
Cup. Kecupan mendarat di kening Agnes. “Balik ke
kamarmu sana. Sudah hampir waktunya sarapan.”kata Ali sambil membuka pintu
kamarnya. Agnes belum beranjak dari berdirinya, ia mencuri lihat ABS Ali.
Tangannya terangkat mendekatkan kukunya ke mulutnya. Ia menyukai apa yang
dilihatnya.
Ali menegakkan tubuhnya, ia membuka kancing
celananya dan menurunkan retsletingnya di depan Agnes.
“Hii...”pekik Agnes kaget. Ia cepat-cepat keluar
dari kamar Ali dan masuk ke kamarnya sendiri. Terdengar gelak tawa dari kamar
Ali. Keduanya tidak sadar kalau Delina melihat Agnes keluar dari kamar Ali
sepagi itu.
Beberapa menit sebelumnya,
Delina terbangun dengan tubuh yang terasa sangat
ringan. Ia melirik Kevin yang masih tertidur pulas. Merasa tidak nyaman dengan
kondisinya yang sedang haid, Delina cepat-cepat masuk ke kamar mandi.
Ia membersihkan dirinya dan keluar dari kamar mandi
dengan cepat. “Hubby, bangun dong.”panggil Delina ketika melewati ranjang
mereka. Kevin masih diam tak bergeming. Delina memutuskan memakai pakaiannya
dulu. Ia masuk ke walk in closet dan memilih pakaian rumah untuk dikenakannya.
Setelah penampilannya rapi dan juga cantik, Delina
kembali mendekati Kevin. “Hubby, bangun. Sudah jam setengah 7.”bisik Delina di
telinga Kevin. Tapi Kevin masih ngorok.
Putar otak, Delina mendekatkan bibirnya ke bibir Kevin dan mencium suaminya itu. Ia
mengingat cara Kevin menciumnya dan mempraktekkannya pagi itu. Kevin yang merasakan
bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang lembut dan manis, otomatis membuka
matanya.
“Bangun, hubby.”kata Delina dengan senyum manisnya.
“Cium lagi dong.”pinta Kevin memonyongkan bibirnya.
“Mandi sana, bau jigong.”kata Delina menggoda
Kevin.
Kevin bangkit dari rebahannya, ia merentangkan
tangannya ke atas. Sebenarnya ia malas bangun karena tidur larut semalam, tapi
bayangan ayahnya yang sedang mengomel, memaksanya masuk ke kamar mandi.
Delina lebih dulu keluar dari kamar mereka, ia
mendengar suara pintu terbuka dan mengira Ali yang keluar dari kamarnya.Matanya
terbelalak melihat Agnes keluar dari kamar Ali. Saking terkejutnya, Delina
tidak mengatakan apa-apa. Delina mendengar suara tawa Ali dari balik pintu
kamarnya.
“Waduh. Apa yang sedang terjadi? Apa mereka ada
hubungan?” pikiran Delina langsung melayang ke pikiran yang iya-iya.
Dengan pikiran mengenai sejauh mana hubungan Ali
dan Agnes, Delina turun ke lantai bawah. Mb Sri sudah menyelesaikan membuat
__ADS_1
sarapan. Delina langsung membantunya menyiapkan kopi.
“Mb Sri, di kulkas ada bahan untuk buat opor ayam
gak?”tanya Delina.
“Ada ayam sama santan. Tapi bumbu jadinya... tunggu
bentar.”ujar Sri sambil membuka lemari persediaan, ia mengeluarkan sebungkus
bumbu opor. “Memangnya mau buat opor untuk kapan?”tanya Sri.
“Buat makan siang ayah sama ibu. Sama hubby juga.
Maunya bikin opor sama sambel aja.”
Sri tersenyum melihat Delina sibuk menjadi menantu
dan istri yang baik. Sayang sekali kalau sampai nenek Indri tidak merestui
penikahan mereka. Keluarga Alvin sudah kembali hangat seperti dulu ketika Kevin
masih kecil.
Alvin sudah duduk di meja makan, Delina
menghidangkan kopi untuknya terlebih dahulu. “Ina, apa cemilan hari ini?”tanya
Alvin.
“Tahu sumedang gimana, yah? Saosnya pake tauco dan
kecap. Kasi irisan cabai hijau.”saut Delina.
“Ada yang lain gak?”tanya Alvin sambil menyesap
kopinya.
“Mmm. Dimsum udang? Ayam?”tanya Agnes melirik Agnes
yang langsung menegakkan kepalanya menatap Delina. Delina ingin menanyakan
sesuatu pada Agnes tentang hubungannya dengan Ali. Ia memancing Agnes dengan
“Itu saja.”putus Alvin.
“Boleh aku minta, Delina?”tanya Agnes.
Delina tersenyum manis, “Boleh aja. Tapi... ada
syaratnya.”
“Dih, pake syarat segala. Apa? Nemenin belanja?
Oke.”kata Agnes terpancing.
“Iya. Bahan makanan udah mau habis. Ibu yang mau
belanja atau Delina aja?”tanya Delina pada Amira.
“Aduh, kamu mau belanja bulanan. Akhirnya ibu bebas
gak harus sibuk mikirin belanja, bayar tagihan... eh, sekalian bayarin tagihan
rumah ya. Pake kartu kreditmu aja.”kata Amira girang.
Delina bengong melihat reaksi Amira, ponselnya
langsung berbunyi dengan chat dari Amira yang meneruskan bukti pembayaran
tagihan telpon, internet, TV kabel, listrik, air, tagihan keamanan, dan masih
banyak lagi kewajiban yang harus dibayar Delina.
“Ini Delina bayar pake kartu bisa, bu?”tanya Delina
bingung.
“Iya, nanti Kevin aja suruh bantuin ya. Trus uang
bulanan untuk gaji pembantu juga nanti ibu transfer ke rekeningmu, kalo gaji
sopir sama security sudah dibayar dari kantor. Itu aja yang rutin tiap bulan,
__ADS_1
Delina. Nanti cek lagi ya. Sama daftar belanjaan, minta aja sama Sri ya.”
Delina hanya mengangguk dengan banyaknya hal yang
harus ia urus mulai sekarang. Kevin tersenyum senang, karena tanggung jawab
Amira sudah pindah ke Delina. Ia semakin yakin kalau Delina memang sudah
diterima sebagai menantu di rumah Alvin.
Mereka lanjut sarapan bersama. Kevin yang sangat
manja pada Delina, memintanya menyuapinya makan. “Hubby seperti anak kecil
saja. Makan sendiri, gak malu sama ayah, ibu.”kata Delina tersenyum melihat
tingkah Kevin.
“Boleh kan aku manja sama istri sendiri. Lagian aku
harus puasa seminggu. Kamu gak kasian sama aku?”tanya Kevin cemberut.
Delina cepat-cepat menyuapi Kevin sarapan di
piringnya. Ia tidak mau Kevin semakin nglantur mengatakan yang tidak-tidak di
depan keluarganya. Ali mencibir melihat Kevin bucin, ia memakan makanannya
dengan malas. Pagi itu setelah Agnes keluar dari kamarnya, Ali menerima telpon
dari rumah sakit. Ia harus menyelesaikan dua operasi hari itu juga.
Agnes yang melihat Ali makan tanpa selera, sengaja
menyenggol lengannya. Tapi Ali tidak merespon Agnes, ia sibuk memikirkan
schedulenya yang sangat padat. Padahal Ali ingin menghabiskan lebih banyak
waktunya bersama Agnes. Agnes yang melihat Ali mengacuhkannya, mulai berpikir
kalau pria itu mulai bosan padanya. Pikiran negatif memenuhi pikiran Agnes, ia
kecewa pada Ali. Setelah apa yang mereka lakukan semalam, pagi ini Ali malah
mengacuhkannya. Agnes jadi menyesal sudah jatuh cinta pada pria brengsek itu.
Setelah sarapan selesai, Kevin sedang menikmati
menatap wajah Delina yang sedang mengelap bibirnya. Alvin dan Amira berdiri
sangat dekat ketika Amira membetulkan letak dasi Alvin dan Sri menyerahkan jas
milik tuan besar itu. Agnes nelangsa melihat Ali pergi begitu saja tanpa
mengatakan apa-apa padanya.
Beberapa jam kemudian, Agnes sibuk melihat keluar
jendela mobil yang membawa dirinya dan Delina ke sebuah pusat perbelanjaan. Pikirannya
masih terpaut pada Ali, ia ingin menangis ketika mengingat Ali sudah menyentuh
hampir seluruh tubuhnya. Agnes merasa dirinya sangat murahan sekarang.
“Kamu mikirin apa, Nes?”tanya Delina. Agnes tidak
menjawab, ia sudah menangis tanpa suara. Delina menarik bahu Agnes, membuatnya
menoleh pada Delina. “Kamu kenapa nangis, Nes?”
Agnes menggeleng. Ia tidak mau ada orang yang tahu
tentang hubungannya dengan Ali.
“Ya sudah kalau gak mau cerita. Kita belanja aja
ya. Habis itu kita beli es krim.”kata Delina ramah.
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.
__ADS_1