PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN

PENYESALAN TERDALAM CEO AROGAN
Friend


__ADS_3

Sesampainya...


"Tuan."


Tak lama Jake pun tiba di depan pintu sebuah ruangan. Pelayan wanita itupun segera mengetuk pintu lalu membukakannya untuk Jake. Saat itulah terlihat seorang pria sedang menerima telepon di dalam.


"Tuan, saya tinggal ya." Pelayan wanita itupun berpamitan kepada Jake seraya menggoda dengan satu kedipan matanya.


Jake diam saja. Ia tidak menghiraukan pelayan itu. Ia masuk ke dalam ruangan. Seseorang yang di dalam pun menyadari kehadiran Jake. Ia segera memutuskan sambungan teleponnya.


"Halo, Sobat! Apa kabar? Lama tak melihatmu." Pria itupun tanpa segan mengajak Jake berpelukan.


Jake berekspresi datar, sedang temannya tampak antusias menyambut kedatangannya. Jake pun melihat keadaan seisi ruangan.


"Ini ruang kerja atau ruang bersantai?" tanyanya kepada pria itu.


Pria itu tertawa. "Hahahaha. Kau bisa saja. Ini ruang kerjaku, Jake. Tumben kau datang. Mau minum apa? Tequila? Whisky? Wine? Atau ...?"

__ADS_1


"Yang ada saja." Jake menjawabnya segera.


"Baiklah. Tunggu sebentar." Pria itupun menelepon pelayan klub. "Kirimkan tequila ke ruanganku." Pria itu berkata di teleponnya. Tak lama sambungan telepon itu pun terputus.


"Karyawanmu apa tidak masuk angin diminta berpakaian seperti itu?" tanya Jake lalu duduk di sofa panjang yang ada di dalam ruangan.


Teman Jake yang bernama Paul Lemos menahan tawanya. "Mereka sudah terbiasa, Jake," jawab Paul, menanggapi pertanyaan Jake. "Ngomong-ngomong kau tampak banyak berubah. Apakah sedang dalam kesulitan keuangan?" Paul mencandai Jake.


Jake melirik tajam ke arah Paul yang duduk tak jauh darinya. "Jangan sembarangan bicara. Aku bukan dirimu," cetus Jake menahan kesal.


"Hahaha." Temannya itu tertawa lalu duduk lebih mendekat kepada Jake. "Baiklah-baiklah." Ia akhirnya menyerah. "Katakan padaku apa yang telah membuatmu seperti ini? Rambutmu mulai gondrong, Jake. Kumis dan janggutmu juga tidak dicukur. Sepertinya kau sangat sibuk sampai tidak sempat lagi mempersolek diri." Temannya menduga.


"Letakkan saja di atas meja." Paul meminta kepada pelayan itu.


Pelayan itupun meletakkan dua botol wine beserta gelasnya. Ia membungkukkan badan sehingga sebagian dadanya terlihat oleh Jake. Jake pun memalingkan wajah seketika. Ia tidak ingin melihatnya.


Ruang yang Jake datangi bukanlah ruangan kerja besar seperti ruangannya. Melainkan hanya berukuran 7x3 meter dengan perabotan seadanya. Hanya ada satu set meja kerja, lemari dokumen, brangkas dan juga dispenser air minum. Serta satu sofa panjang di sudutnya. Tidak banyak perabotan di dalam sana. Sehingga Jake mengira ruangan ini adalah ruangan bersantai.

__ADS_1


"Kau mau mengobrol di mana? Sepertinya perbincangan hari ini akan menarik." Paul bertanya kepada Jake.


Jake beranjak berdiri. "Di luar saja. Aku sudah cukup bosan berada di dalam ruangan." Jake pun segera keluar dari ruangan. Ia tidak ingin membuang waktunya.


Paul menghela napasnya. Ia menggelengkan kepala melihat sikap Jake yang tiada pernah berubah. Namun, ia memakluminya karena Jake adalah kawan lamanya. Katakanlah jika mereka bersahabat dekat.


Paman Thompson, lihatlah putramu ini. Dia tidak pernah berubah.


Paul pun ikut bergegas keluar ruangan sambil membawa botol wine dan gelasnya. Mereka menuju ke teras belakang klub untuk segera berbincang. Entah perbincangan apa, Paul mengikut saja. Ia tiada berdaya untuk melawan kehendak temannya, Jake Thompson.


.........


...Paul Lemos, sahabat dekat Jake....



...Jake Thompson...

__ADS_1



__ADS_2