
PH - Kakak ipar
Delina mengambilkan nasi untuk Agnes dan juga lauk
yang ingin ia makan. Agnes duduk dengan cueknya di meja dapur dan mulai makan
disana. Ali yang sudah kelaparan juga melakukan hal yang sama.
Sri dan Delina saling pandang melihat dua orang di
depan mereka makan dengan lahap sambil saling melirik saat menambah lauk. Apalagi
melihat Agnes makan menggunakan tangannya. Ia makan dengan sangat lahap seperti
belum pernah makan sebelumnya.
Uhuk! Uhuk! Agnes tersedak, Delina mengambilkan
segelas air untuknya dan juga untuk Ali.
“Pelan-pelan, nona.”kata Delina sambil menepuk
pundak Agnes perlahan.
“Delina, potongkan aku buah. Taruh dikotak ya.
Kotak yang kemarin sudah kucuci. Mana ya?”tanya Agnes sambil celingukan.
Sri mengeluarkan kotak yang dimaksud Agnes. Delina
melakukan apa yang diminta Agnes.
“Delina, kapan kau akan membuat dimsum lagi?”tanya
Agnes sambil berbisik di samping Delina.
Ia sudah selesai mencuci tangan dan piring yang ia
gunakan tadi. Sementara Ali masih sibuk makan, Sri terpaksa memotong bahan
makanan lagi untuk dimasak Delina karena masakan Delina ludes tak tersisa.
“Kau tahu, semalam mamaku menghabiskan semuanya.
Aku gak boleh makan. Padahal aku juga mau mencicipi dimsum buatanmu.”bisik
Agnes lagi.
“Masih ada di kulkas kalau nona mau. Saya hangatkan
sebentar.”bisik Delina juga.
“Benarkah? Aku mau. Tapi kamu yakin kan, mamaku
sudah pergi. Ntar dimsumnya direbut lagi.”kata Agnes.
“Yakin, nona. Sebentar saya siapkan dulu.”
Gee! Ali bersendawa dengan keras, membuat Agnes
menoleh padanya. Agnes merasa pernah melihat pria itu tapi entah dimana.
“Kamu siapa?”tanya Agnes pada Ali.
“Kamu yang siapa? Perkenalkan diri dulu baru tanya
namaku. Gak sopan, kamu.”balas Ali.
“Aku Agnes.”kata Agnes dengan songongnya.
“Oh.”
Mendengar jawaban singkat Ali, Agnes meradang.
“Dasar gila!”maki Agnes sambil kembali bisik-bisik
pada Delina.
Sri yang melihat Agnes terus memepet Delina,
tersenyum sendiri. Sepertinya Agnes tidak bermaksud jahat pada Delina. Sri
sempat berpikir dan takut kalau sampai Delina terluka gara-gara Agnes. Apalagi
dengan peringatan Ny.Amira. Sri jadi lebih sering mengintip kalau Agnes mulai
mendekati Delina.
Dua buah kotak makan siap dibawa Agnes ke kamarnya.
__ADS_1
Ia berbisik lagi pada Delina sebelum pergi dari dapur tanpa melirik Ali
sedikitpun.
“Gila! Udah tambah cantik, songongnya masih,
makannya banyak lagi.”kata Ali entah pada siapa.
“Tuan Ali ngomongin nona Agnes?”tanya Sri yang baru
selesai menggoreng tempe.
Delina melanjutkan membuat tumis kangkung dan
sambal terasi lagi. Mereka berdua bergantian makan karena Sri masih ngobrol
dengan Ali.
“Iya. Siapa lagi. Banyak yang berubah ya sejak
terakhir kali.”kenang Ali.
“Sudah 7 tahun, tuan. Kenapa tuan gak pulang-pulang
seperti bang Toyip saja.”kata Sri.
“Itu siapa lagi? Sopir?”tanya Ali yang disambut
tawa geli Sri.
“Bukan. Susah jelasinnya. Ada kok lagunya, tuan.”kata
Sri lagi.
“Kakak ipar, terima kasih makanannya ya. Aku lapar
sekali tadi.”ucap Ali pada Delina ketika mereka bertemu pandang lagi.
“Kakak ipar? Siapa? Saya?”tanya Delina sambil
menunjuk dirinya sendiri.
“Mbak Sri ini beneran dia udah nikah sama kak
Kevin? Kenapa bingung gitu reaksinya dipanggil kakak ipar?”tanya Ali lagi.
“Tuan muda juga aneh. Bukannya perkenalkan diri
“Oh iya, ya. Kakak ipar duduk sini. Aku mau cerita.”ajak
Ali sambil menepuk kursi di sampingnya.
“Intinya, tuan ini siapa?”tanya Delina to the
point.
“Aku adiknya kak Kevin.”
“Bohong. Tuan muda anak tunggal. Gak punya adik.”sanggah
Delina.
“Kenapa kakak ipar manggil kak Kevin, tuan muda?
Sebenarnya apa yang terjadi disini?”tanya Ali bingung.
Melihat Delina tidak mau bercerita, Ali mengalah
dan memberitahu Delina siapa dirinya. Aliando Arya, sahabat baik Kevin yang
sudah dianggap sebagai adik sendiri oleh Kevin dan keluarganya. Setelah lulus
sekolah, Aliando memutuskan kuliah ke luar negeri untuk menjadi dokter. Kejeniusannya
membuat dirinya bisa mengejar gelar master dalam waktu singkat.
Aliando menghabiskan 7 tahun lamanya di luar negeri
untuk membentuk dirinya menjadi dokter yang hebat. Sampai berhasil membangun
rumah sakitnya sendiri. Tapi ia tetap tidak bisa lepas dari keluarga Kevin yang
sudah banyak membantunya. Kehangatan keluarga itu dulu yang membuatnya ingin
selalu kembali ke keluarga Kevin.
Selesai Ali bercerita, Delina tidak menunjukkan
reaksi apapun. Ia melirik jam dinding dan beranjak memasak cemilan untuk Alvin
__ADS_1
dan Kevin yang akan pulang sebentar lagi.
“Mbak Sri, dia beneran kakak iparku kan? Darimana
kak Kevin dapat istri kayak dia?”tanya Ali yang masih kepo.
Sri terpaksa duduk dan menceritakan kisah cinta sepihak
yang belum menjadi cinta sejati antara Delina dan Kevin. Tentang pernikahan
mereka yang dilakukan Kevin tanpa kesadaran Delina. Pernikahan ulang yang baru
berlangsung beberapa hari yang lalu. Semuanya tanpa ditambahi bumbu apapun.
Ketika akhirnya cerita Sri berakhir, wangi cemilan
panekuk ayam dan panekuk selai blueberry membuat Ali menelan salivanya. Delina
menghidangkan panekuk itu di hadapan Ali dan menanyakan apa dia juga mau kopi.
“Baunya enak banget, kakak ipar. Iya, aku mau kopi
tapi gulanya dikit aja ya.”
Alvin yang baru datang langsung menuju dapur
seperti biasanya.
“Kamu siapa?”tanya Alvin bingung melihat pria asing
duduk di meja barnya.
“Ayah, masa ayah lupa sama anak sendiri.”rengek Ali
sok imut.
Alvin mengerutkan keningnya, anak yang mana lagi
selain Kevin yang tengilnya kayak gini selain Ali.
“Ali! Kapan kamu pulang? Dimana kacamatamu?”tanya
Alvin sambil mengacak rambut Ali.
“Yah, kenapa ayah masih suka ngacak-acak rambutku,
sih? Aku pake softlens, yah. Ayah apa kabar?”tanya Ali sambil memeluk Alvin.
“Baik, Ali. Akhirnya kamu pulang juga ya. Eh, itu
apa?”tanya Alvin salfok dengan panekuk buatan Delina.
“Kakak ipar yang buat, yah. Kayaknya enak...”Belum
selesai Ali bicara, panekuk di depannya sudah pindah ke depan Alvin.
“Yah... itu punyaku.”rengek Ali lagi.
Delina melihat pria dewasa ini merengek seperti
anak kecil dihadapan Alvin yang asyik menikmati cemilan di hadapannya. Delina
menyiapkan piring berikutnya dan menghidangkannya ke hadapan Ali. Tapi
lagi-lagi piring itu terbang dari hadapannya.
“Kak!!”teriak Ali pada Kevin yang tau-tau muncul di
sampingnya.
“Ina, kopinya... Terima kasih.”pinta Alvin tapi
Delina sudah menghidangkan kopi untuknya.
“Delina, kopi satu ya.”pinta Kevin.
Delina sibuk di dapur melayani permintaan Alvin,
Kevin, Ali, dan terakhir Amira juga ikutan. Sri melihat lagi kebahagiaan
keluarga kecil Alvin yang sudah lama menghilang sejak kedua tuan muda itu
tumbuh dewasa. Sri melirik Delina yang tersenyum melihat Ali dikerjai Kevin. Ia
berharap Delina akan secepatnya jatuh cinta pada Kevin dan kehangatan seperti
ini akan terus ia rasakan.
*****
__ADS_1
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.