
PH - Desain baru
Delina berharap pertemuannya dengan Ny. Amira akan
bisa merubah sedikit saja kehidupannya. Selain mendapatkan penghasilan yang
lebih besar, ia bisa melihat sketsanya benar-benar menjadi nyata. Delina
tersenyum tanpa tahu harapannya itu mungkin bisa menjadi kepedihannya di masa
yang akan datang.
Selesai makan malam, Delina melanjutkan
pekerjaannya sampai tengah malam. Ia tersenyum melihat hasilnya sudah sesuai
dengan sketsa di bukunya. Kebaya itu tampak bersinar di bawah cahaya lampu ruang menjahit Delina.
Delina meletakkan kebaya itu kembali ke paper bag
dan menyimpannya di dalam lemari yang terkunci dengan baik. Ia beranjak tidur
karena malam sudah semakin larut. Besok ia akan menghubungi Meri agar bisa
bertemu lagi dengan Ny. Amira.
*****
Sementara itu di suatu tempat di klub malam yang
cukup terkenal di kota itu. Kevin sedang menikmati dentuman musik bersama
Keanu, asisten Kevin. Mereka biasa pergi kesana untuk melepas penat setelah
lelah bekerja seharian.
Seorang wanita seksi menemani Kevin, sesekali
wanita itu memeluk Kevin sambil membisikkan kata-kata mesra padanya. Tangan
wanita itu bahkan sudah gerayangan ke tubuh Kevin tanpa Keanu geleng-geleng
kepala melihat kelakuan Kevin.
“Kenapa,
bro? Masih heran lo ama kelakuan gue?” tanya Kevin sambil meminum minuman di
gelasnya.
“Gak. Cuma
takjub, tiap malam beda-beda terus. Gak bosen lo?” ejek Keanu.
“Mereka yang
nempel ini. Ya kan sayang. Do it, baby.” Kata Kevin pada wanita seksi di
sampingnya.
Wanita itu bergerak ke bawah meja dan melakukan apa
yang dimaksud Kevin. Keanu melempar remasan tisu diatas meja pada Kevin saat
Kevin mengeluarkan lidahnya mengejek Keanu. Keanu sudah tidak mau melihat wajah
Kevin yang keenakan, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru klub itu.
Keanu sama sekali tidak tertarik dengan satu pun
wanita di dalam klub malam itu. Ia ingin mencari sosok wanita yang lebih alim.
Cantik, tapi tidak murahan. Dan tentu saja sangat sulit mencari wanita seperti
itu di kota sebesar ini.
Dentuman musik semakin heboh mengiringi gerakan
pengunjung klub itu. Keanu menoleh saat wanita yang tadi melayani Kevin pergi
dari meja mereka. Kevin tersenyum puas dan meneguk minumannya lagi.
“Kena penyakit, kapok lo.” Ujar Keanu.
“Mereka bersih. Kalau gak, mana bisa jatuh ke pelukanku.
Itu tugasmu menyeleksi mereka.”
“Hhmm... Ya, ya, ya... Ayo, pulang. Besok pagi kita
ada meeting pagi-pagi. Gak dateng awas lo, gue aduin ke papa lo.” Ancam Keanu.
__ADS_1
“Iya, berisik banget sich lo. Lo bangunin gue
besok.”
“Yes, babe.” Kata Keanu menggoda Kevin.
“Gue masih normal, sialan lo!”
Keanu ketawa ngakak melihat reaksi Kevin yang
bergidik geli. Mereka melambaikan tangan pada pelayan yang segera datang dan
menerima pembayaran. Keduanya berjalan keluar dari klub malam itu dan kembali
pulang ke rumah dengan mobil masing-masing.
*****
Keesokan harinya, Delina sudah mengirimkan pesan
singkat pada Meri. Ia mengatakan kalau kebaya Ny. Amira sudah selesai ia jahit
dan kapan Delina bisa bertemu dengan Ny. Amira lagi. Delina menunggu jawaban
Meri sambil melakukan kegiatannya sehari-hari.
Ia akan bangun pagi-pagi untuk berolahraga ringan,
sebelum mulai berbelanja dan memasak makanan untuk dirinya. Kemudian
membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Setelah semua pekerjaan rumah tangga
selesai ia kerjakan, Delina akan mulai duduk di belakang mesin jahitnya dan
mulai menjahit kebaya pesanan orang.
Sesekali Delina pergi untuk membeli benang atau
keperluan untuk menjahit lainnya. Atau duduk di depan TV dan menggambar sketsa
sambil menonton acara gosip atau acara fashion show. Ia akan memperhatikan
detail pakaian yang dikenakan setiap orang yang ia tonton dan juga
warna-warnanya.
Delina selalu mengikuti perkembangan jaman terutama
apa yang sedang trend saat ini. Dengan begitu, semua pelanggannya akan sangat
puas dengan desain dan hasil jahitannya.
Ia juga tidak segan mengusulkan model kebaya kepada
pelanggannya yang kebingungan dengan model kebaya yang cocok untuk mereka.
Pelayanan seperti itu yang membuat Delina memiliki cukup banyak pelanggan tetap
yang setia menjahitkan kebaya padanya.
Ketika Delina sedang bekerja untuk menyelesaikan
salah satu pesanan kebaya, pesan singkat masuk ke ponsel jadul Delina. Meri
mengatakan kalau Delina bisa ke kantor sekitar jam 4 sore untuk menemui Ny.
Amira. Delina membalas dengan ucapan terima kasih dan ia akan datang, pada
Meri.
*****
Jam 3.30 sore, Delina keluar dari rumahnya dan
mengunci pintu. Ia berjalan mendekati pangkalan ojek dan meminta diantarkan ke
perusahaan Meri. Tidak perlu waktu lama, Delina tiba di depan kantor Meri.
Security sempat menghentikannya sebentar tapi segera memintanya masuk ke dalam
lobby.
Delina menunggu sebentar sampai seorang resepsionis
memanggilnya untuk masuk ke dalam lift. Mereka mulai bergerak naik setelah
pintu tertutup. Sampai mereka berhenti di lantai tempat ruang kerja Ny. Amira
berada.
“Silakan menunggu di ruangan Ny. Amira, nona. Ny.
Amira sedang dalam perjalanan.” Ucap resepsionis.
__ADS_1
“Panggil Delina saja. Terima kasih, mbak.” Balas
Delina dengan sopan.
“Sama-sama, Delina.”
Delina berjalan menyusuri lorong yang sama yang ia
lalui kemarin. Ia mengetuk pintu dan mendorongnya perlahan. Sepi. Ruangan itu
kosong, Delina ragu-ragu sejenak tapi ia memutuskan masuk dan duduk di sofa.
Sekali lagi matanya menatap foto-foto Ny. Amira dengan balutan kebaya.
Untuk mengisi waktu kosong karena menunggu, Delina
mengeluarkan buku sketsa-nya. Ia membuka halaman terakhir yang berisi sketsa
kebaya yang terbaru dan membandingkannya dengan foto-foto itu. Sketsa buatannya
tidak ada yang sama dengan model kebaya di foto-foto itu.
Delina memejamkan matanya, ia mulai membuat sketsa
baru sambil sesekali melamun. Tanpa ia sadari gerak-geriknya sedang diawasi Ny.
Amira dari CCTV yang terhubung ke ponselnya.
“Sepertinya
Delina membuat model kebaya yang baru lagi. Aku harus mendapatkannya. Meri, apa
schedule-ku besok?” tanya Ny. Amira tanpa mengalihkan pandangannya dari layar
ponselnya.
“Ny. harus keluar kota. Berangkat jam 6 pagi dari
rumah ke bandara. Dan kembali seminggu lagi.” Jelas Meri sambil membaca
agendanya.
“Oh, aku harus cepat. Pak sopir, lebih cepat.”
Perintah Ny. Amira pada sopirnya.
Mobil yang membawa Ny. Amira meluncur lebih cepat
menembus jalanan kota. Membawa mereka segera sampai ke kantor Ny. Amira.
Ny. Amira turun dengan terburu-buru, ia bahkan
meninggalkan Meri yang berlari mengejarnya. Sifat tidak sabaran Ny. Amira
membuat semua orang di lobby menyingkir memberi jalan. Bahkan karyawan yang
sudah hampir masuk ke lift yang terbuka, keluar lagi untuk membiarkan bos-nya
itu naik lebih dulu.
Meri yang menyusul tepat sebelum pintu lift
tertutup, bersandar pada dinding lift, mengatur nafasnya.
“Meri, kau
harus lebih sering olahraga lari. Nafasmu sudah seperti nenek-nenek.” Ejek Ny.
Amira pada asistennya itu.
”Ny. saja yang berlari seperti orang kebelet.”
Ujar Meri dalam hatinya
“Iya, baik Ny. Saya mengerti.” Balas Meri sopan.
Mereka sampai di lantai ruang kerja Ny. Amira dan
Meri harus kembali berlari mengejar bos-nya itu. Ny. Amira membuka pintu dan
melihat Delina menoleh padanya. Delina berdiri, hampir menyapa Ny. Amira tapi
wanita paruh baya itu dengan cepat menyambar buku sketsanya.
*****
Masi penasaran dengan ceritanya? Ditunggu up-nya kk.
Jangan lupa tinggalkan jejakmu. Like, vote, komen. Beri semangat pada saya
untuk terus berkarya.
__ADS_1