PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Protected


__ADS_3

Satu jam kemudian...


Dokter keluar dari ruangan setelah melakukan tindakan preventif terhadap Petrus. Jake pun segera mendekati dokter tersebut. Ruangan rumah sakit kelas VVIP menjadi saksi kecemasan Jake kali ini. Ia khawatir lalai dari tugas dan tanggung jawabnya terhadap Petrus.


"Bagaimana, Dok?" tanya Jake kepada dokter.


Jinny ikut berdiri manakala tindakan sudah selesai dilakukan. Dokter yang mengenakan kaca mata pun tampak melepas kaca mata dan maskernya. Ia segera menanggapi pertanyaan dari Jake tersebut.


"Semua pemeriksaan telah dilakukan. Hasil laboratorium menyatakan jika gula darah tuan Petrus sedang naik. Tuan Petrus juga menderita hipertensi. Beliau harus banyak-banyak beristirahat dan tidak boleh terbebani dengan banyak pikiran. Karena setelah pemeriksaan dilakukan, imun tuan Petrus turun drastis. Hal itulah yang menyebabkan tuan jatuh di kamar mandi. Ia kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri." Dokter memaparkan.

__ADS_1


"Astaga ...," Jake tak percaya kondisi Petrus akan selemah ini. "Tapi bagaimana dengan keadaan lambungnya, Dok? Apakah salah makan atau meminum sesuatu?" Jake khawatir ada yang meracuni Petrus.


Dokter mengerti maksud Jake. "Pemeriksaan asam lambungnya dalam keadaan baik, Tuan. Sepertinya tuan Petrus rutin mengonsumsi buah-buahan beberapa tahun terakhir. Keadaan lambungnya bersih." Dokter menjelaskan lagi.


"Itu berarti penyakitnya disebabkan karena beban pikiran?" Jake memastikan.


"Ya. Sembilan puluh persen penyakit memang disebabkan oleh pikiran. Maka dari itu tuan Petrus harus lebih banyak beristirahat dan bermeditasi. Tentunya juga harus ditemani oleh orang yang mengerti." Dokter menyarankan.


"Kalau begitu saya permisi. Jika ada keperluan, tuan atau nona bisa menekan bel darurat yang berada di samping pasien. Perawat atau dokter yang berjaga akan segera datang." Dokter menjelaskan kembali.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok." Jake pun mengiyakan.


Tak lama beberapa dokter bantuan dan perawat yang melakukan tindakan, ikut keluar dari ruangan rawat Petrus. Mereka berpamitan kepada Jake dan Jinny yang menunggu di luar. Jake pun segera masuk ke ruang rawat Petrus setelah para dokter pergi. Ia melihat sendiri bagaimana kondisi Petrus terkini. Pria tua itu tampak terhubung dengan selang infus dan udara. Jake tampak menarik napas panjang melihatnya.


Tuan, Anda mungkin tertekan akhir-akhir ini. Tapi ketahuilah, lambat laun awak media juga akan tahu hal yang sebenarnya terjadi. Tapi, selama aku hidup, selama itu juga aku akan menjaga nama baikmu. Akan kuselesaikan perjanjian ini dengan baik. Beristirahatlah.


Jake menarikkan selimut untuk Petrus. Ia kemudian segera keluar dari ruangan. Berharap Petrus bisa lekas tersadarkan. Jake tidak tega melihat Petrus terbaring lemah di rumah sakit. Apalagi ia sudah menganggap Petrus seperti ayahnya sendiri. Bagi Jake, Petrus bukan hanya sekedar mentor atau rekan kerjanya dalam berbisnis. Tapi juga seorang pria yang patut untuk dihormati. Jake mengagumi sisi Petrus yang baik hati.


"Tuan." Jinny pun segera menghampiri Jake setelah keluar dari ruangan.

__ADS_1


Jake menutup pintu ruangan kembali. "Aku akan mengutus dua puluh orang untuk menjaganya selama berada di sini. Kau tetap menemaninya sampai dia terjaga. Apapun yang terjadi, tetaplah bersamanya. Karena semua bisa saja terjadi saat situasi sedang seperti ini. Pastikan kau melihat sendiri. Jangan biarkan orang lain menunggunya walau sedetik saja. Kau mengerti, Jinny?" tanya Jake kepada Jinny.


__ADS_2