PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Recorder


__ADS_3

Seketika Lea pucat pasi. Ia merasa terpojok kali ini.


"Tolong ambilkan dan putar kaset tersebut." Hakim ketua meminta kepada hakim pembantu.


"Baik Yang Mulia." Hakim pembantu pun mengambil kaset itu lalu memutarnya. Dan ternyata...


"Tuan Hakim, dia berbohong!" Lea tidak terima. Ia segera berdiri lalu menunjuk-nunjuk Jake.


"Aku berbohong? Tidak. Sudah jelas buktinya."


Saat itu juga jantung Lea deg-degan bukan main. Ia merasa terpojok sekali.


Dari mana dia bisa mendapatkan rekaman itu?

__ADS_1


Sepintar-pintarnya menyimpan bangkai, suatu saat pasti akan tercium juga. Begitu kata pepatah menggambarkan keadaan Lea saat ini. Jelas terlihat jika Lea bersama seorang pria masuk ke dalam kamar hotel. Di mana di dalam kamar hotel tersebut mereka bermain tanpa peduli status masing-masing. Saling mengecup, mencium dan menyentuh dengan lembut. Para hakim pun saling melirik satu sama lain. Mereka tidak percaya jika ada kasus seperti ini.


Lea tertangkap basah memasuki kamar bersama pria lain. Lea pun menanggung malu akibat perbuatannya sendiri. Ia marah, namun tidak bisa menampakkannya. Ia pun segera beralibi.


"Tuan Hakim, itu bukan aku! Itu pasti rekayasanya!" Lea bersikeras tidak mengakui.


Suasana persidangan pun akhirnya mulai ricuh karena amarah Lea. Hakim ketua merasa terganggu dengan amarah wanita itu.


"Pihak penggugat dimohon tenang." Hakim mengetuk palu. "Tolong perjelas siapa wanita itu." Hakim meminta memperbesar wajah wanita yang ada di video tersebut.


Lea, kau kalah.


Jake terlihat mendominasi keadaan. Ia tersenyum penuh kemenangan karena mampu bertahan dan menyerang balik. Sedang Lea tampak tak terima dengan segala hal yang Jake tunjukkan. Ia ingin mengajukan banding jika sampai mengalami kekalahan. Mereka telah membohongi publik selama ini.

__ADS_1


Malam harinya...


Suasana perkotaan masih ramai oleh kendaraan yang lalu-lalang di jalanan ibu kota. Begitu juga dengan suasana di rumah sakit yang selalu ramai oleh para penjenguk. Jake pun ikut berada di sana dan sedang menemui Jinny malam ini. Mereka mengobrol sebentar sebelum meneruskan pekerjaan masing-masing.


Tampak Jake yang duduk di seberang Jinny, di sofa tamu ruang rawat inap kelas VVIP. Sedang Petrus masih tertidur di pembaringannya. Ia harus lebih banyak mengistirahatkan tubuhnya.


"Sabarlah menunggu kebebasanmu, Jinny. Saat ini aku masih membutuhkanmu. Tidak sembarang orang bisa kupercaya," terang Jake kepada Jinny.


Seketika Jinny terdiam. Kata-kata dari Jake seolah mengisyaratkan kebebasan yang tak lama lagi untuknya.


"Em, Tuan. Saya dengar Anda sudah melangsungkan sidang perceraian yang ke dua. Apakah Anda membutuhkan kehadiran saya untuk ikut hadir di persidangan selanjutnya?" Jinny menawarkan diri. Ia ingin ikut membantu.


Jake meneguk teh yang disajikan oleh Jinny. "Tidak perlu. Seminggu lagi hakim akan memutuskan hasil sidang. Sidang ke dua tadi berjalan dengan lancar. Dia tidak bisa mengalahkanku." Jake amat yakin dapat memenangkan sidang perceraian.

__ADS_1


Jinny merasa khawatir. "Tapi, Tuan. Saya khawatir nyonya menggunakan uangnya untuk memutarbalikkan keadaan. Bisa saja para hakim dan jaksa disogok olehnya. Bukankah hal itu bisa ia lakukan?" Jinny tampak khawatir.


__ADS_2