PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Miss You Like Crazy


__ADS_3

"Tuan, Anda datang tanpa membuat janji terlebih dahulu. Untung aku ada di sini." Jake menyinggung kedatangan Smith.


Smith datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Ia menyusul Alexander ke kantor Jake. Tentu saja pertikaian mulut itu terhenti. Jake pun menyambut kedatangan ayah dari Alexander tersebut.


Smith melihat ke arah putranya. Saat itu juga Alexander seperti menahan kesal. "Pembicaraan akan dilanjutkan nanti. Permisi." Alexander pun segera berpamitan lalu keluar dari ruangan.


Jake diam. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada. Alexander pun berlalu pergi dari ruangannya. Sedang Smith tampak melihat kepergian anaknya tanpa berkata apapun.


"Putramu datang dan menanyakan Lilia padaku. Aku rasa dia perlu memeriksakan dirinya ke dokter," cetus Jake lalu mengajak Smith duduk di sofa.


Smith diam. Ia tampak enggan bicara. Jake pun memahami situasi. "Silakan duduk, Tuan. Mari kita berbincang santai sebentar." Jake meminta Smith untuk duduk bersamanya.


Pada akhirnya Smith menarik napas panjang sebelum ikut duduk bersama Jake. Raut wajahnya menyiratkan kekhawatiran. Untung saja tidak terjadi pertikaian. Karena jika sampai terjadi, sebuah masalah besar akan dihadapi. Dan Smith tidak ingin menanggung konsekuensi. Ia cukup tahu bagaimana daya tarung keduanya. Smith menyayangi putranya. Tapi ia juga tidak ingin kehilangan pelanggannya.

__ADS_1


Sementara itu...


Alexander masuk ke dalam mobilnya. Ia merasa kesal atas pertemuan hari ini. Ternyata Jake tidak mengetahui di mana keberadaan Lilia. Ia pun kesal sendiri.


Lilia, di mana dirimu? Kenapa semua jaringan komunikasi kau blokir? Apakah tidak bisa membicarakan hal ini baik-baik?


Kini hanya ada penyesalan di hatinya saat kehilangan sosok wanita yang setia mendampinginya. Alexander bak kehilangan udara. Ia terengah-engah dalam perjalanan hidupnya. Seperti memakan buah simalakama, Alexander serba salah dalam mengambil langkah. Tidak mungkin mengabaikan peringatan ibunya, tapi ia juga tidak mampu berpisah dengan Lilia. Lantas langkah apa yang akan diambil selanjutnya?


Beberapa jam kemudian...


Hati itu tiada lagi bisa berbohong. Perjalanan yang mereka lalui dan perpisahan tanpa penjelasan, membuat Jake menyadari jika ia jatuh cinta kepada pecinta. Ia sendiri tak menyangka akan berubah sejauh ini. Semua tak lain karena wanita yang disayanginya, Lilia Hana.


Tak lama lagi kita akan bertemu Lilia.

__ADS_1


Jake merasa bahagia. Penerbangan kelas eksklusif pun menjadi saksi dirinya yang duduk tenang di dalam pesawat. Hanya sekitar satu jam saja Jake sudah akan tiba di sana. Jake pun ingin segera menyatakan isi hatinya. Namun, apakah Lilia masih mau menerimanya?


Perpisahan ini membuatku tersadar jika kaulah yang aku butuhkan. Kali ini aku akan serius menjalani hubungan. Lilia, maafkan kesalahanku dan terimalah aku sebagai priamu. Aku ... aku ....


Jake seperti tidak bisa melanjutkan kata-kata di dalam hatinya. Kenangan buruk tentang perlakuannya terhadap Lilia teringat kembali di benaknya. Jake merasa tidak patut untuk dicintai. Tapi ia amat menginginkan cinta dari Lilia. Ia mengaku jika telah banyak berbuat kesalahan kepada Lilia.


"Hah ...."


Jake pun mengembuskan napasnya. Tak lama berselang pihak maskapai penerbangan menginformasikan jika pesawat akan segera lepas landas. Jake pun menenangkan pikirannya. Ia mengambil napas dalam-dalam lalu kembali memandangi foto Lilia. Jake mengecupnya. Kerinduan itu sudah begitu membelenggunya. Jake harus segera menemui Lilia.


.........


...Foto Lilia di ponsel Jake...

__ADS_1



__ADS_2