PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Secret Mission


__ADS_3

Esok harinya...


Pagi telah datang. Suasana di perkotaan pun mulai dipadati kendaraan. Ada yang mengantar sekolah, ada juga yang pergi bekerja. Begitu juga dengan Jake yang baru saja sampai di kantornya. Ia diantar oleh supir pagi ini. Sesampainya di depan pintu kantor pun pihak security segera menyambutnya.


"Selamat pagi, Tuan." Security gedung menyapa Jake dengan penuh hormat.


"Selamat pagi." Jake membalasnya lalu terus berjalan menuju lift.


Jake mengenakan kaca mata hitam pagi ini. Ia membawa koper kerja yang berisi laptop, dokumen penting dan juga pistol dengan enam butir peluru. Ia selalu siaga dalam setiap aktivitasnya. Terlebih ruang lingkup dunianya berada di kalangan atas. Yang mana apa saja bisa terjadi sekalipun dikarenakan hal sepele. Dan Jake harus berantisipasi.


Pagi ini Jake mengenakan setelan jas hitam seperti biasanya. Ia tampak gagah saat berjalan memasuki lift hingga sampai ke dalam ruangannya. Ia pun segera duduk di kursi kebesarannya, lalu menelepon seseorang di pagi ini. Jake ada keperluan yang harus segera diselesaikan.


"Lara, datang ke ruanganku."


Pagi-pagi Jake menelepon Lara agar segera datang ke ruangannya. Dan tanpa perlu menunggu lama, Lara pun datang menghadap Jake. Lara menyapa Jake lalu segera duduk di kursi. Ia seperti tahu apa maksud Jake memanggilnya pagi ini.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Jake seraya membuka kopernya.


"Seperti biasa, Tuan. Hanya saja aku sempat kerepotan beberapa hari ini." Lara menceritakan.

__ADS_1


"Apa ada kabar untukku? Beberapa hari tak ada laporan darimu." Jake menagih laporan dari Lara.


Jake mengeluarkan seluruh isi koper kerjanya. Lara pun melihat pistol berwarna silver itu keluar dari koper tersebut. Seolah memberi peringatan agar Lara tidak lupa dengan tujuan awalnya.


"Maaf, Tuan. Kemarin-kemarin saya disibukkan oleh tuan Biden. Saya tidak sempat mengabari Tuan," kata Lara lagi.


"Kabar apa yang kau dapatkan?" Jake mulai mengutak-atik laptopnya. Ia berbicara tanpa melihat Lara.


"Tuan Biden meminta saya untuk mencuri data perusahaan. Dia menjanjikan bayaran yang besar." Lara berkata jujur kepada Jake.


Sontak Jake menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Lara dengan serius. "Apa yang dia inginkan?" tanya Jake lagi.


Lara bersikap tenang. "Tuan Biden menginginkan data supplier milik GOC dan juga customer tetapnya. Tapi saya belum memberikan jawaban." Lara menceritakan.


"Satu milyar untuk semua data yang didapat." Lara menjawab dengan singkat semua pertanyaan dari Jake.


Jake tertegun. Ia mengembuskan napasnya kuat-kuat. "Katakan kau bekerja kepada siapa?" tanya Jake lalu mengetik sesuatu di laptopnya.


"Saya bekerja untuk Tuan Jake Thompson." Lara menegaskan.

__ADS_1


"Sudah berapa lama kau bekerja padaku?" tanya Jake lagi.


"Hampir delapan tahun," jawab Lara segera.


"Apa yang kau dapat?"


"Apapun yang saya mau."


"Apa lagi yang kau inginkan?" Jake terus-menerus bertanya kepada Lara.


"Tidak ada." Lara menegaskannya.


Jake pun mengirim email kepada seseorang. Ia menatap tajam ke Lara. "Kau tahu kepada siapa harus berpihak. Tetap mainkan peranmu sebagai agen ganda. Tapi ingat! Kau harus tetap berhati-hati. Jangan sampai Biden mengetahui hal ini." Jake memberikan Lara sesuatu.


Lara menerimanya. "Terima kasih, Tuan." Lara pun tahu apa yang harus ia lakukan dengan pemberian dari Jake itu.


Jake mengangguk. Ia memberi izin kepada Lara untuk keluar dari ruangannya. Pertemuan mereka pun berakhir cepat pagi ini.


.........

__ADS_1


...Lara...



__ADS_2