depan kantor Meri.


Security sempat menghentikannya sebentar tapi segera memintanya masuk ke dalam


lobby.


Delina menunggu sebentar sampai seorang resepsionis


memanggilnya untuk masuk ke dalam lift. Mereka mulai bergerak naik setelah


pintu tertutup. Sampai mereka berhenti di lantai tempat ruang kerja Ny. Amira


berada.


“Silakan menunggu di ruangan Ny. Amira, nona. Ny.


Amira sedang dalam perjalanan.” Ucap resepsionis.

__ADS_1


“Panggil Delina saja. Terima kasih, mbak.” Balas


Delina dengan sopan.


“Sama-sama, Delina.”


Delina berjalan menyusuri lorong yang sama yang ia


lalui kemarin. Ia mengetuk pintu dan mendorongnya perlahan. Sepi. Ruangan itu


kosong, Delina ragu-ragu sejenak tapi ia memutuskan masuk dan duduk di sofa.


Sekali lagi matanya menatap foto-foto Ny. Amira dengan balutan kebaya.



Untuk mengisi waktu kosong karena menunggu, Delina


mengeluarkan buku sketsa-nya. Ia membuka halaman terakhir yang berisi sketsa


kebaya yang terbaru dan membandingkannya dengan foto-foto itu. Sketsa buatannya


tidak ada yang sama dengan model kebaya di foto-foto itu.


Delina memejamkan matanya, ia mulai membuat sketsa


baru sambil sesekali melamun. Tanpa ia sadari gerak-geriknya sedang diawasi Ny.


Amira dari CCTV yang terhubung ke ponselnya.


“Sepertinya


Delina membuat model kebaya yang baru lagi. Aku harus mendapatkannya. Meri, apa


schedule-ku besok?” tanya Ny. Amira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar


ponselnya.


“Ny. harus keluar kota. Berangkat jam 6 pagi dari


rumah ke bandara. Dan kembali seminggu lagi.” Jelas Meri sambil membaca


agendanya.


“Oh, aku harus cepat. Pak sopir, lebih cepat.”


Perintah Ny. Amira pada sopirnya.


Mobil yang membawa Ny. Amira meluncur lebih cepat


menembus jalanan kota. Membawa mereka segera sampai ke kantor Ny. Amira.


Ny. Amira turun dengan terburu-buru, ia bahkan


meninggalkan Meri yang berlari mengejarnya. Sifat tidak sabaran Ny. Amira


membuat semua orang di lobby menyingkir memberi jalan. Bahkan karyawan yang


sudah hampir masuk ke lift yang terbuka, keluar lagi untuk membiarkan bos-nya


itu naik lebih dulu.


Meri yang menyusul tepat sebelum pintu lift


tertutup, bersandar pada dinding lift, mengatur nafasnya.


“Meri, kau


harus lebih sering olahraga lari. Nafasmu sudah seperti nenek-nenek.” Ejek Ny.


Amira pada asistennya itu.


”Ny. saja yang berlari seperti orang kebelet.”


Ujar Meri dalam hatinya


“Iya, baik Ny. Saya mengerti.” Balas Meri sopan.


Mereka sampai di lantai ruang kerja Ny. Amira dan


Meri harus kembali berlari mengejar bos-nya itu. Ny. Amira membuka pintu dan


melihat Delina menoleh padanya. Delina berdiri, hampir menyapa Ny. Amira tapi


wanita paruh baya itu dengan cepat menyambar buku sketsanya.


*****


Masi penasaran dengan ceritanya? Ditunggu up-nya kk.


Jangan lupa tinggalkan jejakmu. Like, vote, komen. Beri semangat pada saya


untuk terus berkarya.

__ADS_1


__ADS_2