Penjahit Hati

Penjahit Hati
Episode 94


__ADS_3

“Kemana dia? Kamu nggak mungkin nggak tau. Cepat


bilang!”ketus Kevin emosi sambil menarik kerah baju Ali.


“Sumpah, aku nggak tau, kak. Aku nggak bohong sama


kakak. Nggak berani bohong!”teriak Ali merasa tercekik.


Kevin menghempaskan Ali dengan kasar, ia


menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Diambilnya ponsel dari saku jas-nya. Seseorang


menelpon Kevin,


“Tuan muda, nyonya muda dibawa pergi tuan besar.


Saya tidak bisa mengikutinya karena body guard tuan besar menahan saya


dibawah.”kata orang itu cepat.


Kevin mematikan sambungan telpon. Ia mengacak-acak


rambutnya dengan gemas. Kevin menekan beberapa tombol di layar ponselnya, ia


mencoba menelpon Alvin.


“Ayah, dimana Delina?”


“Urus bayimu dulu. Ina akan aman dalam pengawasan


ayah. Kamu nggak usah khawatirkan dia.”kata Alvin dingin langsung mematikan


sambungan telpon.


Kevin beralih menelpon Delina, istrinya itu tidak


mau mengangkat telponnya sejak semalam. Sampai sekarangpun Delina tidak mau


mengangkat telpon darinya.


“Aaaarrggghhhh!!!”teriak Kevin sambil melemparkan


ponselnya hingga berserakan di lantai apartment Ali. Ponsel keluaran terbaru


dengan harga puluhan juga itu tampak termutilasi dengan sempurna.


Kevin keluar dari apartment Ali tanpa mengatakan


apa-apa lagi. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai ke kantor.


Security membukakan pintu untuk Kevin yang langsung keluar dari mobilnya menuju


ke lantai kantornya berada.


Saat sekretaris Alvin melihat kedatangan Kevin


dengan aura menyeramkan, ia cepat-cepat berdiri tegak dari duduknya.


“Selamat pagi, tuan muda.”sapa Nana.


“Panggil Keanu ke ruanganku. Belikan aku HP


terbaru.”sambar Kevin dingin.


“Baik, tuan muda.”kata Nana.


Kevin masuk ke dalam ruang kerjanya, Keanu menyusul


masuk ke ruang kerja Kevin. Saat pintu ruangan itu tertutup, neraka bagi Keanu


dan karyawan di perusahaan Alvin akhirnya dimulai lagi.


*****


Alvin yang sedang menemani Delina memilih konsep untuk


tokonya, mendapat telpon teror dari kantornya. Para managernya menanyakan


keberadaannya setelah Kevin memporak-porandakan kantornya. Alvin tersenyum dan


mengatakan dirinya sedang sibuk mengerjakan suatu proyek dengan nilai milyaran


rupiah dan menyerahkan urusan perusahaan pada Kevin untuk beberapa hari ke


depan.


Nyatanya, Alvin sedang duduk manis di samping


Delina dengan cemilan di tangannya. Menantunya itu memasak cemilan dan membuat

__ADS_1


kopi untuknya. Amira mengeluh ingin tetap tinggal, tapi ia harus mengurus


kantornya dulu.


Sepeninggal Amira, Alvin meminta semua orang untuk


pergi dari sana. Ia ingin mengobrol dengan Delina berdua saja.


“Ina, apa Kevin menelponmu?”tanya Alvin.


“Nggak tau, ayah. Sejak semalam HP-ku di dalam


tas.”kata Delina.


“Kalau dia menelpon, apa kau akan mengangkatnya?”


Delina terdiam. Bohong kalau ia tidak sakit hati,


bohong kalau ia bisa tegar. Nyatanya ia tidak berani memegang ponselnya. Ia


takut tidak bisa menguasai dirinya saat Kevin menelponnya nanti.


“Buat apa, ayah. Seminggu lagi test DNA itu keluar.


Aku perlu waktu mempersiapkan hatiku kalau harus melihat suamiku menikah


lagi.”lirih Delina.


“Bagaimana kalau dia tidak menikahi wanita itu?


Meskipun bayi itu anak kandungnya, tapi mereka tidak menikah?”tanya Alvin lagi.


“Gimana bisa, ayah. Sudah ada seorang bayi di


antara mereka. Bagaimana bisa bayi itu tumbuh tanpa ayah dan ibunya? Rasanya


tidak adil bagi dia, ayah.”kata Delina.


Alvin menatap Delina yang tersenyum getir. Setiap


kata-kata Delina terdengar tulus.


“Delina, gimana kalau kamu hamil?”tanya Alvin


membuat Delina tersedak air putih yang baru saja diminumnya.


“Hamil, yah? Aku belum hamil. Jadi nggak


Alvin mengacak kerudung yang dipakai Delina. Ia


membuka ponselnya, memperlihatkan chat dari Ali. Delina membaca chat dan


melihat foto testpack bergaris merah dua itu dengan kebingungan di kepalanya.


“Kapan Ali... oh, yang kemarin itu ya.”ucap Delina


baru sadar test apa yang dikatakan Ali. “Aku beneran hamil?”


“Iya, Ina. Kamu harus janji sama ayah, kamu harus


jaga baik-baik bayi ini. Kamu nggak perlu memikirkan apapun. Tokomu, hidupmu,


ayah dan ibu akan menjagamu dengan baik. Hem...”kata Alvin menunjuk perut


Delina.


Delina mengangguk, ia mengelus perutnya yang masih


rata dengan senyum mengembang. Di dalam lubuk hatinya, ia hanya ingin hidup


bersama bayinya saja.


*****


Lima tahun kemudian,


Seorang gadis kecil sedang berdiri di depan toko


kebaya bernama ‘Miracle’. Ia ingin masuk ke toko itu ketika melihat dress


panjang untuk anak kecil terpasang pada maneqin di etalase depan. Seorang


penjaga toko membungkuk melihat kedatangan gadis kecil itu.


“Selamat datang di toko kami. Silakan


melihat-lihat, nona.”sapa penjaga toko ramah sambil membuka pintu.


Emilia Raditya, putri kandung Kevin Raditya dengan

__ADS_1


Clara kini sudah berumur lima tahun. Siang itu sepulang sekolah, Amira mengajak


Emilia ke kantornya untuk mengurus sesuatu. Biasanya Emilia akan berkeliaran di


sekitar kantor Amira sambil sesekali menggambar. Entah bagaimana gadis kecil


itu turun ke lobby dan berakhir di toko kebaya itu.


....Flash back on...


Hasil test DNA akhirnya keluar setelah seminggu


berlalu. Bayi perempuan yang dilahirkan Clara memang anak kandung Kevin. Sebelum


mengetahui hal itu, Kevin terus berusaha mencari keberadaan Delina. Tapi saat


test DNA menunjukkan kebenaran, Kevin menghentikan semua usahanya mencari


Delina.


Seperti dalam perjanjian yang dibuat Alvin


sebelumnya, Clara meminta satu pasal dirubah agar keluarga Alvin mau menopang hidupnya


seumur hidup dan bukan sampai putrinya berumur duapuluh satu tahun.


Setelah melahirkan, Clara tidak tinggal bersama


Emilia. Ia menempati rumah yang sudah disiapkan Alvin. Rumah sederhana yang


tidak mewah, tapi cukup untuk dirinya tinggal sendiri. Clara juga menerima buku


tabungan yang berisi uang bulanannya.


Sementara Emilia tinggal di rumah besar Alvin dan


diasuh baby sitter. Sejak Emilia tinggal di rumah itu, Kevin tidak pernah pulang


lagi. Ia tinggal di apartmentnya sendirian. Emilia tumbuh besar tanpa kasih


sayang dari ayah dan ibunya.


....Flash back end...


Emilia melihat-lihat kebaya yang dipajang di rak


tinggi, ia berhenti di bagian yang menjual kebaya untuk anak-anak. “Aku mau


itu. Bawa kesini!”pinta Emilia ketus. Sifat dan sikapnya sangat mirip dengan


Kevin. Ketus dan angkuh.


“Nona, kebaya itu bukan untuk dijual. Maaf.”ujar


pelayan toko itu.


“Aku mau kebaya itu!! Berapa harganya?! Aku sanggup


beli!!”bentak Emilia kasar.


“Ada apa ini?”tanya Delina yang baru saja datang.


Tutur kata Delina yang lembut membuat Emilia


menoleh, ia terpesona melihat kecantikan Delina yang bertambah seiring


bertambahnya usianya. Delina tersenyum cantik menatap Emilia. Ia berjongkok


menyetarakan tubuhnya di depan Emilia.


“Selamat siang, gadis cantik. Boleh tante tahu


siapa namamu?”tanya Delina lembut. Kerudungnya bergerak terkena hembusan AC


melepaskan wangi segar alami yang mendarat di hidung Emilia.


“Wow! Hmm...harum.”kata Emilia sambil bergerak


mendekati Delina. Emilia memeluk Delina, menghirup harum yang menguar dari


tubuh wanita itu. “Tante harum sekali.”cetus Emilia.


Delina tersenyum, “Makasih, sayang. Gadis cantik


siapa namamu?”


*****


Like, vote, komen dong kk, tinggalkan jejakmu di novel

__ADS_1


saya. Beri semangat untuk saya agar bisa up tiap hari ya.


__ADS_2