PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Sign Birth


__ADS_3

Jake tersenyum. "Aku sudah mengutus orang untuk mengawasi para hakim dan jaksa selama satu minggu ke depan. Terima kasih atas kepedulianmu." Jake berterima kasih atas simpatik Jinny terhadapnya.


Jinny pun mengangguk. Ia mengerti jika Jake tidak akan mudah dikalahkan. Pria itu juga tidak akan sembarang bertindak. Jake pasti memikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan.


"Em, Tuan. Ada yang ingin saya ceritakan." Jinny mengingat sesuatu.


"Apa?" tanya Jake segera.


Jinny mengambil ponselnya. "Ini, Tuan." Jinny memutar ulang rekaman di ponselnya.


Jake pun mendengarkan baik-baik rekaman tersebut. Terdengar jelas suara Petrus yang berbicara di sana.


"Aku ... aku menitipkannya di panti asuhan. Dia ... mempunyai tanda lahir di telapak kaki bagian dalam."


Alangkah terkejutnya Jake saat mendengarkan isi rekaman tersebut. Ia pun teringat cepat dengan seseorang yang mempunyai tanda lahir di telapak kakinya. Yang mana seseorang itu adalah orang yang paling ingin ditemuinya.


Lilia ...?!


Jake teringat dengan Lilia saat Petrus meminta Jinny untuk mencarikan bayi yang mempunyai tanda lahir di telapak kaki bagian dalamnya. Kenangan akan malam pertama bersama Lilia pun kembali teringat di benaknya. Jake melihat sendiri jika ada tanda lahir itu di telapak kaki Lilia. Ia juga menciumnya. Sontak jantungnya berdebar kencang seketika.

__ADS_1


Apakah Lilia yang dimaksud? Jake bertanya-tanya.


"Tuan?" Jinny segera menegurnya.


"Jinny."


"Ya, Tuan?" Jinny antusias.


Jake terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam. "Jinny, aku akan memindahkan Petrus ke tempat yang lebih aman. Kau bersiap-siaplah untuk ikut dengannya." Jake membuat keputusan.


"Tuan?" Jinny merasa bingung.


"Aku harus mendapatkan informasi lebih lanjut tentang bayi itu. Aku akan kembali esok." Jake pun segera beranjak meninggalkan ruangan.


Aku harus melihatnya kembali. Benarkah dia yang dimaksud?


Jake segera meninggalkan rumah sakit untuk menuju ke apartemennya. Ia ingin mengecek kembali kebenaran tanda lahir di telapak kaki Lilia. Jake memiliki fotonya.


Esok harinya, di kantor GOC...

__ADS_1


Pagi-pagi Jake meminta semua kepala divisi untuk masuk ke ruangan rapat. Ia mengadakan rapat karena akan mengambil cuti. Jake ingin menjemput Lilia kembali. Tampak di ruangan itu sangat antusias mendengarkan Jake membagi tugas.


"Selama empat hari ke depan, pastikan tidak ada satupun karyawan yang tidak masuk bekerja. Selain cuti melahirkan dan rawat inap di rumah sakit. Aku ingin selama cuti ini kalian bisa bekerja semaksimal mungkin. Dan tetaplah disiplin waktu karena aku akan selalu mengawasinya. Kalian mengerti?" tanya Jake kepada semua kepala divisi.


"Mengerti, Tuan." Mereka pun serempak menjawab.


"Bagus. Sementara waktu aku akan menugaskan Lara untuk menggantikan pekerjaanku. Bagaimana Lara?" tanya Jake kepada Lara yang duduk di sampingnya.


"Aku siap, Tuan." Lara pun menyanggupinya.


"Bagus. Kalau begitu rapat selesai. Kerjakan tugas kalian dengan baik." Jake menyudahi rapatnya.


"Siap, Tuan!"


Mereka pun satu per satu keluar dari ruangan rapat. Hingga akhirnya hanya tersisa Lara di dalam sana.


"Lara." Jake pun memanggil Lara.


"Ya, Tuan?" Lara segera menyahutnya.

__ADS_1


"Selama cuti, buat kamuflase seakan-akan aku tidak tahu apa yang terjadi di kantor. Kau bisa, bukan?" tanya Jake lagi.


Lara mengangguk. "Aku mengerti, Tuan."


__ADS_2