PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
I Hate U


__ADS_3

Smith merasa tersinggung dengan ucapan Jake. Tapi sebagai seorang penjual, ia harus bersikap ramah terhadap pelanggan.


"Aku sangat menghargai waktu Anda, Tuan Jake. Secepatnya akan kukabari mengenai hal ini." Smith berjanji.


Jake merapikan jasnya. "Aku harap hasilnya tidak mengecewakan. Aku menunggunya." Jake beranjak berdiri.


Smith pun ikut berdiri. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan." Smith tersenyum palsu di hadapan Jake.


Pertemuan keduanya akhirnya berakhir setelah mencapai kesepakatan. Jake pun segera pergi meninggalkan ruangan setelah urusannya selesai. Smith kemudian ikut mengantarkan sampai ke depan pintu ruangan. Ia melihat kepergian Jake hingga hilang dari pandangan. Sedang hatinya bertanya-tanya tentang siapa wanita yang bersama anaknya. Seberapa penting wanita itu sampai membuat Jake datang menemuinya.


Baru kali ini aku mendapat kabar seperti ini. Aku harus mencari tahunya segera.

__ADS_1


Lantas Smith pun tidak ingin tinggal diam dengan permasalahan yang ada. Ia segera menelepon orang-orangnya untuk mencari tahu siapa wanita yang bersama putranya. Dan juga alasan mengapa Alexander sampai membawanya lari dari Jake.


Satu jam kemudian...


Jake kembali ke apartemennya. Ia tutup pintu apartemen itu lalu dikuncinya dari dalam. Ia melepas dasi dan juga jasnya. Ia kemudian menuju meja teh yang ada di sudut ruangan. Terlihat di meja teh itu terdapat beberapa botol anggur dan gelas kacanya. Jake pun mengambilnya satu lalu dituangkannya ke dalam gelas. Ia meneguknya sesuka hati. Suasana hatinya sedang tidak baik saat ini.


Jake membutuhkan sesuatu untuk menenangkan hatinya. Bayang-bayang seorang wanita itu selalu terlintas di benaknya. Bagaimana bibir ranum itu mengucap satu per satu kata yang menggodanya. Dan Jake merindukannya. Ia ingin kembali ke masa-masa itu. Namun sayang seribu kali sayang, pemilik dari bibir ranum itu kini sudah dibawa orang.


Jake kesal. Benar-benar kesal menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan. Ia tak menyangka jika pemilik dari bibir ranum itu akan meninggalkannya. Ia bak orang frustrasi yang ditinggalkan sang istri. Hingga akhirnya ia hempaskan semua botol anggur miliknya. Jake melampiaskan amarahnya.


"Aarrghh!!!"

__ADS_1


Botol-botol anggur itupun berjatuhan dari atas meja. Jake tak peduli lagi betapa mahal harga dari sebotol anggur miliknya. Rasa kesal dan amarah sudah berkecamuk di dalam dadanya. Ia tak lagi bisa memendam kekesalannya. Ia mengusap wajah lalu melihat ke segala arah, berharap sosok pemilik bibir ranum itu datang menemuinya. Ia amat menginginkan sosok itu berada di dekatnya. Tapi nyatanya, itu hanya sebatas keinginannya saja.


Jake kemudian pergi ke kamar mandi. Ia memutuskan untuk menyegarkan diri malam ini. Berharap amarahnya meredup dan kekesalannya hilang. Di bawah shower air Jake mengusap wajahnya. Hingga akhirnya gemuruh di dalam hatinya sudah tidak bisa terbendung lagi. Jake tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Cepat kembali, Lilia!!!"


Ia pun meninju dinding shower bath untuk melampiaskan amarahnya. Hatinya tidak bisa terima dengan kabar yang didengarnya. Ia merasa apa yang diharapkannya tidak sesuai dengan kenyataan. Jake menelan kecewa.


"Kenapa kau tidak mengerti aku?! Kenapa?!!"


Pada akhirnya Jake menyandarkan kepalanya di dinding shower bath. Ia berusaha menikmati pancuran air di tengah gejolak amarah yang melanda. Tapi nyatanya hal itu tidak berpengaruh baginya. Jake bak kehilangan udara. Ia frustrasi menghadapi hal yang tidak sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2