
"Tuan ...." Pengusaha itu kembali menyapa Jake. Jake pun tersadar dari ingatannya.
"Em, ya." Jake menjawab sekedarnya.
"Tuan maaf jika saya—"
"Aku tidak berjudi lagi. Aku sedang menabung," kata Jake, menyela perkataan pengusaha itu.
"Menabung?" Pengusaha itupun tampak heran.
"Ya. Aku ingin membuat pesta perayaan besar. Dan aku sedang menabung untuk itu. Sudah lama aku tidak berjudi." Jake pun beranjak pergi.
"Tuan, tapi—"
Jake mengangkat tangannya seraya terus berjalan pergi, meninggalkan pengusaha itu. Seolah memberi tanda agar tidak lagi bicara. Pengusaha itu pun tampak terheran-heran dengan sikap Jake yang berubah drastis. Tak biasanya Jake menolak ajakan berjudi seperti hari ini. Setahunya Jake adalah seorang penjudi akut yang seringkali menang dalam permainan. Tapi hari ini Jake menolak mentah-mentah ajakannya.
__ADS_1
"Pesta besar? Pesta apa? Apakah dia akan merayakan sesuatu?" Pengusaha itupun bertanya-tanya sendiri.
Jake terus saja berjalan menuju ruang pertemuan. Ia tidak mengindahkan pengusaha lain yang mengajaknya bicara. Ia fokus ke pertemuan hari ini. Sesekali ia juga mengecek ponselnya. Menanti pesan masuk yang ditujukan kepadanya. Dan tak lama ruang pertemuan pun berada di hadapannya. Jake lekas masuk ke dalamnya. Sedang pengusaha kelas menengah itu masih terheran-heran dengan sikap Jake.
Kembali ke rumah ibu Alexander...
Bian membantu ibu Alexander membawa bunga lily yang sudah dipilihnya. Saat ini keduanya baru saja duduk di kursi teras depan rumah. Tampak Helen yang menyiapkan alat pembuatan buket. Bian pun tanpa segan membantunya.
"Jika melihat bunga ini, aku jadi teringat dengan temanku, Nyonya." Bian memancing Helen untuk menanggapi.
Helen pun terpancing. "Pasti temannya itu sangat berharga bagi Nona." Helen tersenyum kepada Bian.
"Siapa memang nama temannya, Nona? Pasti dia juga cantik seperti Nona." Helen berbasa-basi sambil menyusun bunga yang akan dijadikan buket.
"Namanya Lilia, Nyonya. Dia teman satu bidang denganku. Hanya saja tugas kami berbeda," jawab Bian yang membuat Helen tersentak.
__ADS_1
"Lilia?"
Bian menyadari jika Helen sudah terpancing dengan ucapannya. Ia pun meneruskan aksinya demi sebuah janji yang diberikan oleh Jake. Sedang Helen tampak termenung mendengar nama itu.
"Ya. Lilia sukses merayu banyak pria tanpa melihat usia mereka. Tapi kini kudengar dia sudah dekat dengan pria muda yang tampan. Aku jadi ingin sepertinya." Bian menceritakan.
Saat itu juga Helen mengentikan aktivitasnya. Pikirannya mulai diselimuti dengan perkataan Bian.
Pria muda? Apa itu Alexander?
"Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi mungkin dia sudah bahagia sekarang. Padahal masih banyak pekerjaan yang bisa dia ambil dan meraup keuntungan dari merayu bos-bos besar."
Bian terus saja menceritakan tentang Lilia tanpa peduli bagaimana tanggapan Helen. Helen pun tampak menelan ludahnya saat mendengar cerita dari Bian. Ia tak percaya jika Lilia yang diceritakan adalah seorang penggoda pria. Sampai akhirnya perbincangan itu menuju ke titik tujuan Bian datang kemari.
"Apakah Anda mempunyai fotonya?" tanya Helen yang sudah diujung rasa penasarannya.
__ADS_1
Bian tersenyum puas di dalam hati. Aksinya berjalan lancar sore ini. "Ada Nyonya. Sebentar." Ia pun mengambil ponsel dari dalam tasnya.
Bian mengambil ponsel lalu menunjukkan foto Lilia kepada Helen. Saat itu juga Helen terkejut melihatnya. Ia menutup mulut dengan tangannya karena rasa tak percaya. Ternyata Lilia yang diceritakan adalah Lilia yang dikenalnya.