
Beberapa menit kemudian...
Alexander datang dan masuk ke dalam mobil sambil membawakan kelapa muda untuk Lilia. Ia juga membawakan roti bakar yang dibeli di kedai pantai. Kedai mewah untuk ukuran jajanan pantai. Aroma roti bakarnya pun tercium sedap sekali. Lilia jadi tak sabar untuk segera mencicipi.
"Ini, makanlah." Alexander menyerahkan jajanan pantai ke Lilia.
"Terima kasih, Dear." Lilia pun segera menerimanya.
Alexander menurunkan kaca mobilnya. Ia juga mematikan AC mobilnya. Tak lama ia menghidupkan mesin mobilnya lalu mengajak Lilia menuju suatu tempat yang ada di ujung sana. Sejenis tanjung pantai dengan jalanan aspal untuk sampai ke sana. Mereka pun duduk di dalam mobil sambil menikmati pemandangan pantai yang indah.
"Namanya Khan, dia potografer dari India yang bekerja di Dubai." Alexander mulai menceritakan pada Lilia.
"India?"
"Ya, benar. Dia baru beberapa bulan menikah. Aku sempat menghadiri pesta pernikahannya. Dia mendapat istri orang sini. Tak pernah kusangka sebelumnya." Alexander menceritakannya.
__ADS_1
Lilia mengangguk. Ia percaya jika rezeki, jodoh, dan maut sudah ada yang mengaturnya.
"Kau kenal dia di sini?" tanya Lilia ingin tahu, sambil menyeruput kelapa muda yang diberikan prianya.
"Hm, ya." Alexander menyandarkan kepalanya di kursi mobil. "Waktu kuliah aku sering main ke studio fotonya. Dia seorang fotografer ekstrem yang dibayar mahal untuk satu kali jepretan." Alexander menjelaskan.
"Hah? Sungguh?! Lalu bagaimana dengan pembayaran kita tadi?" Lilia terkejut. Ia ingin tahu lebih lanjut.
Alexander merentangkan tangannya lalu mengusap kepala Lilia. "Tidak perlu dipikirkan, Honey. Saat ini kita hanya perlu berbahagia." Alexander mengusap kepala wanitanya.
"Lilia."
"Hm?"
"Kau begitu cantik hari ini. Aku tak kuasa melihatnya." Alexander mengungkapkannya seraya menatap dalam Lilia.
__ADS_1
Saat itu juga Lilia tersipu malu. Pipinya merona karena merasa tersanjung. Ia pun menundukkan pandangannya. Sedang jarak keduanya begitu dekat. Bahkan lengan mereka pun dapat saling bersentuhan. Saat itu juga getaran muncul dari dalam dirinya. Cinta itu begitu membutakannya.
"Dear, kau terlalu memujiku." Lilia malu sendiri.
"Honey ...," Alexander menolak Lilia mengalihkan pandangan darinya. "Jika aku memintamu, apakah kau akan memberikannya?" tanya Alexander tiba-tiba.
Lilia menelan ludahnya, tak percaya. "Kau serius, Dear? Tapi, nanti kau akan kecewa jika mengetahui aku sudah tidak—"
"Sssst." Alexander meminta Lilia untuk tidak meneruskannya. "Aku terima, apa adanya." Alexander berkata lagi yang membuat hati Lilia terenyuh seketika.
Dear ....
Hati yang terenyuh itupun membuat Lilia memeluk prianya. Karena Alexander telah bersedia menerima Lilia apa adanya. Lilia pun menyadari jika Alexander adalah pria normal yang juga menginginkan belaian lembut darinya. Lilia pun memakluminya.
Dear, kadang masih ada rasa khawatir di hatiku tentang hubungan ini. Namun, aku terus saja menepiskannya. Satu bulan menjalin kasih, rasanya sudah cukup untuk mengenal dirimu. Aku akan mencoba mengerahkan seluruh hati dan perasaanku ini padamu. Berharap kau juga seperti itu. Tinggal selangkah lagi altar pernikahan akan kita hamparkan. Maka jagalah hatimu untukku, Dear. Aku mencintaimu.
__ADS_1