PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Sorry


__ADS_3

Alexander melihat raut wajah Lilia yang berbeda. Baru kali ini ia melihat Lilia menaikkan intonasi bicaranya.


"Lilia—"


"Satu minggu lebih aku menunggu kabar darimu. Tapi kenapa kau seakan menghindar dariku?" Lilia tidak sanggup lagi menahan unek-unek di hatinya.


Alexander mengerti. Ia amat mengerti keinginan Lilia. Tapi ia juga tidak bisa mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi. Lilia pasti akan terluka mendengarnya. Maka dari itu Alexander menutupinya.


"Lilia, aku—"


"Aku tunggu kepastian darimu. Dalam dua hari ke depan, aku akan menunggu. Jika kau masih tidak bisa memberiku kepastian, aku akan pergi, Dear." Lilia beranjak dari meja makan. Ia pergi menuju kamarnya.


"Lilia! Lilia!" Alexander pun segera mengejarnya. "Lilia, buka pintunya!" Namun, ternyata Lilia sudah terburu menutup pintunya.


Lilia merasa dipermainkan dengan penguluran waktu yang dibuat prianya. Sedang dirinya sudah ingin menata masa depan bersama. Ia tidak ingin membuang-buang waktunya lagi. Usianya sudah cukup emergency untuk bermain hati.

__ADS_1


Di lain sisi Alexander tampak frustrasi. Ia merasa bingung terhadap hal yang terjadi. Ia tidak mungkin mengatakan hasil pertemuannya dengan sang ibu. Alexander tidak ingin Lilia sakit hati. Tapi Alexander pun mengerti bagaimana keinginan wanitanya. Kepastian adalah yang ditunggunya selama ini.


Lilia, beri aku waktu untuk terus meyakinkan ibu.


Ingatan akan pertemuan bersama sang ibu pun terlintas di benaknya. Alexander merasa seperti tidak mempunyai jalan lagi.


Seminggu yang lalu, di rumah ibu Alexander...


"Ibu, aku ingin bicara." Alexander datang lalu mengajak ibunya duduk bersama di sofa, dekat perapian.


"Tentang wanita itu?" tanya ibunya segera.


Helen menghela napas. "Lilia bukan wanita baik-baik. Dia seorang penggoda. Sudah banyak lelaki yang disinggahinya. Ibu tidak rela kau bersamanya. Kau cuma dapat bekasan orang." Helen memaparkan.


Alexander menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Ibu salah sangka terhadapnya. Lilia tidak seperti itu. Ibu pasti mendengarnya dari orang lain yang tidak menyukainya." Alexander meyakinkan.

__ADS_1


Helen mengembuskan napasnya kuat-kuat. "Keputusan ibu sudah bulat. Jangan paksa ibu untuk menerima wanita itu. Jangan membuat ibu malu." Ibunya beranjak pergi.


"Bu!" Alexander segera menahannya. "Apa Ibu tidak malu saat ditanyakan tetangga nanti? Kami sudah mengikat diri di depan ibu dan juga tetangga. Hal ini pasti jadi perbincangan mereka. Boomerang bagi kita, Bu. Kumohon cabut kembali niatan itu. Restuilah kami menikah." Alexander memohon kepada ibunya.


Helen mengambil napas dalam. "Jika mereka bertanya, ibu tinggal mengatakan jika Lilia kecelakaan. Semua sudah usai," kata Helen yang membuat Alexander terkejut seketika.


"Apa?! Ibu akan setega itu?" Alexander tak menyangka ibunya akan sekejam ini.


"Putraku." Helen membalikkan badan ke arah putranya. "Ibu tahu mana yang terbaik untukmu. Dan Lilia bukanlah yang terbaik. Jika kau tetap memaksakan kehendak untuk menikahinya, maka jangan anggap ibu ini ibumu lagi. Lupakan ibu." Helen mengancam putranya.


Ibu ....


Saat itu juga Alexander menelan ludahnya. Ia tak menyangka jika hati sang ibu akan sekeras ini. Sedang Helen terus berlalu pergi dari hadapannya.


.........

__ADS_1


Lilia, maafkan ibuku.


Alexander sudah berusaha. Tapi apalah daya semua bisa berbalik kapan saja. Hati manusia mudah begitu goyah. Dan sebagai seorang anak yang patuh, Alexander tidak dapat memaksakan kehendak pada ibunya.


__ADS_2