Penjahit Hati

Penjahit Hati
PH - Kakak ipar


__ADS_3

PH - Kakak ipar


Delina mengambilkan nasi untuk Agnes dan juga lauk


yang ingin ia makan. Agnes duduk dengan cueknya di meja dapur dan mulai makan


disana. Ali yang sudah kelaparan juga melakukan hal yang sama.


Sri dan Delina saling pandang melihat dua orang di


depan mereka makan dengan lahap sambil saling melirik saat menambah lauk. Apalagi


melihat Agnes makan menggunakan tangannya. Ia makan dengan sangat lahap seperti


belum pernah makan sebelumnya.


Uhuk! Uhuk! Agnes tersedak, Delina mengambilkan


segelas air untuknya dan juga untuk Ali.


“Pelan-pelan, nona.”kata Delina sambil menepuk


pundak Agnes perlahan.


“Delina, potongkan aku buah. Taruh dikotak ya.


Kotak yang kemarin sudah kucuci. Mana ya?”tanya Agnes sambil celingukan.


Sri mengeluarkan kotak yang dimaksud Agnes. Delina


melakukan apa yang diminta Agnes.


“Delina, kapan kau akan membuat dimsum lagi?”tanya


Agnes sambil berbisik di samping Delina.


Ia sudah selesai mencuci tangan dan piring yang ia


gunakan tadi. Sementara Ali masih sibuk makan, Sri terpaksa memotong bahan


makanan lagi untuk dimasak Delina karena masakan Delina ludes tak tersisa.


“Kau tahu, semalam mamaku menghabiskan semuanya.


Aku gak boleh makan. Padahal aku juga mau mencicipi dimsum buatanmu.”bisik


Agnes lagi.


“Masih ada di kulkas kalau nona mau. Saya hangatkan


sebentar.”bisik Delina juga.


“Benarkah? Aku mau. Tapi kamu yakin kan, mamaku


sudah pergi. Ntar dimsumnya direbut lagi.”kata Agnes.


“Yakin, nona. Sebentar saya siapkan dulu.”


Gee! Ali bersendawa dengan keras, membuat Agnes


menoleh padanya. Agnes merasa pernah melihat pria itu tapi entah dimana.


“Kamu siapa?”tanya Agnes pada Ali.


“Kamu yang siapa? Perkenalkan diri dulu baru tanya


namaku. Gak sopan, kamu.”balas Ali.


“Aku Agnes.”kata Agnes dengan songongnya.


“Oh.”


Mendengar jawaban singkat Ali, Agnes meradang.


“Dasar gila!”maki Agnes sambil kembali bisik-bisik


pada Delina.


Sri yang melihat Agnes terus memepet Delina,


tersenyum sendiri. Sepertinya Agnes tidak bermaksud jahat pada Delina. Sri


sempat berpikir dan takut kalau sampai Delina terluka gara-gara Agnes. Apalagi


dengan peringatan Ny.Amira. Sri jadi lebih sering mengintip kalau Agnes mulai


mendekati Delina.


Dua buah kotak makan siap dibawa Agnes ke kamarnya.

__ADS_1


Ia berbisik lagi pada Delina sebelum pergi dari dapur tanpa melirik Ali


sedikitpun.


“Gila! Udah tambah cantik, songongnya masih,


makannya banyak lagi.”kata Ali entah pada siapa.


“Tuan Ali ngomongin nona Agnes?”tanya Sri yang baru


selesai menggoreng tempe.


Delina melanjutkan membuat tumis kangkung dan


sambal terasi lagi. Mereka berdua bergantian makan karena Sri masih ngobrol


dengan Ali.


“Iya. Siapa lagi. Banyak yang berubah ya sejak


terakhir kali.”kenang Ali.


“Sudah 7 tahun, tuan. Kenapa tuan gak pulang-pulang


seperti bang Toyip saja.”kata Sri.


“Itu siapa lagi? Sopir?”tanya Ali yang disambut


tawa geli Sri.


“Bukan. Susah jelasinnya. Ada kok lagunya, tuan.”kata


Sri lagi.


“Kakak ipar, terima kasih makanannya ya. Aku lapar


sekali tadi.”ucap Ali pada Delina ketika mereka bertemu pandang lagi.


“Kakak ipar? Siapa? Saya?”tanya Delina sambil


menunjuk dirinya sendiri.


“Mbak Sri ini beneran dia udah nikah sama kak


Kevin? Kenapa bingung gitu reaksinya dipanggil kakak ipar?”tanya Ali lagi.


“Tuan muda juga aneh. Bukannya perkenalkan diri


“Oh iya, ya. Kakak ipar duduk sini. Aku mau cerita.”ajak


Ali sambil menepuk kursi di sampingnya.


“Intinya, tuan ini siapa?”tanya Delina to the


point.


“Aku adiknya kak Kevin.”


“Bohong. Tuan muda anak tunggal. Gak punya adik.”sanggah


Delina.


“Kenapa kakak ipar manggil kak Kevin, tuan muda?


Sebenarnya apa yang terjadi disini?”tanya Ali bingung.


Melihat Delina tidak mau bercerita, Ali mengalah


dan memberitahu Delina siapa dirinya. Aliando Arya, sahabat baik Kevin yang


sudah dianggap sebagai adik sendiri oleh Kevin dan keluarganya. Setelah lulus


sekolah, Aliando memutuskan kuliah ke luar negeri untuk menjadi dokter. Kejeniusannya


membuat dirinya bisa mengejar gelar master dalam waktu singkat.


Aliando menghabiskan 7 tahun lamanya di luar negeri


untuk membentuk dirinya menjadi dokter yang hebat. Sampai berhasil membangun


rumah sakitnya sendiri. Tapi ia tetap tidak bisa lepas dari keluarga Kevin yang


sudah banyak membantunya. Kehangatan keluarga itu dulu yang membuatnya ingin


selalu kembali ke keluarga Kevin.


Selesai Ali bercerita, Delina tidak menunjukkan


reaksi apapun. Ia melirik jam dinding dan beranjak memasak cemilan untuk Alvin

__ADS_1


dan Kevin yang akan pulang sebentar lagi.


“Mbak Sri, dia beneran kakak iparku kan? Darimana


kak Kevin dapat istri kayak dia?”tanya Ali yang masih kepo.


Sri terpaksa duduk dan menceritakan kisah cinta sepihak


yang belum menjadi cinta sejati antara Delina dan Kevin. Tentang pernikahan


mereka yang dilakukan Kevin tanpa kesadaran Delina. Pernikahan ulang yang baru


berlangsung beberapa hari yang lalu. Semuanya tanpa ditambahi bumbu apapun.


Ketika akhirnya cerita Sri berakhir, wangi cemilan


panekuk ayam dan panekuk selai blueberry membuat Ali menelan salivanya. Delina


menghidangkan panekuk itu di hadapan Ali dan menanyakan apa dia juga mau kopi.


“Baunya enak banget, kakak ipar. Iya, aku mau kopi


tapi gulanya dikit aja ya.”


Alvin yang baru datang langsung menuju dapur


seperti biasanya.


“Kamu siapa?”tanya Alvin bingung melihat pria asing


duduk di meja barnya.


“Ayah, masa ayah lupa sama anak sendiri.”rengek Ali


sok imut.


Alvin mengerutkan keningnya, anak yang mana lagi


selain Kevin yang tengilnya kayak gini selain Ali.


“Ali! Kapan kamu pulang? Dimana kacamatamu?”tanya


Alvin sambil mengacak rambut Ali.


“Yah, kenapa ayah masih suka ngacak-acak rambutku,


sih? Aku pake softlens, yah. Ayah apa kabar?”tanya Ali sambil memeluk Alvin.


“Baik, Ali. Akhirnya kamu pulang juga ya. Eh, itu


apa?”tanya Alvin salfok dengan panekuk buatan Delina.


“Kakak ipar yang buat, yah. Kayaknya enak...”Belum


selesai Ali bicara, panekuk di depannya sudah pindah ke depan Alvin.


“Yah... itu punyaku.”rengek Ali lagi.


Delina melihat pria dewasa ini merengek seperti


anak kecil dihadapan Alvin yang asyik menikmati cemilan di hadapannya. Delina


menyiapkan piring berikutnya dan menghidangkannya ke hadapan Ali. Tapi


lagi-lagi piring itu terbang dari hadapannya.


“Kak!!”teriak Ali pada Kevin yang tau-tau muncul di


sampingnya.


“Ina, kopinya... Terima kasih.”pinta Alvin tapi


Delina sudah menghidangkan kopi untuknya.


“Delina, kopi satu ya.”pinta Kevin.


Delina sibuk di dapur melayani permintaan Alvin,


Kevin, Ali, dan terakhir Amira juga ikutan. Sri melihat lagi kebahagiaan


keluarga kecil Alvin yang sudah lama menghilang sejak kedua tuan muda itu


tumbuh dewasa. Sri melirik Delina yang tersenyum melihat Ali dikerjai Kevin. Ia


berharap Delina akan secepatnya jatuh cinta pada Kevin dan kehangatan seperti


ini akan terus ia rasakan.


*****

__ADS_1


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2