
Smith mengutus supir itu untuk mengantarkan ke manapun Alexander pergi bukan tanpa alasan. Melainkan untuk menjaga keselamatan putranya dari bahaya tak terduga. Smith khawatir jika Jake menyerang putranya tiba-tiba. Karena ia cukup tahu bagaimana Jake yang sebenarnya. Namun, lagi-lagi Alexander menolak kasih sayang ayahnya. Ia merasa bisa sendiri tanpa bantuan dari sang ayah.
Lain sang supir, lain juga Alexander dan Lilia. Keduanya segera menuju pintu rumah lalu mengetuknya. Tak berapa lama pintu pun dibukakan oleh si empunya. Namun sayang, sesuatu kemudian terjadi di sana.
"Ibu, aku pulang." Alexander dengan semringah memeluk ibunya.
"Ibu." Lilia pun tersenyum kepada Helen.
Lilia menunggu giliran untuk memeluk calon ibu mertuanya. Tapi sayang, setelah pelukan Alexander berakhir, Lilia tidak bisa mendapatkannya.
"Nona, kau datang lagi ke sini?" Ibu Alexander bertanya seperti itu.
"Ibu?" Lilia terperanjat kaget dengan sapaan calon ibu mertuanya.
"Jangan panggil aku ibu. Kau tak pantas mengatakannya." Helen menegaskan.
"I-ibu?" Saat itu juga suasana canggung terjadi. "Ibu, apa yang Ibu katakan?" Alexander tak mengerti sikap ibunya yang begitu dingin kepada Lilia.
__ADS_1
"Alexander, jika kau ingin menginap di rumah ini, silakan. Tapi tidak dengan wanita itu!" Ibu Alexander menegaskan.
"Ibu?!"
Ibu Alexander pun segera pergi meninggalkan keduanya. Meninggalkan Lilia yang terdiam dan membisu di sana.
"Lilia." Alexander pun merasa tak enak hati kepada wanitanya.
Lilia mengangguk. Ia seakan tak bisa bicara. Kenyataan pahit harus diterimanya.
"Tunggu aku. Aku menemui ibu dulu." Alexander berpamitan.
Perkataan Helen bagai tamparan keras bagi Lilia. Bak petir di siang bolong, kenyataan pahit itu harus diterimanya. Helen dengan tegas menolak kehadiran dirinya di rumah itu. Helen tidak ingin Lilia sampai menginap kembali di rumahnya. Sedang Lilia hanya bisa menahan sesak di dada.
Ibu ... apakah kau sudah mengetahui siapa diriku sebenarnya?
Lilia terduduk lemas di kursi teras. Ia menunggu Alexander datang membawakan kabar. Dengan raut wajah sendu, mau tak mau ia menerima kenyataan. Ternyata calon ibu mertuanya tidak menyukainya.
__ADS_1
Di ruang keluarga...
"Ibu, tunggu!" Alexander mengejar ibunya.
"Ada apa?" Sang ibu pun tampak tidak ada masalah.
"Ibu, katakan padaku. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa ibu bersikap seperti itu kepada Lilia?" Alexander merasa amat heran dengan sikap ibunya.
"Bawa pergi wanita itu. Ibu tidak mengizinkan dia ada di sini." Sang ibu pun beranjak pergi.
"Ibu! Ibu!" Alexander menghadangnya. "Bu, kedatanganku ke sini untuk meminta restu. Kami akan menikah. Tapi kenapa ibu malah bersikap seperti ini? Apakah ada orang yang menghasut ibu?" Alexander mulai curiga.
Helen menyilangkan kedua tangannya di dada. "Dia bukan wanita baik-baik. Bagaimana mungkin aku merelakan putraku menikah dengan seorang wanita penggoda? Kau pikir ibu sudah gila?!" Ibu Alexander terlihat marah. Ia tidak terima.
Alexander menelan ludahnya. Ia merasa sesuatu telah terjadi pada ibunya.
Tidak mungkin ibu bersikap seperti ini jika tidak ada yang terjadi sebelumnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah pria itu yang telah menghasut ibu?
__ADS_1
Alexander menduga jika Jake lah yang telah menghasut ibunya.
"Ibu mau tidur. Kalau mau menginap di sini, silakan. Tapi tidak untuk wanita itu." Sang ibu menegaskan kembali.