
“Kemana dia? Kamu nggak mungkin nggak tau. Cepat
bilang!”ketus Kevin emosi sambil menarik kerah baju Ali.
“Sumpah, aku nggak tau, kak. Aku nggak bohong sama
kakak. Nggak berani bohong!”teriak Ali merasa tercekik.
Kevin menghempaskan Ali dengan kasar, ia
menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Diambilnya ponsel dari saku jas-nya. Seseorang
menelpon Kevin,
“Tuan muda, nyonya muda dibawa pergi tuan besar.
Saya tidak bisa mengikutinya karena body guard tuan besar menahan saya
dibawah.”kata orang itu cepat.
Kevin mematikan sambungan telpon. Ia mengacak-acak
rambutnya dengan gemas. Kevin menekan beberapa tombol di layar ponselnya, ia
mencoba menelpon Alvin.
“Ayah, dimana Delina?”
“Urus bayimu dulu. Ina akan aman dalam pengawasan
ayah. Kamu nggak usah khawatirkan dia.”kata Alvin dingin langsung mematikan
sambungan telpon.
Kevin beralih menelpon Delina, istrinya itu tidak
mau mengangkat telponnya sejak semalam. Sampai sekarangpun Delina tidak mau
mengangkat telpon darinya.
“Aaaarrggghhhh!!!”teriak Kevin sambil melemparkan
ponselnya hingga berserakan di lantai apartment Ali. Ponsel keluaran terbaru
dengan harga puluhan juga itu tampak termutilasi dengan sempurna.
Kevin keluar dari apartment Ali tanpa mengatakan
apa-apa lagi. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai ke kantor.
Security membukakan pintu untuk Kevin yang langsung keluar dari mobilnya menuju
ke lantai kantornya berada.
Saat sekretaris Alvin melihat kedatangan Kevin
dengan aura menyeramkan, ia cepat-cepat berdiri tegak dari duduknya.
“Selamat pagi, tuan muda.”sapa Nana.
“Panggil Keanu ke ruanganku. Belikan aku HP
terbaru.”sambar Kevin dingin.
“Baik, tuan muda.”kata Nana.
Kevin masuk ke dalam ruang kerjanya, Keanu menyusul
masuk ke ruang kerja Kevin. Saat pintu ruangan itu tertutup, neraka bagi Keanu
dan karyawan di perusahaan Alvin akhirnya dimulai lagi.
*****
Alvin yang sedang menemani Delina memilih konsep untuk
tokonya, mendapat telpon teror dari kantornya. Para managernya menanyakan
keberadaannya setelah Kevin memporak-porandakan kantornya. Alvin tersenyum dan
mengatakan dirinya sedang sibuk mengerjakan suatu proyek dengan nilai milyaran
rupiah dan menyerahkan urusan perusahaan pada Kevin untuk beberapa hari ke
depan.
Nyatanya, Alvin sedang duduk manis di samping
Delina dengan cemilan di tangannya. Menantunya itu memasak cemilan dan membuat
__ADS_1
kopi untuknya. Amira mengeluh ingin tetap tinggal, tapi ia harus mengurus
kantornya dulu.
Sepeninggal Amira, Alvin meminta semua orang untuk
pergi dari sana. Ia ingin mengobrol dengan Delina berdua saja.
“Ina, apa Kevin menelponmu?”tanya Alvin.
“Nggak tau, ayah. Sejak semalam HP-ku di dalam
tas.”kata Delina.
“Kalau dia menelpon, apa kau akan mengangkatnya?”
Delina terdiam. Bohong kalau ia tidak sakit hati,
bohong kalau ia bisa tegar. Nyatanya ia tidak berani memegang ponselnya. Ia
takut tidak bisa menguasai dirinya saat Kevin menelponnya nanti.
“Buat apa, ayah. Seminggu lagi test DNA itu keluar.
Aku perlu waktu mempersiapkan hatiku kalau harus melihat suamiku menikah
lagi.”lirih Delina.
“Bagaimana kalau dia tidak menikahi wanita itu?
Meskipun bayi itu anak kandungnya, tapi mereka tidak menikah?”tanya Alvin lagi.
“Gimana bisa, ayah. Sudah ada seorang bayi di
antara mereka. Bagaimana bisa bayi itu tumbuh tanpa ayah dan ibunya? Rasanya
tidak adil bagi dia, ayah.”kata Delina.
Alvin menatap Delina yang tersenyum getir. Setiap
kata-kata Delina terdengar tulus.
“Delina, gimana kalau kamu hamil?”tanya Alvin
membuat Delina tersedak air putih yang baru saja diminumnya.
“Hamil, yah? Aku belum hamil. Jadi nggak
Alvin mengacak kerudung yang dipakai Delina. Ia
membuka ponselnya, memperlihatkan chat dari Ali. Delina membaca chat dan
melihat foto testpack bergaris merah dua itu dengan kebingungan di kepalanya.
“Kapan Ali... oh, yang kemarin itu ya.”ucap Delina
baru sadar test apa yang dikatakan Ali. “Aku beneran hamil?”
“Iya, Ina. Kamu harus janji sama ayah, kamu harus
jaga baik-baik bayi ini. Kamu nggak perlu memikirkan apapun. Tokomu, hidupmu,
ayah dan ibu akan menjagamu dengan baik. Hem...”kata Alvin menunjuk perut
Delina.
Delina mengangguk, ia mengelus perutnya yang masih
rata dengan senyum mengembang. Di dalam lubuk hatinya, ia hanya ingin hidup
bersama bayinya saja.
*****
Lima tahun kemudian,
Seorang gadis kecil sedang berdiri di depan toko
kebaya bernama ‘Miracle’. Ia ingin masuk ke toko itu ketika melihat dress
panjang untuk anak kecil terpasang pada maneqin di etalase depan. Seorang
penjaga toko membungkuk melihat kedatangan gadis kecil itu.
“Selamat datang di toko kami. Silakan
melihat-lihat, nona.”sapa penjaga toko ramah sambil membuka pintu.
Emilia Raditya, putri kandung Kevin Raditya dengan
__ADS_1
Clara kini sudah berumur lima tahun. Siang itu sepulang sekolah, Amira mengajak
Emilia ke kantornya untuk mengurus sesuatu. Biasanya Emilia akan berkeliaran di
sekitar kantor Amira sambil sesekali menggambar. Entah bagaimana gadis kecil
itu turun ke lobby dan berakhir di toko kebaya itu.
....Flash back on...
Hasil test DNA akhirnya keluar setelah seminggu
berlalu. Bayi perempuan yang dilahirkan Clara memang anak kandung Kevin. Sebelum
mengetahui hal itu, Kevin terus berusaha mencari keberadaan Delina. Tapi saat
test DNA menunjukkan kebenaran, Kevin menghentikan semua usahanya mencari
Delina.
Seperti dalam perjanjian yang dibuat Alvin
sebelumnya, Clara meminta satu pasal dirubah agar keluarga Alvin mau menopang hidupnya
seumur hidup dan bukan sampai putrinya berumur duapuluh satu tahun.
Setelah melahirkan, Clara tidak tinggal bersama
Emilia. Ia menempati rumah yang sudah disiapkan Alvin. Rumah sederhana yang
tidak mewah, tapi cukup untuk dirinya tinggal sendiri. Clara juga menerima buku
tabungan yang berisi uang bulanannya.
Sementara Emilia tinggal di rumah besar Alvin dan
diasuh baby sitter. Sejak Emilia tinggal di rumah itu, Kevin tidak pernah pulang
lagi. Ia tinggal di apartmentnya sendirian. Emilia tumbuh besar tanpa kasih
sayang dari ayah dan ibunya.
....Flash back end...
Emilia melihat-lihat kebaya yang dipajang di rak
tinggi, ia berhenti di bagian yang menjual kebaya untuk anak-anak. “Aku mau
itu. Bawa kesini!”pinta Emilia ketus. Sifat dan sikapnya sangat mirip dengan
Kevin. Ketus dan angkuh.
“Nona, kebaya itu bukan untuk dijual. Maaf.”ujar
pelayan toko itu.
“Aku mau kebaya itu!! Berapa harganya?! Aku sanggup
beli!!”bentak Emilia kasar.
“Ada apa ini?”tanya Delina yang baru saja datang.
Tutur kata Delina yang lembut membuat Emilia
menoleh, ia terpesona melihat kecantikan Delina yang bertambah seiring
bertambahnya usianya. Delina tersenyum cantik menatap Emilia. Ia berjongkok
menyetarakan tubuhnya di depan Emilia.
“Selamat siang, gadis cantik. Boleh tante tahu
siapa namamu?”tanya Delina lembut. Kerudungnya bergerak terkena hembusan AC
melepaskan wangi segar alami yang mendarat di hidung Emilia.
“Wow! Hmm...harum.”kata Emilia sambil bergerak
mendekati Delina. Emilia memeluk Delina, menghirup harum yang menguar dari
tubuh wanita itu. “Tante harum sekali.”cetus Emilia.
Delina tersenyum, “Makasih, sayang. Gadis cantik
siapa namamu?”
*****
Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel
__ADS_1
saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.