Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 80


__ADS_3

Cup. Kecupan mendarat di kening Agnes. “Balik ke


kamarmu sana. Sudah hampir waktunya sarapan.”kata Ali sambil membuka pintu


kamarnya. Agnes belum beranjak dari berdirinya, ia mencuri lihat ABS Ali.


Tangannya terangkat mendekatkan kukunya ke mulutnya. Ia menyukai apa yang


dilihatnya.


Ali menegakkan tubuhnya, ia membuka kancing


celananya dan menurunkan retsletingnya di depan Agnes.


“Hii...”pekik Agnes kaget. Ia cepat-cepat keluar


dari kamar Ali dan masuk ke kamarnya sendiri. Terdengar gelak tawa dari kamar


Ali. Keduanya tidak sadar kalau Delina melihat Agnes keluar dari kamar Ali


sepagi itu.


Beberapa menit sebelumnya,


Delina terbangun dengan tubuh yang terasa sangat


ringan. Ia melirik Kevin yang masih tertidur pulas. Merasa tidak nyaman dengan


kondisinya yang sedang haid, Delina cepat-cepat masuk ke kamar mandi.


Ia membersihkan dirinya dan keluar dari kamar mandi


dengan cepat. “Hubby, bangun dong.”panggil Delina ketika melewati ranjang


mereka. Kevin masih diam tak bergeming. Delina memutuskan memakai pakaiannya


dulu. Ia masuk ke walk in closet dan memilih pakaian rumah untuk dikenakannya.


Setelah penampilannya rapi dan juga cantik, Delina


kembali mendekati Kevin. “Hubby, bangun. Sudah jam setengah 7.”bisik Delina di


telinga Kevin. Tapi Kevin masih ngorok.


Putar otak, Delina  mendekatkan bibirnya ke bibir Kevin dan mencium suaminya itu. Ia


mengingat cara Kevin menciumnya dan mempraktekkannya pagi itu. Kevin yang merasakan


bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang lembut dan manis, otomatis membuka


matanya.


“Bangun, hubby.”kata Delina dengan senyum manisnya.


“Cium lagi dong.”pinta Kevin memonyongkan bibirnya.


“Mandi sana, bau jigong.”kata Delina menggoda


Kevin.


Kevin bangkit dari rebahannya, ia merentangkan


tangannya ke atas. Sebenarnya ia malas bangun karena tidur larut semalam, tapi


bayangan ayahnya yang sedang mengomel, memaksanya masuk ke kamar mandi.


Delina lebih dulu keluar dari kamar mereka, ia


mendengar suara pintu terbuka dan mengira Ali yang keluar dari kamarnya.Matanya


terbelalak melihat Agnes keluar dari kamar Ali. Saking terkejutnya, Delina


tidak mengatakan apa-apa. Delina mendengar suara tawa Ali dari balik pintu


kamarnya.


“Waduh. Apa yang sedang terjadi? Apa mereka ada


hubungan?” pikiran Delina langsung melayang ke pikiran yang iya-iya.


Dengan pikiran mengenai sejauh mana hubungan Ali


dan Agnes, Delina turun ke lantai bawah. Mb Sri sudah menyelesaikan membuat

__ADS_1


sarapan. Delina langsung membantunya menyiapkan kopi.


“Mb Sri, di kulkas ada bahan untuk buat opor ayam


gak?”tanya Delina.


“Ada ayam sama santan. Tapi bumbu jadinya... tunggu


bentar.”ujar Sri sambil membuka lemari persediaan, ia mengeluarkan sebungkus


bumbu opor. “Memangnya mau buat opor untuk kapan?”tanya Sri.


“Buat makan siang ayah sama ibu. Sama hubby juga.


Maunya bikin opor sama sambel aja.”


Sri tersenyum melihat Delina sibuk menjadi menantu


dan istri yang baik. Sayang sekali kalau sampai nenek Indri tidak merestui


penikahan mereka. Keluarga Alvin sudah kembali hangat seperti dulu ketika Kevin


masih kecil.


Alvin sudah duduk di meja makan, Delina


menghidangkan kopi untuknya terlebih dahulu. “Ina, apa cemilan hari ini?”tanya


Alvin.


“Tahu sumedang gimana, yah? Saosnya pake tauco dan


kecap. Kasi irisan cabai hijau.”saut Delina.


“Ada yang lain gak?”tanya Alvin sambil menyesap


kopinya.


“Mmm. Dimsum udang? Ayam?”tanya Agnes melirik Agnes


yang langsung menegakkan kepalanya menatap Delina. Delina ingin menanyakan


sesuatu pada Agnes tentang hubungannya dengan Ali. Ia memancing Agnes dengan


“Itu saja.”putus Alvin.


“Boleh aku minta, Delina?”tanya Agnes.


Delina tersenyum manis, “Boleh aja. Tapi... ada


syaratnya.”


“Dih, pake syarat segala. Apa? Nemenin belanja?


Oke.”kata Agnes terpancing.


“Iya. Bahan makanan udah mau habis. Ibu yang mau


belanja atau Delina aja?”tanya Delina pada Amira.


“Aduh, kamu mau belanja bulanan. Akhirnya ibu bebas


gak harus sibuk mikirin belanja, bayar tagihan... eh, sekalian bayarin tagihan


rumah ya. Pake kartu kreditmu aja.”kata Amira girang.


Delina bengong melihat reaksi Amira, ponselnya


langsung berbunyi dengan chat dari Amira yang meneruskan bukti pembayaran


tagihan telpon, internet, TV kabel, listrik, air, tagihan keamanan, dan masih


banyak lagi kewajiban yang harus dibayar Delina.


“Ini Delina bayar pake kartu bisa, bu?”tanya Delina


bingung.


“Iya, nanti Kevin aja suruh bantuin ya. Trus uang


bulanan untuk gaji pembantu juga nanti ibu transfer ke rekeningmu, kalo gaji


sopir sama security sudah dibayar dari kantor. Itu aja yang rutin tiap bulan,

__ADS_1


Delina. Nanti cek lagi ya. Sama daftar belanjaan, minta aja sama Sri ya.”


Delina hanya mengangguk dengan banyaknya hal yang


harus ia urus mulai sekarang. Kevin tersenyum senang, karena tanggung jawab


Amira sudah pindah ke Delina. Ia semakin yakin kalau Delina memang sudah


diterima sebagai menantu di rumah Alvin.


Mereka lanjut sarapan bersama. Kevin yang sangat


manja pada Delina, memintanya menyuapinya makan. “Hubby seperti anak kecil


saja. Makan sendiri, gak malu sama ayah, ibu.”kata Delina tersenyum melihat


tingkah Kevin.


“Boleh kan aku manja sama istri sendiri. Lagian aku


harus puasa seminggu. Kamu gak kasian sama aku?”tanya Kevin cemberut.


Delina cepat-cepat menyuapi Kevin sarapan di


piringnya. Ia tidak mau Kevin semakin nglantur mengatakan yang tidak-tidak di


depan keluarganya. Ali mencibir melihat Kevin bucin, ia memakan makanannya


dengan malas. Pagi itu setelah Agnes keluar dari kamarnya, Ali menerima telpon


dari rumah sakit. Ia harus menyelesaikan dua operasi hari itu juga.


Agnes yang melihat Ali makan tanpa selera, sengaja


menyenggol lengannya. Tapi Ali tidak merespon Agnes, ia sibuk memikirkan


schedulenya yang sangat padat. Padahal Ali ingin menghabiskan lebih banyak


waktunya bersama Agnes. Agnes yang melihat Ali mengacuhkannya, mulai berpikir


kalau pria itu mulai bosan padanya. Pikiran negatif memenuhi pikiran Agnes, ia


kecewa pada Ali. Setelah apa yang mereka lakukan semalam, pagi ini Ali malah


mengacuhkannya. Agnes jadi menyesal sudah jatuh cinta pada pria brengsek itu.


Setelah sarapan selesai, Kevin sedang menikmati


menatap wajah Delina yang sedang mengelap bibirnya. Alvin dan Amira berdiri


sangat dekat ketika Amira membetulkan letak dasi Alvin dan Sri menyerahkan jas


milik tuan besar itu. Agnes nelangsa melihat Ali pergi begitu saja tanpa


mengatakan apa-apa padanya.


Beberapa jam kemudian, Agnes sibuk melihat keluar


jendela mobil yang membawa dirinya dan Delina ke sebuah pusat perbelanjaan. Pikirannya


masih terpaut pada Ali, ia ingin menangis ketika mengingat Ali sudah menyentuh


hampir seluruh tubuhnya. Agnes merasa dirinya sangat murahan sekarang.


“Kamu mikirin apa, Nes?”tanya Delina. Agnes tidak


menjawab, ia sudah menangis tanpa suara. Delina menarik bahu Agnes, membuatnya


menoleh pada Delina. “Kamu kenapa nangis, Nes?”


Agnes menggeleng. Ia tidak mau ada orang yang tahu


tentang hubungannya dengan Ali.


“Ya sudah kalau gak mau cerita. Kita belanja aja


ya. Habis itu kita beli es krim.”kata Delina ramah.


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.

__ADS_1


__ADS_2