
"Lilia, buka pintunya. Kita bicarakan baik-baik hal ini. Lilia!" Alexander pun terus mengetuk-ngetuk pintu. Tapi sayang, ternyata tidak kunjung dibukakan oleh Lilia. Sedang Lilia di dalam kamar tampak meratapi nasibnya.
Apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi dari sini?
Lilia merasa frustrasi.
Niat hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai. Mungkin pepatah itulah yang tepat menggambarkan keadaan Lilia saat ini. Apa yang diharapkannya ternyata tidak bisa digapainya. Berhari-hari ia dibuat menunggu hingga tidak lagi bisa menahan kesabarannya. Lilia akhirnya mengungkapkan semua unek-unek hatinya. Ia ingin kepastian dari prianya.
__ADS_1
Lilia bak menemui jalan buntu. Ia tidak tahu harus ke mana dan menemui siapa. Rasa sakit karena penantian yang tidak berujung itu harus ia tanggung sendiri di tengah kedukaan hati. Lilia tidak tahu harus ke mana lagi. Dilema menerjang alam pikirannya. Terpikir niatan di hatinya untuk mengakhiri semua ini. Namun, di sisi lain mengatakan untuk terus berjuang karena masih ada harapan di masa depan.
Lantas apa yang akan Lilia lakukan agar tidak digantung oleh Alexander? Apakah ia akan menemui Jake kembali? Atau ia akan pergi jauh dan tak kembali lagi?
Kembali ke persidangan...
Lara diam. Ia hanya melihat keadaan sekitar untuk memastikan tidak ada tindakan brutal di sidang perdana bosnya. Para awak media yang berada di luar pun tampak ingin tahu apa yang terjadi di ruang persidangan. Mereka beramai-ramai meletakkan kamera di jendela ruangan. Hal itu tentu saja tidak enak dipandang mata. Sesuatu yang privasi bisa menjadi konsumsi khalayak ramai.
__ADS_1
"Pihak penggugat menggugat tergugat karena selama dua tahun dua bulan pernikahan, pihak tergugat tidak pernah memberikan nafkah lahir atau batin. Hal ini menyebabkan kerugian besar pada pihak penggugat karena harus menafkahi dirinya sendiri. Pihak tergugat juga melakukan perselingkuhan di belakang pihak penggugat dan bahkan membela habis-habisan wanita selingkuhannya. Pihak penggugat mengalami kekecewaan lahir dan batin. Ia mengalami kerugian besar selama dua tahun terakhir." Pengacara Lea membacakan inti dari gugatan kliennya.
Jake memijat kepalanya sendiri. Bukan karena khawatir atas gugatan yang diajukan. Namun, ia merasa miris dengan tujuan di balik gugatan tersebut. Jake tahu jika Lea menginginkan setengah harta darinya. Tapi cara yang Lea lakukan begitu manis sekali. Menutupi kebusukan sendiri dengan menuding orang lain. Bak lempar batu sembunyi tangan.
Hakim kemudian beralih kepada Jake setelah semua gugatan selesai dibacakan. "Saudara Jake Thompson, Anda sebagai pihak tergugat, apakah ada pembelaan?" tanya hakim pengadilan.
Jake membenarkan posisi duduknya. Ia duduk menghadap hakim yang menunggunya bicara. Sedang Lea tampak menunggu tanggapan dari Jake atas gugatan cerai yang diajukannya. Ia memasang roman wajah tidak seperti biasanya. Di persidangan ini Lea tidak mengenakan make up-nya. Ia terlihat pucat sekali. Bak memendam kesedihan karena kegagalan rumah tangganya.
__ADS_1