
Jake adalah seorang bos besar perusahaan terkemuka yang mempunyai banyak kantor cabang di seluruh penjuru negeri. Ia memiliki kesibukan yang benar-benar padat hingga tak lagi sempat untuk bermain wanita. Hanya dengan Lilia saja ia berani melakukan semuanya. Tentunya hal itu tidak terlepas dari rasa ketertarikannya. Semua berjalan begitu saja. Tapi sayang, kini ia harus menyesalinya.
Jake menyesal karena telah membuat Lilia pergi dari sisinya. Padahal sesungguhnya hatinya sangat membutuhkan wanita itu. Namun, ia masih menutupinya agar tidak dipandang lemah. Sedang hatinya tidak bisa menafikannya. Jake juga manusia biasa. Ia memiliki cinta.
Daun-daun di sekitaran kuil mulai berjatuhan tertiup angin. Menemani kesendirian Jake di sore ini. Jake pun beranjak pergi dari teras kuil untuk melanjutkan pekerjaannya. Jake harus menepiskan sejenak ingatannya akan Lilia.
Dubai, pukul empat sore...
Lilia kembali ke apartemen pada pukul empat sore, tapi kini ia sendiri. Alexander harus pergi karena ada urusan proyeknya. Alhasil Lilia ditinggal lagi. Pria berambut pirang itu hanya mengantarkan Lilia sampai di parkiran gedung. Ia terburu-buru sekali.
__ADS_1
Pekerjaan seorang arsitektur begitu menyita waktu. Seminggu terakhir ini saja Alexander hampir bekerja dua puluh jam sehari. Namun, walaupun begitu ia masih menyempatkan diri untuk Lilia. Karena Lilia begitu berharga baginya.
Dear, kenapa aku merasa seperti baru pertama kali ngedate saja?
Tak tahu mengapa hari ini Lilia merasa seperti pasangan yang baru jadian. Alexander menggandeng tangan Lilia dengan mesra di sepanjang jalan. Sentuhan tangan itupun memberi arti tersendiri baginya. Lilia dimanjakan Alexander sepanjang hari. Setelah dari taman bunga pun, Alexander masih saja memanjakan Lilia. Terbukti saat Lilia ketakutan berjalan di atas jembatan kaca, Alexander langsung memeluknya.
Teringat jelas di pikiran Lilia saat kaca-kaca jembatan itu retak. Padahal hanya ilusi optik semata. Tapi tetap saja ia merasa takut saat melihat ke bawah. Alexander pun seraya tertawa memeluk kekasihnya. Sedangkan Lilia sudah mau menangis di pelukannya.
Pria berambut pirang itu begitu mengayomi wanitanya. Perasaan di hati Lilia pun semakin bertambah. Tapi sayangnya, Alexander belum mempunyai banyak waktu untuk Lilia. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Hasil dari proyek ini akan kutabung untuk pesta pernikahan kita. Selebihnya akan kuserahkan padamu sebagai calon istriku. Kau keberatan Lilia?"
Teringat jelas perkataan Alexander saat pulang dari destinasi wisata jembatan retak di Palm Jumeirah. Lilia pun mengangguk, lalu tak lama Alexander mendekatkan diri kepadanya. Lilia diam dan menunggu apa yang akan Alexander lakukan selanjutnya. Namun, ternyata Alexander hanya mencium sudut bibirnya saja. Satu kecupan yang sangat hangat dan dalam. Lilia pun menikmatinya.
Alexander tidak mencium bibir Lilia sama sekali. Padahal jika ia mau, ia bisa melakukannya. Dan Lilia tidak akan menolaknya.
Dear ... kau benar-benar pria yang gentleman. Sungguh aku ingin sekali cepat-cepat melangsungkan pernikahan ini. Aku tak peduli lagi terhadap apa yang terjadi nanti. Aku akan menemanimu dalam suka maupun duka. Karena sekarang aku sudah mencintaimu sepenuhnya. Aku telah mengalahkan diriku sendiri.
Musnah lah sudah nama Jake di hati Lilia. Berkat kesabaran Alexander selama ini, akhirnya Lilia dapat memercayakan masa depan sepenuhnya ke Alexander. Namun, apakah benar Lilia dan Alexander akan menikah? Apakah Jake akan diam saja?
__ADS_1